Mohenjodaro dan Harappa adalah perkotaan yang megah baik dari segi struktur bangunan maupun tata kotanya. Peradaban kuno memang mampu memproduksi monumen-monumen megah, namun tata kota yang kompleks adalah sebuah sistem tersendiri yang lebih maju. Kota ini memiliki bangunan bertingkat, jalan dan drainase kota yang rapi, kamar mandi dan kolam renang, serta berbagai macam hiasan publik yang bagus. Kawasan pemukiman juga ditemukan telah memiliki pintu dan tungku dari batu bata.
Selain ahli dalam membanguun perkotaan, masyarakat Indus juga meninggalkan beberapa karya ukir dan pahat yang baik. Mereka membuat stempel dengan berbagai corak yang digunakan untuk menandai sesuatu. Peralatan keseharian memiliki banyak alternatif bahan seperti batu, logam, kayu, tulang, Menunjukkan kemampuan yang maju dalam memproduksi peralatan sesuai kebutuhan. Masing-masing peralatan ini memiliki corak yang diukir secara khusus untuk menambah nilai seninya.
Selain dalam peralatan keseharian, beberapa arca juga ditemukan. Banyak diantaranya berbentuk binatang, yang mungkin digunakan untuk ritual kepercayaan atau hiasan kota semata. Barang-barang ini memiliki ciri-ciri ukiran baik berupa piktografi ataupun huruf-huruf khusus yang sampai hari ini belum dapat didefinisikan sepenuhnya.
Peradaban ini dikenal memiliki sistem drainase bawah tanah yang tertata rapi. Air limbah dari rumah-rumah dialirkan melalui saluran tertutup di bawah jalan-jalan kota. Rumah-rumah juga sudah dilengkapi dengan kamar mandi dan sumur air bersih. Di Mohenjo-daro terdapat "Great Bath", kemungkinan digunakan untuk ritual keagamaan atau kebersihan bersama. Sistem ini jauh lebih canggih dibanding peradaban kuno lainnya, bahkan lebih baik dari kota-kota modern hingga abad ke-19.
Peradaban Lembah Sungai Indus mengembangkan sistem tulisan yang dikenal sebagai aksara Indus, yang hingga kini masih menjadi misteri karena belum berhasil dipecahkan secara pasti oleh para ahli. Tulisan ini umumnya ditemukan pada segel-segel kecil yang terbuat dari batu steatit, serta pada tembikar, alat-alat, dan dinding bangunan. Aksaranya berbentuk simbol-simbol pendek yang tampaknya digunakan untuk tujuan administratif, perdagangan, atau identitas pribadi.
Masyarakat Lembah Sungai Indus memiliki kemampuan teknologi yang cukup maju untuk zamannya. Mereka sudah mengenal logam seperti tembaga dan perunggu untuk membuat berbagai alat, seperti kapak, pisau, dan alat pertanian. Ditemukan pula berbagai alat dari batu dan tanah liat, yang digunakan untuk kegiatan sehari-hari seperti memasak, menenun, dan bertani. Selain itu, mereka sudah menggunakan timbangan dan batu ukuran standar, yang menunjukkan bahwa mereka memiliki sistem pengukuran yang konsisten, terutama dalam kegiatan perdagangan. Bukti ini memperlihatkan bahwa mereka memiliki pengetahuan praktis dalam bidang teknik dan ilmu ukur, yang tidak hanya digunakan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga dalam pembangunan kota dan sistem drainase mereka yang kompleks.