Pada masa pendudukan Jepang, terjadi 4 perlawanan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia terhadap Jepang. Walaupun keempat perlawanan tersebut mengalami kekalahan, namun hal tersebut dapat mengganggu kedudukan Jepang di Indonesia. Hal itu dikarenakan saat Jepang sedang sibuk berperang melawan sekutu, justru harus menghadapi perlawanan juga dari bangsa Indonesia. Apa saja keempat perlawanan tersebut?
Perlawanan Aceh terjadi pada 7-10 November 1942 yang dipimpin oleh Tengku Abdul Jalil. Perlawanan ini dilatarbelakangi adanya keprihatinan Tengku Abdul Jalil dan Teuku Hamid melihat kesengsaraan masyarakat Aceh yang melakukan kerja Paksa (Romusha) oleh Jepang untuk mengambil sumber daya alam di Aceh. Mereka berdua menganggap romusha sangat menyengsarakan dan bahkan lebih kejam dari masa pendudukan Belanda. Pada awalnya mereka membulatkan tekat jika Jepang terus mengusik daerah Cot Plieng (Pesantren milik Tengku Abdul Jalil) maka akan terjadi perlawanan.
Perlawanan dimulai ketika seorang polisi militer Jepang yang diberi tugas untuk membujuk Tengku Abdul Jalil supaya tidak melawan justru tewas dibunuh oleh pengawal Tengku Abdul Jalil pada tanggal 7 November dini hari. Hal tersebut membuat Jepang marah dan mengirim pasukan pada 7 November pukul 12.00 ke daerah Cot Plieng. Pada Serangan pertama Jepang berhasil membakar komplek pesantren Cot Plieng dan membunuh 86 santri. Tengku Abdul Jalil berhasil melarikan diri ke daerah Lhoksumawe bersama para santrinya. Keesokan harinya, Jepang melakukan pengejaran ke daerah Lhoksumawe dan terjadi pertempuran selama 2 hari serta menewaskan 4 santri. Perang berakhir dengan kekalahan bagi rakyat Aceh karena pada tanggal 10 November Tengku Abdul Jalil berhasil dibunuh sesaat setelah melakukan Ibadah Sholat Jumat.
Perlawanan ini terjadi pada 25 Februari 1944 yang dipimpin oleh K. H. Zainal Mustafa. Perlawanan ini terjadi karena adanya penolakan dari para santri pondok pesantren di daerah Sukamanah (sekarang disebut Singaparna) untuk melakukan Seikerei. Seikerei sendiri adalah sebuah gerakan penghormatan kepada matahari setiap pagi (perwujudan menyembah dewa matahari) maupun orang lain yang dihormati seperti tamu, raja atau kaisar Jepang. Pada dasarnya, seikerei adalah gerakan membungkuk untuk menghormati orang lain seperti yang sering kita lihat dalam film-film asal Jepang saat ini.
Perlawanan ini beakhir ketika K. H. Zainal Mustafa ditangkap oleh Jepang. Pada penangkapan tersebut, Jepang pun menghukum mati K. H. Zainal Mustafa. Hal ini dikarenakan Jepang menganggap penolakan sekerei adalah menentang dan tidak menghormati dewa matahari dan juga kaisar Jepang.
Perlawanan di Indramayu ini bukan perlawanan dalam bentuk militer atau fisik. Akan tetapi perlawanan Indramayu ini dilakukan oleh para petani dan pekerja di daerah Indramayu. Perlawanan ini dilatar belakangi penolakan masyarakat Indramayu untuk menyerahkan sebagian besar hasil padinya kepada Jepang dan menolak melakukan romusha. Rakyat secara serentak menolak melakukan penyerahan padi tersebut kepada Jepang selama bulan April 1944. Di tangah masyarakat muncul semboyan "lebih baik mati melawan Jepang dari pada mati kelaparan".
Hal tersebut dianggap perlawanan oleh militer Jepang. Oleh karena itu, Jepang melakukan gerakan militer di daerah Indramayu. Karena perlawanan Indramayu ini tidak ada tokoh yang menjadi pemimpin perlawaan menjadikan perlawanan ini mudah dikalahkan oleh Jepang dan Indramayu kembali dibawah kekuasaan Jepang.
Perlawana Blitar terjadi pada 14 Februari 1945 yang dipimpin oleh komandan peleton tentara PETA bernama Supriyadi. Perang dilatarbelakangi adanya persoalan pasukan militer Heiho diberlakukan diluar batas dalam tugas pengumpulan padi hasil romusha. Selain itu, Jepang juga bersifat angkuh terhadap pasukan yang direkrut dari orang Indonesia seperti Heiho dan PETA.
Perang bermula dari tugas Heiho yang melampaui batas dalam proses pengumpulan padi diketahui oleh para tentara PETA. Tentara PETA pun menganggap tentara Jepang bersifat angkuh terhadap para pasukan yang direkrut dari orang Indonesia. Kekesalan para tentara PETA tersebut direspon oleh Shodanco (Ketua Peleton) Supriyadi. Pada 7 Februari Supriyadi menemui Soekarno yang saat itu sedang singgah di Blitar untuk menyampaikan keluh kesahnya dengan apa yang dilakukan tentara Jepang kepada Heiho maupun PETA. Pada pertemuan itu Supriyadi memiliki tekat untuk memberontak melawan Jepang dengan menggunakan kekuatan tentara PETA. Hal tersebut ditolak oleh Soekarno karena kekuatan PETA di Blitar hanya tersisa 1 kompi dari 4 kompi yang ada di Blitar. Ketiga kompi yang lain sedang ditugaskan Jepang ke Jakarta untuk mengikuti latihan militer. Saran Soekarno tidak dihiraukan oleh Supriyadi dan Supriyadi bergegas pergi meninggalkan Soekarno. Pada 14 Februari Supriyadi melakukan serangan terhadap tentara Jepang. Kekalahan jumlah pasukan membuat Supriyadi dan kompinya terdesak di Hutan Maliran, Ponggok, Blitar. Menurut kabar dari Daidancho Suroto (yang saat itu menjabar komandan Batalyon PETA di Blitar), Shodancho Supriyadi dan pasukannya dibantai di Hutan Maliran dan menjadi akhir pemberontakan PETA di Blitar. Hingga saat ini jasad Supriyadi dan pasukannya tidak ditemukan.Â