SETELAH 5000 TAHUN AKHIRNYA TERBUKA RAHASIA BESARNYA SEKARANG…..



MAHABHARATA: ALGORITMA JIWA MANUSIA

Membongkar Kode Ilahi di Balik Perang Terbesar dalam Diri Manusia



ROMO DEWA, www.romodewa.com 









PENGANTAR 

Mahabharata bukanlah kisah perang. Ia adalah peta batin.
Setiap tokoh, kerajaan, peperangan, kutukan, kesaktian, dan senjata ilahi adalah bahasa metafora, bukan sejarah. Ia seperti sistem operasi kehidupan yang menjelaskan:

Dalam tradisi kuno, kitab besar tidak pernah ditulis sebagai teori. Ia selalu ditulis sebagai dongeng dan drama, karena cerita mampu menembus pikiran logis dan langsung menyentuh alam bawah sadar. Mahabharata bekerja seperti hipnotis spiritual ribuan tahun lalu.

Ketika dibaca sebagai cerita, kita mendapatkan hiburan.
Ketika dibaca sebagai metafora, kita mendapatkan pencerahan.


Mengapa Mahabharata adalah Kode Kesadaran?

Dengan kacamata ini, setiap adegan menjadi pedoman hidup:

Mahabharata menjadi manual spiritual yang menjelaskan bagaimana manusia:


Apa yang Akan Didapatkan Jika Ajarannya Diterapkan?

Jika seseorang mempraktikkan ajaran metaforis Mahabharata, ia akan mengalami perubahan berikut:

1. Kejernihan Pikiran (Clarity)

Seperti Arjuna yang awalnya bingung, kemudian terang memahami tugas hidupnya.

2. Pengendalian Emosi

Seperti Yudhistira yang tidak pernah kehilangan keseimbangan batin.

3. Daya Cipta Realitas

Seperti Krishna yang mengajarkan “pikiran adalah pencipta dunia.”

4. Kekuatan Spiritual

Seperti Bhima yang mewakili tenaga prana dan daya batin manusia.

5. Kebijaksanaan Arah Hidup

Seperti Nakula dan Sadewa yang melambangkan intuisi dan kecerdasan kosmik.

6. Kebebasan dari Luka dan Trauma

Seperti Draupadi yang simbol energi Kundalini yang bangkit setelah diuji.

7. Keberanian Menghadapi Takdir

Seperti para Pandawa yang tidak lari ketika semua terasa mustahil.

8. Kesatuan dengan Tuhan

Seperti Arjuna yang akhirnya melihat Krishna dalam bentuk semesta.

Mahabharata adalah seni mengalahkan kegelapan dalam diri, bukan orang lain.


Keunikan Buku Ini Dibanding Buku Lain

Buku ini:

Tidak ada buku yang memetakan seluruh peristiwa Mahabharata ke:

Sampai sekarang belum ada — ini benar-benar baru.


GUNUNG CIREMAI, 12122025, ROMO DEWA, www.romodewa.com 



BAGIAN I – MAHABHARATA SEBAGAI PETA KESADARAN

Bab 1 – Mengapa Mahabharata Ditulis sebagai Cerita, Bukan Sebagai Ajaran?

Di zaman ketika para resi agung masih bernafas dalam irama semesta, manusia belum hidup seperti hari ini—tercabik oleh logika, dibutakan oleh ambisi, dan kehilangan rasa. Dahulu, pengetahuan tidak diajarkan lewat teori. Pengetahuan diturunkan lewat cerita. Sebab cerita adalah bahasa yang memahami manusia lebih baik daripada manusia memahami dirinya sendiri.

Mahabharata bukanlah kitab moral, bukan pula buku aturan. Ia adalah cermin jiwa, instrumen pemurnian batin, peta kesadaran, dan hipnotis spiritual kuno yang menyalakan daya ilahi dalam diri siapa pun yang memahaminya. Kisahnya sangat panjang, rumit, dan penuh intrik bukan untuk menghibur—melainkan untuk membongkar kedalaman jiwa manusia lapis demi lapis.

Cerita adalah pintu masuk menuju wilayah pikiran paling dalam—wilayah yang tidak dapat disentuh oleh perintah, aturan, atau doktrin. Di sanalah para resi bekerja. Mereka tidak ingin mengajari manusia dengan kata-kata yang memaksa; mereka ingin mengubah manusia dari dalam, tanpa perlawanan ego, tanpa pertengkaran logika.

