INSPIRASI PAGI
Pikiran Anda itu Doa Anda
Banyak orang mengira bahwa doa hanyalah yang diucapkan saat berdoa saja. Khususnya saat kita usai beribadah. Padahal, doa seseorang bisa yang “tersembunyi” dalam pikiran orang tersebut. Bukankan Allah swt telah menyampaikan pesan melalui Rasulullah : “Aku sesuai persangkaan hamba-Ku”
Saat ada orang yang punya pikiran “cinta itu membutuhkan pengorbanan” maka selama berumah tangga ia akan merasa bahwa ia akan mendapatkan cinta apabila ia melakukan banyak pengorbanan. Maka, jangan salahkan diri Anda apabila Anda terus merasa berkorban demi mendapatkan cinta dari pasangan dan orang-orang yang Anda cintai. Bukankah selama ini, itu adalah doa Anda?
Berbeda dengan orang yang punya pikiran “cinta itu adalah rasa syukur yang berkelimpahan” maka apabila Anda termasuk yang punya pikiran seperti ini, Anda akan merasakan rasa syukur yang luar biasa besar dan berlimpah dari orang yang Anda cintai. Yang ada di pikiran Anda adalah berbagai kebaikan yang muncul dari orang yang Anda cintai. Karena selama ini, itualah doa Anda.
Begitu pula saat Anda punya pikiran “saya tidak mungkin punya rumah karena gaji saya sangat kecil, hanya cukup untuk kebutuhan harian.” Dan apabila ternyata Anda tidak punya rumah selama Anda bekerja di perusahaan yang sama, maka jangan salahkan siapapun apalagi menyalahkan Tuhan, Allah swt. Bukankah selama ini, hal itu yang Anda doakan.
Tentu sangat berbeda dengan orang yang menyatakan “saya yakin bisa punya rumah dengan halaman luas di belakangnya, ada pacuan kuda dan tempat olah raga memanah.” Orang yang punya pikiran seperti ini akan selalu terdorong untuk memantaskan diri agar ia punya rumah yang ia idamkan. Ia akan selalu mencari cara agar apa yang ada dipikirannya terwujud. Energinya terus membuncah, semangatnya selalu bergelora dan saya yakin “doa” nya itu terwujud di kemudian hari.
Apabila ada orang yang berpikir, “kalau mau sukses di bisnis, ya kamu harus rela bila keluarga kurang terurus” Maka kemungkinan besar, orang yang punya pikiran seperti ini akan sukses di bisnis tetapi keluarganya tidak harmonis. Mengapa? Karena ia sendirilah yang memanjatkan doa setiap saat. Meski tidak terucap tetapi itu ada dalam pikirannya. Dan dalam perjalanan hidup saya, saya sangat menyakini bahwa pikiran kita adalah doa kita. So, waspadalah.
Boleh tahu, pikiran-pikiran apa yang sekarang ada di pikiran Anda?
Sadarilah bahwa pikiran itu adalah doa Anda yang paling banyak Anda panjatkan meski tidak Anda ucapkan.
SOURCE : www.jamilazzaini.com
INSPIRASI PAGI
Apa Legacy Anda?
Bila kelak kita meninggal, kira-kira berapa lama nama kita diingat oleh generasi setelah kita? Satu tahun? Sepuluh tahun? Seratus tahun? Atau seribu tahun? Atau jangan-jangan beberapa bulan setelah dimakamkan, sudah tidak diingat oleh banyak orang.
Kita perlu belajar dengan Usman bin Affan, seorang pebisnis kaya raya di masa Rasulullah. Berbagai kisah menarik dari laki-laki yang juga pernah menjadi khalifah ini bisa menjadi pelajaran untuk kita semua. Salah satu kisahnya adalah saat kota Madinah mengalami panceklik hingga kesulitan air bersih. Satu-satunya sumber air yang tersisa adalah sebuah sumur milik seorang Yahudi yang diberi nama sumur Raumah. Kaum muslimin dan penduduk Madinah terpaksa harus rela antri dan membeli air bersih dari orang Yahudi tersebut.
Melihat kondisi umatnya, Rasulullah saw bersabda : “Wahai Sahabatku, siapa saja diantara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka akan mendapat surgaNya Allah Ta’ala” (HR. Muslim).
Mendengar hal itu, Utsman bin Affan, kemudian segera bergerak untuk membebaskan sumur Raumah itu. Utsman segera mendatangi orang Yahudi pemilik sumur dan menawar untuk membeli sumur Raumah dengan harga yang tinggi. Walau sudah diberi penawaran yang tertinggi sekalipun Yahudi pemilik sumur tetap menolak menjualnya dengan mengatakan “Seandainya sumur ini saya jual kepadamu wahai Utsman, maka aku tidak memiliki penghasilan yang bisa aku peroleh setiap hari”
Utsman bin Affan yang ingin sekali mendapatkan balasan pahala berupa Surga Allah Ta’ala, tidak kehilangan cara mengatasi penolakan Yahudi ini. Ia bernegosiasi dengan memberi tawaran “Bagaimana kalau aku beli setengahnya saja dari sumurmu?”
Orang Yahudi yang kebingungan itu membalas “Maksudmu?” Dengan sigap Usman bin Affan menjelaskan “Begini, jika engkau setuju maka kita akan memiliki sumur ini bergantian. Satu hari sumur ini milikku, esoknya kembali menjadi milikmu kemudian lusa menjadi milikku lagi demikian selanjutnya berganti satu-satu hari. Bagaimana?”
Orang Yahudi itupun berfikir “saya mendapatkan uang besar dari Utsman tanpa harus kehilangan sumur milikku”. Akhirnya si Yahudi setuju menerima tawaran Utsman bin Affan. Saat giliran sumur milik Utsman, Ia pun segera mengumumkan kepada penduduk Madinah untuk mengambil kebutuhan air mereka secara cuma-cuma (gratis). Utsman bin Affan juga mengingatkan agar penduduk Madinah mengambil air dalam jumlah yang cukup untuk 2 hari, karena esok hari sumur itu bukan lagi milik Utsman.
Keesokan harinya, orang Yahudi mendapati sumur miliknya sepi pembeli, karena penduduk Madinah masih memiliki persedian air di rumah. Yahudi itupun mendatangi Utsman dan berkata “Wahai Utsman belilah setengah lagi sumurku ini dengan harga sama seperti engkau membeli setengahnya kemarin”. Utsman setuju, lalu dibelinya seharga 20.000 dirham (1,6 milyar rupiah, dimana 1 dirham perak saat ini setara dengan Rp 80.543), maka sejak saat itu, sumur Raumahpun menjadi milik Utsman secara penuh. Apakah Utsman bin Affan menjadikan sumur itu sebagai lahan bisnis? Ternyata Tidak, ia wakafkan sumur itu untuk dimanfaatkan siapapun termasuk orang Yahudi pemilik sebelumnya.
Setelah beberapa waktu kemudian, tumbuhlah di sekitar sumur itu beberapa pohon kurma dan terus bertambah. Lalu Daulah Utsmaniyah memeliharanya hingga semakin berkembang, lalu disusul juga dipelihara oleh Pemerintah Saudi, hingga menjadi kebun kurma dengan 1.550 pohon.
Selanjutnya pemerintah, dalam hal ini Departemen Pertanian Saudi menjual hasil kebun kurma tersebut, setengah dari keuntungan itu disalurkan untuk anak-anak yatim dan fakir miskin, sedang setengahnya ditabung dan disimpan dalam bentuk rekening khusus milik beliau di salah satu bank atas nama Utsman bin Affan, di bawah pengawasan Departeman Pertanian.
Begitulah seterusnya, hingga uang yang ada di bank itu cukup untuk membeli sebidang tanah dan membangun hotel yang cukup besar di salah satu tempat yang strategis dekat Masjid Nabawi di Madinah. Hotel bintang 5 dengan 15 lantai dengan lebih dari 200 kamar itu tentu sangat menguntungkan. Hasil keutungan tersebut sebagian digunakan untuk membantu orang miskin, sebagian lagi diinvestasikan dalam kegiatan bisnis.
Bermula dari sumur, Utsman bin Affan bisa membantu banyak orang dan bertahan hingga 1.400 tahun lebih. Bukan hanya itu, ia juga kini memiliki kebun kurma dan hotel yang hasilnya untuk kemanfaatan banyak orang. Utsman bin Affan telah meninggalkan legacy yang manfaatnya tiada henti hingga kini?
Apa kira-kita legacy kita?
Legacy membuat hidup kita punya arti.
SOURCE : www.jamilazzaini.com
INSPIRASI PAGI
Closing the Gap: Mengubah Pengetahuan Menjadi Tindakan
Banyak dari kita sering berada dalam situasi seperti ini: kita tahu apa yang baik untuk dilakukan, namun entah mengapa kita tak kunjung melakukannya. Kita paham olahraga itu penting, tapi tetap malas bergerak. Kita sadar merokok berbahaya, namun tetap menyalakan sebatang rokok. Fenomena inilah yang dalam sesi Inner Jernih Series bersama Prasetya M Brata disebut sebagai “gap antara knowing dan doing”.
Prasetya M Brata—penulis buku, pembicara self-leadership, dan sosok yang pernah tampil di berbagai media nasional—mengajak kita membedah mengapa jurang ini terjadi dan bagaimana cara menutupnya.
---
Mengapa Mengetahui Belum Tentu Melakukan?
Menurut Prasetya M Brata, masalahnya tidak sekadar pada kurangnya pengetahuan, tetapi pada value dan meaning yang kita sematkan pada suatu hal. Seseorang yang terus merokok meski tahu bahayanya, biasanya telah memberi makna tertentu pada rokok: keren, macho, atau kreatif. Makna inilah yang justru menguatkan kebiasaan buruk tersebut.
Selain itu, tindakan manusia banyak dipengaruhi oleh memori prosedural—ingatan yang tersimpan di tubuh melalui kebiasaan. Mengetahui sesuatu ada di ranah kognitif, sedangkan melakukannya memerlukan keterlibatan tubuh dan emosi. Perpindahan dari tahu ke lakukan sering terhambat oleh faktor lain, seperti:
Rasa percaya diri yang rendah (self-esteem)
Trauma masa lalu
Keyakinan yang menghambat (limiting belief)
Konsep yang keliru terhadap aktivitas tersebut
Konflik prioritas
---
Sebelum Menutup Gap
Sebelum terburu-buru mencari solusi, Prasetya M Brata menyarankan dua pertanyaan penting:
1. Apakah hal ini penting bagi saya?
Hubungkan dengan misi hidup. Jika tidak selaras, motivasi akan mudah pudar.
2. Apakah saya yakin mampu melakukannya?
Periksa sumber daya yang dimiliki, baik internal (skill, mindset) maupun eksternal (waktu, dana, dukungan).
Jika jawabannya “ya” dan sudah ada rencana, kita bisa melangkah ke strategi closing the gap.
---
Lima Langkah Menutup Gap
Prasetya M Brata membagikan lima langkah untuk mengubah pengetahuan menjadi aksi nyata:
1. Understand – Pahami sepenuhnya apa yang ingin dilakukan, mengapa itu penting, dan bagaimana melakukannya.
2. Believe – Tanamkan keyakinan bahwa tindakan tersebut bermanfaat dan tepat untuk diri kita. Keyakinan harus masuk ke belief system, bukan hanya afirmasi di permukaan.
3. Decision & Permission – Putuskan untuk melakukannya dan izinkan diri menerima konsekuensi dari keputusan tersebut. Banyak orang memutuskan, tapi enggan menanggung resikonya.
4. Feel the Process & Result – Rasakan sensasi saat melakukannya dan bayangkan hasil yang diinginkan. Gunakan emosi positif sebagai bahan bakar.
5. One Thing I Will Do Today – Ambil satu langkah kecil yang bisa dilakukan hari ini juga sebagai awal perubahan.
---
Dukungan Eksternal: Bantu atau Hambat?
Dorongan dari luar, seperti pasangan yang mengingatkan atau teman yang menantang, bisa membantu sebagai pemantik. Namun, efeknya biasanya sementara jika tidak diinternalisasi. Pada akhirnya, kendali harus kembali ke diri sendiri.
Dukungan eksternal efektif digunakan sebagai risk management—pengingat saat motivasi menurun—bukan sebagai satu-satunya sumber dorongan.
---
Menerapkan pada Orang Lain
Metode ini juga dapat dipakai untuk memfasilitasi orang lain, dengan catatan:
1. Keinginan datang dari dirinya, bukan paksaan
2. Ia paham pentingnya dan yakin bisa melakukannya
3. Hambatan-hambatan pribadi sudah diidentifikasi
Dengan begitu, prosesnya akan lebih alami dan berkelanjutan.
---
Pelajaran dari Anak yang Takut Berenang
Prasetya M Brata membagikan pandangannya terhadap kasus anak yang takut air. Menurutnya, kuncinya adalah menciptakan rasa aman dan situasi terkontrol. Pemaksaan yang tepat konteks—dengan pengawasan dan tanpa resiko fatal—bisa menjadi pengalaman positif. Namun, jika dilakukan secara gegabah, justru bisa menimbulkan trauma baru.
---
Penutup: Mulai dari Langkah Kecil
Menutup gap antara mengetahui dan melakukan adalah soal membangun kesadaran, keyakinan, keputusan, rasa, dan aksi. Tidak semua langkah harus besar; justru keberhasilan sering diawali dari tindakan kecil yang konsisten.
Seperti pesan Prasetya M Brata:
> “Energi akan mengalir ke mana perhatian kita diarahkan. Pastikan perhatian tertuju pada hal yang bermakna, lalu ambil satu langkah hari ini untuk mewujudkannya.”
SOURCE : LIVE youtube session, Prasetya M Brata dan Andra Donatta
INSPIRASI PAGI
Agar Punya Banyak Pilihan
Kemarin saya update status tweet begini, “Orang yang hobinya jelek-jelekin perusahaan biasanya termasuk kelompok orang yang sedikit prestasinya, cobalah perhatikan.” Saya juga repost tweet lama, “Jangan meludah di sumur yang airnya kamu minum. Jangan jelek-jelekin perusahaan yang kamu masih menerima gaji darinya.”
Berbagai tanggapan muncul dari tweet itu. Banyak yang mendukung dan berkomentar positif, tapi ada juga yang berkomentar negatif. Ada pula yang berkomentar, “Kalau kita gak ada pilihan bagaimana? Jadi kita bisanya cuma jelekin perusahaan.” Benarkah tak ada pilihan? Anda menjelek-menjelekan perusaan itu adalah pilihan. Begitupun jika Anda diam itu juga pilihan. Dan, atas setiap pilihan Anda harus bersiap menerima konsekwensinya.
Banyak orang merasa tidak punya banyak pilihan. Ironisnya, disaat yang sama ia melakukan sesuatu yang negatif yang sejatinya itu juga pilihan. Orang semacam ini akan semakin lemah, terpuruk dan justru akhirnya hidupnya dikendalikan oleh pilihan orang lain. Bagaimana agar kita punya banyak pilihan?
Cara pertama yang bisa Anda lakukan adalah tingkatkan kompetensi Anda. Apabila Anda memiliki kompetensi yang tinggi maka Anda akan memiliki “daya tawar” yang tinggi dengan pihak lain. Orang yang mempekerjakan Anda atau orang yang bekerjasama dengan Anda akan merasa takut kehilangan Anda. Kompetensi yang tinggi membuat Anda lebih dihargai.
Cara yang kedua, luaskan pengaruh Anda. Kompetensi yang sudah Anda miliki jangan simpan sendiri. Bagikan kepada banyak orang di perusahaan tempat Anda bekerja. Semakin banyak berbagi dengan penuh kesungguhan pengaruh Anda akan semakin luas. Dan ajaibnya, semakin banyak Anda berbagi ternyata ilmu, kompetensi dan kemampuan Anda justru semakin melejit sehingga semakin sulit disusul oleh orang lain.
Pertanyaan saya, seberapa tinggi kompetensi Anda saat ini? Coba tanyakan kepada orang-orang di sekitar Anda. Jangan cuma mengandalkan perasaan Anda karena ternyata perasaan kita sering salah. Merasa kita hebat padahal itu hanya perasaan kita saja, bukan pengakuan banyak orang.
Pertanyaan kedua, sudah seberapa sering Anda berbagi tentang apa yang sudah Anda kuasai? Jangan-jangan Anda termasuk orang yang egois, tidak mau berbagi. Atau Anda masih merasa malu untuk berbagi?
Segera lakukan kedua hal tersebut, tingkatkan kompetensi dan luaskan pengaruh Anda, agar Anda terrmasuk orang yang punya banyak pilihan. Bukan menjadi orang yang tertindas, merasa lemah, dan merasa menjadi korban.
SOURCE : www.jamilazzaini.com
INSPIRASI PAGI
The Law of Projection
Saat saya masih kecil, saya tidak mengerti kenapa ayah saya sering berkata, “Jamil, memang kita miskin harta, tapi jangan pernah miskin cita-cita.” Baru setelah dewasa dan mulai menjalani kehidupan profesional, saya menyadari bahwa kalimat itu bukan sekadar nasihat orang tua — tapi sebuah prinsip hidup yang membentuk cara saya memandang karier dan masa depan.
Di dunia kerja, kita sering terjebak dalam rutinitas: datang pagi, bekerja sesuai target, lalu pulang. Kita sibuk mengejar laporan, angka, dan deadline, tapi kadang lupa bertanya: ke mana sebenarnya arah karier saya? Apa yang saya cita-citakan? Tanpa disadari, banyak orang mengalami stagnasi bukan karena kurang kemampuan, tapi karena kehilangan visi — kehilangan cita-cita.
