Lobster bambu (Panulirus versicolor) adalah salah satu komoditas perikanan penting yang banyak dieksploitasi oleh nelayan tradisional. Lobster bambu adalah lobster berduri yang hidup di terumbu tropis di Indo-Pasifik.Nama lainnya antara lain lobster lukis, lobster batu biasa, lobster biru, dan lobster berduri biru. Lobster bambu memiliki persebaran yang cukup luas di wilayah laut Indo-Pasifik Barat. Salah satu perairan yang menjadi habitat lobster bambu adalah perairan Laut Selatan Jawa. Lobster bambu hampir sepanjang hidupnya memilih tempat-tempat yang berbatu karang, di balik batu karang yang hidup maupun batu karang yang mati, pada pasir berbatu karang halus, di sepanjang pantai dan teluk-teluk. Nama Panulirus berasal dari Bahasa Yunani palin yang berarti "terbalik", dan oura yang berarti "ekor", mengacu pada kebiasaan lobster yang menggulung ekornya ketika memasuki liang.
- Suhu perairan: sekitar 25–26°C
- Salinitas: 30–35 ppt
- Kadar keasaman: 7–8
- Kadar pH dan kesadahan air: yang terjaga
- Kandungan amoniak dalam air: maksimal 1,2 ppm
- Tingkat kekeruhan air: 30–40 cm
Lobster bambu, atau yang memiliki nama latin Panulirus versicolor, hidup di daerah karang atau bebatuan pada perairan jernih atau keruh yang disertai arus yang kuat dengan kedalaman sekitar 4–16 meter.
Pakan yang cocok untuk budidaya lobster bambu adalah ikan rucah, udang kecil, dan kerang yang dihancurkan. Pakan ini harus segar dan diberikan sebanyak 10% dari bobot lobster per hari. Pemberian pakan dilakukan pada jam 9 pagi dan jam 4 sore, dan sisa pakan dibersihkan setiap pagi. Pakan lain yang cocok untuk lobster adalah tiram, kerang-kerangan, dan bekicot. Namun, saat ini orang cenderung menggunakan ikan rucah karena harganya lebih murah. Lobster akan menyerang sesamanya apabila tidak diberi pakan yang cukup dan segar.
Induk lobster yang baik adalah yang berusia minimal 6 bulan, berukuran minimal 10 cm, dan memiliki ukuran jantan dan betina yang ideal. Untuk betina, badan harus lebih besar dari kepala, sedangkan untuk jantan sebaliknya. Dalam pembenihan lobster air tawar, umumnya pembudidaya memiliki lima paket induk yang terdiri dari 25 betina dan 15 jantan. Untuk pemijahan, biasanya 1-2 ekor induk jantan dengan 3 ekor induk betina. Kepadatan tebar dalam kolam pemijahan bisa diatur dengan 3–5 ekor/m2. Shelter atau tempat persembunyian yang digunakan harus sesuai dengan ukuran indukan. Setelah tempat untuk budidaya siap serta indukan jantan dan betina siap untuk dikawinkan, Anda dapat memulai proses pemijahan atau pengkawinan.
Alat-alat yang diperlukan dalam budidaya lobster bambu antara lain:
- Bak pemijahan
- Akuarium pengeraman dan penetasan telur
- Bak pemeliharaan benih
- Selang
- Batu aerator
- Daun kelapa
- Pipa paralon
- Ember/baskom plastik
- Cyberscan water proof D 300
Alat-alat pendukung lainnya yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan pembenihan antara lain:
- Lubang persembunyian
- Aerator
- Jala dengan lubang yang kecil
Lubang persembunyian dapat dibuat dari pipa paralon, potongan bambu, genteng, ijuk, atau tali rapia. Aerator sangat penting untuk memasok oksigen dan menjaga kualitas air. Aerator yang digunakan sebaiknya disesuaikan dengan jumlah atau besar kecilnya bak. Media budidaya lobster dapat menggunakan keramba atau kolam apung. Konstruksi Keramba Jaring Apung (KJA) sebaiknya menggunakan bambu petung dengan menggunakan pelampung (Styrofoam) atau busa dan trool sebagai sarana kolam pembesaran lobster.
Modal awal untuk budidaya lobster air tawar adalah sekitar Rp15-20 juta. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa modal untuk budidaya lobster air tawar bisa dimulai dari Rp600 ribu. Budidaya lobster air tawar tidak membutuhkan lahan yang besar. Bahkan, Anda bisa melakukannya di rumah dengan lapak kecil. Keuntungan dari budidaya lobster air tawar bisa mencapai 70-80 persen dari modal yang dikeluarkan. Misalnya, jika modalnya Rp15 juta, penghasilan yang didapat bisa lebih dari Rp25 juta saat panen.
Harga rata-rata lobster bambu di Indonesia berkisar antara Rp1.120.560–Rp2.029.000. Harga lobster hasil budidaya sempat anjlok akibat pandemi Covid-19. Harga lobster mutiara berukuran di atas 300 gram turun dari Rp425.000–Rp450.000 per kg menjadi Rp330.000 per kg. Sementara itu, harga lobster pasir berukuran 200 gram turun dari Rp350.000 per kg menjadi Rp200.000 per kg. Untuk memulai budidaya lobster air tawar, modal yang dibutuhkan sekitar Rp15–20 juta. Budidaya lobster air tawar tidak membutuhkan lahan besar dan bisa dilakukan di rumah. Benih lobster biasanya sudah bisa dipanen dalam 20 hari dengan ukuran 1–2 cm. Panen lobster yang sudah dipindahkan ke kolam pembesaran biasanya membutuhkan waktu 6–8 bulan dengan berat minimal 100 gr.
Benih lobster yang ditangkap dari laut cenderung memiliki ketahanan yang baik dan mudah dibudidayakan. Beberapa kriteria benih lobster yang sesuai untuk dibudidayakan adalah:
- Berat sekitar 4 gram per ekor
- Ukuran minimal 5 gram
Untuk membudidayakan lobster, Anda disarankan menjaga pH pada angka 7—9. Selain itu, jarang ditemui lobster yang hidup di perairan yang memiliki pH di bawah angka 7. Pembudidayaan lobster terdiri dari:
- Usaha Pendederan dari ukuran Benih Bening Lobster (puerulus)
sampai dengan ukuran 30 (tiga puluh) gram
- Usaha Pembesaran dengan ukuran diatas 30 (tiga puluh) gram
Untuk membesarkan benih-benih lobster, diperlukan waktu sekitar 6 sampai 8 bulan. Apabila berat lobster sudah mencapai 100 gram, maka lobster untuk konsumsi tersebut siap untuk dipanen.
Aturan pembudidayaan lobster di Indonesia tertuang dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) Nomor 17 Tahun 2021. Permen KP ini diundangkan pada 4 Juni 2021. Permen KP Nomor 16 Tahun 2022 merupakan perubahan atas Permen KP Nomor 17 Tahun 2021. Permen KP Nomor 16 Tahun 2022 diharapkan dapat menjaga keberlanjutan dan ketersediaan sumber daya perikanan untuk memenuhi kebutuhan pembudidayaan lobster di Indonesia. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memastikan kemudahan bagi masyarakat dalam menjalankan kegiatan budidaya lobster di Indonesia. Budi daya lobster di Indonesia boleh dilakukan oleh semua lapisan masyarakat, baik skala mikro, kecil menengah, hingga besar. Pemerintah melarang ekspor benih lobster karena merugikan negara dan nelayan. Kebijakan ini juga cuma menguntungkan dalam jangka pendek saja dan rawan penyimpangan jika tidak dibarengi dengan pengawasan yang ketat.