Itulah sebabnya Mahabharata ditulis sebagai cerita.


1. Cerita Adalah Bahasa Alam Bawah Sadar

Ajaran langsung hanya masuk ke pikiran sadar—wilayah yang suka berdebat, suka membantah, suka menolak. Namun cerita menembus jauh lebih dalam. Ia melewati benteng-benteng ego, turun ke wilayah bawah sadar, kemudian menjadi bagian dari diri.

Ketika seseorang mendengar kisah Arjuna yang ragu sebelum perang, tanpa sadar ia memetakan kisah itu ke dalam hidupnya sendiri.
Ketika seseorang melihat Bhima berdiri tegak melawan raksasa, ia merasa kekuatan hatinya ikut bangkit.
Ketika seseorang melihat Draupadi dihina, ia merasakan api keadilan menyala dalam dirinya.

Cerita menimbulkan reaksi batin, bukan sekadar pemahaman.
Dan reaksi batin adalah katalis transformasi.

Para resi tahu:
“Ajaran yang tidak menyentuh bawah sadar tidak pernah mengubah hidup seseorang.”

Maka Mahabharata diberi bentuk narasi.


2. Cerita Mengandung Banyak Lapisan Kebenaran

Jika disampaikan sebagai teori, ajaran terbatas pada satu sudut pandang.
Namun ketika dibuat menjadi cerita, setiap orang bisa menemukan makna yang berbeda—bahkan ribuan makna—berdasarkan tingkat kesadarannya.

Setiap adegan Mahabharata adalah wadah energi, bukan sekadar peristiwa. Siapa yang mampu membuka wadah itu akan meminum nektar kebijaksanaan. Siapa yang belum siap, cukup menikmati ceritanya dulu.

Inilah kecerdasan para resi: mereka menyembunyikan mutiara pencerahan di balik kisah epik.


3. Cerita Tidak Membuat Manusia Merasa Diajar

Ajaran langsung sering membuat manusia merasa dikritik, dihakimi, atau direndahkan. Ego akan menutup pintu, dan ajaran tidak masuk. Namun cerita membuat manusia merasa bebas. Ia mendengar tanpa merasa dituduh. Ia mengamati tanpa merasa diperintah.

Saat seseorang mendengar Duryodana dikuasai keserakahan, ia berkata:

“Mengapa orang ini begitu bodoh?”
Tanpa sadar ia sedang berbicara tentang dirinya sendiri.

Saat seseorang melihat Karna dipenuhi luka batin dan harga diri yang rapuh, ia berkata:

“Kasihan sekali.”
Tanpa sadar ia sedang melihat cermin hidupnya sendiri.

Inilah hipnotis kuno: cerita membuat manusia mempelajari dirinya tanpa pernah merasa diajar.


4. Cerita Mengaktifkan Imajinasi – Gerbang Energi Kreatif

Dalam dunia batin, imajinasi adalah pintu ke realitas yang lebih tinggi.
Ajaran hanya memberi konsep.
Cerita menghidupkan dunia dalam diri manusia: gambar, emosi, suara, intuisi, dan energi.

Saat kita membayangkan Krishna berdiri di medan perang, atau Arjuna menggenggam Gandiva yang bersinar, atau Bhima mengaum menantang, maka sebenarnya kita sedang memanggil kekuatan-kekuatan arketipal di dalam diri kita sendiri.

Para resi tahu: energi hanya bergerak ketika dibangkitkan lewat imajinasi.
Dan imajinasi hanya menyala lewat cerita.


5. Cerita Mengajarkan Tanpa Batas Ruang dan Waktu

Ajaran langsung mudah kadaluarsa:
Hari ini relevan, besok tidak.
Hari ini cocok, besok tidak.

Tapi cerita—selama manusia masih punya hati—akan selalu hidup.

Orang abad ke-5 membacanya dengan cara yang berbeda.
Orang abad ke-10 menemukan makna baru.
Orang abad ke-21 melihat relevansinya pada depresi, trauma, ambisi, dan chaos modern.
Orang abad ke-30 nanti akan tetap belajar dari kisah yang sama.

Mahabharata adalah algoritma kesadaran yang tidak pernah kadaluarsa.