Suatu ketika saya membaca tentang The Law of Projection, sebuah konsep dari Hans Wilhem. Ia menjelaskan bahwa hidup kita adalah hasil proyeksi dari pikiran kita sendiri, layaknya gambar di layar presentasi yang hanya akan berubah jika kita mengubah gambar di laptopnya. Dalam analogi ini, layar adalah kehidupan nyata kita — termasuk karier, jabatan, relasi kerja — sedangkan laptop adalah pikiran dan imajinasi kita. Maka, jika ingin hidup dan karier kita berubah, kita harus mulai dengan mengubah isi pikiran kita: keyakinan, nilai, dan terutama... cita-cita.
Saya teringat lagi pada ayah saya. Ia mungkin tidak pernah belajar tentang hukum proyeksi. Tapi ia mempraktikkannya secara otentik — dengan menanamkan semangat untuk selalu bermimpi besar. Dan saya percaya, dalam konteks profesional, cita-cita bukan hanya tentang jabatan tinggi. Tapi tentang kontribusi apa yang ingin saya berikan? Nilai apa yang saya perjuangkan? Jejak apa yang ingin saya tinggalkan di tempat kerja ini?
Banyak orang sukses bukan karena mereka lebih pintar, tapi karena mereka lebih jelas dalam menggambar masa depannya. Mereka punya visi mental yang kuat. Mereka menginternalisasi cita-cita hingga menjadi bahan bakar yang mendorong mereka tumbuh, belajar, dan bertahan. Mereka tidak membiarkan situasi hari ini membatasi masa depan mereka.
Di dunia kerja yang kompetitif dan cepat berubah, memiliki cita-cita itu penting. Ia menjadi kompas di tengah ketidakpastian. Ia mengubah pekerjaan menjadi panggilan, dan jabatan menjadi amanah. Maka jika hari ini Anda merasa buntu, mungkin bukan karena Anda tidak mampu — tapi karena Anda belum menggambar masa depan Anda dengan cukup jelas.
Ubah pikiran Anda, maka hidup Anda akan berubah. Tanamkan cita-cita, maka langkah Anda akan lebih terarah. Dan seperti kata ayah saya dulu: “Miskin harta bukan masalah, asal jangan pernah miskin cita-cita.”
SOURCE : Youtube Jamil Azzaini
INSPIRASI PAGI
Hati kotor pangkal nasib buruk
“Pak… hati saya ini kotor. Banyak salah. Dan saya sering kali merasa gelisah karenanya…”
Kalimat seperti ini mungkin pernah muncul dari dalam diri kita—di saat-saat sepi, saat perenungan, atau ketika hidup terasa berat. Ketika hati terasa kotor, kita tahu ada sesuatu yang tidak selaras. Bukan hanya dalam batin, tapi juga dalam pikiran dan tindakan kita sehari-hari.
Karena memang begitulah adanya. Hati bukan hanya urusan perasaan. Ia memengaruhi seluruh alur hidup kita. Hati yang keruh akan melahirkan perasaan yang gelisah. Perasaan memengaruhi cara berpikir. Pikiran mengarahkan tindakan. Tindakan yang terus-menerus menjadi kebiasaan. Dan kebiasaan yang tertanam kuat menciptakan karakter. Karakter, pada akhirnya, menentukan nasib.
Artinya, jika hati kita kotor, nasib kita pun akan mudah terbawa dalam arah yang tidak baik. Maka pertanyaan yang lebih penting adalah: bagaimana cara membersihkan hati? Bagaimana menjernihkan batin agar hidup kita pun menjadi lebih tenang, sehat, dan bermakna?
---
Hati, Titik Awal Segalanya
Saya pernah membagikan sebuah kerangka berpikir tentang bagaimana nasib terbentuk. Konsep ini terinspirasi dari pemikiran Robert Cooper, yang menjelaskan bahwa nasib sangat dipengaruhi oleh karakter. Karakter lahir dari kebiasaan. Kebiasaan dibentuk oleh tindakan berulang. Tindakan berasal dari pikiran. Dan pikiran dipicu oleh perasaan—yang berakar dari suasana hati.
Jadi, jika ingin memperbaiki hidup, kita harus mulai dari sumber terdekatnya: hati.
Hal ini juga sejalan dengan sabda Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim:
> “Ketahuilah bahwa dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.”
---
Lalu, Bagaimana Membersihkan Hati?
Pertanyaan ini sering muncul dalam banyak forum dan perenungan. Dan dalam pengalaman saya belajar ilmu tasawuf, ada satu pendekatan yang sederhana namun sangat dalam: Takholi, Tahalli, dan Tajalli. Tiga tahap inilah yang bisa kita praktikkan untuk menjernihkan hati.
---
1. Takholi – Mengosongkan Diri dari Sifat Tercela
Tahapan pertama adalah takholi, yaitu proses mengosongkan diri dari sifat-sifat yang merusak hati. Dalam diri manusia, ada banyak penyakit batin. Tapi setidaknya, ada tiga penyakit utama yang menjadi akar dari banyak dosa:
Sombong, yang membuat Iblis diusir dari surga.
Serakah, yang menyebabkan Nabi Adam melanggar larangan Allah.
Iri hati, yang membuat Qabil tega membunuh saudaranya sendiri.
Tiga penyakit ini menjadi “akar racun” dalam jiwa. Sombong bisa berwujud halus—merasa lebih pandai, lebih berpengalaman, atau lebih layak dibandingkan orang lain. Serakah tidak selalu soal materi; ia bisa hadir saat kita mengambil peran yang bukan milik kita hanya demi keuntungan pribadi. Iri hati muncul ketika kita sulit bahagia melihat kebahagiaan orang lain.
Membersihkan hati artinya mulai menyadari keberadaan racun-racun ini dan dengan sengaja menjauhinya.
---
2. Tahalli – Mengisi Diri dengan Sifat Terpuji
Setelah hati dikosongkan dari yang buruk, tahap berikutnya adalah tahalli—mengisi diri dengan kebaikan. Inilah proses mempercantik batin dengan sifat-sifat terpuji: sabar, rendah hati, ikhlas, jujur, dermawan, dan sebagainya.
Bayangkan sebuah cangkir kopi bekas. Setelah isi lamanya dibuang (takholi), kita bersihkan dan isi ulang dengan air jernih (tahalli). Kita mulai membangun kebiasaan baik. Kita menebar energi positif. Kita menghadirkan niat yang tulus dalam setiap perbuatan.
Ini bukan soal menjadi sempurna, tetapi tentang niat untuk terus bertumbuh menjadi lebih baik, hari demi hari.
---
3. Tajalli – Memantulkan Cahaya Kebaikan kepada Orang Lain
Jika hati sudah bersih dan penuh kebaikan, maka tahap terakhir adalah tajalli—menjadi cahaya bagi orang lain. Inilah fase berbagi, menginspirasi, dan menumbuhkan kebaikan di sekitar.
Tajalli adalah saat di mana kebaikan yang telah terisi dalam diri kita tidak berhenti pada kita. Ia menyebar. Ia menjadi manfaat nyata bagi orang lain.
Jika Anda seorang pemimpin, lahirkan pemimpin baru yang lebih baik dari Anda. Jika Anda guru, jadikan murid Anda lebih unggul. Jika Anda pebisnis, bangkitkan entrepreneur muda di sekitar Anda.
Saat Anda menjadikan hidup Anda sebagai cahaya untuk orang lain, maka hati Anda akan terus bercahaya. Bukan karena ingin dipuji, tapi karena Anda sudah utuh dan ingin memberi.
---
Kesimpulan: Hati yang Bersih, Hidup yang Tenang
Hati adalah pusat dari segalanya. Ketika hati bersih, maka pikiran menjadi jernih. Tindakan menjadi terarah. Kebiasaan menjadi sehat. Karakter tumbuh kokoh. Dan nasib pun bergerak menuju keberkahan.
Maka, jika Anda ingin memperbaiki hidup—mulailah dari hati. Bersihkan dari sifat-sifat tercela (takholi), isi dengan kebajikan (tahalli), lalu sebarkan kebaikan itu kepada dunia (tajalli).
Karena hidup bukan sekadar soal menjadi hebat, tapi juga soal menjadi bermanfaat.
---
Jika Anda merasa artikel ini menyentuh, bagikan kepada orang lain. Siapa tahu, kita sedang menjadi bagian dari proses tajalli—menghadirkan cahaya untuk sesama.
Semoga hati kita semakin bersih, hidup kita semakin sehat, dan nasib kita semakin diberkahi.
SOURCE : Youtube Jamil Azzaini
INSPIRASI PAGI
Ceramah Jumat bikin kebat-kebit...
“Kita bukan manusia yang pertama hidup di dunia. Sejak dahulu sudah ada manusia-manusia yang hidup dan sekarang sudah sirna menghadap Allah Lillahi Ta'ala. Ada manusia bernama Firaun, ada pula yang bernama Namruz... Raja-raja yang begitu berkuasa, semuanya kini sirna.
Ada manusia mulia, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, pemimpin para nabi, manusia yang paling dicintai Allah. Hidupnya tidak lama, hanya 63 tahun saja. Beliau pun akhirnya meninggalkan dunia ini.
Sungguh rugi orang yang terlena mengejar dunia, padahal semua ini hanya sementara. Sungguh rugi orang-orang yang tidak mau sadar dengan melihat sekitar. Satu per satu kawannya menghadap Allah. Satu per satu anggota keluarganya dipanggil Allah. Satu per satu tetangganya juga meninggalkan dunia ini. Tapi dia tidak sadar, bahwa dia masuk daftar antrian berikutnya. Masih sibuk mengejar dunia yang sementara, melupakan kenikmatan akhirat yang abadi selamanya.
JLEB!
Mari kawan, ambil kaca masing-masing. Apakah kita termasuk orang yang hanya sibuk mengejar dunia? Dikejar habis-habisan hingga tak peduli halal atau haram. Gengsi dan gaya hidup jadi tuhannya. Pamer kepada kawan dan tetangga terasa begitu nikmat!
Harta penuh riba terus digenggam, berani nekat karena laknat Tuhan dianggap hanya dongeng angan-angan. Ocehan ustadz pun dianggap sekadar celoteh orang yang kurang kerjaan.
Numpuk utang bertahun-tahun demi kebanggaan, padahal dalam hati gelisah, hidup terasa sumpek dalam kehinaan.
Hari terus berlalu, kawan... Seandainya dunia yang kita kejar ini hanya untuk memuaskan materi, kita akan capek luar biasa. Manusia akan lenyap nafsunya ketika mulutnya sudah disumpal dengan tanah.
Kejar ampunan Allah. Mumpung masih ada waktu dan kesempatan. Tinggalkan yang haram dan meragukan. Kejarlah yang halal penuh keberkahan.
Karena kita semua punya nomor urut antrian, dan misterinya tidak harus menunggu tua. Banyak yang muda sudah lebih dulu berangkat, diantar ke kuburan...
SOURCE : Saptuari Sugiharto | Founder sedekah rombongan jogja
INSPIRASI PAGI
Jadilah Pemain
Saya dulu memaki Roberto Baggio gara-gara dia gagal mengeksekusi tendangan penalti. Akibatnya, kesebelasan Italia tersingkir dari kejuaraan dunia sepakbola sejagad saat itu. Yang memaki Baggio ketika itu ternyata bukan hanya saya. Komentator di televisi para pendukung kesebelasan Italia di seluruh dunia dan pecandu sepak bola di Italia turut mencercanya.
Apakah setelah itu Roberto Baggio berhenti menjadi pemain sepakbola? Tidak! Apakah lelaki itu kehilangan penghasilan dari sepakbola? Juga tidak… Lantas, apa yang saya peroleh dari memaki? Apa juga yang diperoleh oleh para penggila bola Italia? Saya dan mereka tidak memperoleh apa-apa.
Ya, Insan SuksesMulia… para pemain tidak kehilangan penghasilan dan bahkan terus memperoleh penghasilan. Sementara para penonton tidak memperoleh satu rupiahpun bahkan harus terus membayar tiap kali menyaksikan pertandingan.
Begitupula dalam kehidupan sehari-hari, bila kita sibuk menjadi komentator dan penonton kita tidak akan memperoleh apa-apa. Bila Anda ingin memperoleh sesuatu, Anda harus menjadi pemain, Anda harus menjadi pelaku, Anda harus action sendiri dan tak boleh diwakilkan. Tatkala Anda diberi target oleh pimpinan, Anda berusaha dengan keras untuk meraih target itu. Anda mencari cara dan upaya agar target itu tercapai itulah pemain, itulah pelaku.
Namun bila Anda sibuk mengomentari target dari pimpinan, misalnya, “Targetnya ketinggian bos, tidak realistis bos, nanti kalau tercapai tahun depan target kita dinaikkin lebih besar lagi dari kantor pusat.” Bukan hanya itu, Anda juga malah sibuk mempengaruhi angota tim yang lain agar pimpinan mengubah targetnya. Nah, bila Anda mengambil sikap seperti ini Anda adalah penonton. Anda tidak akan dapat apa-apa, bahkan mungkin Anda akan kehilangan posisi dan pekerjaan Anda.
Insan SuksesMulia… berhentilah jadi penonton, jadilah pemain dalam kehidupan karena pemainlah yang penghasilannya terus meningkat, dikenal oleh banyak orang dan mendapat penghargaan serta piala. Ayo jadilah pemain!
source : www.jamilazzaini.com
INSPIRASI PAGI
Surrender Leader
Beberapa waktu yang lalu ada seorang leader yang curhat ke saya “Pak Jamil, berbagai ilmu bisnis dan leadership yang saya pelajari sudah saya terapkan, tetapi kenapa bisnis dan tim saya tidak juga move on?” Saya menjawab ringan “khan belum belajar leadership dengan saya.” Kami pun tertawa berdua.
Pertanyaan itu mengingatkan saya terhadap hikmah pertama di Kitab Al-Hikam karya Ibnu Athoillah: “Sebagian tanda bahwa seseorang itu bersandar diri pada kekuatan amal usahanya yaitu berkurangnya pengharapan terhadap rahmat karunia Allah SWT ketika terjadi suatu kesalahan (dosa).”
Kita memang diminta untuk mengerahkan semua kemampuan (ilmu, keahlian, relasi) dalam menjalankan tugas. Namun pada hakekatnya, kita tidak diperkenankan mengandalkan kemampuan kita. Kita dianjurkan untuk mengandalkan rahmat, karunia dan pertolongan Allah SWT. Sehebat apapun yang kita lakukan, jika Sang Pencipta tidak mengizinkan maka hal itu tidak akan terjadi.
Tugas kita melakukan sebaik-baiknya dengan mengerahkan semua kemampuan yang ada dalam diri kita. Namun hasilnya, serahkanlah kepada Allah SWT. Proses terbaik memang tanggungjawab kita, namun hasilnya itu wewenang dan urusan Allah SWT. Kita fokus kepada tugas kita dan jangan ikut campur apa yang sudah menjadi tugas dan wewenang-Nya. Dengan kata lain “Jangan sok hebat dengan cara mengambil alih apa yang sudah menjadi tugas Allah SWT.”
Saya mengingatkan kepada sang leader tersebut, waspadalah apabila dalam memimpin dan menggerakkan tim serta menjaga kelangsungan bisnis, kita sangat mengandalkan kemampuan kita. Sebab itulah yang diucapkan oleh orang yang kaya raya di zaman Nabi Musa bernama Qorun. Kunci gudang yang sebagian besar berisi emas dan perak harus dibawa dengan 60 ekor unta, betapa kaya rayanya Qorun. Berkaitan dengan kekayaannya ini, ia berkata: “Sesungguhnya, aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.” (QS Al Qasah; 78).
Sungguh sangat berbeda dengan Nabi Sulaiman yang jauh lebih kaya dan lebih berkuasa dibandingkan Qorun. Berkaitan dengan semua kekayaan dan kehebatan yang ia miliki, Nabi Sulaiman berkata: “Ini termasuk karunia Tuhanku, untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau mengingkari nikmat-Nya.” (QS An Naml 40).
Menurut saya, Nabi Sulaiman adalah contoh sosok Surrender Leader. Ia bekerja atau menjalani proses sebaik-baiknya, namun hasilnya diserahkan kepada Allah SWT. Saat kekayaannya semakin berlipat, ia pun tetap rendah hati bahwa semua itu adalah pemberian atau titipan dari Sang Pemilik Rezeki, bukan karena kehebatan ilmu, keahlian, dan relasinya.
So, pilih jadi Qorun atau Nabi Sulaiman?
SOURCE : www.jamilazzaini.com
INSPIRASI PAGI
5 Penyebab Produktivitas Menurun dan Cara Efektif Mengatasinya
Produktivitas adalah fondasi dari pertumbuhan dan keberhasilan sebuah bisnis. Saat orang-orang dalam organisasi menunjukkan kinerja optimal, maka perkembangan bisnis pun akan bergerak ke arah positif. Namun, dalam praktiknya, produktivitas bisa mengalami penurunan karena berbagai faktor yang kerap diabaikan.
Untuk membantu Anda memahami dan memperbaiki kondisi ini, berikut adalah lima penyebab utama turunnya produktivitas disertai cara mengatasinya secara praktis dan terukur:
---
1. Tidak Mengetahui Gambaran Besar
Masalah:
Banyak karyawan tidak memahami bagaimana pekerjaan mereka berkontribusi terhadap kesuksesan perusahaan. Akibatnya, mereka bekerja tanpa arah yang jelas dan kehilangan motivasi karena tidak merasa memiliki dampak.
Solusi:
Sampaikan secara rutin visi, misi, dan tujuan perusahaan. Libatkan karyawan dalam proses strategis, dan tunjukkan bagaimana peran mereka mendukung pencapaian target. Pastikan mereka juga memahami risiko yang muncul jika tujuan tidak tercapai, seperti hilangnya pangsa pasar atau efisiensi kerja yang terganggu.
