3 Maret 2026 - 16 Juni 2026
“Arloji Milik Abak” merupakan film pendek fiksi bergenre drama yang diproduksi sebagai tugas akhir mata kuliah Manajemen dan Produksi Film. Film ini mengangkat kisah autentik perjuangan seorang pemuda Minangkabau bernama Arif yang merantau ke Bandung untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Cerita berpusat pada simbol arloji besi yang diberikan oleh ayahnya (Abak) sebagai amanat waktu dan harga diri, serta janji untuk tidak pulang sebelum sukses - sebuah janji yang akhirnya berujung pada penyesalan mendalam ketika kabar duka datang dari kampung halaman.
Penulis dipercaya dalam empat peran kunci di bidang visual dan teknis: sebagai Kameramen dan Director of Photography (DOP) kedua yang bertanggung jawab atas estetika gambar, sebagai Floor Planner yang merancang tata letak set, serta sebagai Asisten Editor yang mendukung proses pasca-produksi.
Film berhasil diselesaikan dan dikumpulkan sesuai tenggat waktu yang ditentukan oleh laboratorium film, dengan total durasi 22 menit (termasuk credits).
Kinerja saya dalam peran sebagai DOP, Floor Planner, dan Asisten Editor mendapat apresiasi dari sutradara dan anggota tim lainnya, terutama dalam hal ketepatan teknis, kemampuan membaca dinamika adegan, dan kontribusi dalam memastikan film dapat diakses oleh penonton umum melalui subtitle.
Portofolio Visual: Film ini menjadi salah satu proyek audiovisual pertama yang menunjukkan kemampuan penulis dalam mengelola aspek visual dari sebuah produksi film, dari tahap perencanaan hingga pasca-produksi.
Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa produksi film adalah proses kolaboratif yang menuntut fleksibilitas dan penguasaan teknis lintas bidang. Dari proyek ini, saya belajar:
Perencanaan adalah Kunci: Floor plan dan photoboard yang matang sangat membantu mempercepat proses produksi dan mengurangi risiko kesalahan di lapangan.
Komunikasi Tim: Koordinasi yang baik dengan sutradara, editor, dan tim artistik memastikan bahwa visi bersama dapat terwujud di layar.
Adaptasi di Lapangan: Cuaca buruk dan kendala teknis mengajarkan penulis untuk berpikir cepat dan menemukan solusi alternatif tanpa mengorbankan kualitas visual.
Sinematografi sebagai Bahasa: Semakin saya semakin memahami bahwa setiap sudut kamera, pencahayaan, dan pergerakan adalah "bahasa" yang berbicara kepada penonton, dan penguasaan bahasa ini adalah inti dari komunikasi visual.
Pentingnya Aksesibilitas: Peran sebagai asisten editor yang memasukkan subtitle mengajarkan bahwa karya audiovisual yang baik adalah karya yang dapat dinikmati oleh semua orang, tanpa batasan bahasa.
Sebagai DOP dan Kameramen, saya bertugas untuk menerjemahkan visi sutradara ke dalam bahasa visual. Tanggung jawab mencakup:
Menentukan Komposisi dan Framing: Merancang setiap shot sesuai dengan kebutuhan naratif, memastikan bahwa setiap adegan memiliki makna visual yang mendukung cerita.
Pengaturan Pencahayaan: Bekerja sama dengan tim gaffer untuk menciptakan suasana (mood) yang sesuai, mulai dari cahaya hangat di Rumah Gadang hingga cahaya dingin dan suram di kamar kost Bandung.
Pergerakan Kamera: Mengeksekusi berbagai teknik pergerakan kamera, seperti panning, tilt, dan tracking, untuk menambah dinamika emosi penonton.
Koordinasi Tim: Berkoordinasi dengan sutradara, asisten sutradara, dan tim artistik untuk memastikan kesinambungan visual (continuity) di setiap adegan.