6. Cerita Menyampaikan Kebenaran yang Sulit Dijelaskan

Ada banyak hal yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata:

Hal-hal itu tidak bisa dijelaskan, hanya bisa dialami.

Maka para resi memasukkan semuanya ke dalam metafora:

Dengan metafora ini, mereka mengajarkan sesuatu yang tidak bisa diajarkan.


7. Cerita Adalah Jalan Agar Ajaran Bertahan Ribuan Tahun

Buku teori mudah hilang, mudah dilupakan, dan mudah ditinggalkan.
Tapi cerita yang kuat, heroik, dan penuh drama akan hidup selamanya dalam pikiran manusia.

Jika Mahabharata ditulis sebagai buku teori, ia akan mati.
Namun karena ditulis sebagai cerita—ia hidup selama 5.000 tahun dan tidak akan pernah mati.

Cerita adalah kapal yang membawa ajaran melintasi ribuan generasi.


8. Cerita Adalah Cara Tuhan Berkomunikasi Tanpa Menakuti

Tuhan tidak datang dengan peraturan.
Tuhan datang dengan cerita—melalui pengalaman hidup manusia sendiri.
Mahabharata adalah cara Tuhan berbicara melalui kisah, agar manusia tidak ketakutan, tidak defensif, dan tidak merasa dipaksa.

Cerita membuat manusia merasa aman.
Dalam rasa aman, manusia berani mengubah diri.


9. Mahabharata Ditulis untuk Mengajarkan “Dirimu Adalah Medan Perang Itu”

Jika ajaran disampaikan secara tegas, manusia akan merasa ajaran itu tentang orang lain.
Namun ketika ditulis sebagai cerita besar, manusia perlahan menyadari:

Dan akhirnya ia berkata:

“Seluruh Mahabharata itu terjadi di dalam diriku.”

Itulah tujuan tertinggi kenapa kisah ini diciptakan: agar manusia menemukan dirinya sendiri sebagai medan perang yang harus ia taklukkan dengan kesadaran.


10. Kesimpulan Bab Ini

Mahabharata ditulis sebagai cerita karena:

Mahabharata bukan cerita tentang perang.
Ia adalah kitab raksasa tentang transformasi diri.
Dan itu hanya bisa diajarkan lewat cerita.






Bab 2 – Bahasa Metafora dalam Kitab Kuno

Jika ada satu hal yang paling disalahpahami manusia modern, itulah ini: kitab-kitab kuno tidak ditulis dengan bahasa literal, melainkan bahasa metafora.
Bahasa yang tidak berbicara kepada logika, tetapi kepada kesadaran.

Para resi kuno memahami sesuatu yang manusia modern lupakan: bahwa kebenaran tertinggi tidak bisa dijelaskan dengan bahasa manusia yang terbatas.
Ia hanya bisa ditunjukkan lewat simbol, cerita, dan metafora—seperti menuntun murid melihat cahaya dengan menunjuk arah, bukan dengan kata-kata.

Bahasa metafora adalah bahasa dimensi jiwa, bukan dimensi fisik.
Dan Mahabharata adalah salah satu karya paling agung yang menggunakan teknik ini.


1. Metafora: Jembatan dari Dunia Kasat Mata ke Dunia Tak Kasat Mata

Segala yang paling penting dalam hidup manusia—jiwa, pikiran, energi, moralitas, kesadaran, karma—tidak bisa dilihat secara fisik.

Bagaimana menjelaskan yang tidak terlihat kepada manusia yang terikat pada hal-hal yang terlihat?

Para resi menciptakan metafora.

Metafora mengubah yang tak terlihat menjadi dapat “dirasakan.”
Inilah jembatan pengetahuan spiritual.


2. Metafora Adalah Bahasa Energi

Bahasa modern adalah bahasa pikiran.
Bahasa kuno adalah bahasa energi.

Ketika sebuah teks mengatakan:

“Bhima memiliki kekuatan 10.000 gajah.”

Para resi tidak bermaksud menggambarkan kekuatan fisik literal.
Itu adalah kode energi:
Bhima melambangkan prana, tenaga vital yang jika dibangkitkan akan mengalahkan segala ketakutan dan kelemahan batin.

Demikian pula:

Metafora mengkodekan energi ke dalam bentuk cerita.


3. Metafora Melindungi Ajaran dari Penyalahgunaan

Pengetahuan adalah kekuatan.
Dan kekuatan—jika salah tangan—menjadi kehancuran.