---
2. Kurangnya Pengawasan dan Arahan
Masalah:
Tanpa pengawasan yang cukup, manajer sering kali tidak menyadari adanya penurunan performa. Karyawan pun merasa sendirian menghadapi kendala, sehingga tugas tertunda atau diselesaikan tidak maksimal.
Solusi:
Terapkan sistem pemantauan kerja yang ringan namun efektif. Luangkan waktu untuk one-on-one check-in secara berkala. Dorong karyawan untuk menyampaikan kendala yang mereka hadapi, dan bantu mereka menemukan solusi atau menyusun kembali prioritasv tugas.
---
3. Komunikasi yang Buruk
Masalah:
Komunikasi yang tidak terbuka menyebabkan kesalahpahaman, konflik antar tim, dan karyawan merasa tidak didengar. Akibatnya, produktivitas bisa anjlok karena masalah-masalah kecil tidak terselesaikan.
Solusi:
Ciptakan budaya komunikasi terbuka dan dua arah. Sediakan saluran resmi untuk pengaduan atau saran, dan tangani dengan adil dan transparan. Pastikan setiap karyawan tahu siapa yang bisa mereka hubungi saat mengalami masalah, baik teknis maupun personal.
---
4. Teknologi Usang dan Keterampilan Tidak Memadai
Masalah:
Peralatan kerja yang ketinggalan zaman dan keterampilan yang tidak berkembang membuat pekerjaan menjadi lambat dan tidak efisien.
Solusi:
Evaluasi dan perbarui infrastruktur kerja secara berkala. Tanyakan kepada tim tentang tools atau pelatihan apa yang mereka butuhkan. Dorong peningkatan kapasitas melalui kursus online, pelatihan teknis, atau seminar manajemen seperti "How to be the World Class Manager". Keterampilan seperti kepemimpinan, komunikasi, bahasa asing, dan literasi digital sangat penting untuk mendukung peningkatan produktivitas.
---
5. Kurangnya Pengakuan atas Kinerja
Masalah:
Karyawan yang merasa kontribusinya tidak dihargai cenderung kehilangan semangat dan mencari tempat kerja lain yang lebih mengapresiasi.
Solusi:
Berikan apresiasi secara konsisten, baik dalam bentuk pujian verbal, penghargaan, bonus, maupun kesempatan pengembangan karier. Pengakuan atas hasil kerja yang positif akan menjaga moral tim dan mendorong loyalitas serta performa yang berkelanjutan.
---
Penutup
Menurunnya produktivitas bukanlah hal yang harus dibiarkan berlarut-larut. Dengan mengenali penyebab utamanya dan menerapkan solusi yang tepat, Anda bisa membangun kembali semangat kerja tim dan memastikan roda bisnis tetap bergerak ke arah yang positif.
Ingat, produktivitas bukan hanya soal bekerja keras, tetapi juga bekerja cerdas dan terarah. Sudahkah Anda mengidentifikasi dan memperbaiki hambatan produktivitas di organisasi Anda?
Selamat berbenah dan terus bertumbuh.
SOURCE : Youtube Coach Armala MPS, Master Productivity Specialist
INSPIRASI PAGI
Jangan Menjadi Playing Victim
Salah satu penyebab seseorang tidak move on, stuck, jalan di tempat alias tidak bertumbuh adalah mentalitas playing victim. Selalu merasa bahwa dirinya menjadi korban dan disaat yang bersamaan menyalahkan atau mengkambinghitamkan pihak lain.
Saat ada hal-hal yang tidak sesuai harapan, sang playing victim akan berkata : “orang tuaku mendidikku tidak benar sich, gak pernah belajar ilmu parenting, ya beginilah jadinya nasibku.” Temannya juga bisa disalahkan dengan pernyataan “teman-teman saya kurang mendukung, mereka egois, mereka tidak peduli dengan saya, jadinya hidup saya berantakan.”
Bagi orang kantoran, playing victim bisa dalam bentuk ugkapan: “saya khan gak punya orang dalam, wajar dech kalau karir saya mentok.” Pemimpinnya pun bisa menjadi pihak yang tertuduh dengan mengatakan “gara-gara pemimpin saya pilih kasih, gak adil dalam penilaian, gaji saya tidak naik. Pemimpin saya telah merusak kebahagiaan saya.”
Dan tentu masih banyak contoh ungkapan yang disampaikan oleh para pelaku playing victim. Yang jelas, ciri seseorang yang punya mental playing victim adalah mereka selalu merasa menjadi korban dan selalu menyalahkan pihak lain.”
Ngeri kalau mentalitas playing victim ada dalam diri kita. Maka, saatnya kita mengetahui bagaimana agar mental playing victim menjauh dari kita. Tiga tips berikut bisa menjadi salah satu rujukan.
Pertama, Acceptance. Saat ada kejadian yang terjadi di luar kendali kita, sikap terbaik kita adalah acceptance (menerima). Contohnya, munculnya virus Covid-19 adalah sesuatu yang terjadi di luar kendali kita, dimana kita tidak punya andil atau kontribusi sedikitpun.
Dalam situasi seperti ini dan situasi lain yang di luar kendali kita, acceptance adalah sikap terbaik. Menerima apa yang terjadi sembari mencari hikmah dari kejadian tersebut. Merenungkan apa sebenarnya pesan cinta-Nya untuk kita dari kejadian itu? Apa saja peluang kebaikan yang muncul dari kejadian yang terjadi?
Kedua, Take Responsibility. Setiap ada kejadian yang berhubungan dengan diri kita, jadilah orang yang bertanggungjawab. Kita punya kontribusi atas kejadian tersebut. Saat ada kejadian yang tidak kita harapkan menimpa kita, kita bisa berkata: “Saya bertanggungjawab atas kejadian ini. Saya berkomitmen melakukan perubahan dan melakukan hal yang berbeda agar kejadian seperti ini tidak terulang.”
Ketika ada kejadian buruk yang menimpa kita, saatnya kita membiasakan diri mengatakan “aku” bukan “kamu” Lebih baik kita berkata “aku” menerima kejadian ini dan aku siap mengambil pelajaran dan memperbaiki diri ketimbang berkata “kamu” penyebab kejadian ini, dan gara-gara “kamu” aku ikut susah.
Ketiga, Self Improvement. Dunia berubah begitu cepat, kita perlu punya komitmen untuk selalu berubah, unlearn atas berbagai keahlian yang kita punya. Kita perlu membiasakan diri mengajukan pertanyaan, skill apa yang diperlukan saat ini? Apa yang perlu saya asah dan latih agar bisa memberi solusi permasalahan diri dan banyak orang? Hal-hal apa saja yang perlu saya kuasai agar saya bisa memberi manfaat kepada diri sendiri dan banyak orang?
Jawab pertanyaan tersebut di atas dan kemudian ditindaklanjuti dengan aksi nyata. Miliki semangat dan komitmen untuk mengeluarkan energi, menyediakan waktu bahkan mengeluarkan dana untuk mengasah diri tiada henti.
Apabila kita konsisten melakukan ketiga hal tersebut di atas, mentalitas playing victim akan pergi dengan sendirinya dari diri kita tanpa kita minta. Ini berarti kita menjadi seseorang yang selalu siap move on, bertumbuh dan “melompat” jauh lebih tinggi dari kondisi saat ini. Siap?
SOURCE : www.jamilazzaini.com
INSPIRASI PAGI
Peran Pemimpin dalam Membangun Budaya Corporate Behavior yang Hidup
Apakah Anda mengetahui nilai-nilai yang dianut oleh perusahaan tempat Anda bekerja? Dan yang lebih penting, apakah perilaku orang-orang di dalam organisasi tersebut sudah benar-benar mencerminkan nilai-nilai itu?
Pertanyaan ini penting, karena memiliki corporate values yang menjadi landasan perilaku dalam organisasi tidak hanya memperkuat identitas, tetapi juga berdampak langsung pada kepuasan kerja dan produktivitas karyawan. Sebaliknya, nilai-nilai perusahaan yang hanya menjadi formalitas—tanpa dihidupi dengan sungguh-sungguh—justru bisa menimbulkan skeptisisme. Karyawan menjadi ragu, bahkan kurang percaya kepada perusahaannya sendiri. Dan tentu, ini bukan kondisi yang kita inginkan.
Dalam kesempatan kali ini, saya akan membahas secara khusus bagaimana peran seorang pemimpin dalam membangun corporate behavior.
Bagi Anda penggemar kopi, pasti tidak asing dengan nama Starbucks. Begitu memasuki kedai mereka, keramahan dan kehangatan langsung terasa. Mulai dari sapaan para barista, tulisan tangan di gelas, hingga suasana ruang duduk yang membuat pelanggan nyaman berlama-lama sambil menikmati kopi mereka. Dan tentu, jargon “sense of belonging” dan “to be seen and to be sincere” begitu melekat dalam setiap interaksi mereka.
Apa yang membuat hampir semua pegawai Starbucks mampu menunjukkan standar keramahan yang sama? Jawabannya ada pada nilai yang mereka anut: servant leadership. Nilai ini dimanifestasikan dalam cara para pemimpin mereka—mulai dari direktur, manajer, hingga supervisor—memimpin tim. Mereka tidak hanya memberi perintah, tetapi memberikan dukungan nyata, memastikan anggota tim berkembang, dan menempatkan kesejahteraan karyawan sebagai prioritas. Mereka meyakini: ketika karyawan merasa diperhatikan, mereka pun akan peduli kepada pelanggan. Inilah salah satu contoh penerapan nilai yang nyata, hingga terasa dampaknya sampai ke pelanggan.
Beberapa waktu lalu, saya mendampingi field coaching di sebuah hotel di Banjarmasin. Saya menyaksikan sendiri bagaimana seorang security, dengan sikap lapang hati dan penuh responsif, membantu seorang tamu yang kesulitan membawa banyak oleh-oleh. Ia berinisiatif mencarikan kardus dan lakban, lalu membantu mengemas barang bawaan tamu tersebut. Padahal, hal itu jelas bukan bagian dari job description-nya.
Apa yang membuatnya bertindak demikian? Bukan karena instruksi. Tetapi karena ia percaya dan menghidupi nilai-nilai perusahaan tempat ia bekerja. Nilai yang sudah tertanam di dalam dirinya itulah yang menggerakkan hati dan perilakunya. Ia ingin memastikan bahwa tamu hotel merasa terbantu dan nyaman.
Menurut James Collins dan Jerry Porras, membangun perusahaan hebat membutuhkan satu persen visi dan sembilan puluh sembilan persen penyelarasan. Artinya, visi organisasi memang penting sebagai arah, tapi akan menjadi sia-sia jika tidak diinternalisasi oleh seluruh anggota organisasi. Kita bisa menilai sebuah organisasi dari sejauh mana orang-orang di dalamnya bergerak ke arah yang sama, mengambil keputusan berdasarkan nilai yang sama, dan menunjukkan perilaku yang sejalan.
Lalu, apa itu corporate behavior?
Corporate behavior adalah nilai-nilai yang secara resmi dinyatakan dan dideklarasikan oleh perusahaan, yang biasanya dicantumkan di website, media sosial, atau ditempel di dinding kantor. Namun, dalam praktiknya, nilai-nilai ini tidak selalu menjadi nilai yang benar-benar dihidupi atau diterapkan. Idealnya, nilai yang ditulis (espoused values) juga menjadi nilai yang dijalani (enacted values).
Ketidaksesuaian antara keduanya bisa berdampak serius. Karyawan menjadi kurang berkomitmen, tingkat kepercayaan menurun, hingga muncul sinisme terhadap kebijakan perusahaan. Jika tidak ditangani, kondisi ini akan berpengaruh langsung pada retensi, motivasi, dan kinerja organisasi secara keseluruhan.
Lalu bagaimana caranya agar nilai yang dinyatakan dan nilai yang dijalani bisa selaras? Terdapat tiga aspek penting yang harus diperhatikan:
1. Pemahaman Karyawan yang tidak mengenal nilai perusahaan tidak akan mampu menginternalisasinya. Namun, mengenal saja tidak cukup. Mereka perlu memahaminya secara mendalam—apa maknanya, dan bagaimana relevansinya dalam pekerjaan mereka sehari-hari.
2. Penggunaan (Makna Pribadi)
Nilai tidak akan benar-benar tertanam jika tidak selaras dengan nilai-nilai pribadi karyawan. Manusia hanya akan bergerak jika nilai itu bermakna bagi dirinya. Karena itu, perusahaan perlu menjelaskan nilai bukan hanya sebagai perintah, tapi sebagai makna yang menginspirasi.
3. Penerapan
Pemimpin memegang peran sentral untuk menjembatani kesenjangan antara nilai yang dinyatakan dan nilai yang diterapkan. Karena sikap karyawan sangat dipengaruhi oleh contoh yang mereka lihat dari atasannya, dan perilaku yang dijadikan standar dalam keseharian.
Apa peran kita sebagai pemimpin untuk membangun corporate behavior yang kuat?
Ada empat peran kunci yang harus kita mainkan secara dinamis:
1. Commander (Pemberi Arah)
Pemimpin harus memberikan arah dan peta jalan yang jelas, agar tim tahu apa yang harus dicapai, diprioritaskan, dan bagaimana cara mencapainya.
2. Role Model (Teladan Nilai)
Perilaku lebih mudah ditularkan melalui keteladanan. Pemimpin harus memberi contoh nyata tentang nilai yang diharapkan. Mulai dari integritas, cara memperlakukan pelanggan, hingga bagaimana menghadapi tantangan.
3. Influencer (Pemberi Pengaruh)
Mempengaruhi bukan berarti memerintah. Tapi tentang kemampuan untuk menginspirasi, membujuk, dan menggerakkan orang lain secara sukarela. Untuk itu, pemimpin harus memiliki kepekaan, mampu mendengarkan, dan memahami kondisi timnya, lalu menggunakan pendekatan yang fleksibel namun kuat.
4. Accelerator (Pemantik Percepatan)
Pemimpin harus menjadi motor penggerak. Mampu mengambil keputusan cepat, memberi dorongan, dan mempercepat laju tim. Kadang, diperlukan stimulasi ekstra agar tim mampu bergerak lebih cepat dan adaptif.
Kesimpulannya, perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Jika lingkungan itu secara konsisten mengarahkan pada nilai-nilai yang positif, maka perilaku itu akan menjadi kebiasaan. Dan jika kebiasaan itu dijalankan oleh mayoritas, maka ia akan membentuk budaya—budaya organisasi yang mencerminkan corporate behavior yang hidup.
Sekarang mari kita refleksikan: Bagaimana penerapan nilai-nilai organisasi dalam perusahaan Anda? Apa saja hambatan yang menyebabkan nilai tersebut belum sepenuhnya selaras? Dan yang terpenting, apa langkah pertama yang bisa Anda ambil sebagai pemimpin untuk membangun budaya yang kuat dan otentik?
Bangunlah corporate behavior yang sejalan dengan visi organisasi Anda. Bukan sekadar tertulis, tapi benar-benar dihayati dan dijalani.
SOURCE : Youtube Leadership Vibes | Kubik Leadership
INSPIRASI PAGI
Performa atau makna?
Hari ini, saya ingin mengajak Anda merenung sejenak. Di tengah dunia kepemimpinan yang semakin kompetitif, kita menyaksikan banyak pemimpin yang hebat—cerdas, cepat, tangguh, dan adaptif. Mereka mahir menyusun strategi, mengejar target, dan mengeksekusi rencana. Tapi ironisnya, di balik semua itu, banyak dari mereka terjebak. Terjebak dalam rutinitas, angka, laporan, dan rapat-rapat tanpa akhir. Mereka sibuk memantau Excel, mengejar deadline, memadamkan satu api demi api lainnya—hingga lupa satu hal yang paling menentukan dalam kepemimpinan: makna.
Makna adalah bahan bakar jiwa. Ia adalah nyala yang membuat orang bertahan, bahkan saat dunia runtuh di sekelilingnya. Banyak pemimpin hari ini telah menjadi eksekutor andal, tapi gagal menjadi penyala jiwa. Padahal manusia bukan robot. Mereka tidak hanya butuh gaji, target, dan bonus. Mereka butuh alasan untuk bangun pagi. Mereka butuh tahu bahwa yang mereka lakukan itu penting, bahwa keberadaan mereka berarti.
Seorang pemimpin sejati bukan sekadar pemberi arahan atau penentu strategi. Ia adalah meaning maker—seseorang yang menyalakan semangat, menghidupkan rasa bangga, dan memberi arti pada setiap langkah yang diambil bersama timnya. Bukan hanya menyuruh bekerja, tapi membangkitkan jiwa untuk bergerak.
Lalu bagaimana cara menjadi meaning maker? Berikut adalah lima langkah konkret dan mendalam yang bisa Anda praktikkan.
---
1. Temukan dan Hidupkan Why Tim Anda
Simon Sinek pernah berkata, “Start with why.” Tapi berapa banyak pemimpin yang benar-benar menyalakan "why" dalam timnya?
Mulailah dengan pertanyaan mendasar:
Untuk apa kita melakukan semua ini?
Siapa yang kita bantu?
Apa dampak jangka panjang dari pekerjaan ini?
Lakukan sesi refleksi secara berkala. Kaitkan setiap pekerjaan dengan misi kemanusiaan atau nilai spiritual. Misalnya, kita bukan sekadar menjual produk, tapi membantu orang hidup lebih sehat, lebih mudah, lebih damai. Ketika tim menemukan alasan dari apa yang mereka lakukan, semangat mereka tidak mudah padam.
