Ajaran Islam sangat memperhatikan kehidupan umat manusia sampai detail sekali. Apalagi untuk ummat Islam sendiri. Semua aturan yang ada dalam Islam bertujuan untuk menciptakan keselarasan, keteraturan, sinergi, harmoni dan segala keindahan dalam bermasyarakat. Kondisi yang sangat diidamkan semua bangsa di dunia. Islam sangat menjunjung tinggi kemanusiaan dan hak asasi. Semua diberikan oleh Allah untuk menjaga kelangsungan hidup manusia.
Al-Qur’an memberi tuntunan sebenarnya untuk semua ummat manusia. Namun hanya mereka yang beriman saja terhadap al-Qur’an yang mampu menerapkan isi kandungan al-Qur’an. Atau meskipun tidak beriman, tetapi mereka menemukan dan menerapkan kebenaran al-Qur’an.
Al-qur’an melarang hal-hal yang bisa menimbulkan dampak negatif bagi umat manusia, yang bisa menimbulkan kerusakan dan mengganggu kelangsungan hidup manusia.
Dalam bab ini akan kita membahas tentang :
Ukhuwah atau persaudaraan yakni rasa satu saudara dalam satu keyakinan walaupun berbeda Ras. Kita akan menelaah QS. Al-Hujurat ayat 10.
Khusnu azh-Zhan atau berprasangka baik yakni sesuatu yang datang sebelum realita yang sering menghinggapi benak kita yang bersifat positif. Kita akan menela’ah QS. Al- Hujurat ayat 12.
Mujahadah an-Nafs atau pengendalian diri, yakni sesuatu yang harus kita lakukan saat kita dihinggapi rasa ingin menumpahkan emosi atau amarah agar tidak menimbulkan efek negatif.
A. Menelaah QS al-Hujurat (49) ayat 10
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (١٠)
Mengidentifikasi Kosa Kata
2. Mengidentifikasi terjemah
Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.
3. Mengidentifikasi Tajwid
Sebab-sebab turunnya ayat (Asbab an-Nuzul)
Anas r.a. berkata: “Ada yang mengatakan kepada Nabi Saw. “Sebaiknya Baginda menemui ‘Abdullah bin Ubay.” Maka Nabi Saw. menemuinya dengan menunggang keledai, sedangkan kaum muslim berangkat bersama Beliau dengan berjalan kaki melintasi tanah yang tandus. Ketika Nabi Saw. menemuinya, ia berkata: “Menjauhlah dariku, demi Allah, bau keledaimu menggangguku”. Maka berkatalah seseorang dari kaum Anshar, di antara mereka: “Demi Allah, sungguh keledai Rasulullah Saw. lebih baik daripada kamu”, maka seseorang dari kaum Abdullah bin Ubay marah demi membelanya dan ia mencela keledai Rasulullah Saw, sehingga marahlah setiap orang dari masing-masing kelompok. Saat itu kedua kelompok saling memukul dengan pelepah kurma, tangan, dan sandal. Kemudian sampai kepada kami bahwa telah turun ayat Q.S. al-Hujurat ayat 10 yang artinya ("jika dua kelompok dari kaum muslimin berperang maka damaikan keduanya”). (H.R. Bukhari)
Penjelasan
Dalam ayat ini Allah memberikan gambaran bahwa orang beriman itu bersaudara kita, agar kita mendapatkan Rahmat Allah maka kita diperintahkan untuk :
Mendamaikan 2 orang beriman jika berselisih
Bertaqwa kepada Allah.
Jika ada dua orang mukmin yang berselisih maka rahmat Allah tidak akan diturunkan kepada keduanya, agar Rahmat Allah turun maka kedua Mukmin yang berselisih harus berdamai.
Sebagai orang ketiga harus bisa mendamaikan dua mukmin yang berselisih dengan prinsip tidak boleh memihak kepada salah satu orang mukmin. Dan dengan memegang teguh ketaqwaan yakni rasa takut kepada Allah.
Jika kita bisa mendamaikan dua orang mukmin yang berselisih maka kita dan kedua orang mukmin yang berselisih akan mendapat Rahmat dari Allah.
