Lobster pasir (Panulirus homarus) adalah komoditas perikanan yang bernilai ekonomis tinggi. Permintaan konsumsi lobster laut terus meningkat dari tahun ke tahun. Lobster pasir adalah hewan nokturnal yang peka terhadap cahaya. Ketika lobster berada pada keadaan intensitas cahaya yang rendah, maka lobster akan lebih aktif bergerak dan memungkinkan lebih banyak interaksi dengan lobster lainnya daripada diam dan bersembunyi di dalam shelter. Lobster pasir merupakan spesies komoditi ekspor utama di Indonesia. Lobster pasir dapat dibudidayakan dengan sistem Recirculation Aquaculture System (RAS). Hasil penelitian menunjukkan padat penebaran lobster Panurilus homarus terbaik adalah kepadatan 35 ekor/m2. Lobster laut sering ditemukan di sekitar terumbu karang. Mereka bisa tinggal di kedalaman 100 meter di bawah permukaan laut dan di dasar laut yang berbatu
- Suhu perairan: Sekitar 25–26°C
- Salinitas: 30–35 ppt
- Kadar keasaman: 7–8
- pH: 7–9
- Substrat dasar: Pasir atau pasir berlumpur tanpa karang dan cangkang tiram
- Perairan: Bebas dari pengaruh air tawar dan dari aliran lain yang berasal dari kegiatan di darat, pabrik, pertanian dan permukiman
Lobster pasir hidup baik pada habitat perairan dengan kedalaman 1–90 m dengan perairan pantai yang jernih pada bebatuan, terumbu karang maupun karang berpasir.
Pakan yang cocok untuk budidaya lobster pasir adalah ikan rucah segar, rucah asin, dan bekicot. Lobster pasir yang diberi pakan rucah segar memiliki kandungan protein tertinggi (27,10 %), pakan rucah asin (25,78%) dan pakan bekicot (24,66%). Jenis pakan lain yang biasa diberikan untuk budidaya lobster adalah: Tiram, Kerang-kerangan, Bekicot, Udang kecil, Cumi-cumi. Pakan yang diberikan kepada lobster masih mengandalkan ikan rucah segar. Pemberian pakan dilakukan pada jam 9 pagi dan jam 4 sore, dan pembersihan sisa pakan dilakukan setiap pagi dengan cara diserok. Lobster akan menyerang sesamanya apabila tidak diberi pakan yang cukup dan segar.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam budidaya lobster pasir, antara lain:
• Teknik pemijahan.
• Tingkat keberhasilan induk betina membawa telur.
• Profil telur hasil pemeliharaan.
• Umur indukan minimal 6 bulan.
• Ukuran minimal 10 cm.
• Ukuran lobster jantan dan betina ideal.
• Jumlah induk jantan 3 ekor dan induk betina 5 ekor.
• Jumlah dan ukuran tempat berlindung disesuaikan dengan jumlah
dan ukuran induk.
Setelah tempat untuk budidaya siap serta indukan jantan dan betina siap untuk dikawinkan, Anda dapat memulai proses pemijahan atau pengkawinan. Estimasi waktu sekitar 2 minggu, kemudian lobster akan melakukan pemijahan dan induk betina akan mengeluarkan telur dan dibuahi oleh induk jantan. Induk betina akan mulai bertelur setelah 10-15 hari sejak induk jantan mengawininya. Sekali bertelur, lobster air tawar bisa menghasilkan 240-600 telur dengan persentase menetas sekitar 70 persen.
• Aerator: Alat ini penting untuk memastikan lobster tidak kekurangan oksigen. Aerator yang digunakan harus disesuaikan dengan ukuran bak.
• Keramba jaring apung (KJA): Konstruksi KJA sebaiknya menggunakan bambu petung dengan pelampung (Styrofoam) atau busa dan trool.
• Bak fiber: Wadah pemeliharaan induk lobster pasir.
• Bak plastik: Wadah pemeliharaan larva lobster.
• Alat analisis kualitas air: DO meter, pH paper, Salinometer, Amonia test kit, dan Nitrit/nitrat test kit.
• Jaring (Tramel net): Alat tangkap untuk menangkap lobster.
Budidaya lobster pasir juga membutuhkan sistem RAS untuk menjaga kualitas air dan meminimalisir risiko serangan penyakit.
Modal awal untuk budidaya lobster air tawar adalah sekitar Rp15-20 juta. Namun, ada juga yang memulai budidaya lobster dengan modal Rp750 ribu. Budidaya lobster tidak membutuhkan lahan yang besar, bahkan bisa dilakukan di rumah dengan lapak kecil. Jika dilakukan dengan baik, dalam sekali panen bisa balik modal.
Harga jual lobster pasir hasil budidaya di atas 200 gram adalah Rp 200.000 per kilogram. Dalam kondisi normal, harga lobster pasir berkisar Rp 325.000-Rp 350.000 per kg, bahkan mencapai kisaran Rp 425.000-Rp 450.000 per kg. Harga lobster ukuran pasar (> 100 g per ekor) sekitar Rp 200.000 sampai dengan Rp 900.000 ribu per kg bergantung kepada ukuran dan jenis lobster. Lobster ukuran pasar (marketable size) tersebut dijual ke kota-kota besar Indonesia atau diekspor, terutama ke Cina dan Singapura. Modal awal untuk memulai bisnis budidaya lobster air tawar pun cukup ringan, yaitu sekitar 15-20 juta rupiah. Bahkan, dalam sekali panen akan bisa balik modal.
Benih lobster pasir yang sesuai untuk dibudidayakan adalah yang memiliki berat sekitar 4 gram per ekor. Benih lobster yang ditangkap dari laut cenderung memiliki ketahanan yang baik serta mudah untuk dibudidayakan. Benih lobster pasir (P. homarus) ini diperbolehkan untuk budidaya dengan ukuran benih mulai 50 gram, dan dapat dipanen setelah berat lobster mencapai 120 gram hingga 150 gram. Untuk membudidayakan lobster, Anda disarankan menjaga pH pada angka 7—9. Selain itu, kandungan oksigen yang sesuai untuk pemeliharaan lobster tidak kurang dari 3 ppm. Pemerintah hanya memperbolehkan ekspor lobster ukuran dewasa yakni di atas 200 gram maupun lobster jenis pasir ukuran lebih dari 150 gram.
Aturan pembudidayaan lobster tertuang dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 17 Tahun 2021. Aturan ini diundangkan pada 4 Juni 2021. Dalam aturan ini, pemerintah melarang penangkapan lobster pasir mulai dari ukuran benih bening (pueruelus) sampai 150 gram. Pemerintah hanya memperbolehkan ekspor lobster ukuran dewasa yakni di atas 200 gram maupun lobster jenis pasir ukuran lebih dari 150 gram. Pemerintah juga melarang ekspor benih lobster untuk mendorong budi daya dalam negeri.