---
2. Bercerita dengan Jiwa, Bukan Hanya Fakta
Fakta bisa menjangkau pikiran, tapi cerita menyentuh hati. Pemimpin yang meaning maker adalah pendongeng makna. Ia merajut kisah nyata—tentang pelanggan yang terbantu, perjuangan tim, atau pengalaman pribadinya—menjadi api inspirasi.
Ceritalah dengan emosi, bukan sekadar kronologi. Jangan takut rapuh. Kerapuhan yang jujur justru menghidupkan kepercayaan. Gunakan metafora, ayat, atau hikmah. Misalnya, pekerjaan kita hari ini mungkin hanya menanam satu biji pohon, tapi 20 tahun ke depan ia bisa menjadi naungan bagi banyak generasi. Cerita yang menggetarkan hati akan jauh lebih kuat daripada presentasi dengan grafik dan angka.
---
3. Bangun Kedekatan yang Otentik
Makna tidak bisa didelegasikan. Ia harus dihadirkan lewat relasi. Pemimpin sejati hadir, tidak hanya dalam ruang rapat, tapi dalam ruang jiwa timnya.
Sisihkan waktu untuk benar-benar mendengar.
Bukan hanya mendengar laporan, tapi mendengar perasaan.
Tanyakan, “Apa yang membuatmu bahagia akhir-akhir ini?”
“Apa yang mengganggumu saat bekerja?”
“Apa yang bisa aku bantu agar kamu berkembang?”
Tunjukkan bahwa Anda melihat mereka sebagai manusia, bukan hanya fungsi. Di situlah tumbuh rasa: “Aku dihargai. Aku tidak sendiri. Aku ini penting.”
---
4. Hargai Proses, Rayakan Perjalanan
Makna sering tersembunyi di balik perjuangan, bukan hasil. Pemimpin sejati tahu bahwa perjalanan pun layak dihargai.
Adakan sesi “small victory sharing” secara berkala. Ajak setiap orang membagikan satu pelajaran atau kemajuan kecil mereka.
Sekecil apapun itu, ucapkan terima kasih.
Bangun budaya yang menghargai inisiatif, kejujuran, dan pertumbuhan.
Ucapkan: “Aku bangga kamu mencoba, meski hasil belum sesuai.”
Dengan begitu, pekerjaan bukan hanya dilihat, tapi juga dimaknai.
---
5. Hidupkan Nilai dalam Setiap Keputusan
Makna lahir ketika keputusan selaras dengan nurani. Ketika Anda memilih yang benar ketimbang yang cepat, yang adil ketimbang yang aman untuk diri sendiri—di situlah makna memancar.
Tentukan tiga nilai utama yang ingin Anda dan tim perjuangkan. Misalnya: integritas, kebermanfaatan, pertumbuhan. Jadikan itu kompas dalam setiap rapat, setiap diskusi. Ulangi, tekankan, hidupkan.
Beranilah untuk berdiri menjaga nilai, meski ada risiko.
Ketika tim melihat Anda memimpin dengan hati dan nilai, mereka tahu:
“Kami tidak hanya bekerja. Kami sedang melakukan sesuatu yang bermakna.”
---
Jadilah pemimpin yang bukan hanya mengejar performa, tapi menyalakan makna. Karena performa bisa membuat orang bekerja lebih cepat, tapi makna membuat mereka bertahan lebih lama dan melangkah lebih jauh.
Tanyakan pada diri Anda:
> Apakah hari ini saya hanya menyuruh orang bekerja?
Atau saya sedang menghidupkan semangat mereka?
Jika jawaban Anda yang kedua, Anda sedang berada di jalan para meaning maker. Jalan para pemimpin yang meninggalkan jejak, bukan hanya di catatan perusahaan, tapi di jiwa orang-orang yang mereka bimbing.
Saya tutup dengan kutipan Maya Angelou:
“People will forget what you said. People will forget what you did. But people will never forget how you made them feel.”
Meaning maker membuat orang merasa:
Aku berarti. Aku dibutuhkan. Aku bagian dari sesuatu yang mulia.
Dan ketika ini hadir, tim Anda tak lagi merasa bekerja.
Mereka sedang memperjuangkan sesuatu yang bernilai.
SOURCE : Youtube Jamil Azzaini
INSPIRASI PAGI
Ngapain Kerja Keras?
Dulu, saya pernah punya banyak hutang. Saya berupaya terus mencari cara agar hutang tersebut lunas. Setiap saya berkonsultasi dengan seseorang yang saya anggap ahli, jawabnya hampir senada “mas Jamil, harus bekerja lebih keras dibandingkan yang lain.” Saya pun mengikuti nasehat tersebut, bekerja dari pagi hingga malam, bahkan hari Sabtu dan Minggu pun saya berusaha mencari uang untuk melunasi hutang tersebut. Hingga anak saya pun protes “kami merasa tidak punya ayah.”
Dalam kegaluan, saya menyepi (me time) mencari ketenangan dan jawaban. Pada saat itulah saya bertemu dengan seseorang yang baru pulang belajar tentang Money Magnet di Amerika Serikat. Setelah saya bercerita apa yang saya hadapi, ia bertanya singkat kepada saya “ngapain mas Jamil harus kerja keras?” Saya pun menjawab singkat “untuk mendapatkan uang agar bisa melunasi hutang saya.”
Lelaki itu pun berkata “tidak harus kerja keras bila tahu rahasianya.” Ia pun kemudian menjelaskan bahwa rumus datangnya uang itu adalah Have = Be x Do. Apabila kita ingin memiliki uang (have) maka kita perlu memiliki Be dan Do. Be itu terdiri dari keimanan, perasaan, pikiran, keahlian dan pergaulan. Do bermakna melakukan sesuatu.
Jadi, bila Have-nya ingin besar, maka Be dan Do-nya juga perlu besar. Namun Do itu dibatasi waktu, energi dan kemampuan fisik. Apabila Do ditingkatkan terus maka akan terjadi burn out, stress, dan sangat melelahkan. Bahkan bisa sakit dan depresi, wajah pun terlihat lelah dan tua. Maka alternatif terbaik adalah menaikkan Be dan melakukan Do seperlunya.
Do tidak perlu ngoyo, tidak perlu kerja keras apalagi sampai lupa waktu dan menjadi workaholic. Yang jelas, kita perlu tetap melakukan Do yang terbaik, karena rumusnya memang perkalian. Jadi tidak boleh Do-nya nol. Teman saya itu berkata “kerja tetap kerja, namun calm saja bro, enjoy saja dan nikmati hidupmu yang lain, jangan diperbudak sama pekerjaan.”
Meski rumus Have = Be x Do, yang dicetuskan Mark Victor dan Robert G Allen dianggap pseudosains (kurang ilmiah) oleh sebagian orang, saya mencoba mempercayai dan mengamalkan rumus tersebut. Dalam hati saya berkata “gak apa-apa dianggap gak ilmiah, yang penting hutang lunas.”. Hasilnya ternyata benar, kita tidak perlu kerja sangat keras untuk melunasi hutang-hutang kita.
Kata kuncinya, naikkan Be. Bermula dari Keimanan bahwa Allah swt adalah Pemilik Rezeki. Tugas kita mendekat dan merayu agar Dia, Sang Pemilik, memberikan rezeki kepada kita tanpa batas, Dia memberikan rezeki, melebihi apa yang kita butuhkan untuk kepentingan pribadi dan menebar manfaat kepada banyak orang.
Selain keimanan, Be juga bisa ditingkatkan dengan meningkatkan perasaan dan pikiran positif bahwa kita diberikan sumber daya yang berlimpah oleh-Nya. Mental kita abundance (keberlimpahan) bukan scarcity (kekurangan). Perasaan dan hati kita dipenuhi dengan rasa cinta dan syukur yang semakin membesar. Pikiran kita dipenuhi dengan optimisme dan prasangka baik serta keyakinan bahwa apapun keinginan kita atas izin-Nya dapat kita wujudkan dalam kehidupan.
Mengasah keahlian hingga kita benar-benar ahli juga salah satu bentuk meningkatkan Be. Pilih keahlian yang dibutuhkan oleh masyarakat dan latihlah hingga kita benar-benar ahli. Sebab keahlian yang memberi manfaat kepada banyak orang adalah saluran rezeki terbesar yang disediakan oleh Sang Maha Kaya, Allah swt.
Meningkatkan Be, yang juga sangat dianjurkan adalah memperbanyak relasi. Apabila kita ingin memperbanyak pintu rezeki, jangan bekerja sendirian, perbanyaklah relasi. Bersilaturahmi, berkolaborasi, bersinergi dengan relasi adalah salah satu bentuk menguatkan persahabatan yang menghasilkan banyak manfaat. Satu per satu pintu rezeki akan terbuka, saat kita juga rajin membukakan pintu rezeki kepada relasi kita.
So, pilih mana? Meningkatkan Be atau kerja keras? Saya sich memilih meningkat Be, sudah terbukti.
SOURCE : www.jamilazzaini.com
INSPIRASI PAGI
Rutinitas Pagi: Tuntaskan Tugas yang Bermakna & Signifikan di Awal Hari
Pekerjaan yang Anda pertama lakukan di pagi hari haruslah sesuatu yang bermakna dan signifikan, pekerjaan yang membutuhkan fokus dan determinasi yang kuat untuk menyelesaikannya. Alasannya sederhana: willpower kita terbatas.
Willpower adalah bahan bakar mental di otak kita yang memungkinkan kita untuk fokus dan mengendalikan diri. Menurut penelitian Roy Baumeister, willpower kita terbatas, ia akan berkurang seiring pemakaian. Bayangkan ia seperti otot yang menjadi lelah setelah digunakan. Semakin lama kita terjaga, semakin berkurang kadar willpower kita. Kadar willpower kita berkurang setiap kali kita mengerjakan sesuatu secara fisik maupun mental (berpikir, menyelesaikan masalah, mengambil keputusan, dsb). Saat willpower berkurang, kendali diri kita melemah – kita menjadi lebih mudah tergoda, tersinggung, dan menyerah. Kita pun mengalami kesulitan untuk fokus dan berpikir secara jernih. Secara umum, hasil kerja dan keputusan yang kita ambil saat willpower lemah lebih buruk daripada saat willpower kita sedang kuat. Ringkasnya, kita membutuhkan kadar willpower yang tinggi untuk menuntaskan sebuah tugas penting.
Kadar willpower tertinggi ada di pagi hari. Ini sebabnya, bila kita perlu menyelesaikan sebuah tugas yang penting, kerjakanlah di pagi hari. Baumeister mengatakan: “Pagi hari adalah saat kita paling disiplin. Semakin lama orang terjaga, semakin banyak masalah pengendalian diri yang terjadi. Banyak hal menjadi buruk di malam hari. Diet rusak saat camilan malam bukan saat sarapan…”
Masuk akallah apa yang disampaikan oleh Mark Twain ratusan tahun lalu: “Makanlah katak hidup saat mengawali pagi, maka tidak ada yang lebih buruk yang akan terjadi pada Anda sepanjang hari.” Katak hidup maksudnya adalah tugas yang paling berat, paling tidak menyenangkan – namun penting untuk dilakukan. Ingat, penting berbeda dengan urgen. Penting itu terkait seberapa bermakna dan seberapa signifikan tugas tersebut, bukan seberapa mendesak. Tugas yang bermakna artinya tugas yang membuat Anda merasa selaras dengan diri dan tujuan Anda. Sementara tugas yang signifikan artinya adalah tugas yang bila dikerjakan akan berdampak dampak besar pada kehidupan atau pencapaian tujuan Anda.
“Makanlah katak hidup saat mengawali pagi, maka tidak ada yang lebih buruk yang akan terjadi pada Anda sepanjang hari.”
Mark Twain
Maka, penting bagi kita mengawali pagi dengan kesadaran penuh tentang apa yang penting, bermakna, dan signifikan dalam hidup kita. Salah satu caranya adalah dengan mengajukan pertanyaan penting di pagi hari. Seperti yang dilakukan Steve Jobs dan Benjamin Franklin. Jobs dalam ceramahnya di Stanford mengatakan:
“Selama 33 tahun terakhir, saya telah melihat ke cermin setiap pagi dan bertanya pada diri sendiri: ‘Jika hari ini adalah hari terakhir dalam hidup saya, apakah saya ingin melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?’ Dan setiap kali jawabannya tidak selama beberapa hari berturut-turut, saya tahu saya perlu mengubah sesuatu.”
Bila Steve Jobs menggunakan pertanyaan tertutup yang jawabannya adalah ya dan tidak, Franklin berbeda. Ia menggunakan pertanyaan terbuka. Setiap pagi ia akan bertanya: “Kebaikan apa yang harus saya lakukan hari ini?”
Saya sendiri suka mengajukan pertanyaan “The One Thing” di pagi hari: “Apa satu hal yang bisa saya lakukan hari ini yang dengan melakukannya maka segala sesuatu menjadi lebih mudah atau bahkan tidak diperlukan?” Pertanyaan ini membantu saya untuk berfokus sehingga tidak tergelincir pada hal yang remeh temeh di pagi hari.
Nah, sekarang, pilih atau buat pertanyaan Anda sendiri. Tanyakan setiap pagi, pastikan pekerjaan yang Anda lakukan saat mengawali pagi adalah pekerjaan yang bermakna dan signifikan bagi Anda.
SOURCE : www.darmawanaji.com | Productivity Coach
INSPIRASI PAGI
Ketenangan: Akar Segala Kebaikan
Pernahkah kamu merasa hidup seperti perlombaan yang tak kunjung selesai? Baru membuka mata, belum sepenuhnya sadar, tangan kita langsung meraih ponsel. WhatsApp. Email. Kalender.
Kita pun lalu tenggelam dalam rutinitas pekerjaan. Tanpa terasa, waktu berlalu. Malam tiba, lalu muncul sebuah pertanyaan dalam benak kita: “Sebenarnya hari ini aku sedang mengejar apa?”
Kita berlomba dengan waktu seakan-akan ada yang mengejar kita. Kita tertekan dari dalam maupun luar. Kita tertekan oleh rekues dari klien, perintah dari atasan, atau bahkan ekspektasi dari keluarga. Namun, yang lebih menekan lagi sering kali justru tekanan dari dalam: keinginan untuk tampil produktif, perasaan bersalah saat beristirahat, atau kekhawatiran tertinggal dari orang lain.
Di tengah dunia yang riuh, penuh tekanan, dan terburu-buru, banyak dari kita kehilangan satu hal yang paling mendasar: ketenangan.
Padahal, tanpa ketenangan, kita hanya akan sibuk tanpa arah.
Produktif, tapi kosong. Menjalani kehidupan, tapi tidak benar-benar hidup.
Selama ini, bisa jadi kita menganggap ketenangan sebagai hasil akhir—hadiah setelah semua urusan beres. Namun sesungguhnya, ketenangan adalah fondasi. Ia adalah akar dari semua kebaikan lain dalam hidup.
Dalam ruang batin yang tenang:
Kita bisa berpikir jernih dan membuat keputusan yang bijak.
Kita bisa membedakan mana yang penting dan mana yang hanya mendesak.
Kita bisa hadir penuh dalam relasi, bukan sekadar bertemu fisik tapi absen secara emosi.
Dan dari sanalah lahir karya-karya terbaik—yang bukan hanya tuntas terselesaikan, tetapi juga bernilai dan bermakna.
Sebaliknya, kegelisahan membuat kita reaktif. Terjebak dalam mode bertahan. Dan akhirnya, kita hanya berjalan di tempat… sambil merasa sangat lelah.
Pertanyaannya, bagaimana cara meraih ketenangan? Sebenarnya, ketenangan adalah anugrah yang Allah turunkan kepada hambanya. Maka, banyak-banyak berdo’a agar Allah berikan ketenangan adalah kuncinya. Namun demikian, kita juga diberikan kesempatan untuk mengusahakannya.
Ada tiga prinsip yang mungkin bisa kita praktikkan.
1. Terima Hal-Hal di Luar Kendali Kita
“Ada hal-hal yang ada dalam kendali kita, dan ada hal-hal yang ada di luar kendali kita.” — Epictetus
Kecemasan, frustrasi, stress, marah, dan ketakutan sering kali terjadi saat kita terobsesi untuk mengendalikan hal-hal di luar kendali kita.
Kita merasa tertekan oleh situasi yang ada. Padahal sebenarnya bukan situasi yang menekan kita. Keinginan kita untuk mengendalikan hal-hal di luar kendalilah yang menekan kita.
Menerima hal-hal di luar kendali seperti kondisi ekonomi, kebijakan pemerintah, opini orang lain, dan hasil-hasil yang kita dapatkan adalah cara kita untuk tetap tenang dan waras. Menerima bukan berarti kita menyerah, melainkan mengalihkan fokus dan energi kita pada hal-hal yang bisa kita kendalikan: pikiran, perasaan, ucapan, dan tindakan kita sendiri.
Mengusahakan hal-hal yang ada dalam kendali kita adalah wilayah ikhtiar, sementara menerima hal-hal yang ada di luar kendali kita adalah wilayah tawakal.
Sebagai latihan, kamu boleh menuliskan satu hal yang membuat kamu gelisah beberapa waktu ini. Lalu, tanyakan: apakah ini bisa saya kendalikan? Jika iya, apa yang bisa saya lakukan? Jika tidak, apa yang ada dalam kendali saya?
2. Hadir Sepenuhnya di Sini, Saat Ini
“Mindfulness berarti memberikan perhatian dengan cara tertentu: secara sengaja, pada saat ini, dan tanpa menghakimi.” — Jon Kabat-Zinn
Tubuh kita selalu di sini, namun pikiran kita seringkali berada di sana. Ya, pikiran dan tubuh kita seringkali tidak menyatu. Saat kita bercengkrama dengan anak atau pasangan, bisa jadi tubuh kita ada di sini bersama mereka, tetapi bagaimana dengan pikiran kita? Apakah pikiran kita juga hadir di sini?
