Cerpen "Langit Makin Mendung" karya Kipandjikusmin mengisahkan malaikat Jibril yang turun ke bumi, tepatnya ke kota Yogyakarta, untuk melihat kondisi umat Islam. Ia sangat terkejut dan sedih karena melihat manusia sudah jauh dari ajaran agama—banyak yang munafik, korup, dan menjual agama demi kepentingan pribadi. Bahkan nama Tuhan dan Nabi dipakai untuk membenarkan tindakan keji. Melihat semua itu, Jibril kembali ke langit dan melapor bahwa manusia sudah rusak. Cerpen ini diakhiri dengan suasana muram dan langit yang makin mendung, sebagai lambang kehancuran moral dan spiritual umat manusia. Cerpen ini menyampaikan kritik sosial dan religius yang tajam, meski sempat menuai kontroversi karena dianggap menghina simbol-simbol agama.
Cerpen "Robohnya Surau Kami" karya A.A. Navis mengisahkan seorang kakek tua yang sepanjang hidupnya menghabiskan waktu beribadah di surau dan merasa yakin akan masuk surga karena kesalehannya. Namun, dalam sebuah mimpi, ia diadili oleh Tuhan dan dinyatakan bersalah karena hanya mementingkan ibadah pribadi tanpa peduli pada penderitaan masyarakat di sekitarnya. Tuhan menegurnya karena hidupnya tidak memberi manfaat bagi orang lain dan tidak berusaha memperbaiki keadaan sosial. Cerpen ini diakhiri dengan kematian tragis sang kakek dan robohnya surau, sebagai simbol runtuhnya nilai keagamaan yang hanya bersifat ritualistik. Melalui kisah ini, A.A. Navis menyampaikan kritik tajam terhadap kesalehan yang pasif dan tidak disertai kepedulian sosial.