Ukhuwwah Islamiyyah merupakan konsekuensi dari iman. Hendaknya seorang muslim memiliki hati yang bersih dan menghindari sifat hasad ataupun iri terhadap kesuksesan orang lain. Sebaliknya harus merasa senang dan bahagia atas keberhasilan dan kesuksesan yang dicapai saudaranya. Kualitas iman yang dimiliki seorang muslim akan berdampak pada sikap dan perilaku sosial sesama muslim, misalnya tumbuhnya sikap tasamuh yaitu toleran dengan saling memahami, saling menghormati, saling menghargai dalam perbedaan, selama perbedaan tersebut masih bersifat furu’ atau bersifat cabang bukan bersifat ushul atau bersifat pokok ajaran.
Persaudaraan (ukhuwwah) harus diwujudkan dalam kehidupan nyata. Sikap dan perilaku yang merupakan perwujudan persaudaraan (ukhuwwah) di antaranya bersikap lemah lembut, kasih sayang, rendah hati dan saling mencintai.
Ayat di atas menjelaskan bahwa sesama mukmin adalah saudara. Inti dari persaudaraan (ukhuwwah) adalah adanya persamaan, semakin banyak persamaan di antara sesama, maka akan semakin kokoh jalinan persaudaraan di antara sesama manusia.
Sementara itu, persaudaraan (ukhuwwah) dibagi tiga, yaitu:
Ukhuwwah Islamiyah, yaitu persaudaraan karena sama-sama memiliki persamaan agama dan keyakinan.
Ukhuwwah Wathaniyah, yaitu persaudaraan karena sama-sama satu bangsa dan keterikatan keturunan tanpa membedakan suku, agama, warna kulit adat istiadat, budaya dan aspek-aspek lainnya..
Ukhuwwah Insaniyah atau Basyariyah, yaitu persaudaraan karena sama- sama sebagai sesama manusia secara universal, tanpa membedakan ras, suku, bangsa, agama, warna kulit dan aspek-aspek lainnya.
Ketiga persaudaraan (ukhuwwah) tersebut harus dilaksanakan secara bersamaan, dan tidak boleh berdiri sendiri. Melaksanakan ketiga ukhuwwah tersebut secara bersamaan akan memperkuat tegaknya kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang aman dan tenteram. Lebih dari itu Akan memunculkan solidaritas dan timbulnya kepedulian sosial di masyarakat. Sebagai sesama mukmin, maka kita harus mampu menjaga martabat dan kehormatan sesama mukmin.
Persaudaraan sesama mukmin harus selalu dijaga agar semakin kokoh. Nabi Muhammad Saw. pernah bersabda :
Artinya: “Dari Abu Musa meriwayatkan dari Nabi Saw. Bahwa beliau bersabda: “kaum mukmin adalah bersaudara satu sama lain ibarat (bagian-bagian dari) suatu bangunan satu bagian memperkuat bagian lainnya.” dan beliau menyelipkan jari-jari disatu tangan dengan tangan yang lainnya agar kedua tangannya tergabung.” (H.R. Bukhari)
Adanya persaudaraan (ukhuwwah) yang kuat akan menjadikan kehidupan yang harmonis, diliputi rasa saling mencintai, saling menjaga perdamaian dan persatuan. Untuk memperkokoh persaudaraan (ukhuwwah) maka lakukanlah hal-hal berikut ini:
Ta’aruf, saling mengenal antara umat Islam bukan hanya penampilan fisik namun juga tentang ide, gagasan dan lain sebagainya.
Tafahum, dengan saling mengenal antara sesama umat Islam, maka akan timbul sikap berusaha untuk memahami saudaranya.
Ta’awun, setelah saling memahami sudah terjalin, maka akan timbul sikap saling mendoakan dan saling menolong.
Takaful, jika ketika sikap tersebut sudah terlaksana dengan baik maka akan timbul sikap senasib dan sepenanggungan seperti yang dicontohkan oleh sahabat-sahabat Anshar Madinah terhadap sahabat-sahabat Muhajirin dari Makkah.