Seringkali yang terjadi, pikiran kita berkelana ke masa lalu atau mengembara ke masa depan. Pikiran kita melompati waktu: menyesali masa lalu, mengkhawatirkan masa depan. Jika ini terjadi, bagaimana kita bisa merasa tenang? Ketenangan hanya akan bisa kita rasakan saat kita menyatukan pikiran dan tubuh di sini saat ini. Karena satu-satunya tempat di mana hidup benar-benar berlangsung hanyalah saat ini.
Penelitian dari Matthew Killingsworth mengamini hal ini. Hadir utuh di sini saat ini, menyatukan pikiran dan tubuh, adalah cara untuk merasakan bahagia.
Sebagai latihan, sesekali luangkanlah waktu untuk sengaja menyadari tubuh dan pikiran kita sendiri. Cukup duduk tenang, boleh dengan membuka atau menutup mata, lalu sadari napas yang kita lakukan. Lalu, amati pikiran-pikiran yang melintas saat itu—amati saja, tidak perlu dikendalikan. Setiap kali lintasan pikiran muncul, lepaskan, kembalikan perhatian kamu pada napas yang sedang kamu lakukan. Di awal, cukup lakukan latihan ini 1 menit saja. Bisa saat bangun tidur, akan bekerja, atau saat berbaring menjelang tidur.
3. Berhenti Sejenak Sebelum Merespons
“Di antara stimulus dan respons, terdapat sebuah ruang. Di dalam ruang itu, terdapat kekuatan kita untuk memilih respons. Dalam respons kita, terletak pertumbuhan dan kebebasan kita.” — Viktor E. Frankl
Manusia memiliki kemampuan untuk memilih responsnya. Namun sering kali, kita tidak benar-benar memanfaatkannya. Kita hanya bereaksi—bukan merespons.
Suatu hari, saya berbincang dengan seorang sahabat. Ia bertanya, “Apa bedanya cepat dengan tergesa-gesa?” Saya terdiam, menunggu kelanjutan ucapannya. Lalu ia melanjutkan, “Bedanya ada pada basmalah.” Saya sempat kebingungan.
“Maksudnya bagaimana?” tanya saya.
Sahabat saya menjelaskan, meskipun kita melakukan sesuatu dengan kecepatan yang sama, maknanya bisa berbeda. Cepat adalah ketika kita masih sempat membaca basmalah sebelum bertindak. Jika kita tidak sempat berhenti sejenak hanya untuk sekadar membaca basmalah, maka saat itu kita sedang tergesa-gesa.
Dari obrolan ini, saya mendapatkan pemahaman baru: jeda adalah kunci yang membedakan antara cepat dan terburu-buru. Jeda—berhenti sejenak untuk melepaskan beban emosi dari aktivitas sebelumnya, dan untuk meluruskan niat sebelum melangkah ke aktivitas berikutnya—adalah kunci ketenangan dalam melangkah.
Hal yang sama berlaku dalam cara kita menanggapi situasi. Bereaksi dan merespons adalah dua hal yang berbeda. Bereaksi adalah ketika kita langsung menanggapi—baik dengan kata-kata maupun tindakan—tanpa memberi ruang sadar, tanpa melakukan jeda. Merespons, sebaliknya, adalah saat kita memberi diri sendiri jeda. Jeda untuk menenangkan batin. Jeda untuk menyadari perasaan. Jeda untuk memilih versi terbaik dari diri kita.
Jeda adalah kunci ketenangan saat menghadapi situasi yang tidak kita inginkan.
Saat menerima komentar yang menyakitkan, menghadapi kemarahan, atau harus membuat keputusan dalam kondisi emosional—di situlah ruang sadar ini menjadi penting. Ruang untuk berhenti. Menarik napas. Menyadari bahwa kita tidak harus langsung menjawab.
Sebagai latihan, jika suatu saat kamu tergoda untuk langsung bereaksi—lewat pesan, ucapan, atau keputusan—berhentilah sejenak. Tarik napas perlahan. Hitung dari satu sampai sepuluh. Lalu tanyakan pada diri sendiri: “Respons apa yang mencerminkan versi terbaik dari diriku?”
Di ruang kecil itu, ada ketenangan.
Dan dari ketenangan itulah, tumbuh kebijaksanaan.
SOURCE : www.darmawanaji.com | Productivity Coach
INSPIRASI PAGI
Tips Berhenti Mengeluh
Mengeluh adalah bagian dari sifat manusia. Wajar jika sesekali kita merasa penat, lelah, atau frustrasi dengan situasi hidup. Namun, ketika keluhan menjadi kebiasaan, ia bisa menjadi racun yang perlahan-lahan merusak semangat, menggerus rasa syukur, dan menjauhkan kita dari pertumbuhan diri. Orang yang sering mengeluh biasanya kesulitan move on, mudah terjebak dalam drama batin, dan sulit melihat peluang di balik tantangan. Maka, belajar berhenti mengeluh bukan soal menahan perasaan, melainkan soal mengelola cara pandang. Berikut beberapa tips sederhana namun powerful, terinspirasi dari buku The No Complaining Rule karya Jon Gordon.
1. Gunakan Kata “Tetapi” Setelah Keluhan
Satu cara sederhana namun efektif untuk menghentikan spiral negatif dari keluhan adalah dengan menambahkan kata “tetapi” dan melanjutkannya dengan pernyataan positif. Misalnya, alih-alih berhenti di keluhan “Ya ampun, rapat banyak banget minggu ini,” coba ubah menjadi “Ya ampun, rapat banyak banget minggu ini, tetapi Alhamdulillah saya jadi lebih banyak belajar, mendengar ide-ide orang lain, dan terlatih menyampaikan pendapat dengan lugas.”
Atau saat Anda berkata, “Kok uang sudah habis padahal ini masih tanggal muda?”, coba lanjutkan dengan “...tetapi ini jadi alarm bagi saya untuk mengevaluasi keuangan, mencari peluang penghasilan tambahan, dan memperkuat hubungan saya dengan Sang Pemberi Rezeki.” Mengeluh jadi terasa lebih lembut, bahkan bisa membawa makna spiritual yang menenangkan.
2. Ganti Kata “Harus” Menjadi “Bisa”
Kata harus seringkali memberi kesan tekanan dan keterpaksaan. Kalimat seperti “Saya harus lembur hari ini,” membawa nuansa beban. Coba ganti dengan “Saya bisa lembur hari ini,” dan rasakan bagaimana nada kalimat itu menjadi lebih ringan dan terbuka. Anda seolah sedang diberi kesempatan, bukan tekanan.
Begitu juga saat Anda berkata, “Hari ini saya harus antar istri belanja,” ubahlah menjadi “Alhamdulillah, hari ini saya bisa antar istri belanja. Lumayan bisa quality time.” Dari yang semula terdengar terpaksa, kini berubah menjadi rasa syukur atas momen kebersamaan. Kekuatan kata-kata mampu mengubah suasana hati.
3. Ubah Keluhan Jadi Pemicu Solusi
Mengeluh bisa jadi awal dari perubahan — asalkan diarahkan dengan bijak. Keluhan pelanggan bisa menjadi masukan berharga untuk memperbaiki produk atau layanan. Keluhan karyawan bisa menjadi cermin budaya organisasi yang perlu dibenahi. Bahkan keluhan dari diri sendiri adalah sinyal bahwa ada hal yang perlu diperbaiki dalam hidup kita.
Alih-alih terus-menerus mengeluh tanpa arah, kita bisa bertanya: “Apa yang sebenarnya membuat saya tidak nyaman? Apa satu langkah kecil yang bisa saya ubah hari ini?” Dengan begitu, keluhan menjadi pintu masuk menuju perbaikan, bukan sekadar pelampiasan.
---
Keluhan yang Tidak Dikelola Bisa Menghilangkan Berkah
Perlu diingat, terlalu banyak mengeluh bisa membuat apa yang kita keluhkan menjauh dari hidup kita. Orang yang terus mengeluh tentang pekerjaannya, bisa kehilangan pekerjaan itu. Orang yang terus mengeluhkan pasangannya, bisa kehilangan kehangatan dalam rumah tangga. Keluhan yang tidak ditangani bukan hanya melemahkan mental, tetapi juga bisa merusak hubungan dan karier.
Maka, berhentilah menjadikan keluhan sebagai gaya hidup. Ubah keluhan menjadi kesadaran. Ubah kesadaran menjadi aksi.
Karena hidup ini bukan soal menghindari tantangan, tetapi bagaimana kita memilih untuk menanggapi setiap tantangan dengan jiwa yang tangguh dan hati yang bersyukur.
---
Refleksi untuk Hari Ini:
Apa keluhan yang paling sering muncul dalam benak Anda belakangan ini? Coba tambahkan satu kata “tetapi” dan cari makna baik di baliknya. Ulangi setiap hari. Anda akan terkejut betapa kuatnya kata-kata dalam mengubah cara Anda melihat hidup.
Selamat berproses. Mari belajar menjadi manusia yang lebih kuat, lebih tenang, dan lebih bersyukur.
SOURCE : www.jamilazzaini.com
INSPIRASI PAGI
“Enthel Wedus”
Pernahkah Anda mengalami, masa dimana Anda sudah bekerja sebaik-baiknya, ibadah ritual taat, juga rajin sedekah, tetapi hidup Anda tetap saja susah atau gelisah? Saya pernah mengalami dan merasakan hal itu.
Dalam situasi seperti itu, saya berusaha mencari jawaban baik melalui kontemplasi diri maupun mendatangi guru bisnis dan guru spiritual.
Akhirnya saya menemukan jawaban dengan sebuah metafora menarik. Metafora yang sangat menginspirasi itu saya akan bagikan kepada Anda para pembaca.
Metaforanya seperti ini: Anggap saja Anda penggemar madu, saat bertamu ke rumah seseorang, Anda disuguhi madu terbaik dunia, madu Yaman. Saya yakin, Anda tentu senang luar biasa. Namun tiba tiba sang tuan rumah memasukkan “enthel wedus” (tahi kambing) ke dalam madu tersebut.
Apakah Anda mau minum? Saya yakin Anda tidak mau meminumnya, meski Anda penggemar madu dan yang disajikan madu terbaik dunia. Mengapa? Karena ada “enthel wedus” di dalamnya.
Nah, madu itu ibarat bekerja sebaik-baiknya, taat ibadah dan rajin sedekah. Sementara “enthel wedus” itu adalah penyakit penyakit hati. Selama kita memiliki banyak penyakit hati maka keajaiban besar atau solusi yang kita butuhkan tidak akan pernah diberikan oleh Allah swt. Sebab Sang Maha Tahu tidak mau pemberian terbaiknya bercampur dengan “enthel wedus”.
Nah, coba duduk sejenak dan bertanya pada diri sendiri: apa harapan yang belum menjadi kenyataan? Apa hambatan yang sulit ditaklukkan? Apa masalah yang tidak pernah tuntas? Apa kesulitan yang semakin menyiksa?
Mengapa semua itu belum terwujud dan belum berakhir? Jangan-jangan ada “enthel wedus” dalam diri kita. Periksalah dan bersihkanlah.
SOURCE : www.jamilazzaini.com
INSPIRASI PAGI
Rumus Melawan Kemustahilan: 7 Konsep Iman dalam Menghadapi Ujian Hidup
Salah satu video yang cukup viral dan sering muncul di platform pencarian adalah video bertema "melawan kemustahilan". Bahkan, ketika diketik kata “dewa”, video tersebut langsung muncul sebagai hasil teratas, dan salah satu unggahannya oleh komunitas yang pernah mengundang saya telah ditonton lebih dari 544 ribu kali. Sering muncul pertanyaan, dari durasi dua jam itu, apa sih inti pesannya? Apa sebenarnya yang ingin disampaikan tentang melawan kemustahilan? Artikel singkat ini saya buat untuk menjawabnya, dengan merangkum inti dari rumus menghadapi hal-hal yang tampaknya mustahil.
Pada dasarnya, tidak ada yang benar-benar mustahil di dunia ini. Kenapa? Karena Allah Maha Kuasa. Kun fayakun, maka jadilah. Bagi kita, sesuatu tampak mustahil. Tapi bagi Allah, itu sangat mudah. Kita mungkin divonis tidak sembuh, tidak bisa punya anak, atau terlilit utang miliaran. Tapi bagi Allah, semua itu bisa diselesaikan seketika tanpa kita tahu caranya. Kuncinya bukan pada logika, tapi pada keimanan.
Saya pernah menulis dalam sebuah buku bahwa tantangan dalam hidup adalah bentuk ujian keimanan untuk menjemput keajaiban. Kalau kita mengaku beriman, sudah pasti akan diuji. Dan melalui ujian inilah, kita diuji seberapa kuat keyakinan kita bahwa Allah bisa mengubah segalanya.
Berikut adalah 7 rumus utama dalam melawan kemustahilan, yang saya rangkum dari kisah-kisah penuh hikmah dan pengalaman spiritual:
---
1. Rumus Shafa – Marwah: Terus Bergerak, Terus Beriman
Kisah Siti Hajar yang berlari bolak-balik antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali bukanlah tanpa makna. Ia tidak menemukan air di bukit, tapi justru air muncul di kaki bayinya. Ini mengajarkan kita bahwa hasil tak selalu muncul dari usaha yang kita kira, tapi bisa datang dari arah yang tak disangka. Jangan berhenti bergerak, teruslah berikhtiar dan yakini bahwa gerakanmu akan berbuah, walau hasilnya tidak langsung terlihat.
---
2. Rumus Tongkat Musa: Solusi Itu Dekat
Saat Nabi Musa berada di depan lautan dan dikejar oleh pasukan Fir’aun, Allah memerintahkannya untuk memukulkan tongkat ke laut. Secara logika, itu tidak masuk akal. Tapi karena Nabi Musa taat dan percaya, laut pun terbelah. Hikmahnya? Solusi sering kali dekat dengan kita, hanya saja kita tidak menyadarinya. Seperti halnya kunci atau kacamata yang sering kita pegang namun dicari ke mana-mana. Solusi Anda mungkin ada di sekitar Anda.
---
3. Rumus Detonator Kebaikan: Mulailah Membantu Orang Lain
Jika ingin mendapatkan pertolongan, maka bantu dulu orang lain. Semakin banyak kebaikan yang kita tebar, semakin banyak pula peluang pertolongan dari Allah datang melalui berbagai jalan. Tugas kita hanyalah menjadi “detonator” – melakukan hal-hal kecil yang bisa memicu efek besar. Bisa jadi hanya dengan membagikan video, seseorang berubah, bertobat, atau berhijrah.
---
4. Ujian Kecil: Jangan Tumbang Karena Cibiran
Ketika kita mulai menebar kebaikan, ujian akan datang, bahkan dari hal-hal kecil: cibiran, komentar sinis, atau kata-kata meremehkan. Tapi seperti pembalap yang tidak jatuh karena batu besar, melainkan karena kerikil kecil, jangan biarkan hal sepele menjatuhkan semangatmu. Teruslah jadi orang baik walau dunia terasa tidak adil.
---
5. Ditelan Paus: Akui Kesalahan dan Banyak Istighfar
Kisah Nabi Yunus yang ditelan ikan paus menjadi pelajaran penting. Alih-alih menyalahkan keadaan, beliau mengakui kesalahan diri sendiri: “Laa ilaaha illa anta, subhaanaka inni kuntu minazh-zhaalimiin.” Artinya: Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim. Kita juga harus banyak-banyak istighfar dan sadar diri, karena seringkali kita sendiri yang menzalimi diri sendiri.
---
6. Santan Kehidupan: Nikmati Prosesnya
Santan tidak langsung bisa dinikmati. Ia harus diparut, diperas, dan diproses. Begitu pula hidup kita yang penuh proses. Seperti batu bara yang bisa jadi intan karena tekanan besar, kita pun akan diuji berkali-kali untuk naik level. Jadi, nikmati saja prosesnya. Pasrah, tawakal, dan tetap bersyukur. Jangan terhenti hanya karena komentar orang.
---
7. Semangat Langit: Niatkan Semua Karena Allah
Yang terakhir dan paling penting adalah niat. Niatkan semua langkah kita untuk mendapatkan ridha Allah, bukan sekadar pujian, follower, atau pengakuan manusia. Fokus kita adalah akhirat. Kalau kita kejar akhirat, dunia akan menyusul. Kalau kita kejar dunia, akhirat bisa terlewat. Maka, semangat langit adalah tentang menjalani hidup dengan orientasi kepada Allah dan kehidupan abadi di akhirat.
---
Ujian Pasti Sesuai Ukuran
Setiap masalah yang Anda hadapi, sebesar apapun itu, pasti sudah diukur oleh Allah. Dan Allah tidak mungkin salah takar. Maka jangan pernah kehilangan keimanan hanya karena satu fase berat dalam hidup. Semua pasti bisa diselesaikan dengan izin-Nya. Teruslah bergerak, tetap beriman, banyak beristighfar, bantu orang lain, dan niatkan semuanya karena Allah.
SOURCE : Youtube Dewa Eka Prayoga
INSPIRASI PAGI
Mengapa Kita Perlu Menjaga Tanggung Jawab 100%?
Pagi ini, mari kita renungkan sebuah analogi sederhana namun bermakna. Apa yang membuat sebuah mobil mampu berjalan jauh? Kuncinya adalah ban yang terisi penuh dengan udara. Sebagus apa pun mobilnya, jika bannya kempes, ia tidak akan mampu menempuh perjalanan.