Para resi tahu bahwa:

Maka mereka menyembunyikan ajaran dalam cerita, seperti menyembunyikan pedang di dalam bunga.

Siapa yang niatnya tulus akan menemukan makna metaforanya.
Siapa yang niatnya gelap hanya akan melihat hiburan.

Dengan cara ini, pengetahuan tetap aman selama ribuan tahun.


4. Metafora Adalah Pengaman dari Pikiran Sempit

Jika sebuah ajaran diberikan secara literal, manusia akan memperdebatkannya:

Namun ketika ajaran dibungkus cerita, pikiran tidak bereaksi defensif.
Ia berubah menjadi pendengar, bukan pengkritik.

Pintu hati terbuka.
Pintu bawah sadar terbuka.
Pintu energi terbuka.

Baru setelah itu, ajaran masuk tanpa hambatan.

Metafora adalah kunci membuka pintu yang tidak bisa dibuka oleh logika.


5. Metafora Adalah Cara Menyampaikan Banyak Ajaran Sekaligus

Satu peristiwa dalam Mahabharata bisa mengandung:

Contoh: Game dadu (permainan Shakuni vs Yudhistira)

Metaforanya:

Satu kisah, sepuluh lapis ajaran.

Jika ditulis sebagai teori, tak ada manusia yang sanggup membacanya.


6. Metafora Menyediakan Ruang bagi Evolusi Pembaca

Metafora tidak memaksa.
Ia membiarkan pembaca menemukan sendiri makna yang sesuai dengan kematangan dirinya.

Inilah kecerdasan para resi.

Seorang yang belum dewasa membaca “perang” lalu melihat kekerasan.
Seorang yang sedang dewasa melihat konflik batin.
Seorang yang telah matang melihat transformasi kesadaran.
Seorang yang tercerahkan melihat Tuhan bekerja dalam segala hal.

Makna yang kau temukan mencerminkan tingkat kesadaranmu.

Metafora tumbuh bersama manusia.


7. Metafora Adalah Bahasa Semesta yang Abadi

Bahasa literal berubah mengikuti zaman: kata berubah, arti berubah, aturan berubah.

Namun metafora tidak pernah berubah.

Inilah sebabnya kitab kuno tetap relevan 5.000 tahun kemudian.
Bahasa metafora adalah bahasa universal yang tidak terikat zaman.


8. Metafora Mengaktifkan Memori Leluhur dalam DNA Spiritual

Setiap manusia membawa ingatan nenek moyang dalam dirinya.
Ingatan yang tersimpan dalam lapisan terdalam DNA spiritual.

Metafora adalah kunci pembukanya.

Ketika membaca Mahabharata, sesuatu dalam diri manusia beresonansi—seolah-olah ia pernah mendengar cerita itu sebelumnya.
Karena memang benar: jiwa manusia pernah mengalami pola yang sama dalam ratusan kehidupan.

Metafora membuat memori leluhur itu bangkit, dan manusia merasa:

Itulah alasan Mahabharata terasa begitu dekat, begitu nyata—seperti kisah hidup kita sendiri yang ditulis dalam bentuk epik.


9. Metafora Melatih Manusia untuk Melihat Makna di Balik Segala Hal

Ketika manusia mampu membaca metafora kitab kuno, ia otomatis akan mampu membaca:

Manusia yang menguasai bahasa metafora adalah manusia yang mampu melihat pesan semesta di balik setiap peristiwa.

Hidup menjadi seperti teks suci yang selalu berbicara.


10. Contoh Metafora Kunci dalam Mahabharata

Beberapa metafora penting yang membentuk kerangka cerita:

1. 5 Pandawa → 5 Dimensi Diri

2. 100 Kurawa → 100 Distorsi Ego

Keserakahan, ketakutan, iri, trauma, pengkhianatan, kemarahan, ilusi, harga diri palsu, dll.

3. Krishna → Tuhan dalam Diri

Kesadaran tertinggi, pemandu hidup, suara hati yang suci.

4. Perang Kurukshetra → Perang Batin

Perang untuk menaklukkan ego dan menemukan diri sejati.

5. Senjata-senjata Dewa → Energi Spiritual

Sudarsana Chakra, Pasupatastra, Brahmastra = aktivasi frekuensi energi tertentu.

