Wisata Religi ke Makam Raja Ali Haji di Pulau Penyengat, Pahlawan Nasional Bapak Bahasa Indonesia
Pulau Penyengat, Kepulauan Riau, bukan hanya terkenal dengan Masjid Sultan Riau yang megah, tetapi juga menjadi lokasi makam seorang tokoh besar Nusantara: Raja Ali Haji. Namanya kembali mencuat setelah dimuat di Google Doodle sebagai sosok yang berjasa besar bagi bahasa, sastra, dan sejarah Indonesia.
Raja Ali Haji adalah Pahlawan Nasional yang mendapat gelar Bapak Bahasa Indonesia pada 10 November 2004. Ia dikenal luas sebagai ulama, ahli sejarah, sekaligus sastrawan Melayu yang menciptakan karya monumental Gurindam Dua Belas. Karya ini berisi nasihat moral, nilai keagamaan, hingga pendidikan karakter yang tetap relevan hingga kini.
Banyak wisatawan datang untuk berdoa sekaligus mengenang jasa besar sang pujangga yang juga cucu dari Pahlawan Nasional Raja Haji Fisabilillah. Pulau Penyengat sendiri menyimpan banyak peninggalan sejarah Kesultanan Riau-Lingga. Kehadiran makam Raja Ali Haji di pulau ini menambah nilai spiritual sekaligus historis bagi pengunjung. Wisatawan tidak hanya bisa menyusuri jejak sejarah, tetapi juga mendapatkan pengalaman religi yang menenangkan.
Selain Gurindam Dua Belas, Raja Ali Haji juga menulis sejumlah karya penting, seperti Tuhfat al-Nafis, Kitab Pengetahuan Bahasa, dan Mukaddimah fi Intizam. Karya-karyanya menjadi fondasi perkembangan bahasa Melayu yang kemudian diakui sebagai dasar Bahasa Indonesia. Kini, makam Raja Ali Haji bukan hanya tempat berziarah, tetapi juga menjadi saksi bisu perjalanan panjang seorang ulama dan sastrawan besar Nusantara.
Makam Raja Abdurrahman
Mengelilingi Pulau Penyengat Tanjungpinang Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), tidak akan ada habisnya disuguhi warisan budaya khas Melayu. Karena pernah menjadi pusat pemerintahan di negeri Melayu Riau, tidak heran banyak dijumpai peninggalan sejarahnya.
Termasuk, sejumlah pemimpin Riau ketika itu banyak yang dimakamkan di pulau yang sebenarnya tidak terlalu besar tersebut. Salah satunya makam Raja Abdurrahman, Yang Dipertuan Muda (YDM) Riau VII (1832-1844). Setelah meninggal, Raja Abdurrahman juga dikenal dengan Marhum Kampung Bulang. Makam tersebut dikelilingi tembok yang dihiasi dengan ukiran.
"Beliau berwasiat makamnya tidak mau dibuat megah. Inginnya sederhana, cukup dengan nisan tanpa atap," tutur Pandi, juru pelihara makam tersebut. Keberadaan makam Raja Abdurrahman berada di dekat gudang mesiu serta terletak di lereng bukit kursi yang menjadi benteng pertahanan Kerajaan Melayu saat itu. Terdapat 50 makam di sekeliling pusara Raja Abdurrahman, baik di dalam maupun di luar tembok makam.
"Makam ini menjadi satu-satunya pusara yang tidak beratap dan lantai juga bukan keramik. Namun demikian tidak mengurangi keagungan Raja Abdurrahman yang memiliki jasa besar bagi Kasultanan Melayu Riau di masa itu," tukas Pandi. Berwisata ke Pulau Penyengat bukan hanya tentang menikmati panorama indah dan bangunan bersejarah, tetapi juga tentang menelusuri jejak spiritual dan kebesaran tokoh-tokoh Melayu yang berjasa bagi bangsa. Dari makam Raja Ali Haji, sang Bapak Bahasa Indonesia yang meninggalkan warisan sastra abadi seperti Gurindam Dua Belas, hingga makam Raja Abdurrahman, pemimpin bijaksana Kesultanan Riau yang tetap dikenang karena kesederhanaan dan keteguhannya — semua menjadi bagian penting dari sejarah Nusantara.
Jadi, jangan lewatkan kesempatan untuk berziarah dan menyaksikan langsung peninggalan bersejarah di Pulau Penyengat. Rasakan suasana religius yang menenangkan, sambil mengenang perjuangan para tokoh besar Melayu yang telah mengukir peradaban dan budaya bangsa Indonesia. Pulau Penyengat menunggu untuk kamu jelajahi dan hayati makna sejarahnya!