Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Bukan Sekedar Kompetisi

 

Salah satu upaya kita untuk mendalami arti, makna, kandungan dan keindahan Al Qur’an sekaligus meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT adalah penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) sebagai salah satu media untuk menebarkan syiar Islam merupakan agenda rutin Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) agar umat Islam lebih tekun membaca, mempelajari dan mengamalkan ajaran Al Qur’an di tengah derasnya arus perubahan sosial dan budaya dewasa ini dan mendukung terwujudnya kehidupan masyarakat Serdang Bedagai yang religius.

 

Musabaqoh Tilawatil Qur’an bukanlah sekedar kompetisi untuk mencari qori-qoriah dan hafid hafidzah terbaik, akan tetapi MTQ adalah suatu upaya konkrit umat Islam untuk menggali nilai-nilai luhur yang terkandung didalam Al qur’an supaya dijadikan sebagai pedoman hidup. Diselenggarakannya MTQ diharapkan dapat menjadi pintu gerbang bagi umat islam untuk terus menggali, memahami, dan mengaplikasikan isi kandungan Al Qur’an dalam kehidupan sehari-hari, sehingga terlahir pribadi-pribadi yang memiliki kemampuan intelektualitas yang tinggi tetapi rendah hati.

 

Musabaqah artinya saling mendahului, saling berpacu, adu kecepatan atau balapan. Musabaqah juga berarti perlombaan, kompetisi, kontes. Al-Qur’an mempergunakan kata musabaqah dalam bentuk kata kerja (fi’il) yang berarti berlomba-lomba. Dalam surat al-Baqarah ayat 148 dan surat al-Maidah ayat 48 umpamanya, Allah berfirman: “fastabiqu al-khairat” yang artinya: “Maka berlombalombalah kamu sekalian (dalam mengerjakan) berbagai kebaikan”. Musabaqah adalah isim mashdar yang berarti perlombaan. Tilawah memiliki arti hampir mirip dengan kosakata qiro’ah. Dalam al-Qur’an, kata qiro’ah disebutkan pada QS. 17:14, QS. 16:98, QS. 18:27, QS. 8: 2.

 

Tujuan MTQ adalah untuk mendekatkan jiwa umat Islam kepada kitab suci dan meningkatkan semangat membaca, mempelajari, serta mengamalkan Al-Qur’an. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa MTQ merupakan perlombaan yang memadukan antara suara merdu, keharmonisan lagu/irama tanpa melanggar kaidah tajwid dan diiringi dengan adab membaca Al-Qur’an. Menurut Jalaluddin As-Suyuti dalam Al-Itqan fi Ulumil Qur’an: “Al-Qur’an memiliki keistimewaan dari deskripsi penyusunan yang menakjubkan, penggunaan kalimat yang unik yang tidak ditemui baik sebelum dan sesudah turunnya Al-Qur’an.”

 

Hukum perlombaan dalam MTQ mengikuti konsep ushul fiqh: maslahah mursalah. Pemenuhan kebutuhan umat Islam dalam hal seni budaya ini juga relevan dengan konsep sad azzari’ah, untuk mengimbangi seni budaya asing. Dalam MTQ para peserta diharapkan tidak meniatkan membaca Al-Qur’an untuk mengadu nasib, sehingga menghilangkan rasa ikhlas (niat karena lillahi ta’ala). Maka diharapkan pesertanya menjauhi riya’ dan sum’ah, serta keinginan untuk mendapatkan dunia (hadiah) dari amalan agama yang tengah dia kerjakan. “Sasaran yang diminta menurut syara’ tiada lain yaitu memperindah suara yang dapat mendorong untuk merenungkan dan memahami Al-Qur’an yang mulia dengan khusyu’, tunduk, dan patuh penuh ketaatan. Adapun suara-suara dengan lagu yang diada-adakan yang terdiri atas nada dan irama yang melalaikan, serta aturan musikal, maka Al-Qur’an adalah suci dari hal ini dan tak layak jika dalam membacanya diperlakukan demikian.” (Ibnu KatsirFadhaa’ilul Qur’an: 125-126).

 

Teknis membaca Al-Qur’an jauh lebih baik ketimbang teknik-teknik audisi di TV. Qari’ yang baik memiliki suara yang bagus, nafas panjang, penguasaan lagu, dan dialek yang bagus. Dalam tatanan seni baca Al Qur’an, tingkatan nada dikenal ada empat tahap, yakni qarar (rendah), nawa (sedang), jawab (tinggi), dan jawabul jawab (sangat tinggi). Untuk melengkapi ilmu qiraah dan kepekaannya, maka pembelajaran qira’ahnya senantiasa dilengkapi dengan ilmu tajwid, makharijul huruf (ilmu pelafalan al-Qur’an), dzauq (cita rasa bahasa), dan sebagainya. Kepekaan terhadap makna isi al-Qur’an lebih digunakan sebagai instrumen mengasah diri untuk memiliki dzauq (perasaan) ilahiyah. Karena hanya dengna dzauq ilahiyah inilah, para peserta MTQ diharapkan memiliki rasa khauf pada Allah, sebagai pondasi dasar membangun mental dan moral yang islami. Dzauq (perasaan rindu dan rendah diri di hadapan Allah) perlu diasah sehingga baik pembaca, pendengar dan pendidik dapat menyentuh hatinya untuk mengagungkan kalam Ilahi tersebut.