Habituasi Program PJAS Aman di SMA Negeri 1 Slawi: Menjadikan Perilaku Sehat sebagai Kebiasaan Sehari-Hari
Keberlanjutan sebuah program tidak hanya diukur dari penghargaan yang diraih, tetapi dari sejauh mana program tersebut mampu membentuk kebiasaan positif yang melekat dalam keseharian warga sekolah. Begitu pula dengan Program PJAS Aman di SMA Negeri 1 Slawi.
Setelah melalui proses pendampingan, pembinaan, dan implementasi standar keamanan pangan, kini sekolah berfokus pada tahap penting berikutnya, yaitu habituasi—membudayakan perilaku sehat secara konsisten dan berkesinambungan.
1. Pembiasaan Memilih Jajanan Aman dan Bergizi
Salah satu bentuk habituasi yang tampak jelas adalah terbentuknya kebiasaan murid dalam memilih jajanan yang sehat. Melalui edukasi yang terus diberikan, murid terbiasa mengecek kebersihan makanan, memastikan kemasan layak, memperhatikan bahan pangan yang digunakan, serta mengutamakan jajanan yang bergizi. Kesadaran ini tumbuh bukan karena paksaan, tetapi karena pemahaman yang kuat tentang pentingnya kesehatan.
2. Budaya Kantin Sehat yang Terjaga Setiap Hari
Habituasi juga tampak pada pengelolaan kantin. Pengelola kantin tidak lagi sekadar menjalankan standar sebagai kewajiban administratif, tetapi telah menjadikannya kebiasaan kerja profesional. Pemakaian alat bersih, penggunaan sarung tangan dan penutup kepala, pengolahan makanan sesuai standar higiene sanitasi, hingga kebersihan area kantin dilakukan sebagai rutinitas yang terus dipertahankan. Dengan demikian, kualitas kantin sehat bukan hanya sesaat, tetapi menjadi budaya pelayanan.
3. Pembiasaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Program PJAS Aman turut mendorong terbentuknya kebiasaan PHBS di lingkungan sekolah. Warga sekolah terbiasa mencuci tangan sebelum makan, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, membawa air minum aman, serta mengurangi konsumsi makanan yang tidak sehat. Sekolah juga mendukung pembiasaan ini melalui fasilitas pendukung seperti wastafel, poster edukasi, dan pengawasan yang bersifat membimbing.
4. Keterlibatan Aktif seluruh Warga Sekolah
Habituasi tidak hanya berlaku bagi peserta murid, tetapi juga guru, tenaga kependidikan, dan seluruh warga sekolah. Guru menjadi teladan dalam memilih makanan sehat dan mendukung gerakan kantin sehat. Pihak sekolah membiasakan koordinasi dengan lembaga kesehatan untuk memastikan keberlanjutan pembinaan. Dengan melibatkan semua unsur, kebiasaan sehat menjadi kesadaran kolektif, bukan hanya tanggung jawab satu pihak.
5. Pembiasaan Refleksi, Evaluasi, dan Perbaikan Berkelanjutan
Habituasi PJAS Aman juga diwujudkan melalui kebiasaan melakukan evaluasi rutin. Sekolah terbiasa melakukan pengecekan berkala, memberikan umpan balik kepada pengelola kantin, serta memperbaiki setiap kekurangan yang ditemukan. Siklus evaluasi ini membuat program terus hidup dan berkembang.
Melalui proses habituasi ini, SMA Negeri 1 Slawi berhasil menjadikan PJAS Aman sebagai bagian penting dari budaya sekolah. Perilaku sehat tidak lagi menjadi kegiatan seremonial, tetapi sudah melekat dalam keseharian siswa dan warga sekolah. Dengan demikian, SMA Negeri 1 Slawi tidak hanya sukses sebagai sekolah berprestasi dalam keamanan pangan, tetapi juga menjadi sekolah yang membentuk generasi sehat, cerdas, dan berkarakter.