Hikmah Persaudaraan
Di antara hikmah menjaga persaudaraan (ukhuwwah) yaitu:
menumbuhkan sikap saling memahami dan saling pengertian di antara sesama menumbuhkan sikap saling tolong-menolong,
menumbuhkan sikap saling tolong-menolong
menumbuhkan sikap saling menghormati dan menghargai akan melahirkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa
menimbulkan tenggang rasa dan tidak menzhalimi antara sesama.
tercipta dan terjalinnya solidaritas yang kuat antara sesama muslim
terbentuknya kerukunan hidup antara sesama warga masyarakat.
B. Menelaah QS al-Hujurat (49) ayat 12
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ (١٢)
Mengidentifikasi kosa kata
2. Mengidentifikasi terjemah
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
3. Mengidentifikasi Tajwid
4. Sebab-sebab turunnya ayat (Asbab an-Nuzul
Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir yang bersumber dari Ibnu Juraij, bahwa ayat ini (al-Hujurat/49: 12) turun berkenaan dengan Salman al-Farisi yang bila selesai makan, suka tidur sambil mendengkur. Pada waktu itu ada orang yang menggunjing perbuatannya. Maka turunlah ayat ini (al- Hujurat/49: 12) yang melarang seseorang mengumpat dan menceritakan 'aib orang lain
5. Penjelasan
Ayat ini diawali dengan kata يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا, hal ini menunjukkan bahwa konteks ayat ini untuk orang-orang yang beriman. Ayat yang di dahului dengan kalimat يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا biasanya adalah ayat yang turun di Madinah atau turun setelah Rasulullah Saw. Hijrah. Waktu dimana keimanan para Shabat sudah cukup kuat. Tidak seperti saat di Mekkah atau sebelum hijrah dimana keimanan para sahabat masih belum kuat. Masih banyak yang belum bisa meninggalkan kebiasaan jahiliyahnya.
Dalam ayat ini terkandung perintah :
Menjauhi sebanyak-banyaknya dari berprasangka, karena sebagian besar prasangka itu dosa. Walaupun ada prasangka yang baik tetapi kebanyakan prasangka itu mengarah kepada dosa. Kadang-kadang prasangka kita meskipun baik ternyata bisa berakibat buruk.
Bertaqwa kepada Allah, atau takut kepada Allah dari berprasangka. Allah itu Maha Menerima Taubat dan lagi Maha Penyayang.
Mengapa setelah perintah bertaqwa disusul sifat Allah yang Maha Menerima Taubat, hal ini menunjukkan bahwa sebelum ada perintah bertaqwa ini kita sudah sering berprasangka. Secara tidak langsung kita disuruh bertaubat meminta maaf terhadap segala yang telah kita lakukan. Sebesar apapun dosa kita kalau kita bertaubat Allah pasti akan menerima taubat kita. Kemudian diakhiri kata Maha penyayang, artinya Allah menjanjikan nanti di akhirat rasa sayang Allah itu akan diberikan.
Dalam ayat ini juga terkandung larangan :
Jangan mencari-cari kesalahan/keburukan orang lain. Karena dengan mencari keburukan-keburukan orang lain akan melahirkan prasangka, yang sebagianbesar adalah dosa. Dengan mencari keburukan orang lain maka kita akan lupa kan kebaikan orang lain. Padahal melupakan kebaikan itu adalah tanda orang yang kufur terhadap nikimat.
Jangan saling menggunjing sebagian kita terhadap sebagian yang lain. Menggunjing adalah membicarakan orang lain yang sedang tidak ada. Hal ini oleh Allah diibaratkan memakan daging saudaranya yang sudah mati. Kita menggunjing sama halnya dengan makan bangkai orang yang kita gunjingkan. Kita pasti tidak suka mamakan bangkai saudara kita yang sudah mati. Dengan kata lain kalau kita tidak suka makan bangkai saudara kita, maka jangan menggunjing. Jika kita pernah menggunjing orang maka segeralah kita bertaubat.