6. Kisah panjang → Evolusi Jiwa

Setiap kejadian adalah tahapan transformasi dari manusia biasa menuju manusia sadar.

Metafora tidak hanya memperindah cerita—ia adalah sistem pengkodean ajaran.


11. Mengapa Manusia Modern Harus Belajar Bahasa Metafora?

Karena tanpa kemampuan membaca metafora, manusia hanya akan melihat:

Padahal semua itu adalah bahasa kesadaran, bukan kejadian fisik.

Manusia yang mampu membaca metafora:

Bahasa metafora adalah bahasa kebangkitan jiwa.


12. Kesimpulan Bab Ini

Kitab-kitab kuno—termasuk Mahabharata—menggunakan metafora karena:

Mahabharata bukan ditulis untuk diceritakan.
Mahabharata ditulis untuk dibangkitkan di dalam diri manusia.


Bab 3 – Cara Membaca Mahabharata Secara Energis dan Spiritual

Mahabharata bukan sekadar cerita epik. Jika dibaca dengan pikiran biasa, ia hanya menjadi kisah panjang penuh perang, intrik, cinta, kehormatan, dan tragedi. Namun jika dibaca dengan mata batin, ia berubah menjadi peta energi, kitab transformasi, dan manual evolusi jiwa.

Masalahnya adalah: sebagian besar orang membaca Mahabharata dengan mata kepala, bukan dengan mata kesadaran.
Mereka melihat peristiwa, tetapi tidak melihat energi.
Mereka memahami tokoh, tetapi tidak memahami simbol.
Mereka hafal cerita, tetapi tidak mengalami transformasi.

Maka bab ini ditulis.
Untuk mengajarkanmu cara membaca Mahabharata seperti para resi membacanya: bukan sebagai dongeng, tetapi sebagai kode energi untuk membangkitkan potensi ilahimu.


1. Pahami Bahwa Semua Tokoh adalah Bagian dari Dirimu

Langkah pertama membaca Mahabharata secara spiritual adalah menyadari:

Tidak ada satu pun tokoh di Mahabharata yang berdiri terpisah dari dirimu.
Semua tokoh adalah aspek dari dirimu.

Sebaliknya:

Ketika kau membaca Mahabharata, jangan tanya:
“Siapa yang benar?”
Tetapi tanya: “Bagian diriku yang mana sedang berbicara dalam adegan ini?”

Dengan cara ini, Mahabharata berubah menjadi cermin kesadaran.


2. Baca Peristiwa sebagai Energi, Bukan Kejadian Fisik

Dalam membaca Mahabharata secara energis, kau harus meninggalkan pikiran literal.

Misalnya:

• Perang Kurukshetra → Perang dalam dirimu

 Perang antara kesadaran dan ego.
Perang antara terang dan gelap.
Perang antara pilihan lama dan pilihan baru.

• Senjata ilahi → Frekuensi energi

Pasupatastra, Brahmastra, Sudarsana Chakra—itu bukan senjata fisik.
Itu adalah aktivasi energi, setara dengan:

• Pengasingan Pandawa → Proses alkimia spiritual

Setiap pengasingan menggambarkan:

• Kematian tokoh → Matinya pola lama dalam diri

Setiap tokoh yang tumbang bukan tragedi.
Itu adalah simbol kematian dari sifat tertentu di dalam dirimu.

Dengan cara ini, kau membaca frekuensi, bukan hanya cerita.


3. Gunakan Tubuhmu sebagai Alat Baca

Yang membaca Mahabharata bukan hanya pikiran.
TETAPI seluruh tubuh energi.

Saat membaca adegan tertentu:

Contoh:

Mahabharata adalah kitab yang dibaca dengan tubuh energi, bukan dengan mata fisik.


4. Lihat Pola, Bukan Detail

Para murid pemula sibuk pada detail:

Namun pembaca tingkat tinggi mencari pola:

Contoh pola:

Pola 1: Setiap awal kejatuhan dimulai dari ego kecil yang diabaikan

Pola 2: Krisna selalu hadir di titik keputusan penting

Itu menunjukkan bahwa Tuhan hadir bukan sebagai penyelamat, tetapi sebagai cermin keputusan.

Jika kau membaca pola, kau membaca mekanisme semesta.


5. Setiap Karakter Memiliki Frekuensi — Rasakan Frekuensinya

Tokoh-tokoh dalam Mahabharata bukan hanya karakter. Mereka adalah archetype energi.