Saya juga bertugas sebagai Floor Planner, yang berarti merancang tata letak peralatan, posisi kamera, dan pergerakan aktor di dalam set. Tugas ini mencakup:
Pembuatan Floor Plan: Menggambar denah detail untuk setiap lokasi syuting (kamar kost, teras rumah gadang, dll.) yang mencakup posisi kamera, jalur pergerakan aktor, dan penempatan alat penerangan.
Koreografi Adegan: Merancang blokir aktor dan pergerakan kamera untuk adegan-adegan kunci, termasuk adegan klimaks di mana Arif mengalami lima tahap kesedihan (denial, anger, bargaining, depression, acceptance) setelah menerima kabar kematian ayahnya.
Efisiensi Ruang: Memastikan bahwa setiap set dipersiapkan dengan efisien, sehingga proses syuting berjalan lancar tanpa hambatan teknis.
Selain bertugas di lapangan, saya juga berperan sebagai Asisten Editor yang mendampingi editor utama (Ardra Rafif Maulana) dalam proses pasca-produksi. Tugas ini mencakup:
Pemasangan Subtitle: Menambahkan teks terjemahan untuk seluruh dialog berbahasa Minang dalam film, memastikan bahwa pesan emosional dan naratif dapat diakses oleh penonton yang tidak memahami bahasa daerah.
Penyortiran dan Pengorganisasian Footage: Membantu editor dalam memilah dan mengorganisir ratusan klip video dari empat hari syuting, memastikan bahwa semua materi tersusun rapi dan memudahkan proses penyuntingan.
Pendampingan Kreatif: Memberikan masukan dan saran teknis kepada editor utama terkait pemilihan shot, transisi, dan ritme naratif, berdasarkan pemahaman mendalam terhadap naskah dan visi sutradara.
Quality Control: Melakukan pengecekan akhir terhadap setiap adegan untuk memastikan tidak ada kesalahan teknis atau naratif sebelum film dikumpulkan ke laboratorium.
Perencanaan Visual: Bersama sutradara dan tim DOP, penulis merancang shotlist dan photoboard yang menjadi panduan visual selama syuting. Sebanyak 19 halaman photoboard dan 6 halaman floor plan disiapkan untuk memastikan semua adegan ter-eksekusi sesuai rencana.
Pembuatan Floor Plan: Saya membuat denah detail untuk tiga lokasi utama: Rumah Gadang (Padang), Kamar Kost, dan Lokasi Eksterior (Jalanan Bandung). Denah ini menjadi acuan bagi tim teknis dalam menata peralatan dan mengatur pergerakan aktor.
Pengambilan Gambar (Shooting): Proses syuting berlangsung selama 4 hari dengan total durasi pengambilan gambar lebih dari 32 jam. Penulis mengoperasikan kamera Sony A6400 dan bertanggung jawab atas keseluruhan hasil visual.
Pencahayaan dan Mood: Penulis menetapkan moodboard yang menggunakan warna hangat untuk adegan di kampung halaman dan warna dingin untuk adegan di kota, sebagai simbol keterasingan dan kesulitan.
Koreografi Adegan Klimaks: Penulis merancang koreografi pergerakan kamera untuk adegan 5 tahap kesedihan Arif, mulai dari gerakan statis pada tahap denial, hingga gerakan dinamis yang mengikuti Arif merosot ke lantai pada tahap depression.
Penyuntingan dan Subtitle: Penulis mendampingi editor utama dalam proses pemilihan footage, memberikan arahan color grading, serta memasukkan subtitle untuk seluruh dialog berbahasa Minang agar film dapat dinikmati oleh khalayak yang lebih luas.
Finalisasi: Melakukan pengecekan akhir terhadap seluruh elemen film, memastikan bahwa semua komponen (video, audio, subtitle, dan credits) telah lengkap dan sesuai dengan ketentuan laboratorium sebelum pengumpulan.