Prasangka buruk dilarang karena prasangka buruk adalah suatu sikap/budi bekerti yang tidak berdasar pada fakta yang tepat. Seperti tidak bijak ketika membaca berita di media yang memberitakan kejelekan orang lain. Padahal, kita diingatkan untuk menjauhi prasangka buruk dan mencari-cari kesalahan orang lain. Sebaliknya, kita diperintahkan untuk menyibukkan dengan mencari kesalahan dan keburukan diri kita sendiri agar kita dapat berinstropeksi diri terhadap kekurangan kita. Tentu saja agar kita memperbaiki kekurangan dan kesalahan kita.
Perhatikan sabda Nabi berikut ini:
Artinya: “Dari al-A’raj ia berkata; Abu Hurairah berkata; Satu peninggalan dari Nabi Saw., beliau bersabda: “Jauhilah oleh kalian prasangka, sebab prasangka itu adalah ungkapan yang paling dusta. Dan janganlah kalian mencari-cari 'aib orang lain, jangan pula saling menebar kebencian dan jadilah kalian orang-orang yang bersaudara.“ (H.R. Bukhari )
Selanjutnya, Rasulullah Saw. menjelaskan apa itu ghibah sebagaimana tercantum dalam hadis berikut ini :
Artinya: “Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda: “Tahukah kalian apakah ghibah itu?”. Sahabat menjawab: “Allah dan Rasul- Nya yang lebih mengetahui”. Nabi Saw. berkata: “Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu”, Nabi Saw. ditanya: “Bagaimanakah pendapat anda, jika itu memang benar ada padanya? Nabi Saw. menjawab: “Kalau memang sebenarnya begitu berarti engkau telah mengghibahinya, tetapi jika apa yang kau sebutkan tidak benar maka berarti engkau telah berdusta atasnya”. (H.R. Muslim)
Hadis tersebut menjelaskan bahwa ghibah adalah menyebut orang lain yang tidak hadir di hadapan penyebutnya dengan sesuatu yang tidak disenangi oleh yang bersangkutan. Dapat juga dikatakan bahwa ghibah adalah membicarakan dan menyebutkan kejelekan orang lain. Tentu tidak ada satu orang pun yang senang dibicarakan oleh orang lain. Orang yang melakukan ghibah tidak berniat untuk mencari kebenaran, tetapi hanya untuk sekedar melampiaskan dan memuaskan hawa nafsu untuk membicarakan kejelekan orang lain.
Dengan maksud mempermalukan seseorang di depan orang lain. Dan seseorang yang melakukan ghibah berarti memiliki sifat takabur. Merasa dirinya lebih hebat dari orang lain
Di antara penyebab utama prasangka buruk, mencari kesalahan orang lain, dan ghibah adalah adanya kebencian atau sakit hati terhadap orang tertentu. Oleh karena itu, perilaku ini harus dijauhi karena walaupun kejelekan tersebut memang sebuah kenyataan, tetapi hal ini sangat berbahaya dan bisa menjadi fitnah.
Fitnah adalah menyampaikan berita palsu (hoax) atau berita salah, tidak sesuai dengan kenyataan. Perbuatan fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Oleh karena itu, fitnah merupakan perbuatan keji yang harus dijauhi. Akibat buruk dari fitnah di antaranya adalah mencoreng nama baik seseorang, dan menyebabkan perpecahan satu orang dengan orang yang lain. Bahkan, akibat buruk fitnah ini sangat sulit untuk dibenahi. Jika berita bohong sudah terlanjur tersebar, sangat sulit mencabutnya. Seseorang yang sudah terlanjur membaca berita bohong belum tentu membaca ralat beritanya, padahal ralat berita ini dimaksudkan untuk meluruskan berita bohong tersebut. Penyebab fitnah biasanya terjadi karena beberapa hal, di antaranya adalah tidak melakukan pengecekan kebenaran berita (tabayyun), dan adanya kebencian kepada orang lain. Jadi, pada dasarnya antara ghibah dan fitnah memiliki perbedaan, yaitu ghibah menyampaikan keburukan orang lain, dan keburukan tersebut memang kenyataan. Akan tetapi fitnah menyampaikan data atau berita palsu dan tidak bisa dipertanggung-jawabkan. Keduanya merupakan perilaku tercela yang harus dijauhi.