Saat membaca adegan, bayangkan energinya.
Apa warna adegan itu?
Apa getaran emosinya?
Apa arah energinya? Naik atau turun?

Ini membuat Mahabharata menjadi pengalaman energi, bukan hanya cerita.


6. Setiap Lokasi Adalah Ruang Kesadaran

Dalam Mahabharata, tempat bukan sekadar tempat.

Dengan memahami ruang, kau memahami dimensi kesadaran dalam setiap bab.


7. Baca Setiap Kejadian sebagai Pembelajaran Evolusi

Bukan “mengapa ini terjadi?”
Tetapi:
“Untuk apa ini terjadi?”

Contoh:

Kelahiran Pandawa lewat mantra Kunti → Aktivasi energi dalam diri

Itu menggambarkan:

Karnna dibuang oleh ibunya → luka jiwa yang belum sembuh

Simbol:

Draupadi dicela di istana Kurawa → kehormatan jiwa diuji

Simbol:

Jika dibaca dengan cara ini, setiap adegan menjadi pelajaran transformasi diri.


8. Pahami Mahabharata sebagai Proses Alkimia Spiritual

Dalam tradisi esoterik kuno, manusia bukan hanya diceritakan—manusia ditransformasikan.
Mahabharata adalah kitab alkimia batin dengan 3 fase:

Fase 1 – Nigredo (Penghancuran Lama)

Duryodana berkuasa, intrik terjadi, ego memainkan peran.
Ini fase kehancuran energi lama.

Fase 2 – Albedo (Pembersihan dan Pengasingan)

Pandawa ke hutan, pembersihan terjadi.
Ini fase klarifikasi diri.

Fase 3 – Rubedo (Transformasi dan Kemenangan)

Kurukshetra dan penobatan Yudhistira.
Ini fase realisasi diri.

Jika kau membaca Mahabharata dengan kacamata alkimia, kau akan melihat bahwa seluruh perjalanan jiwa manusia ditulis di dalamnya.


9. Jangan Tanyakan “Apakah Ini Benar Terjadi?”, Tanyakan “Apa Maknanya?”

Pembaca biasa bertanya:
“Apakah perang Kurukshetra benar terjadi?”

Pembaca spiritual bertanya:
“Perang apa di dalam diriku yang sedang terjadi sekarang?”

Pembaca biasa bertanya:
“Benarkah Krishna melakukan mukjizat?”

Pembaca spiritual bertanya:
“Apa energi Krishna yang sedang membimbingku?”

Pembaca biasa bertanya:
“Tokoh mana yang benar, tokoh mana yang salah?”

Pembaca spiritual bertanya:
“Bagian diriku mana yang sedang menang dan mana yang harus ditundukkan?”

Pertanyaan menentukan kedalaman bacaan.


10. Hubungkan Kisah dengan Kehidupanmu Sendiri

Saat membaca Mahabharata, lakukan refleksi:

Jika kau menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kau tidak lagi membaca cerita.
Kau sedang membaca dirimu sendiri.


11. Temukan “Ajaran yang Tidak Tertulis”

Mahabharata menyimpan ajaran tersembunyi, misalnya:

Ini adalah ajaran yang tidak tertulis tetapi hadir di balik setiap adegan.


12. Kesimpulan Bab Ini

Membaca Mahabharata secara energis dan spiritual berarti:

Dengan cara ini, Mahabharata tidak hanya kau baca.
Ia membentukmu, membersihkanmu, membangkitkanmu, dan mengangkat kesadaranmu.

Di bab-bab selanjutnya kau akan diajarkan detail cara-cara membangkitkan kesaktian Pandawa dalam dirimu, langkah demi langkah mengalahkan Kurawa dalam dirimu, menangani bagian-bagian dirimu yang lain dengan sangat detail dan sangat lengkap, petunjuk lengkap mendengar suara Krisna/Suara Ilahi dalam dirimu, pembangkitan Kundalini dalam diri, dan sangat lengkap lainnya…..

SELANJUTNYA KALAU KAU SUKA DAN BUTUH BISA PRE ORDER BUKU INI TOTAL HALAMAN 559 HALAMAN, hard cover elite, ukuran buku sangat besar A4

Harga 1 jt  info ke Nyai di WA 085321016555