Bangsa utama yang membangun peradaban Indus.
2. Dipercaya sebagai pendiri kota-kota besar seperti Harappa dan Mohenjo-daro.
3. Budaya mereka mencakup pertanian, sistem irigasi, perdagangan, dan tata kota yang maju.
4. Bahasa mereka tidak diketahui pasti, tapi kemungkinan berkerabat dengan bahasa Dravida modern di India Selatan (seperti Tamil).
Dari semua itu yang masih menjadi perdebatan adalah asal-usul bangsa ini sebagian ahli berpendapat bahwa bangsa Dravida merupakan campuran dari penduduk asli India selatan dengan orang-orang Neolitik atau orang-orang dari Proto Melayu Asia bagian Barat yang berimigrasi ke Asia Selatan sekitar kurang lebih 10.000 tahun SM. Hal tersebut dikarenakan bangsa Dravida yang mendiami India saat ini memiliki gen campuran dari dua bangsa tersebut. Bahasa yang paling umum digunakan oleh para Dravida adalah Tamil, Telugu, Kannada, Malayalam, Brahui, Tulu, Gondi, dan Coorg. Diduga, Bahasa Dravida dibawa ke India melalui imigrasi dari Elam, yang terletak di barat daya Iran saat ini.
Bangsa asli yang mendiami wilayah tersebut sebelum munculnya kota-kota besar.
Hidup sebagai pemburu-pengumpul atau petani awal.
Mereka kemungkinan berasimilasi dengan bangsa Dravida dalam proses pembentukan peradaban.
Bangsa pendatang dari barat, yang diduga berasal dari wilayah Mesopotamia atau Persia dan termasuk kelompok Mediterranoid, kemungkinan datang sebagai pedagang atau migran ke Peradaban Lembah Sungai Indus. Bukti hubungan antara kedua wilayah ini terlihat dari artefak dan cap dagang yang ditemukan di Mesopotamia, yang menunjukkan adanya kontak dagang yang cukup intens. Meskipun mereka bukan kelompok utama dalam masyarakat Indus, bangsa pendatang ini diduga berperan penting dalam pertukaran budaya dan teknologi, membantu memperkaya dan memperluas cakupan peradaban tersebut melalui interaksi dengan peradaban luar.
Tidak ditemukan bukti adanya sistem kasta yang kaku:
Berbeda dengan peradaban seperti di India setelahnya, peradaban Indus belum menunjukkan adanya sistem kasta yang sangat ketat dan diwariskan secara turun-temurun. Artinya, orang-orang tidak terjebak dalam kelas sosial tertentu seumur hidup secara resmi, sehingga ada kemungkinan mobilitas sosial lebih besar.
Pembagian kelas sosial lebih bersifat fleksibel dan sederhana:
Kelas-kelas sosial di peradaban Indus tampak tidak terlalu rumit atau berlapis-lapis. Perbedaan status lebih terlihat dari kekayaan atau profesi, bukan dari aturan sosial yang sangat mengikat. Jadi, masyarakat bisa lebih mudah berpindah dari satu status sosial ke status lain berdasarkan usaha, pekerjaan, atau kekayaan.
Masyarakat memiliki pembagian kerja berdasarkan profesi:
Orang-orang dalam peradaban Indus terbagi berdasarkan pekerjaan yang mereka lakukan, seperti petani, pengrajin, pedagang, atau pejabat. Pembagian kerja ini penting untuk menjalankan kehidupan kota dengan lancar, tapi tidak menjadikan pekerjaan tertentu sebagai penentu status sosial yang tidak bisa diubah.
Ekonomi Peradaban Lembah Indus sangat bergantung pada kombinasi pertanian subur dan peternakan, didukung oleh kerajinan dan perdagangan yang maju. Hal ini memungkinkan mereka untuk membangun kota-kota besar dan menjalankan kegiatan ekonomi yang kompleks.
Pertanian sebagai Mata Pencaharian Utama :
Peradaban Lembah Indus sangat bergantung pada pertanian karena tanah di sekitar sungai Indus sangat subur. Mereka menggunakan sistem irigasi untuk mengairi sawah dan ladang mereka, yang memungkinkan produksi hasil pertanian yang stabil dan melimpah. Beberapa tanaman utama yang mereka tanam meliputi:
Gandum dan jelai sebagai bahan makanan pokok.
Kacang-kacangan yang juga penting sebagai sumber protein.
Kapas, yang selain sebagai bahan pangan juga digunakan untuk membuat kain dan produk tekstil, menandakan adanya aktivitas kerajinan dan perdagangan.
Peternakan :
Selain bertani, peternakan juga menjadi bagian penting dalam mata pencaharian masyarakat Lembah Indus. Mereka memelihara:
Sapi, yang selain sebagai sumber daging juga mungkin digunakan untuk tenaga kerja di pertanian.
Domba dan kambing, yang menyediakan daging, susu, dan wol.
Hewan ternak lain seperti babi dan ayam.
Perdagangan dan Kerajinan :
Peradaban Indus dikenal dengan kota-kota besar seperti Mohenjo-Daro dan Harappa yang sudah memiliki sistem urbanisasi maju, termasuk pasar dan sistem perdagangan.
Mereka melakukan perdagangan lokal dan internasional, misalnya dengan Mesopotamia, berdasarkan temuan barang-barang seperti manik-manik, keramik, dan perhiasan.
Produksi kerajinan tangan sangat berkembang, terutama di bidang tekstil (dari kapas), perhiasan emas dan perak, serta barang-barang tembikar.