Karikatur Nyata dari Cerminan Diri
Original Cleric (21 Nov 2020)
Dahulu kala, di masa SMA, gua menciptakan semacam karakter - atau mungkin lebih tepatnya disebut maskot untuk keperluan branding diri di lingkungan sekolah. Karakter ini kemudian gua pake saat ngajar TIK, Desain Grafis, dan Perkomikan di Entrepreneur SMA Negeri 1 Banjar (ESMA), semacam ekstrakurikuler desainer grafis di sekolah gua.
Gua lupa persis kenapa karakter ini gua kasih nama Cleric. Mungkin karena karakternya yang cenderung "menceramahi". Secara harfiah, cleric berarti petinggi agama, pendeta, ustad - kurang lebih semacam sosok yang suka ngasih wejangan, mau itu diminta atau tidak.
Awal mula karakter ini justru lahir dari hal yang sangat gak sakral: iseng-iseng untuk tugas video Kimia. Gua gambar Cleric sebagai karikatur diri sendiri saat itu, lalu diikuti ama gambar seluruh anggota kelompok gua: All Barra, Asih, dan Naira - masih gua inget nama-nama kalian pada, ya.
Tapi, setelahnya, gua sadar kalau karakter ini ternyata berguna juga sebagai semacam maskot - dibalut dengan humor yang ironis, penuh sarkasme, dan kadang absurd.
Ada masa di mana karakter ini hampir dipake kayak khodamnya gua. Tiba-tiba gua bisa "kerasukan", terus mulai berceramah tentang hukuman Sisyphus atau teori perahu Theseus ke teman sebangku. Bahkan guru BK terpaksa tarik gua keluar kelas karena gua keseringan ganggu kegiatan belajar-mengajar di kelas dengan penuh sensasi.
Waktu itu, kanvas kosong benar-benar menjadi tempat untuk menuangkan segala ide liar - komentar sosial, kritik, sampai topik-topik yang dianggap tabu. Kadang gua sendiri kaget kalau sudah sampai sejauh ini. Awalnya cuma coretan garis, sekarang sudah menjadi bagian dari hidup. Orang-orang di institusi mungkin gak tau kalau semua ini berawal dari hobi iseng gua coret-coretni wajah kawan pakai spidol permanen.
Sinopsis
Bermula dari sebuah kutipan Albert Camus: "One must imagine Sisyphus happy." Wuwun, yang penasaran, nanya ke kawannya, Cleric - semacam difabel intelek berjas. Cleric dengan lembutnya menjelaskan renungan eksistensial: Bahwa kebahagiaan bukan tentang situasi, tapi tentang gimana kita memilih merespon dan menerima absurditas hidup. Wuwun cuma bisa melongo, Berpikir cuma bacotan filosofis doang. "Gimana orang bisa bahagia di situasi parah gitu?"
Cek lengkapnya di tombol embed bawah foto cover web komik strip.
Latar Belakang & Inspirasi Komik Strip
Sebuah proyek komik strip yang sempat gua tinggalkan pada tahun 2023 lalu, tapi baru gua selesaikan di 12 Oktober 2025. Setelah iseng-isengan mengotak-atik hard drive bekas SMA. Sekarang gua baru sadar: "Buset, umur 17 tahun gua sudah milsuf gini?!"
Menginjak usia 18 tahun, gua berada dalam dilema klasik: punya otak bocah tapi jiwa seorang pria - bingung mau melangkah ke mana. Waktu itu gua mikir yang terpenting adalah bahagia - mau itu halal atau haram. Untungnya gak lama kemuadian gua sadar itu pertanyaan yang bego.
Tapi, di masa inilah gua mulai menemukan jati diri, ketika akhirnya paham gimana cara mendapatkan sumber "keenakan" atau energi hidup. Hasil dari browsing dan maki-maki orang di internet, yaitu: Cari sensasi. Makasih Sisyphus.
Sisyphus rela dorong batu terus gelinding lagi ke bawah bukit demi kesadaran gua sebagai remaja baru-baru puber untuk menikmati hidup mau susah mau mudah dengan didasari atas rasa syukur. Kasian wkwkwk.