Peninggalan Jaman Dahulu
Istana ini dibangun sekitar tahun 1855 dua tahun sebelum Raja Ali meninggal dunia. Istana Kantor kemudian disebut juga Marhum Kantor berada di bagian tengah Pulau Penyengat dan termasuk dalam salah satu Bangunan Cagar Budaya di kawasan Pulau Penyengat.
Istana Raja Ali sebagian sudah hancur hanya menyisakan bangunan induknya. Bangunan utamanya merupakan bangunan bertingkat dua yang pada mulanya merupakan kantor Raja Ali. Seluruh areal bangunan dibatasi dengan tembok keliling yang mempunyai tiga buah pintu masuk dari arah barat, utara dan timur. Pintu gapura barat berfungsi sebagai tempat penjagaan dan pengintaian, pintu utara menuju tempat kolam pemandian, sedangkan pintu gerbang timur berupa pintu biasa seolah-olah merupakan pintu darurat.
Ayo kunjungi Istana Kantor Penyengat tempat megah yang menyimpan jejak kejayaan Kerajaan Riau-Lingga dan menjadi simbol kebesaran Melayu masa lampau
istana tengku bilik istana yang menjadi rumah kediaman Engku Bilik atau Halimah binti Raja Muhamad Yusuf Al–Ahmadi. Engku Bilik adalah adik dari Sultan Kesultanan Lingga terakhir, Sultan Abdurrahman Muazzamsyah (1885–1911). Istana Engku Bilik tidak lagi digunakan setelah keluarga raja meninggalkan Pulau Penyengat pada tahun 1911 menuju ke Singapura. Pengosongan istana merupakan reaksi penolakan terhadap perintah Belanda yang ingin menghilangkan kekuasaan Kesultanan Lingga. Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, militer Jepang yang menduduki Pulau Penyengat menjadikan Istana Engku Bilik sebagai markas. Kegunaan lain dari Istana Engku Bilik adalah gudang bubuk mesiu dan gudang senapan. Masa pembangunannya pada abad ke-18 Masehi di masa pemerintahan Raja Ali. Pembangunan Istana Engku Bilik bersamaan dengan perbaikan dan pengembangan benteng-benteng yang ada di Pulau Penyengat untuk persiapan perang. Dua benteng yang diperkirakan dibangun bersama dengan istana ini ialah Benteng Bukit Kursi dan Benteng Bukit Penggawa, karena adanya kesamaan fungsi. Bentuk istana ini adalah segi empat. Bahan bangunan yang utama adalah beton. Istana Engku Bilik hanya mempunyai satu pintu masuk di bagian utara. Bentuk pintu masuk melengkung pada bagian atasnya. Di bagian dinding timur dan barat terdapat 2 buah jendela berukuran kecil yang dipasangi jeruji besi. Pengelolaan istana ini diserahkan kepada pengurus Masjid Raya Pulau Penyengat.
Ayo kunjungi Istana Tengku Bilik di Pulau Penyengat bangunan bersejarah yang menyimpan kisah kehidupan keluarga bangsawan Melayu tempo dulu
Perigi Putri (dikenal juga dengan nama Sumur Putri) adalah bangunan tempat pemandian untuk kaum wanita yang terletak di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau. Kemungkinan bangunan ini dibuat setelah tahun 1803, setelah Pulau Penyengat dijadikan sebagai tempat tinggal oleh Sultan Mahmudsyah III dan istrinya, Engku Putri Raja Hamidah.
Perigi Putri terletak di sisi selatan jalan menuju Kompleks Makam Abdurrahman, di dalam sebuah bangunan berbentuk persegi yang dinding dan atapnya terbuat dari beton. Lantai dalam bangunan terbuat dari tegel dan pada sisi kiri pintu masuk terdapat kursi tempat duduk. Pintu masuk di sisi utara berbentuk relung dan dihiasi dengan pilar semu.
Perigi Putri menjadi unik karena di antara beberapa perigi yang terdapat di Pulau Penyengat, hanya Perigi Putri yang bangunannya mempunyai kubah berbentuk setengah silinder. Sumur tua yang ada di dalam Perigi putri dipercaya sebagai sumber mata air tawar yang digunakan oleh para putri Kesultanan Lingga untuk mandi dan mencuci pakaian. Selain itu, warga setempat memercayai air dari sumur tua ini memiliki sejumlah khasiat tertentu.
tempat ini pertama kali dipugar oleh Bidang PSK (Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan) Kanwil Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Tk. I Riau pada tahun 1982, ketika itu Perigi Putri belum memiliki nama resmi. 2 tahun kemudian Perigi Puteri kembali mendapat pemugaran, setelah pemugaran ke dua inilah nama Perigi Putri diresmikan. Kondisi perigi ini terawat dengan baik karena sering dipugar pemerintah dan dikunjungi oleh wisatawan yang datang untuk berziarah. Perigi Putri ditetapkan sebagai benda cagar budaya dengan Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata no KM 14/PW.007/KKP/2004.
Perigi Putri bisa dikunjungi oleh siapa saja, tanpa terkecuali. Tidak ada peraturan mengenai kapan waktunya wisata akan dibuka atau ditutup untuk pengunjung, sehingga wisatawan dapat datang kapan saja mereka inginkan. Selain bisa dikunjungi oleh siapa saja dan kapan saja, tempat ini juga tidak memungut biaya tiket masuk alis gratis bagi wisatawan, para wisatawan tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli tiket karena wisata ini memang diperkenankan untuk siapa saja yang ingin mengunjunginya tanpa memungut biaya.
Lengkapi perjalanan rohani dan budaya Anda dengan berkunjung ke Wisata Perigi Putri destinasi bersejarah yang menambah kesan mendalam di Pulau Penyengat.
Benteng kursi Terletak di atas bukit dengan ketinggian 40 meter, Benteng Bukit Kursi menawarkan panorama Pulau Penyengat menakjubkan. Benteng Bukit Kursi dibangun pada masa Yang Dipertuan Muda Raja Haji Fisabilillah.
Benteng Bukit Kursi merupakan benteng pertahanan yang memiliki denah segi empat 9, yang terbuat dari susunan pasangan batu bauksit.
Benteng Bukit Kursi yang mempunyai ukuran sekitar 92,38 m x 74,73 m (6903,55 m²), area benteng ini sangat luas sehingga bisa menempatkan pasukan dalam jumlah cukup besar.
Benteng ini dikeliling parit sedalam lebih kurang 3 m. Didalamnya berfungsi sebagai mesin perang, Benteng Bukit Kursi dilengkapi dengan meriam yang berjumlah 8 buah.
Dari 8 buah meriam yang ditempatkan, 6 buah mengarah ke laut. Hal ini menunjukkan bahwa potensi ancaman terbesar datang dari arah tersebut.
Banyaknya meriam yang ditempatkan ini juga menjadi kekuatan terpenting bagi benteng dalam menjalankan fungsinya sebagai mesin perang dan pertahanan.
Pintu utama Benteng Bukit Kursi berada di sisi selatan dengan sebuah jembatan sebagai akses masuk ke dalam benteng.
Jangan lewatkan untuk datang Benteng Kursi Penyengat, saksi bisu perjuangan masa lalu yang masih berdiri gagah di tengah keindahan Pulau Penyengat