Desinfektan dikatakan ideal jika mampu bekerja dengan cepat menginaktivasi bibit penyakit, berspektrum luas, dan aktivitasnya tidak dipengaruhi oleh bahan organik, pH, suhu maupun kelembaban. Desinfektan yang baik juga tidak memiliki sifat toksik pada hewan dan manusia, tidak korosif, bersifat biodegradable (bisa terurai dan tidak meninggalkan residu), memiliki kemampuan menghilangkan bau yang kurang sedap, tidak meninggalkan noda, dan mudah digunakan (Butcher dan Ulaeto, 2010).
Golongan Desinfektan
Beberapa golongan desinfektan yang sering digunakan di peternakan antara lain:
Alkohol
Desinfektan turunan alkohol, seperti etanol dan isopropanol, memiliki sifat non-korosif tapi berefek kaustik (mengiritasi, seperti terbakar).
Aldehid
Turunan aldehid seperti formaldehid, paraformaldehid, dan glutaraldehid bekerja mendenaturasi protein sel bibit penyakit, memiliki spektrum luas, bersifat stabil, persisten, biodegradable, dan cocok untuk desinfeksi beberapa material peralatan. Namun senyawa ini mudah menimbulkan resistensi, berpotensi sebagai karsinogen, dan bisa mengiritasi selaput lendir (Larson, 2013).
Oxidizing Agent
Senyawa pengoksidasi (oxidizing agent) yang umum digunakan sebagai desinfektan adalah hidrogen peroksida, iodine dan Chloramine-T. Mekanisme kerja senyawa ini ialah mengganggu struktur dan proses sintesis protein serta asam nukleat. Desinfektan golongan ini efektif membunuh bakteri, virus, dan jamur, namun memiliki sifat korosif terhadap logam.
Fenol
Senyawa turunan fenol (misal kresol) memiliki aktivitas antimikroba dengan merusak lapisan lemak (lipid) pada membran plasma bibit penyakit
Ammonium Quartener (QUATS)
Turunan QUATS seperti benzalkonium chloride (BKC), benzetonium chloride, setrimid, dan domifen bromida memiliki efek bakterisidal dan bakteriostatik terhadap bakteri Gram (+) maupun (-), jamur serta protozoa. Tetapi turunan ini tidak aktif terhadap bakteri pembentuk spora dan virus tidak beramplop. Keuntungan penggunaan QUATS: toksisitas rendah, kelarutan dalam air besar, stabil dalam larutan air, tidak berwarna dan non-korosif terhadap logam.
Penggunaan Desinfektan
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan desinfektan, yaitu:
Jenis bibit penyakit
Tiap golongan desinfektan memiliki target mikroorganisme yang berbeda, oleh karenanya pemilihan desinfektan harus tepat.
Sifat kimia dan formulasi
Kombinasi dengan surfaktan sangat dianjurkan. Surfaktan akan membantu menurunkan tegangan permukaan sel bibit penyakit, sehingga penetrasi desinfektan terhadap bibit penyakit meningkat dan daya bunuhnya lebih baik.
Dosis pemakaian
Dosis desinfektan hendaknya disesuaikan dengan aturan pakai yang tercantum pada label kemasan produk. Khusus untuk desinfeksi kandang, kebutuhan desinfektan tiap m2 adalah 300 ml.
Contoh perhitungan penggunaan desinfektan :
Kandang memiliki panjang 120 meter dengan lebar 10 meter.
Luas kandang = 120 m x 10m = 1200 m2
Luas permukaan kandang yang akan disemprot (karena 2 lantai maka) = 2 x 1200 m2 = 2400 m2
Kandang akan disemprot menggunakan Desinfeksi dengan dosis 15 ml/10 liter air. Maka jumlah desinfektan yang diperlukan :
= 2400 m2 x 300 ml/m2(ketetapan) x 15 ml/10000ml (dosis desinfektan)
= 1080ml 1,080L
Jadi, kebutuhan desinfeksi untuk semprot kandang seluas 2400m2 adalah 1,080l
Waktu kontak
Sesaat setelah diaplikasikan, desinfektan mulai mengalami degradasi sehingga efektivitasnya berangsur menurun. Maka semakin singkat waktu kontak desinfektan membasmi bibit penyakit, semakin efisien. Desinfektan golongan oxidizing agent dan QUATS diketahui memiliki waktu kontak relatif singkat (10 – 30 menit) dibandingkan fenol.
Material organik
Materi organik, seperti sisa feses, darah dan lendir dapat menurunkan efektivitas desinfektan karena akan menghalangi kontak antara desinfektan dengan bibit penyakit. Di sinilah pentingnya melakukan pembersihan kandang secara optimal dengan menghilangkan semua bahan organik yang ada sebelum desinfeksi. Sikat semua bagian kandang meliputi sela-sela dinding atau lantai kandang, kemudian semprot dengan air dan keringkan.
Suhu
Desinfektan golongan oxidizing agent bisa menguap lebih cepat pada suhu tinggi sehingga efektivitasnya akan cepat menurun.
pH
Desinfektan bekerja optimal pada pH tertentu. Misalnya desinfektan golongan oxidizing agent bekerja optimal pada pH asam hingga netral (4 – 7), sedangkan desinfektan golongan QUATS dan aldehid pada pH basa hingga netral. Maka sebaiknya menggunakan air ber-pH netral untuk melarutkan desinfektan sehingga semua golongan desinfektan bisa bekerja optimal.
Kesadahan pelarut
Tingkat kesadahan pelarut (air) sebanding dengan kandungan ion Ca2+ dan Mg2+ dalam air. Pelarutan desinfektan pada air dengan kesadahan tinggi menurunkan potensi desinfektan, terutama desinfektan golongan QUATS dan oxidizing agent.