Begitu pula dengan manusia. Apa yang membuat seseorang mampu menjalani hidup dengan kuat dan jauh ke depan? Jawabannya adalah jiwa yang penuh dengan rasa tanggung jawab. Seperti udara dalam ban, tanggung jawab 100% adalah energi jiwa kita. Tanpa itu, kita takkan ke mana-mana.
Namun seperti halnya ban yang bisa kempes karena bocor, jiwa manusia pun demikian. Energi kita bisa bocor karena “tertusuk” oleh hal-hal negatif dalam hidup. Apa saja “paku” yang bisa membuat kita kehilangan energi dan semangat?
1. Blaming – menyalahkan orang lain atau keadaan atas apa yang terjadi, alih-alih mengambil kendali dan belajar dari situasi.
2. Excuse – kebiasaan mencari-cari alasan atas kegagalan atau kelambanan.
3. Justifikasi – mencari pembenaran terhadap keputusan atau tindakan yang tidak bertanggung jawab.
Tiga paku ini, meski kecil, cukup untuk membuat kita “kempes”. Sama seperti ban, kebocoran sekecil jarum pun bisa melumpuhkan perjalanan jika dibiarkan. Maka dari itu, jangan biarkan “pentil” hidupmu terbuka, jaga dirimu dari kebocoran energi, dan isi selalu dengan tanggung jawab seutuhnya.
Cobalah lihat kembali hidupmu hari ini. Apakah kamu sedang bergerak maju atau justru diam di tempat? Apakah kamu sedang penuh semangat atau tanpa tenaga? Bisa jadi jawabannya bukan pada dunia di sekitarmu, tapi pada seberapa besar rasa tanggung jawab yang kamu miliki terhadap hidupmu sendiri.
Kita bukan ban bocor yang harus ditambal oleh orang lain. Kita adalah pengemudi utama dalam perjalanan hidup ini.
Saat kamu memilih untuk bertanggung jawab 100%, kamu sedang memilih untuk tidak menjadi korban, tapi menjadi pemimpin atas hidupmu sendiri.
💡 Mulailah hari ini dengan mengakui tanggung jawab penuh atas dirimu. Tuliskan satu hal yang akan kamu ambil alih hari ini – bukan besok. Mulai dari sana.
Perjalanan jauh selalu dimulai dari ban yang terisi. Maka isilah jiwamu. Penuh.
SOURCE : Youtube Arry Ginanjar Agustian
INSPIRASI PAGI
Sekali hilang, Waktu tidak akan pernah kembali
Jika Anda tidak memiliki rencana dalam hidup, maka bersiaplah untuk menjadi bagian dari rencana orang lain. Waktu bukanlah sesuatu yang bisa Anda anggap remeh. Bahkan Imam Syafi’i pernah berkata, “Al-waqtu kassayf”—waktu itu seperti pedang. Siapa yang tidak menggunakannya dengan baik, akan ditebas olehnya.
Setiap manusia, termasuk Anda, kelak akan ditanya tentang dua hal sebelum kakinya melangkah ke surga: umur dan harta. Umur Anda akan ditanya: untuk apa dihabiskan? Dan harta Anda akan ditanya: dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan?
Allah pun bersumpah atas nama waktu—wad-duha, wal-lail, wal-‘ashr. Semua menunjukkan bahwa waktu adalah karunia paling berharga yang dimiliki manusia. Namun, sayangnya, kita sering menyia-nyiakannya. Padahal, kemajuan bangsa-bangsa besar berawal dari penghargaan mereka terhadap waktu. Mereka disiplin, tidak suka menunda, dan selalu hadir tepat waktu.
Produktivitas di Tempat Kerja
Di dunia kerja, waktu adalah investasi. Gunakan waktu Anda untuk sesuatu yang bernilai tinggi:
Melatih dan membimbing anggota tim Anda, agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri, kompeten, dan siap melanjutkan estafet.
Menjadi mentor bagi rekan kerja baru, membantu mereka memahami nilai perusahaan, budaya kerja, serta cara berpikir strategis.
Menciptakan karya nyata, seperti membuat modul pelatihan, menyusun prosedur kerja yang lebih efisien, hingga merancang program pengembangan karyawan.
Menginisiasi proyek perbaikan, entah dalam bentuk inovasi digital, perbaikan layanan pelanggan, atau optimalisasi proses kerja.
Meraih prestasi—entah berupa penghargaan dari perusahaan, pencapaian target tim, atau berhasil menyelesaikan proyek penting lebih cepat dari tenggat waktu.
Membangun budaya kerja yang sehat, penuh kolaborasi, saling menghargai, dan berorientasi hasil.
Setiap waktu yang Anda gunakan untuk membangun manusia dan sistem adalah investasi yang tidak pernah sia-sia. Orang yang besar bukan hanya mengurusi dirinya, tapi juga mencetak orang lain untuk ikut besar bersamanya.
Jika Tidak Sibuk dengan Kebaikan, Maka Sibuk dengan Keburukan
Imam Syafi’i mengingatkan, “Siapa yang tidak sibuk dalam kebaikan, pasti akan disibukkan oleh keburukan.” Jika hari-hari Anda tidak diisi dengan hal positif, maka secara otomatis, ruang itu akan terisi oleh hal-hal yang tidak bermanfaat, atau bahkan maksiat.
Jika Anda terbiasa memanfaatkan waktu dengan:
Menyusun rencana kerja mingguan,
Membaca buku pengembangan diri,
Mengikuti pelatihan atau kajian online,
Menulis artikel atau jurnal profesional,
Menjadi penggerak komunitas karyawan,
…maka hampir tidak ada ruang bagi Anda untuk terlibat dalam hal negatif seperti bergosip, menunda pekerjaan, atau sekadar mengeluh tanpa solusi.
Milikilah Mimpi dan Visi
Orang yang punya rencana akan punya arah. Orang yang punya mimpi akan punya energi. Sebaliknya, orang yang hidup tanpa visi, akan mudah terombang-ambing oleh situasi. Lihatlah sahabat Nabi, Abu Ayyub Al-Ansari. Di usia 92 tahun, ia masih memiliki mimpi untuk wafat di depan benteng Konstantinopel. Dan itu benar-benar terjadi. Visi besar akan melahirkan sejarah.
Di Akhirat, Semua Akan Ditanya
Ingat sabda Rasulullah ﷺ: “Tidak akan bergeser kaki anak Adam di hari kiamat sebelum ditanya tentang empat hal: umurnya, hartanya, ilmunya, dan amalnya.” Artinya, semua akan dimintai pertanggungjawaban. Termasuk waktu kerja Anda. Apakah hanya habis untuk rapat tanpa aksi? Apakah hanya penuh dengan jam duduk, tapi minim kontribusi?
Tinggalkan Budaya Buang Waktu
Warung kopi penuh, Wi-Fi jebol, gelas kopi satu, duduk berjam-jam. Fenomena ini menggambarkan budaya leyeh-leyeh, budaya buang waktu yang tanpa sadar menumpuk kesia-siaan. Bukan berarti Anda tidak boleh rehat, tapi rehat yang terlalu lama tanpa arah, hanya akan mencuri potensi terbaik Anda.
Anda ingin punya rumah nyaman? Ingin istri dan anak bahagia? Maka mulailah dengan mengelola waktu secara disiplin. Jadikan waktu sebagai ladang amal, bukan ruang keluhan.
Akhir Kata: Waktu Tidak Bisa Kembali
Waktu tidak bisa dibeli. Waktu tidak bisa kembali. Maka jangan pernah menyesal di kemudian hari karena menyia-nyiakan detik-detik kehidupan. Anda masih punya waktu hari ini—gunakanlah untuk membuat karya, membangun orang lain, dan menanam kebaikan sebanyak-banyaknya.
Ingat, kesuksesan bukan milik orang pintar saja, tapi milik mereka yang pandai menggunakan waktu secara bermakna.
SOURCE : Youtube Ust. Fatih Karim
INSPIRASI PAGI
Menjaga Semangat Belajar
Dunia berubah begitu cepat, kita perlu mengimbanginya dengan terus belajar. Namun terkadang kita bingung, “apa yang harus saya pelajari?”. Pertanyaan ini muncul karena betapa banyaknya ilmu baru yang bermunculan, tersebar di berbagai social media yang ada. Di sisi lain, kita juga memiliki keterbatasan waktu dan kemampuan untuk mempelajari semuanya.
Apabila Anda punya prinsip “pelajari semua” saya pastikan Anda tidak mendapatkan semuanya. Sebenaranya, Anda cukup mempelajari beberapa saja, tidak semuanya. Apa yang perlu saya pelajari dan bagaimana menjaga semangat belajar tetap menyala? Saya akan bagikan beberapa tips-nya. Tips ini didasarkan pengalaman saya pribadi dan juga pengalaman saya mementoring orang serta beberapa studi literatur, khususnya dari Harvard Business Review.
Pertama, tetapkan dulu Anda ingin dikenal ahli di bidang apa? Penetapan ini penting agar Anda bisa menetapkan hal-hal yang perlu Anda prioritaskan untuk dipelajari dan dikuasai. Penentuan keahlian yang spesifik akan membuat Anda semakin mudah memilih hal-hal yang perlu Anda perdalam sehingga tidak menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak perlu.
Anda ingin dikenal ahli di bidang apa? Anda ingin dikenal di level kabupaten/kota? Atau propinsi? Atau dikenal di tingkat nasional atau bahkan di level dunia? Atau dikenal di tingkat perusahaan Anda saja? Tetapkanlah, Anda ingin dikenal ahli apa dan Anda ingin dikenal ahli di tingkat mana? Tapi jangan hanya dikenal di tingkat keluarga Anda saja ya, hehehe.
Kedua, ingat selalu “benang merah”. Apa maksudnya? Pelajari hal-hal yang satu dengan lain saling berhubungan. Misalnya, saya seorang trainer, maka hal-hal yang perlu saya pelajari adalah ilmu tentang menulis modul dan buku, coaching, mentoring, disain pembelajaran dan delivery traing. Karena saya memilih target market perusahaan premium maka hal-hal yang saya pelajari adalah seputar bisnis, pengembangan diri dan leadership.
Setiap hari, saya berkomitmen mempelajari hal-hal tersebut di atas, bahkan menjadi semacam sarapan pagi bagi saya. Setiap ada perkembangan ilmu baru, saya lihat apakah ada “benang merahnya” apabila ada saya pelajari, apabila tidak ada saya lupakan atau hanya sekedar tahu saja tanpa harus mendalaminya.
Ketiga, praktekkanlah apa yang Anda pelajari. Guru saya pernah berpesan “ikatlah ilmu dengan mempraktekkannya”. Sesuatu yang dipraktekkan akan melekat dan tidak mudah hilang. Saat saya belajar tentang menulis buku, langsung saya praktekan menulis buku dan saya tawarkan ke penerbit ternama. Alhamdulillah terbit dan best seller. Saat saya belajar ilmu mentoring, saya langsung mencari “relawan” yang bersedia saya jadikan tempat praktek saya.
Begitu pula saat saya belajar ilmu bisnis, langsung saya praktekkan di berbagai usaha yang saya miliki. Saat saya belajar ilmu tentang kehidupan saya praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Saat saya belajar tentang spiritualitas, langsung saya praktekkan apa yang saya pelajari. Sungguh, mempraktekan apa yang kita pelajari membuat kita merasa bahwa biaya belajar itu sangat murah dan semakin semangat untuk belajar hal-hal yang baru.
Mari terus belajar. Semangat belajar yang diiringi dengan mempraktekkan dan membagikan apa yang Anda pelajari membuat Anda sulit dikejar oleh pesaing Anda.
SOURCE : www.jamilazzaini.com
INSPIRASI PAGI
With great power, comes great responsibility
Dalam sebuah kisah bijak dari suku Indian Cherokee, diceritakan bahwa di sebuah pegunungan, hidup dua ekor serigala. Yang pertama adalah serigala putih — mewakili kebaikan, kasih sayang, kedamaian, pengampunan, dan cinta terhadap sesama makhluk dan Sang Pencipta. Ia hidup dengan keikhlasan, suka menolong, dan selalu berpikir jernih.
Sementara itu, ada pula serigala hitam — yang melambangkan amarah, keserakahan, kesombongan, iri hati, ego yang membumbung tinggi, dan ambisi yang tak terkendali. Ia ingin menang sendiri, mencari pembenaran, dan merusak apa pun yang tak sesuai dengan keinginannya.
Pertanyaannya: ketika dua serigala ini bertarung dalam diri kita, siapakah yang akan menang?
Jawabannya sederhana: yang paling sering kita beri makan.
Karena faktanya, kedua serigala itu memang selalu hidup berdampingan di dalam setiap diri manusia. Tak ada satu pun di antara kita yang sepenuhnya putih atau sepenuhnya hitam. Yang membedakan hanyalah: mana yang kita pelihara, mana yang kita rawat setiap hari.
Kita memberi makan serigala putih saat kita memilih untuk bersabar ketika disakiti, bersyukur ketika diuji, memberi saat mampu, dan menahan diri saat marah. Sebaliknya, kita memberi makan serigala hitam ketika kita membiarkan ego berbicara, membalas dengan caci, mencari pengakuan secara serampangan, atau berperilaku tanpa nurani.
Di tengah dunia yang makin gaduh dan penuh distraksi, menjaga diri agar tetap waras secara spiritual dan emosional bukan perkara mudah. Tapi justru di situlah tantangannya. Kita bukan lagi anak-anak yang bisa berlindung di balik alasan ketidaktahuan. Kita adalah orang dewasa — yang seharusnya semakin sadar bahwa setiap pilihan kita membentuk karakter kita. Setiap kata yang kita tulis, setiap sikap yang kita ambil, dan setiap respons yang kita berikan, adalah makanan bagi salah satu serigala dalam diri kita.
Belakangan ini, kita semakin sering melihat fenomena menyedihkan di ruang publik: cerdas, berpendidikan, tetapi kehilangan adab. Pandai berbicara, namun kering dari empati. Bahkan, ada yang menjadikan penderitaan orang lain sebagai bahan candaan. Padahal, kecerdasan tanpa akhlak hanya akan melahirkan kekacauan. Ilmu tanpa adab adalah kehampaan.
Maka hari ini, mungkin saat yang tepat untuk bertanya dalam diam:
Serigala mana yang lebih sering kita beri makan selama ini?
Karena jika kita ingin hidup yang damai, bermakna, dan berdampak baik bagi sekitar, maka kita harus mulai dari dalam — dari memilih untuk memberi makan serigala putih. Setiap hari. Sekalipun perlahan.
---
Hidup bukan soal siapa yang paling bersinar, tetapi siapa yang paling bertanggung jawab atas cahaya dalam dirinya sendiri.
SOURCE : Andra Donatta | Personal Development Trainer
INSPIRASI PAGI
Cara Ampuh untuk Mengecewakan Tuhan: Tidak Kreatif!
Kemungkinan besar saat ini Anda sedang membawa bolpen. Jika tidak, cobalah membayangkan bolpen yang biasa Anda pakai. Dalam pikiran Anda, kecilkan bentuk bolpen itu hingga panjangnya hanya sekitar 10 cm. Pandangi sejenak. Lalu, besarkan lagi ukurannya hingga satu meter dan perhatikan selama lima detik. Setelah itu, kembalikan ke ukuran semula.
Selanjutnya, ubahlah warna bolpen itu menjadi warna lain yang berbeda. Sudah? Jangan buru-buru. Sekarang, ubahlah bentuknya menjadi bentuk lain yang sangat berbeda, namun tetap berfungsi sebagai bolpen. Bisa?
Bayangkan pula ketika bolpen itu dilemparkan ke lantai, bunyinya bukan “takkk!” melainkan “toeeenngggg!”. Lalu, raba bolpen itu dan rasakan permukaannya yang selembut kulit bayi. Dekatkan ke hidung Anda, tercium aroma jeruk yang segar. Dan ketika dijilat, ternyata rasanya asin. Apakah semua itu bisa dibayangkan?
Kemungkinan besar, Anda bisa melakukan semua imajinasi tersebut. Itu karena kita, manusia, memiliki kemampuan untuk mengolah bentuk (visual), suara (auditory), tekstur (kinestetik), aroma (olfactory), dan rasa (gustatory). Inilah lima sumber daya indrawi manusia yang dikenal dengan istilah VAKOG. Panca indera ini adalah anugerah besar yang diberikan Tuhan kepada manusia, yang tidak dimiliki oleh makhluk lain dengan fungsi yang sama.
Memang, binatang juga memiliki VAKOG. Seekor kucing akan menunduk saat kepalanya dielus. Anjing pelacak bisa mencium narkoba, dan ular menggunakan lidahnya untuk mengenali lingkungan. Namun, fungsi VAKOG pada binatang hanya bersifat sensory. Sedangkan manusia tidak hanya memiliki VAKOG dalam fungsi sensory, tetapi juga dalam fungsi thinking—berpikir. Di sinilah letak perbedaannya.
Dengan VAKOG dalam fungsi berpikir, manusia mampu menciptakan hal-hal di luar batasan yang ada. Kita bisa membayangkan masa depan: lima tahun dari sekarang, kita akan menjadi siapa, melakukan apa, dan memiliki apa. Kita bisa “mendengar” ucapan selamat dari orang tercinta, merasakan pelukan mereka, hembusan angin, serta aroma yang membuat hati bahagia tak terkira.
VAKOG juga membantu kita memaknai situasi sulit secara lebih bijak. Saat dimarahi atasan, kita bisa membayangkan betapa rumitnya tugas yang sedang dihadapi sang bos, termasuk tekanan dari pesaing. Dari sini, kita mulai melihat bahwa kemarahan itu bukan bentuk kebencian, melainkan kepedulian agar pekerjaan kita menjadi lebih baik. Kita pun menerima umpan balik, menyadari celah yang perlu diperbaiki, dan tumbuh dalam kompetensi—baik hard maupun soft skills—yang akhirnya dapat meningkatkan tanggung jawab dan karier kita.