Perbuatan buruk sangka, mencari-cari kesalahan orang lain, dan menggunjing dalam kehidupan sehari-hari sulit dihindari karena adanya penyakit hati dalam diri kita. Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk mengontrol diri (mujahadah an-nafs) dari perbuatan dosa. Yaitu, mengontrol diri kita agar mencegah hawa nafsu untuk berprasangka buruk, agar tidak mencari-cari kesalahan orang lain, dan tidak menggunjing orang lain.
Hawa nafsu memiliki kecenderungan untuk mencari berbagai macam kesenangan dengan tidak mempedulikan aturan agama. Jika kita menuruti hawa nafsu, sesungguhnya hati kita telah tertawan dan diperbudak oleh hawa nafsu itu. Jihad melawan hawa nafsu merupakan jihad yang besar. Mengapa demikian?. Hal ini dikarenakan jihad melawan nafsu, berarti jihad melawan keinginan terhadap hal-hal yang buruk dan menimbulkan bahaya bagi kemanusiaan. Bukankah menghindari sesuatu yang kita senangi jauh lebih berat daripada menghindari sesuatu yang kita benci?
Selain kontrol diri, seorang muslim hendaknya berprasangka baik. Berikut adalah beberapa sasaran Husnuzhan :
Husnuzhan kepada Allah Swt.
Berprasangka baik (husnuzhan) kepada Allah, artinya bahwa Allah Swt. memiliki sifat Maha sempurna, Maha Kuasa atas segala sesuatu, Maha Pengasih dan Penyayang kepada semua ciptaan-Nya.
Rasulullah Saw. bersabda dalam sebuah hadis:
Artinya: Dari Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda: Allah ta’ala berfirman: ”Aku sesuai persangkaan hamba-Ku, Aku bersamanya ketika mengingat-Ku, jika ia mengingat-Ku saat sendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku, jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada itu (kumpulan malaikat).” (Muttafaqun alaih)
Berdasarkan hadis di atas dapat disimpulkan bahwa jika seseorang berprasangka baik kepada Allah Swt., maka Allah Swt. juga akan berprasangka baik kepadanya. Mengapa seorang muslim wajib berprasangka baik kepada Allah Swt.?. Dikarenakan ada keterbatasan pada manusia, manusia hanya mengetahui segala sesuatu yang tersurat dari yang nampak secara realita, sementara yang tersirat dari rahasia-rahasia Allah Swt. manusia tidak memiliki pengetahuannya. Untuk itu manusia harus berprasangka baik, karena boleh jadi hasil pilihan yang diperoleh dari hasil analisa pikirannya dianggap baik, justru sesungguhnya berakibat buruk atau sebaliknya yang dianggap buruk, sesungguhnya merupakan hal yang baik baginya. Perwujudan husnuzhan kepada Allah Swt. antara lain:
a) Husnuzhan dalam bertaqwa kepada Allah Swt.
Bertaqwa pada Allah Swt. artinya melaksanakan segala perintah- Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Husnuzhan dalam bertaqwa pada Allah Swt. artinya meyakini bahwa semua perintah Allah Swt. adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri. Begitu juga semua larangan-Nya pasti akan berakibat buruk apabila dilanggar.
b) Husnuzhan dalam berdoa
Berdoa merupakan permohonan atas segala yang diinginkan seseorang. Seorang muslim yang memahami Husnuzhan pada Allah Swt. dalam berdoa akan yakin bahwa doanya akan dikabulkan oleh Allah Swt., namun bila belum dikabulkan, maka ia akan berfikir inilah yang terbaik dan ia akan menerimanya dengan penuh keikhlasan.
c) Husnuzhan dalam berikhtiar dan bertawakal
Ikhtiar merupakan usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan hal yang dicita-citakan. Dalam berikhtiar sikap Husnuzhan kepada Allah Swt. harus dikembangkan, karena tidak semua ikhtiar yang dilakukan sesuai dengan yang diharapkan. Oleh karena itu, dalam berikhtiar harus selalu digandengkan dengan sikap tawakal yaitu menyerahkan hasil ikhtiarnya hanya kepada Allah Swt. semata, sehingga ketika ikhtiarnya berhasil maka ia akan bersyukur dan ketika gagal ia akan bersabar dengan tidak berputus asa.
