Peserta didik mampu memahami jenis-jenis, ciri dan fungsi tari tradisional
Peserta didik mampu menganalisis dan membandingkan tari tradisional berdasarkan jenis dan ciri-cirinya
peserta didik mampu mengenal tari tradisional daerah setempat berdasarkan makna simbolik tari
peserta didik mampu memperagakan tari tradisional daerah setempat berdasarkan teknik dan prosedur tari
Tari Tradisional
Merupakan suatu kesatuan yang tumbuh dan berkembang dikalangan suatu kelompok tertentu, dan menjadi bagian hidup dari masyarakat tersebut. Biasanya taru tradisional menggambarkan ciri khas daerah dari mana tentara itu berasal
Menurut Beberapa Ahli berpendapat bahwa tari tradisional merupakan :
Subekti dan Budiawan, Tari tradisional adalah tari yang tumbuh dan telah mengalami sejarah yang cukup lama. Tari tradisi selalu
bertumpu pada polapola tradisi yang telah ada.
Rohkyanto, Trai tradisional merupakan tari yangbtelah ada sejakjaman nenek moyang dalam lingkungan etnik tertentu, yang diturunkan dari generasi ke generasi dan tetap dijaga
kelestarianya.
JENIS-JENIS TARI TARDISIONAL
Tari Primitif
Tari klasik
tari tradisional kerakyatan/ rakyat
Tari Primitif: merupakan tarian kehendak atau keyakinan. Mengapa demikian karena masyarakat primitif mempunyai keyakinan bahwa pemisah antara diri manusia dengan alam hanyalah pemisah buatan atau semu, bukan pemisah yang nyata. Maka memiliki kontak atau hubungan teetentu dengan alam (Hadi, Y.S, 2005: 52).
Tari Primitif memiliki sifat magis, dimana kekuatan atau magis tersebut menjadi penghubung atar kehendak manusia dengan penguasa roh nenek moyang dan untuk menyiasati perjalanan alam (Hadi, Y.S, 2005: 50).
Tarif primitif ini dapat digolongkan berdasarkan magisnya yaitu
magi imitatif,
simpatetis, dan
kontagius.
Tari primitif magi imitatif merupakan tari yang menirukan gerak tumbuhan dan hewan.
Tari primitif magi simpatetis yaitu tari yang geraknya mempunyai tujuan untuk mempengaruhi kekuatan alam atau mengendalikan alam. Contohnya tarif primitif untuk memohon hujan yang berada di daerah Tulungagung, Jawa Timur. Sedangkan
Tari primitif magi kontagius yaitu gerak tari yang memiliki hubungan dengan objek atau bagian tertentu dengan objeknya untuk mencapai suatu kehendak atau harapan yang dicita-citakan. yaitu contohnya apabila dalam menari saling bergandengan tangan dan saling bersentuhan dengan properti tertentu (Hadi, Y.S, 2005: 51-52).
Ciri-ciri tari primitif adalah kesederhanaan dalam hal gerak, tata rias, tata busana, iringan, dan tempat pertunjukannya. Gerak tari primitif apabila dicermati secara mendalam hanya berupa gerak-gerak sederhana seperti hentakan kaki, langkah kaki, ayunan tangan, gelengan kepala, dengan tekanan-tekanan tertentu.
Iringan tari primitif juga sederhana hanya terdiri dari pukulan-pukulan ritmis dari kendang, gendang, bambu, bedug, kayu, batu, tong, dan genta-genta. Bahkan tari primitif ada yang menggunakan tepukan tangan, bernyanyi, dan suara teriakan sebagai musik pengirim tari.
Tari Klasik merupakan tari yang hidup di lingkungan istana atau bangsawan. Gerak tarif Klasik memiliki aturan baku yang sudah diatur, mengikat, dan tidak boleh dilanggar (Subekti dan Budiawan, 2010:4). Menurut Wartono (1989:1) tari klasik adalah tari yang hanya dipentaskan didalam keraton dan sifatnya agung.
Sehingga dapat disimpulakan bahwa tari klasik adalah tari yang berkembang dari keraton, yang hidup dikalangan bangsawan dan gerak tarinya sudah baku dan sifatnya agung.
Tari rakyat merupakan tari yang hidup di lingkungan rakyat jelata (Subekti dan Budiawan, 2010:4). Menurut Hidayat (2005:15) tari rakyat adalah tari yang tumbuh secara turun-temurun di lingkungan masyarakat atau berkembang di dalam rakyat di luar tembok istana, yang sering disebut dengan folkdance. Di sisi lain, Wartono (1989:3), mengemukakan definisi tentang tari rakyat adalah tari daerah karena masing-masing daerah memiliki masakan khas yang diciptakan sesuai dengan keunikan atau cirri-ciri daerah setempat.
Dari beberapa pendapat para ahli tersebut, dapat ditarik kesimpulan tari rakyat yaitu tari yang berkembang di luar tembok istana (folkdance) yang secara turun- temurun dilestarikan oleh para masyarakat pendukungnya.
Menurut Sedyawati (1986:169) ciri-ciri tari rakyat adalah
ditarikan secara bersama-sama,
menuntut adanya spontanitas dan respon ,
tata rias dan busana sederhana,
irama iringan cenderung dinamis dan cepat,
jarang membawakan cerita atau lakon ,
jangka waktu menari tidak terbatas,
sifat tari homoristis,
tempat pementasan berbentuk arena,
bertemakan kehidupan masyarakat, dan memiliki fungsi sosial.
Secara umum tari tradisional kerakyatan mudah dikenali karena sifat kesederhanaannya. Gerak tarinya tidak terlalu baku atau harus berdasarkan pola-pola yang telah ada. Namun apabila dibandingkan dengan tari primitif, tari rakyat lebih bervariasi
Jenis tari secara umum
Tari tradisional
Tari modern
Tari kreasi
Tari kontemporer
Tari mancanegara
Tari dapat dibedakan berdasarkan pola garapnya yaitu :
tari tradisional, yaitu tari yang berkembang dalam masyarakat yang kemudian diturunkan secara terus menerus (klasik dan rakyat),
tari kreasi, yaitu tari yang koreografinya masih bertolak pada tradisional atau pengembangan dari pola-pola yang sudah ada,
modern, yaitu tari yang bebas tidak berpatokan pada pola tradisi dan pengungkapannya tidak mengindahkan aturan-aturan atau pola-pola yang telah ada,
kontemporer, yaitu tari yang lebih bebas menyerap ungkapan batin dan seringkali sulit untuk dipahami (Jazuli, 2008: 76-77)
SOAL ULANGAN HARIAN
https://forms.office.com/Pages/ResponsePage.aspx?id=96swCDCorUy0rRwFSrddImdQn0qJJgtDmZOdl2oiDiJUOEM4VlVONEdKTThVTkFaSVFXUERKN05WSC4u