Uang kertas pecahan 1.000 rupiah Emisi 1980 menggunakan gambar Dr. Soetomo pada bagian depan sebagai penghormatan kepada tokoh pelopor kebangkitan nasional Indonesia dan pendiri organisasi Budi Utomo. Bagian belakang menampilkan panorama Ngarai Sianok di Sumatra Barat yang merepresentasikan keindahan alam Indonesia. Uang ini dicetak oleh Perum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri) dan dilengkapi pengaman berupa tanda air Pattimura, nomor seri kombinasi tiga huruf dan enam angka, serta tanda tangan Gubernur Bank Indonesia Rachmat Saleh dan Direktur Durmawel Achmad. Uang ini diedarkan pada masa pembangunan nasional Orde Baru ketika pemerintah mulai mengangkat tokoh sejarah dan kekayaan alam Indonesia dalam desain mata uang sebagai sarana memperkuat identitas nasional.
Uang kertas pecahan 500 rupiah Emisi 1982 menggunakan gambar bunga bangkai raksasa (Amorphophallus titanum) pada bagian depan sebagai simbol kekayaan flora langka Indonesia yang terkenal di dunia. Bagian belakang menampilkan gedung Bank Indonesia cabang kota yang melambangkan peran lembaga perbankan dalam menjaga stabilitas moneter dan mendukung perekonomian nasional. Uang ini dicetak oleh Perum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri) dengan pengaman berupa tanda air Jenderal Achmad Yani, nomor seri kombinasi tiga huruf dan enam angka, serta tanda tangan Gubernur Bank Indonesia Rachmat Saleh dan Direktur Durmawel Achmad. Uang ini diedarkan pada masa pembangunan nasional Orde Baru ketika pemerintah mulai menampilkan kekayaan alam Indonesia dalam desain mata uang sebagai sarana memperkenalkan flora endemik sekaligus memperkuat identitas nasional.
Uang kertas pecahan 100 rupiah Emisi 1984 menggunakan gambar burung Dara Mahkota (Goura victoria) pada bagian depan sebagai simbol kekayaan fauna Indonesia, khususnya satwa endemik dari wilayah Papua. Bagian belakang menampilkan Bendungan Tangga Asahan di Sumatra Utara yang merepresentasikan pembangunan infrastruktur dan pemanfaatan sumber daya energi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Uang ini dicetak oleh Perum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri) dan dilengkapi pengaman berupa tanda air Garuda Pancasila, nomor seri kombinasi tiga huruf dan enam angka, serta tanda tangan Gubernur Bank Indonesia Arifin M. Siregar dan Direktur Sujitno Siswowidagdo. Uang ini diedarkan pada masa pembangunan nasional Orde Baru ketika pemerintah berupaya menampilkan kekayaan alam dan hasil pembangunan Indonesia dalam desain mata uang sebagai sarana memperkuat identitas nasional dan kebanggaan terhadap kemajuan negara.
Emisi uang kertas tahun 1985 hanya diterbitkan dalam satu pecahan, yaitu Rp10.000 bergambar R.A. Kartini. Penerbitan uang ini menunjukkan perkembangan desain rupiah pada era Orde Baru yang mulai menampilkan perpaduan antara tokoh nasional dan simbol budaya Indonesia sebagai representasi identitas bangsa serta pembangunan nasional.
Uang kertas pecahan Rp10.000 tahun 1985 menampilkan potret R.A. Kartini dan ilustrasi Candi Prambanan pada bagian depan sebagai simbol perjuangan perempuan dan warisan budaya Indonesia. Bagian belakang memperlihatkan gambar sarjana wanita yang merepresentasikan kemajuan pendidikan perempuan pada masa tersebut. Uang ini ditandatangani oleh Drs. Arifin M. Siregar dan Drs. Sujitno Siswowidagdo serta dicetak oleh Perum Percetakan Uang Republik Indonesia. Unsur pengamannya menggunakan tanda air Dr. Tjipto Mangunkusumo dengan nomor seri berupa kombinasi tiga huruf dan enam angka.
Uang kertas emisi tahun 1986 diterbitkan dalam satu nominal, yaitu Rp5.000 bergambar Teuku Umar. Emisi ini memperlihatkan penggunaan tokoh pahlawan nasional sebagai identitas utama desain rupiah sekaligus sebagai sarana memperkuat semangat nasionalisme pada masyarakat Indonesia.
Pada bagian depan uang pecahan Rp5.000 tahun 1986 terdapat gambar Teuku Umar sebagai pahlawan nasional dari Aceh, sedangkan sisi belakang menampilkan ilustrasi Menara Kudus yang mencerminkan kekayaan sejarah dan budaya Nusantara. Uang ini memuat tanda tangan Drs. Arifin M. Siregar dan Drs. Sujitno Siswowidagdo serta dicetak oleh Perum Percetakan Uang Republik Indonesia. Sistem pengamannya menggunakan tanda air Martha Christina Tiahahu dengan nomor seri kombinasi tiga huruf dan enam angka.
Emisi uang kertas tahun 1987 hanya terdiri atas pecahan Rp1.000 bergambar Sisingamangaraja XIII. Penerbitan uang ini mencerminkan upaya Bank Indonesia dalam menghadirkan unsur sejarah perjuangan nasional melalui visual uang rupiah yang beredar di masyarakat.
Uang pecahan Rp1.000 emisi 1987 menampilkan potret Sisingamangaraja XIII pada bagian depan, sementara bagian belakang memperlihatkan Siti Hinggil Keraton Yogyakarta sebagai simbol budaya dan sejarah kerajaan di Indonesia. Uang ini ditandatangani oleh Drs. Arifin M. Siregar dan Drs. Sujitno Siswowidagdo serta diproduksi oleh Perum Percetakan Uang Republik Indonesia. Sebagai fitur pengaman, digunakan tanda air Sultan Hasanuddin dengan nomor seri berupa tiga huruf dan enam angka.
Uang kertas emisi tahun 1988 diterbitkan dalam satu pecahan, yaitu Rp500 bergambar Rusa Timor. Emisi ini menunjukkan variasi desain rupiah yang tidak hanya menampilkan tokoh nasional, tetapi juga unsur fauna Indonesia sebagai bagian dari identitas kekayaan alam Nusantara.
Bagian depan uang pecahan Rp500 tahun 1988 menampilkan ilustrasi Rusa Timor, sedangkan sisi belakang memperlihatkan gedung Bank Indonesia Cabang Cirebon. Uang ini ditandatangani oleh Drs. Arifin M. Siregar dan Drs. Sujitno Siswowidagdo serta dicetak oleh Perum Percetakan Uang Republik Indonesia. Pengaman uang menggunakan tanda air Jenderal Achmad Yani dan nomor seri kombinasi tiga huruf serta enam angka.