Husnuzhan kepada orang lain
Husnuzhan kepada orang lain artinya seluruh ucapan, sikap dan perbuatan yang dilakukan oleh seseorang akan diterima apa adanya tanpa diringi oleh prasangka atau dugaan-dugaan yang bersifat negatif.
Mengembangkan sikap husnuzhan kepada orang lain dapat dilakukan dengan cara berusaha untuk melihat kebaikan orang lain dan mengakuinya dengan jujur atas segala kelebihan yang dimilikinya. Sebaliknya, berusahalah untuk melupakan segala keburukan orang lain yang pernah dilakukannya kepada diri kita. Begitu juga, berusahalah untuk mengingat keburukan yang pernah kita lakukan pada orang dan berusahalah untuk tidak mengulangnya kembali. Sebaliknya, berusahalah untuk mengingat kebaikan-kebaikan yang pernah orang lakukan untuk kita. Sebagai muslim, juga harus hidup berdampingan dengan sesama muslim yang lain serta menghormati hak dan kewajibannya. Rasulullah Saw. bersabda:
Artinya : “Dari Abu Hurairah r.a. dia berkata, Rasulullah Saw. bersabda: “Seorang muslim (yang sejati) adalah orang yang dengan muslim lainnya selamat dari (bahaya) lisan dan tangannya.” (H.R. Tirmidzi)
Hadis tersebut menjelaskan seorang muslim harus menjaga lisannya. Ucapan kepada orang lain terutama sesama muslim, harus lemah lembut dan tidak mengandung kebohongan. Guna menghindari buruk sangka terhadap seseorang, Islam mengajarkan untuk melakukan tabayyun bila mendapat informasi negatif tentang seseorang, Islam sangat melarang umatnya untuk secara gegabah mempercayai apalagi merespon negatif sebuah informasi tanpa melakukan pengecekan terlebih dahulu. Hal ini bertujuan agar informasi yang didengar tidak menimbulkan prasangka buruk yang berakibat buruk pada orang yang diberitakan. Muslim sejati selalu menjaga lisannya sebagai bentuk husnuzhan kepada orang lain.
3. Husnuzhan kepada diri sendiri
Seseorang yang berprasangka baik kepada diri sendiri, akan menyadari bahwa setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu, seharusnya manusia senantiasa mensyukuri apapun yang sudah diberikan oleh Allah Swt. Kedada dirinya. Tidak perlu merasa rendah diri di hadapan orang lain. Boleh jadi kekurangan yang dimiliki oleh seseorang justru itulah kelebihan yang dimilikinya.
Dengan menyadari kelebihan yang ada pada dirinya, maka timbul sikap yang penuh harapan, tidak mudah putus asa ketika menghadapi tantangan hidup bahkan bersikap optimis dengan bekerja keras, kerja ikhlas, kerja cerdas, kerja mawas, dan kerja tuntas. Dengan menyadari kekurangan pada dirinya, maka berusaha untuk memperbaikinya dan menjadikannya sebagai sebuah kekuatan.
Seseorang akan mendapatkan banyak hikmah dari perilaku kontrol diri dan berprasangka baik (husnuzhan).
Di antara hikmah perilaku kontrol diri (mujahadah an-nafs) sebagai berikut:
meningkatnya sifat sabar, dengan tidak cepat memberikan reaksi terhadap permasalahan yang timbul
dapat mencegah perilaku buruk atau negatif dari seseorang
mendapatkan penilaian yang positif dari lingkungan
terbinanya hubungan baik dalam berinteraksi sosial dengan sesama.