Kemampuan ini juga yang membuat seorang insinyur mobil bisa membayangkan bagaimana jika ban mobil berbentuk kotak. Penumpang pasti akan terguncang hebat. Namun dengan bantuan VAKOG, ia bisa merancang teknologi suspensi yang sangat nyaman, bahkan jika digunakan pada ban kotak sekalipun. Ketika akhirnya diterapkan pada ban bundar, suspensi tersebut menjadi keunggulan besar: anti guncangan di jalan berlubang.
Dalam perspektif spiritual, khususnya dalam Islam, disebutkan bahwa ketika janin memasuki usia tertentu, Tuhan meniupkan ruh-Nya ke dalam tubuh janin. Salah satu sifat Tuhan yang paling sering disebut selain "Esa" adalah "Pencipta"—The Creator. Ketika ruh Sang Pencipta masuk ke dalam manusia, maka sifat pencipta pun turut diwariskan. Kreativitas, dengan demikian, adalah bagian utama dari kemanusiaan.
Dengan kemampuan berpikir dan kreativitas, manusia ditunjuk sebagai khalifah di bumi. Itu berarti: tidak menggunakan kemampuan berpikir dan daya cipta adalah bentuk penyangkalan terhadap fitrah manusia itu sendiri. Sayangnya, banyak dari kita yang dengan enteng berkata, “Aku tidak bisa,” atau “Aku bukan orang kreatif,” bahkan, “Nanti saja kalau sudah ada reward-nya.” Padahal, kalimat-kalimat seperti ini adalah bentuk nyata dari sikap pasif terhadap potensi ilahiah dalam diri kita.
Kalau penjelasan tentang kreativitas ini terasa terlalu filosofis, mari lihat dari sisi sederhana. Saat Anda terlambat rapat, melakukan kesalahan, atau tertangkap basah berselingkuh, Anda bisa dengan cepat menciptakan puluhan alasan dan argumentasi untuk membela diri. Bukankah itu kreativitas juga?
Saat penulis membagikan pernyataan ini di media sosial, seorang teman bertanya: “Apa bedanya kreatif dengan licik?” Jawabannya sederhana: “Kreatif itu kemampuan. Licik itu niat.”
---
Jika diolah dengan hati dan disadari sebagai anugerah, kreativitas adalah bentuk penghormatan kepada ruh penciptaan dalam diri kita. Sebaliknya, bersikap tidak kreatif adalah salah satu cara paling halus namun ampuh untuk mengecewakan Tuhan yang sudah mempercayakan kemampuan penciptaan itu kepada manusia.
SOURCE : www.prasetyambrata.com
INSPIRASI PAGI
Impian Itu Selalu Ada di Depan – Tapi Kenapa Terasa Makin Jauh?
Hai teman-teman, pernahkah kalian merasa bahwa impian yang dulu sempat kita tulis dan bayangkan kini terasa semakin jauh? Padahal, sebenarnya impian itu tidak pernah bergerak atau menghilang—dia selalu ada di depan kita, menunggu kita mendekat. Namun yang membuatnya terasa menjauh justru adalah sikap dan respon kita sendiri.
Banyak dari kita yang sudah membuat resolusi tahunan, merancang target hidup, bahkan membayangkan masa depan yang lebih baik. Tapi ketika kenyataan hidup mulai menghantam—dari tekanan pekerjaan, urusan keuangan, sampai urusan kesehatan mental—kita mulai kehilangan arah dan merasa impian itu makin sulit dijangkau.
Belakangan ini, isu mengenai kesehatan mental dan burnout semakin banyak disuarakan. Survei global menunjukkan bahwa banyak orang—terutama anak muda—merasa terjebak dalam lingkungan kerja yang tidak sehat, penuh tekanan, dan kurang empati. Di sisi lain, beban hidup yang makin berat juga menjadi sumber stres dan membuat banyak dari kita kehilangan tenaga untuk mengejar cita-cita. Tanpa kita sadari, ini semua memengaruhi cara kita merespons impian itu sendiri.
---
Sekadar Bermimpi Saja Tidak Cukup
Punya impian itu penting, bahkan sangat penting. Tapi ternyata, punya impian saja tidak cukup. Kita juga harus tahu apa motif di balik impian itu. Karena motif inilah yang akan menjadi bahan bakar untuk bergerak, bahkan ketika motivasi sedang habis-habisnya.
Banyak orang punya cita-cita besar tapi tak pernah mengambil langkah nyata. Bukan karena mereka malas atau tak mampu, tapi karena belum menemukan alasan yang cukup kuat untuk bertindak. Dalam dunia psikologi, ini disebut dengan loss of intrinsic motivation—kita tahu apa yang ingin dicapai, tapi tidak tahu kenapa kita menginginkannya.
---
Motif = Arah + Daya Dorong
Motif adalah alasan personal dan emosional yang membuat kita tetap melangkah, bahkan di saat lelah dan bingung. Tanpa motif yang jelas, kita akan mudah teralihkan oleh distraksi dan kehilangan arah. Itulah sebabnya banyak resolusi yang gagal hanya karena ditulis sebagai “formalitas”, tanpa diiringi oleh pemahaman mendalam tentang mengapa kita ingin mewujudkannya.
Contohnya, coba pikirkan kembali resolusi kita di tahun 2023 atau 2024. Kenapa sebagian besar dari kita gagal mencapainya? Bukan karena impiannya mustahil, tapi karena kita tidak menggali cukup dalam: apa sebenarnya alasan kita ingin mencapai itu? Untuk siapa? Apa urgensinya dalam hidup kita?
---
Langkah Nyata untuk Mendekat ke Impian
Untuk bisa kembali terhubung dengan impian, kita butuh langkah-langkah konkret, seperti:
1. Temukan “mengapa” di balik impianmu. Bukan hanya demi materi atau status, tapi mungkin demi keluarga, kebebasan waktu, atau kesehatan mentalmu sendiri.
2. Ambil langkah kecil namun konsisten. Tidak perlu langsung besar. Satu langkah kecil per hari lebih bermakna daripada nol langkah dalam sebulan.
3. Bangun sistem yang mendukung: Jaga kesehatan mental, batasi lingkungan toksik, dan temukan komunitas yang mendukung perjalananmu.
4. Putuskan dan bertindak cepat. Jangan menunggu motivasi datang. Kadang kita hanya perlu bertindak dulu, maka semangat akan mengikuti.
---
Penutup: Impian Tak Hilang, Kita Saja yang Perlu Mendekat Lagi
Kita hidup di era yang penuh tantangan, dari tekanan ekonomi hingga isu kesehatan mental yang semakin kompleks. Tapi justru di sinilah pentingnya menemukan kembali kekuatan dari dalam diri—motif yang membuat kita bergerak, bukan karena terpaksa, tapi karena sadar dan berkomitmen.
Impianmu tidak akan pernah hilang. Ia tetap menunggu di depan sana. Tapi hanya kamu yang bisa memutuskan: tetap diam, atau mulai melangkah lagi dengan kesadaran penuh dan alasan yang kuat.
SOURCE : Youtube Harri Firmansyah | High Class Response Trainer
INSPIRASI PAGI
La Tahzan, Innallaha Ma’ana: Tiga Jurus Mengelola Kesedihan
Setiap manusia pasti pernah mengalami kesedihan, kecemasan, atau tekanan hidup. Bahkan Nabi sekalipun mengalami masa-masa penuh duka. Namun, ada satu prinsip agung yang bisa menjadi pegangan setiap insan beriman: “La Tahzan, Innallaha Ma’ana” – jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.
Kisah ini diabadikan dalam Al-Qur’an, tepatnya pada Surah At-Taubah ayat 40. Saat itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abu Bakar Ash-Shiddiq bersembunyi di Gua Tsur dalam perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah. Musuh-musuh sudah hampir menemukan mereka. Dalam keadaan genting, Abu Bakar merasa cemas. Bukan karena takut terhadap dirinya, tapi karena khawatir pada keselamatan Rasulullah. Lalu Nabi berkata, “La Tahzan, Innallaha Ma’ana.”
Kalimat tersebut bukan hanya bentuk ketenangan, melainkan juga sebuah mantra hidup. Perasaan bahwa Allah bersama kita dapat menjadi penawar paling dalam atas segala luka batin. Dalam kehidupan sehari-hari, rasa ditemani itu sungguh menenangkan, walaupun kondisi di sekitar tak berubah. Sebagaimana anak kecil yang berani ke kamar mandi di malam hari setelah ditemani ibunya, begitu pula kita akan merasa kuat saat sadar bahwa Allah membersamai langkah kita.
Kesedihan bukanlah aib. Bahkan para Nabi mengalaminya. Nabi Ya’qub bersedih karena kehilangan Yusuf. Rasulullah bersedih saat wafatnya istri tercinta, Khadijah, dan pamannya, Abu Thalib. Nabi Zakariya cemas karena belum dikaruniai anak. Namun, semua emosi itu mereka bawa dan adukan kepada Allah. Kalimat “Innama asyku batstsi wa huzni ilallah” – “Aku hanya mengadukan kesedihan dan keresahanku kepada Allah” – menjadi teladan dalam menghadapi ujian batin.
Kesedihan, kekecewaan, dan patah hati adalah bagian dari kehidupan. Justru, dari patahannya hati menjadi terbuka untuk cahaya hidayah. Seperti kata Maulana Rumi, “You have to keep breaking your heart until it opens.” Maka, izinkanlah diri kita untuk merasakan, bukan menyangkal. Jangan terburu-buru menghapus air mata anak atau cucu yang sedang kecewa. Biarkan mereka belajar dari jatuh dan bangkit, karena terlalu memanjakan akan membentuk mental yang rapuh – atau dalam istilah modern, fragile.
Emosi dalam Islam bukan dibagi antara “positif” dan “negatif”, melainkan antara “nyaman” dan “tidak nyaman”. Semua emosi mengandung pesan. Sedih, marah, kecewa – semuanya bisa menjadi sinyal untuk kembali kepada Allah, selama disikapi dengan iman. Bahkan, Rasulullah bersabda bahwa seluruh urusan orang beriman adalah baik, jika disikapi dengan benar.
Namun, jika kesedihan berlebihan dan berlarut, itu menjadi pintu masuk setan. Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa kesedihan yang berlebihan melemahkan hati, melunturkan tekad, dan mematikan keinginan untuk berbuat baik. Sebaliknya, Allah menyukai hamba-Nya yang bersyukur dan bahagia. Maka, bagaimana agar kesedihan tidak membelenggu?
Inilah tiga jurus utama melepas kesedihan, disebut sebagai 3M:
1. Mengaku
Langkah awal pemulihan adalah mengakui perasaan. Akui bahwa kita sedang sedih, marah, kecewa, atau merasa lemah. Jangan berpura-pura baik-baik saja jika hati sedang gundah. Nabi saja merasakan sempitnya dada dalam banyak situasi. Maka kita, sebagai manusia biasa, wajar merasa tidak baik-baik saja.
Setelah mengakui rasa, kita juga perlu mengakui nikmat. Dalam doa Sayyidul Istighfar, urutannya adalah mengakui nikmat terlebih dahulu, baru mengakui dosa. “Abu’u laka bini’matika ‘alayya wa abu’u bidzanbi.” Saat hati berat, bukalah mata hati untuk melihat nikmat yang masih kita miliki: napas yang terus berhembus, sujud yang masih bisa kita lakukan, keluarga yang menemani, dan rezeki yang tetap mengalir. Dalam setiap kesulitan, Allah sertakan dua kemudahan. Ini janji-Nya dalam surat Al-Insyirah. Kesulitan hanya satu, tapi kemudahan datang berlipat.
Barulah setelah itu, akuilah dosa. Rasulullah saja beristighfar lebih dari 70 kali sehari. Maka kita pun perlu istighfar sebagai bentuk penyesalan dan kunci pelepasan beban batin.
2. Mengadu
Sebaik-baik tempat mengadu adalah Allah. Manusia boleh jadi tidak paham, tidak peduli, atau tidak mampu membantu. Tapi Allah Maha Mendengar dan Maha Memahami. Bahkan untuk urusan sekecil sandal yang putus pun disarankan untuk dibawa kepada Allah, apalagi soal hati yang luka, utang yang menumpuk, atau tubuh yang sakit.
Ajarkan juga anak-anak kita untuk mengadu kepada Allah. Sebelum meminta pada orang tua, ajak mereka minta pada Allah. Ini logika tauhid yang perlu ditanamkan sejak dini. Sebab doa bukan hanya soal meminta, tapi juga soal mencurahkan rasa. Lihatlah Nabi Yunus yang terkurung dalam tiga kegelapan. Doanya tak meminta secara eksplisit, hanya mengakui: “Laa ilaaha illa Anta, subhaanaka, inni kuntu minazh-zhaalimiin.”
Mengadu bukan sekadar melaporkan masalah, tapi juga membangun hubungan hati dengan Allah. Menyandarkan segala urusan kecil dan besar kepada-Nya, serta membiarkan Dia yang membimbing arah hidup kita.
3. Menyibukkan Diri
Kesedihan akan lebih mudah menguasai bila kita diam dalam ruang sepi. Maka sibukkan diri dengan amal saleh. Bergerak. Rasulullah, setelah tahun penuh duka (amul huzn), justru bergerak ke Thaif. Dalam banyak riwayat, ketika beliau sedih, beliau berdakwah dan menemui umat.
Majelis ilmu adalah salah satu cara terbaik untuk menyibukkan diri. Bertemu dengan orang-orang saleh, mendapatkan ketenangan, dan menjernihkan pikiran. Lebih jauh lagi, jika bisa membantu orang lain, lakukan. Karena siapa yang memudahkan urusan orang, Allah akan memudahkan urusannya. Siapa yang menutup aib saudaranya, Allah akan menutup aibnya dunia dan akhirat.
---
Penutup: Bukan Sekadar Ilmu, Tapi Latihan Jiwa
Ilmu yang tidak diamalkan hanya akan menambah beban hisab. Maka, setelah memahami 3M ini – Mengaku, Mengadu, dan Menyibukkan Diri – latihlah terus dalam kehidupan. Bahkan jurus sederhana, jika dilatih terus-menerus, bisa menjadi kekuatan yang luar biasa. Seperti kata Bruce Lee, “Saya tidak takut pada orang yang berlatih 1000 jurus, tapi saya takut pada orang yang melatih satu jurus 1000 kali.”
La Tahzan, Innallaha Ma’ana. Jangan bersedih, karena Allah bersama kita. Pegang prinsip ini, amalkan tiga jurusnya, dan insyaallah hati kita akan lebih kuat, lebih tenang, dan lebih bahagia dalam menjalani hidup.
SOURCE : Youtube Ust Sonny Abi Kim
INSPIRASI PAGI
Makna Sebuah Pekerjaan: Pelajaran dari Tiga Tukang Batu
Anda mungkin pernah mendengar kisah klasik tentang tiga orang tukang batu yang tengah membangun sebuah kuil. Mereka dikenal sebagai si Kumis, si Gondrong, dan si Botak. Ketiganya melakukan pekerjaan yang sama: menyusun bata-bata menjadi dinding bangunan. Namun, yang membedakan mereka bukanlah keterampilan semata, melainkan cara mereka memaknai pekerjaan tersebut.
Si Kumis bekerja dengan wajah kusut dan sering mengeluh ketika menghadapi kesulitan. Ia menjalani hari dengan mood yang tidak stabil, dan hasil pekerjaannya pun asal-asalan. Si Gondrong, meski juga tidak tersenyum, terlihat fokus dan bekerja dalam diam. Ia berusaha mengikuti aturan agar hasil kerjanya kokoh dan rapi. Sementara itu, si Botak tampak paling ceria. Ia sesekali bersenandung sambil bekerja, menyelesaikan tugasnya lebih cepat dan lebih banyak dibanding dua rekannya.
Menjelang sore, sang Mandor memanggil mereka satu per satu untuk memberikan upah, sekaligus menanyakan alasan di balik cara mereka bekerja.
“Hai Kumis, kenapa seharian ini wajahmu cemberut dan suka mengeluh?” tanya sang Mandor.
“Apa pedulimu? Aku bekerja demi upah. Yang penting dinding ini berdiri dan aku dibayar,” jawab si Kumis.
Lalu sang Mandor beralih ke si Gondrong, “Kamu juga jarang tersenyum dan lebih banyak diam.”
“Aku hanya berusaha berkonsentrasi agar hasil kerjaku kuat dan sesuai aturan,” jawabnya singkat.
Akhirnya sang Mandor bertanya kepada si Botak, “Kenapa kamu terlihat begitu ceria padahal upahmu sama seperti yang lain?”
Dengan senyum, si Botak menjawab, “Aku senang menjadi bagian dari sejarah membangun tempat ibadah ini. Aku membayangkan kelak orang-orang akan merasa aman dan damai di kuil ini. Maka aku ingin memberi yang terbaik.”
Sekarang bayangkan, jika Anda adalah sang Mandor—siapa yang akan Anda percayai untuk memimpin proyek berikutnya? Siapa yang akan Anda tunjuk sebagai pengganti Anda? Dan siapa yang menurut Anda memiliki potensi untuk memiliki masa depan yang lebih baik?
Ketiga tukang batu itu memberi makna (ARTI) yang berbeda terhadap pekerjaan dan tempat mereka bekerja. Makna ini membentuk pikiran dan perasaan, yang kemudian memengaruhi keputusan, tindakan, hasil kerja, dan pada akhirnya, nasib mereka sendiri.
