Sepucuk Surat dari Kelas Belakang
Di kelas VIII-C, semua orang tahu siapa yang selalu duduk di bangku paling belakang: Arin. Ia bukan murid pembuat masalah, tapi juga bukan yang masuk daftar bintang kelas. Ia seperti bayangan di ruang kelas selalu ada, tapi jarang diperhatikan.
Arin anak yang pendiam. Ia tidak banyak bicara kecuali jika ditanya. Bahkan ketika ditanya pun, jawabannya sering hanya berupa anggukan pelan atau kalimat pendek yang hampir tak terdengar. Teman-teman menyapanya kadang hanya untuk menyalin PR atau sekadar bertanya jadwal piket. Tapi tak satu pun benar-benar tahu bagaimana rasanya menjadi Arin.
Arin punya kebiasaan aneh: menulis surat untuk dirinya sendiri. Ia menyimpannya di buku kecil usang dengan sampul warna coklat yang mulai mengelupas. Surat-surat itu ia tulis ketika merasa gagal, saat dinilai tidak cukup cepat memahami pelajaran, atau ketika ia berhasil menjawab satu soal dengan benar setelah berhari-hari mencoba.
Satu surat berbunyi:
“Arin, kamu memang tidak bisa berhitung secepat Damar. Tapi hari ini kamu bisa menyelesaikan satu soal sendiri. Itu hebat. Kamu sedang bertumbuh, walau pelan-pelan.”
Surat lainnya ditulis setelah nilai ulangannya nyaris remidi:
“Kamu kecewa, aku tahu. Tapi kamu tidak menyerah. Kamu masih datang ke kelas, masih mencatat. Itu artinya kamu sedang berjuang.”
Suatu hari, angin kencang dari jendela kelas menerbangkan buku kecil Arin yang ia taruh di atas meja. Buku itu jatuh dan terbuka di tengah ruangan. Bu Wati, guru Bahasa Indonesia, memungutnya sebelum Arin sempat bergerak.
Arin panik, wajahnya memucat. Ia pikir Bu Wati akan menertawakannya, atau paling tidak membacakannya di depan kelas sebagai bentuk “motivasi” seperti yang pernah dilakukan guru lain. Tapi tidak. Bu Wati membaca pelan, lalu tersenyum kecil.
Keesokan harinya, Bu Wati membawa sebuah kotak kayu ke dalam kelas. Di bagian depannya tertulis besar-besar: "KOTAK SEMANGAT."
“Mulai hari ini, siapa pun boleh menulis surat dan memasukkannya ke sini. Untuk diri sendiri, untuk teman, untuk siapa pun. Kalian tak perlu mencantumkan nama. Surat ini tidak untuk dinilai, tapi untuk didengar,” kata Bu Wati dengan suara hangat.
Awalnya, tidak ada yang peduli. Tapi seminggu kemudian, kotak itu mulai terisi. Ada surat dari seorang anak yang merasa nilai jeleknya mengecewakan orang tua. Ada yang menulis tentang kecemasan saat harus berbicara di depan kelas. Ada juga yang menulis tentang betapa ia mengagumi seorang teman yang selalu membantunya tanpa pamrih.
Arin pun menulis. Tapi kali ini bukan untuk dirinya sendiri.
“Untuk Bu Wati. Terima kasih sudah tidak membuka bukuku di depan semua orang. Terima kasih karena sudah membuat kami merasa aman menulis apa pun. Sekarang saya tahu, saya tidak sendiri.”
Dari sebuah bangku belakang yang dulu terasa seperti tempat pelarian, kini tumbuh semangat baru. Teman-teman mulai melihat Arin bukan hanya sebagai si pendiam, tapi juga teman yang suka mendengar dan kadang bisa menulis kata-kata penyemangat paling tulus.
Kelas VIII-C berubah. Bukan karena tiba-tiba mereka semua jadi juara kelas. Tapi karena mereka mulai belajar satu hal penting: setiap orang sedang berjuang, dengan cara dan kecepatannya sendiri. Dan kadang, yang kita butuhkan hanyalah ruang untuk diakui tanpa harus sempurna.
Munggahan di Rumah Nenek
Hari itu, aku dan keluargaku berangkat lebih pagi dari biasanya. Ayah, ibu, aku, dan adik perempuanku, Rina, sudah rapi sejak pukul tujuh pagi. Kami akan pergi ke kampung halaman ibu di Garut untuk munggahan bersama keluarga besar.
Mobil melaju melewati jalanan yang berkelok. Sawah hijau membentang luas, dan udara terasa lebih sejuk daripada di kota. Setiap tahun, sebelum Ramadan, keluarga kami selalu berkumpul di rumah nenek untuk munggahan—sebuah tradisi yang sudah dilakukan turun-temurun oleh keluarga Sunda kami.
Sesampainya di rumah nenek, aku melihat paman, bibi, dan sepupu-sepupuku sudah berkumpul di halaman. Nenek keluar dari rumah dengan senyum hangatnya.
"Alhamdulillah, kalian sudah datang! Ayo masuk, kita makan bersama dulu sebelum ke makam kakek," ujar nenek.
Kami pun duduk di tikar besar yang sudah disiapkan di ruang tengah. Makanan favorit keluarga sudah tersaji: nasi liwet, ikan asin, tahu-tempe, sambal terasi, dan lalapan segar. Aku segera mengambil nasi dan menyendok sambal sedikit banyak. Aku suka pedas, tapi Rina hanya berani mengambil sambal sedikit.
Setelah makan, kami berjalan bersama ke makam kakek untuk berdoa. Angin berembus lembut saat nenek memimpin doa, sementara aku menatap batu nisan kakek dengan khidmat. Walaupun aku tidak sempat mengenalnya, munggahan membuatku merasa lebih dekat dengannya.
Saat kembali ke rumah, suasana semakin ramai. Para orang dewasa berbincang tentang Ramadan, sementara kami anak-anak bermain di halaman. Sore harinya, nenek membagikan kue-kue tradisional seperti colenak dan kue awug.
Menjelang magrib, sebelum pulang, nenek berpesan, "Jangan lupa, bulan puasa ini harus lebih banyak ibadahnya, ya!"
Aku mengangguk mantap. Tradisi munggahan ini bukan hanya tentang berkumpul dan makan enak, tetapi juga mengingatkan kami untuk menyambut Ramadan dengan hati yang bersih dan penuh syukur.