Sedangkan hikmah perilaku berprasangka baik (husnuzhan) di antaranya sebagai berikut:
senantiasa bersikap optimis dalam menghadapi kehidupan
terbentuknya sifat percaya diri dalam diri seseorang
gigih, ulet, tangguh dalam melakukan ikhtiarnya, sehingga tidak mudah putua asa ketika menghadapi kegagalan
ridha terhadap takdir Allah Swt., karena tugas manusia hanya berusaha dan yang menentukan adalah Allah Swt.
Menerapkan Perilaku Kontrol Diri (Mujahadah an-Nafs)
Rasulullah Saw, bersabda :
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
Dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah Saw. Bersabda :” Bukanlah orang yang kaya itu dengan harta yang banyak tetapi orang yang kaya itu adalah orang kaya jiwa (mampu menahan amarah) (HR.Muslim)
Menahan diri dari perbuatan dosa adalah merupakan sesuatu yang berat untuk dilakukan. Allah mencintai orang yang menahan diri sebagaimana Allah mencintai orang kaya yang menyedekahkan hartanya
Kontrol diri dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut.
Menghindari dan menjauhi perbuatan dosa dan maksiat
Renungkanlah dampak negatif perbuatan dosa dan maksiat, dan renungkanlah akibat positif beramal saleh. Setiap perbuatan dosa dan maksiat, akan berakibat buruk bagi diri sendiri, misalnya hati gelisah, tidak tenang, dan merasa jauh dari Allah Swt. Sebaliknya, amal saleh akan berakibat positif bagi dirinya, misalnya hidup tenang, optimis, merasa dekat dengan Allah Swt.
Mengarahkan seluruh aktivitas hidup untuk meraih ridha Allah Swt.
Seluruh aktivitas hidup manusia akan diminta pertanggungjawabannya kelak di akhirat. Maka, niatkan dan arahkan seluruh aktivitas hidup untuk beribadah guna meraih ridha Allah Swt.
Menahan dan mengendalikan hawa nafsu
Jika ada bisikan hawa nafsu untuk melakukan maksiat, maka segera minta perlindungan Allah Swt. dengan membaca ta’awudz.
Memperbanyak dan membiasakan dzikir kepada Allah Swt. (dzikrullah)
Dzikir akan membuat hati tenang dan dekat dengan Allah Swt. Ketenangan hati akan menjadikan diri kita kuat menahan godaan hawa nafsu. Kedekatan kita dengan Allah Swt. akan semakin menambah kekuatan dalam melawan hawa nafsu.
Sedangkan husnuzhan kepada Allah Swt. dapat dilakukan dengan tiga sikap, yaitu sebagai berikut:
Selalu yakin bahwa Allah Swt. akan senantiasa memberi yang terbaik bagi hamba-Nya
Selalu mensyukuri nikmat dari Allah Swt. Rasa syukur dapat diungkapkan dengan mengucapkan hamdalah, dan menggunakan nikmat tersebut sesuai kehendak Allah Swt.
Bersikap tawakal, sabar, dan ikhlas atas semua cobaan dan ujian dari Allah Swt. Ingatlah bahwa Allah Swt. tidak akan membebani seseorang di luar batas kemampuannya dan semua cobaan yang diberikan oleh Allah Swt. pasti ada hikmahnya
Husnuzhan kepada orang lain dapat dilakukan dengan sikap sebagai berikut:
Melihat seseorang dari sisi baiknya, ditunjukkan dengan rasa senang, dan berpikir positif
Selalu memaafkan kesalahan yang dilakukan orang lain terhadap dirinya
Bersikap hormat pada orang lain tanpa ada rasa curiga, dengki, dan perasaan tidak senang tanpa alasan yang jelas
Selalu mengingat kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukan oleh seseorang
Melupakan kesalahan yang dilakukan orang lain terhadap dirinya.
Husnuzhan kepada diri sendiri dapat dilakukan dengan sikap sebagai berikut.
Yakin bahwa dirinya mampu melakukan segala sesuatu tanpa bantuan orang lain
Selalu yakin dapat menyelesaikan semua masalah, tantangan hidup, dan tidak mudah putus asa bila menemui kesulitan atau kegagalan
Berusaha sekuat tenaga untuk mencapai semua keinginan dengan kerja cerdas, kerja ikhlas, dan kerja tuntas, penuh dengan inisiatif untuk meraih cita-cita
D. Penilaian Sikap
Lakukan tugas rutin kalian, baik yang terkait dengan ibadah mahdah (ritual), seperti salat, puasa sunah, membaca al-Qur’an maupun ibadah sosial seperti membantu teman, kerja bakti dan lain-lain dengan dengan ikhlas dan senang hati, begitu juga perilaku yang terkait dengan materi seperti kontrol diri, prasangka baik, dan menjaga persaudaraan, kemudian catat semua yang kalian lakukan di buku catatan!
Berilah tanda centang (√) pada kolom berikut dan berikan alasannya!
E. Penilaian Pengetahuan
Pilihkan jawaban yang benar !
Perhatikan Q.S. al-Hujurat/49: 10 berikut ini :
Hukum bacaan pada potongan ayat tersebut yang digarisbawahi adalah ... .
a. Idzhar dan mad layin
b. Iqlab dan mad thabi’i
c. Ikhfa’ dan mad thabi’i
d. Ikhfa’ dan mad jaiz munfashil
e. Idgham bighunnah dan mad badal
2. Perhatikan potongan Q.S al-Hujurat/49: 12 berikut ini .
Jika dipahami ayat tersebut, tidak akan muncul akhlak tercela. Arti dari potongan ayat yang bergaris bawah adalah ... .
a. Jauhilah kebanyakan dari berprasangka
b. Janganlah saling menggunjing
c. Janganlah kalian memata-matai
d. Sesungguhnya prasangka itu dosa
e. Jauhilah perbuatan maksiat dan dosa
3. Perhatikan potongan ayat berikut ini. Potongan ayat yang bergaris bawah tersebut mengandung hukum bacaan….
a. Idzhar
b. Ikhfa’
c. Iqlab
d. Idgham Bighunnah
e. Idgham Bilaghunnah
4. Nun mati atau tanwin apabila bertemu huruf ب hukum bacannya adalah ....
a. Ikhfa’
b. Idzhar
c. Idgham bighunnah
d. Idgham bilaghunnah
e. Iqlab
5. Esensi ayat 10 Surat al-Hujurat berisi tentang ....
a. Larangan ghibah
b. Larangan berprasangka buruk
c. Perintah bertaubat
d. Persaudaraan
e. Menggunjing
6. Perumpamaan orang yang menggunjing orang lain seperti ....
a. Membunuh semua orang muslim sedunia
b. Membunuh saudaranya
c. Memakan bangkai saudaranya
d. Mencari aib saudaranya
e. Menutup aib saudaranya
7. Berikut adalah cara mempererat tali persaudaraan, kecuali ....
a. Mebudayakan sikap terbuka terhadap pendapat orang
b. Membiasakan mengucapkan salam
c. Memupuk perasaan senasib
d. Menyebarkan berita yang belum jelas
e. Berpikir positif terhadap orang lain
8. Berikut ini adalah hal-hal yang bisa memperkokoh tali persaudaraan, kecuali ...
a. Ta’arruf atau saling mengenal
b. Tafahhum atau saling memahami
c. Ta’awun atau saling membantu
d. Taba’ud atau saling menjauh
e. Takafful saling merasa senasib
9. Mujahadah an-nafs dalam bahasa Indonesia dikenal dengan ...
a. Mengendalikan diri
b. Menempa diri
c. Membohongi diri
d. Meningkatkan kemampuan diri
e. Percaya diri
10. Berikut adalah perilaku yang menunjukkan akhlaq yang mulia, kecuali ...
a. Menahan dari berbuat jahat saat emosi
b. Mendamaikan dua orang yang berselisih
c. Menanamkan rasa persaudaraan antar teman
d. Menumbuhkan sifat kompetitif
e. Menjauhkan diri dari berprasangka
Untuk File PDF Diatas bisa diunduh pada link dibawah ini