Namun, makna saja tidak cukup. Kompetensi tetap dibutuhkan. Jika si Botak hanya bermodal semangat dan senyum tapi tidak terampil, tentu sang Mandor tak akan sembarangan mempercayakan jabatan lebih tinggi kepadanya. Keceriaan harus sejalan dengan kualitas kerja.
Jika saat ini Anda merasa nasib Anda stagnan atau justru sedang bersyukur atas pencapaian Anda, cobalah tanyakan pada diri sendiri:
Apa arti pekerjaan, jabatan, dan perusahaan tempat Anda bekerja selama ini?
Apakah Anda mengerjakannya sekadar rutinitas dan demi gaji bulanan, atau Anda sungguh melihatnya sebagai bagian dari kontribusi terhadap sesuatu yang lebih besar?
Berhentilah sejenak hari ini, renungkan kembali makna dari pekerjaan yang Anda jalani. Berikan nilai lebih, bukan hanya pada hasil kerja Anda, tapi juga pada cara Anda memaknainya. Karena ketika Anda mengubah cara pandang, Anda sedang membuka pintu menuju perubahan nasib.
SOURCE : www.prasetyambrata.com
INSPIRASI PAGI
“KESADARAN”
Dikisahkan, ada seorang tukang cukur sedang memangkas rambut seorang yang terkenal bijak. Terjadilah obrolan diantara mereka. Obrolan menjadi semakin seru ketika tukang cukur itu berkata “Tuhan tidak ada”. Orang bijak yang dicukur terkejut dan menyanggah “ya adalah mas, Dia yang menciptakan alam semesta dan memberikan rezeki kepada kita”.
Sang tukang cukur ngotot “kalau benar dia memberi rezeki, mengapa hidup saya masih susah, dari tadi pagi baru bapak yang datang. Kalau Tuhan ada, pasti dia sudah menolong saya, menyelesaikan masalah-masalah saya dan mempermudah kehidupan saya. Karena semua itu saya hadapi dan selesaikan sendiri maka saya yakin Tuhan tidak ada”.
Orang bijak itu terus berusaha dengan berbagai cara untuk meyakinkan tukang cukur bahwa Tuhan itu ada, namun sampai proses memangkas rambut usai, tukang cukur masih yakin bahwa Tuhan itu tidak ada. Orang bijak itu pun meninggalkan tukang cukur dengan hati yang gundah gulana.
Beberapa langkah setelah meninggalkan tukang cukur, orang bijak ini bertemu dengan orang gila yang rambutnya panjang dan tidak terurus. Dibawalah orang gila ini ke tukang cukur. Saat bertemu dengan tukang cukur, orang bijak ini membuka percakapan “tukang cukur tidak ada”. Tentu tukang cukur kaget dan membantah “tukang cukur ada, saya tadi khan yang memotong rambut bapak”.
Dengan tersenyum orang bijak itu berkata “kalau tukang cukur ada, mengapa orang gila ini rambutnya panjang, tidak terurus dan tidak ada yang memotong?” Tukang cukur itu tertawa sambil berkata “ya bagaimana saya akan memotong rambutnya, orang ini khan tidak pernah datang kepada saya?”
Dengan lembut orang bijak itu berkata “bagaimana Tuhanmu akan menolongmu apabila kamu juga tidak pernah datang meminta tolong kepada Tuhanmu”. Sang tukang cukur terdiam, tercenung, memejamkan mata dan kemudian menundukkan kepala.
SOURCE : www.jamilazzaini.com
INSPIRASI PAGI
🧠 ANDA TIDAK BUTUH MOTIVASI YANG KUAT UNTUK MEMULAI SESUATU
Banyak orang merasa harus menemukan motivasi besar atau alasan agung sebelum memulai sesuatu. Misalnya, harus punya “purpose” yang mulia atau niat yang kuat agar bisa bergerak. Tapi kenyataannya, tidak selalu demikian.
Motivasi besar memang baik, apalagi jika itu menyangkut hal mulia seperti keluarga, masyarakat, atau kontribusi besar bagi banyak orang. Namun, masalahnya adalah: tidak semua orang bisa langsung menemukannya. Alasan yang kuat itu sering butuh waktu, pengalaman, dan ikatan emosional yang dalam untuk benar-benar terasa dan menggerakkan.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan?
Jawabannya sederhana: temukan alasan yang paling menyenangkan buat diri kita sendiri, meskipun itu bukan alasan yang "mulia" atau "besar".
Contohnya?
Banyak orang jogging bukan karena ingin sehat, tapi sekadar ingin selfie dan upload foto "morning run". Mungkin terkesan sepele, tapi nyatanya itu membuat mereka bergerak. Dan itu jauh lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa karena belum punya alasan yang kuat.
Begitu juga saat ingin tampil sebagai trainer. Banyak yang merasa minder karena belum punya niat besar seperti “berbagi ilmu” atau “bermanfaat bagi banyak orang”. Padahal, cukup mulai saja dulu dari niat yang egois — seperti ingin narsis, ingin dipuji, atau ingin tampil keren. Nggak masalah. Karena begitu kita sudah mulai, tubuh dan pikiran kita akan ikut belajar dan berkembang.
Yang penting adalah: BERGERAK DULU.
Alasan mulia akan datang seiring proses.
Kita terlalu sering menunggu alasan besar untuk memulai sesuatu, padahal seringkali yang kita butuhkan hanyalah satu alasan kecil yang menyenangkan, yang cukup untuk bikin kita bangun, bergerak, dan mulai melangkah.
Jadi, kalau kamu masih belum mulai karena “belum ketemu motivasi yang tepat”, berhenti menunggu. Ambil alasan kecilmu, seaneh apa pun itu — dan lakukan saja dulu.
Karena dari situ, kamu akan menemukan alasan yang lebih dalam, lebih bermakna, dan lebih berdampak. Tapi semuanya dimulai dari satu langkah kecil.
💡 Semangat bergerak. Bukan karena alasan besar, tapi karena kamu memilih untuk mulai
SOURCE : Youtube Andra Donatta | Personal Development Coach
INSPIRASI PAGI
Persoalan Hidup dan Jawabannya
Sering kali dalam hidup, kita dihadapkan pada persoalan yang tampaknya sulit dan membingungkan. Namun, sesungguhnya, bersamaan dengan hadirnya persoalan itu, Tuhan telah menyertakan jawabannya. Hanya saja, kita kerap kali tidak menyukai jawaban tersebut. Padahal, itu adalah jawaban terbaik — bukan jawaban terenak.
Kita ini sering kali bukan sedang mencari kebenaran atau solusi yang paling bijak, tetapi lebih kepada mencari jalan keluar yang paling nyaman. Kenyamanan belum tentu kebaikan, dan sebaliknya, kebaikan belum tentu terasa nyaman. Di sinilah letak perbedaan antara keinginan dan kebijaksanaan.
Jika direnungkan lebih dalam, siapa sebenarnya yang memanggil atau mengundang datangnya persoalan itu? Apakah Tuhan memberikan ujian secara acak, tanpa pertimbangan terhadap kemampuan kita? Tidak. Tuhan sudah menjanjikan bahwa tidak akan ada beban yang diberikan di luar kemampuan kita untuk menanggungnya. Ibarat siswa kelas 6 SD, kita tidak mungkin diberi soal ujian trigonometri atau integral yang seharusnya baru muncul di kelas 3 SMP. Itu di luar kapasitas kita.
Demikian pula dalam hidup. Guru yang bijak tidak akan memberikan soal di luar jenjang kelas muridnya. Maka, setiap persoalan yang sedang kita hadapi saat ini — entah itu masalah pribadi, rumah tangga, pekerjaan, bisnis, bahkan negara — semuanya adalah “soal ujian” yang memang sesuai dengan “kelas” kita saat ini. Dan, seperti ujian pada umumnya, jawabannya sebenarnya sudah tersedia. Namun lagi-lagi, kita tidak menyukainya.
Yang sering kita lupakan adalah bahwa diri kitalah yang menempatkan diri di kelas tertentu. Kita sendirilah yang mengundang soal itu datang. Ketika kita naik kelas, naik pemahaman, dan naik kedewasaan, maka soal yang dulu terasa rumit akan tampak sepele. Namun setelah itu, akan datang soal-soal baru yang sesuai dengan kelas kita yang baru. Itulah proses pertumbuhan dan ujian kehidupan.
Sayangnya, kita sering tidak suka dengan pertanyaannya. Bahkan lebih sering lagi, tidak suka dengan jawabannya. Ketidaksukaan kita terhadap soal bukan karena soalnya benar-benar sulit, tetapi karena sebenarnya kita belum memiliki jawabannya. Dan, karena belum punya jawaban itulah kita cenderung menyalahkan soal.
Sering kali, kita menyalahkan sulitnya persoalan, padahal kenyataannya kita sendirilah yang belum belajar. Kita belum siap menjawabnya, namun melempar tanggung jawab itu kepada keadaan, kepada orang lain, atau kepada takdir. Padahal, bisa jadi semua itu hanyalah cerminan dari proses kita yang masih harus lebih tekun, lebih sadar, dan lebih bijak dalam belajar menghadapi kehidupan.
Maka barangkali, persoalan hidup bukanlah musuh yang harus ditaklukkan. Ia hanyalah soal-soal ujian yang menunggu untuk kita pahami dan jawab dengan kejujuran, bukan dengan ketergesaan. Tidak semua pertanyaan butuh jawaban yang cepat — sebagian justru meminta kita untuk bertumbuh terlebih dahulu sebelum menjawabnya.
Kalau hari ini hidup terasa berat, jangan buru-buru menolak. Jangan dulu mengeluh. Cobalah diam sebentar. Duduk. Tarik napas. Lihat baik-baik: mungkin yang datang bukan hukuman, melainkan pelatihan. Mungkin yang hadir bukan akhir, melainkan awal dari kenaikan kelas kita yang berikutnya.
Jadi, sebelum engkau berkata “ini terlalu sulit”, tanyakan pada dirimu:
“Sudahkah aku belajar cukup untuk menjawab ini?”
Dan jika engkau sedang di tengah ujian itu,
Hadapi. Pahami. Lalui.
Sebab jawabannya, sudah menunggumu — sejak awal.
Source : Youtube Prasetya M Brata | Leadership Transformation Coach
INSPIRASI PAGI
Inilah Alasan Mengapa Seorang Karyawan Jangan Bekerja untuk Perusahaan
Oleh: Andra Donatta
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Pagi ini saya sedang bersiap untuk memberikan pelatihan kepada salah satu klien di sebuah hotel. Namun sebelum sesi dimulai, izinkan saya berbagi pemikiran yang mungkin bermanfaat bagi Anda—khususnya bagi Anda yang saat ini berprofesi sebagai karyawan di sebuah perusahaan.
Pernahkah Anda merasakan malas bekerja, terutama saat hari Senin tiba? Fenomena “I hate Monday” bukan hal baru. Selain itu, apakah Anda pernah merasa frustrasi karena target kerja terus dinaikkan tanpa henti? Rasanya seperti tidak pernah diberi jeda. Alih-alih semangat, hal itu justru membuat pekerjaan terasa sebagai beban.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Salah satu alasannya adalah karena kita melihat diri kita sedang bekerja untuk perusahaan, bukan untuk diri sendiri. Paradigma inilah yang perlu diubah. Walaupun secara formal kita dibayar oleh perusahaan, sejatinya kita harus bekerja untuk kepentingan dan pertumbuhan diri kita sendiri.
1. Skill yang Dibangun adalah Milik Anda, Bukan Milik Perusahaan
Sering kali ketika perusahaan memberi tantangan baru, target tambahan, atau bahkan tugas di luar job desk kita, reaksi pertama adalah menolak atau merasa terbebani. Padahal, justru dari tantangan itulah skill baru dibentuk dan kapasitas diri kita bertumbuh. Yang perlu diingat: skill itu tidak melekat pada perusahaan, melainkan pada diri Anda sendiri. Saat Anda bersedia mengambil tantangan, Anda memperkaya keahlian Anda—yang akan tetap Anda miliki ke mana pun Anda pergi, bahkan saat tidak lagi bekerja di perusahaan yang sama.
2. Tantangan akan Membangun Karakter Anda
Ketika Anda dipaksa untuk keluar dari zona nyaman, otak Anda akan terdorong untuk lebih kreatif dan solutif. Hal ini secara alami membentuk karakter-karakter positif—seperti ketangguhan, disiplin, dan proaktif—yang dibutuhkan dalam berbagai aspek kehidupan. Maka, walaupun perusahaan tidak memberikan penghargaan langsung atas usaha tersebut, karakter yang terbentuk akan menjadikan Anda lebih matang dan lebih siap menghadapi situasi sulit di masa depan.
3. Tantangan Meningkatkan Wawasan dan Pengetahuan
Melakukan pekerjaan yang sama setiap hari mungkin membuat Anda menjadi ahli dalam bidang tersebut. Tapi di sisi lain, hal itu bisa membuat Anda berhenti bertumbuh. Tantangan baru memaksa kita melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda, mengembangkan wawasan baru, dan mengasah cara berpikir kritis. Ini yang akan membedakan Anda dari mereka yang hanya bekerja berdasarkan rutinitas.
---
Dengan tiga alasan di atas—membangun skill, membentuk karakter, dan memperluas pengetahuan—Anda sebenarnya sedang membangun nilai diri Anda sendiri (building your value). Nilai inilah yang akan menentukan seberapa besar dampak yang bisa Anda berikan, bukan hanya kepada perusahaan, tapi juga kepada masyarakat secara lebih luas.
Perlu diingat, gaji hanyalah bonus. Yang membuat Anda dibayar mahal adalah nilai yang Anda bawa, kontribusi yang Anda hasilkan, serta potensi yang Anda kembangkan. Jadi, bekerjalah bukan untuk perusahaan, tetapi untuk membangun dan mengembangkan diri Anda sendiri. Dengan demikian, Anda akan tampil maksimal, produktif, dan kontributif di mana pun Anda berada.
SOURCE : Andra Donatta | Personal Development Coach
INSPIRASI PAGI
Kesadaran Waktu, Kesadaran Amal – Sebuah Refleksi untuk Dunia Tambang
“Berharganya waktu adalah sebab ia terus bergerak maju.”
Dalam dunia tambang batubara—di tengah debu, deadline, dan target produksi—kita terbiasa hidup dalam ritme yang keras dan cepat. Shift kerja berganti, alat berat terus bergerak, dan waktu nyaris tak memberi jeda. Tapi justru karena waktu terus berjalan, ia menjadi sangat berharga. Tak ada satu detik pun yang bisa diulang, tak ada satu momen pun yang benar-benar identik. Semua terus bergerak, dan setiap detik adalah potensi untuk mencatat amal, baik atau buruk.
Dalam dunia kerja kontraktor tambang, kita sering terjebak pada pengulangan teknis: inspeksi alat, pengisian logbook, atau rapat harian. Tapi sadarkah kita, bahwa apa yang tampak rutin itu sebenarnya unik dan tidak pernah kembali? Detik yang kita lalui saat memberi briefing safety, saat kita menegur rekan kerja karena kelalaian, atau saat kita menunda perbaikan kecil—semua itu akan tertulis. Bukan hanya di laporan kerja, tapi juga dalam catatan kehidupan.
Manusia hidup dalam waktu, dan setiap tindakannya adalah tabungan amal. Kita bisa menabung banyak jika sadar. Tapi kita bisa juga bangkrut jika lengah. Ironisnya, godaan terbesar dalam dunia tambang bukan hanya hal yang terang-terangan buruk seperti korupsi waktu atau manipulasi data—namun justru aktivitas yang “kosong makna”. Kita sibuk tapi tak berdampak. Kita hadir di lokasi tapi tak berkontribusi. Kita bekerja tapi tanpa kesadaran nilai.
Tantangannya bukan hanya menghindari hal yang buruk, tetapi juga mengisi waktu kerja kita dengan sesuatu yang bernilai. Bekerja dengan niat menjaga keselamatan orang lain adalah nilai. Mengerjakan daily report dengan kejujuran adalah nilai. Menyapa rekan satu tim dengan semangat positif adalah nilai. Bahkan mengerjakan apa yang menjadi KPI di lapangan pun adalah bentuk amal.
Inilah yang disebut sebagai kesadaran waktu dan kesadaran amal—dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Waktu pasti berjalan, tapi nilai dari perjalanan itu tergantung dari apa yang kita isi di dalamnya. Dan dalam dunia tambang, yang penuh tekanan dan target, justru kesadaran inilah yang bisa membuat kita bertumbuh, bukan hanya sebagai profesional, tapi juga sebagai manusia yang utuh.
---
🚧 “Waktu adalah alat ukur yang paling adil. Ia memberi sama rata pada semua orang. Yang membedakan adalah: siapa yang sadar, dan siapa yang sekadar lewat.”
Semoga kita semua, bisa menjadikan setiap jam kerja kita sebagai ladang amal yang bernilai.
SOURCE : Teddi Prasetya Yuliawan | 7 Habbits trainer
INSPIRASI PAGI
🧠 THIS TOO SHALL PASS – INI JUGA AKAN BERLALU
(Mantra Kehidupan yang Perlu Terus Diulang)
Teman-teman, salah satu kekuatan terbesar dalam menghadapi hidup adalah keyakinan bahwa setiap hal—baik yang menyenangkan maupun yang menyulitkan—pasti akan berlalu.
Kita perlu yakin bahwa ini akan terlewati. Bahwa takdir Allah selalu yang terbaik dan rencana-Nya selalu yang paling indah. Kalimat-kalimat seperti “This too shall pass” bukan hanya untuk menghibur, tapi bisa membentuk diri dan kondisi jiwa kita.
Jika kita tanamkan kalimat ini dalam hati, bukan hanya ketenangan yang muncul, bahkan dalam ujian sekalipun kita bisa sampai menikmati masalah tersebut. Karena kita tahu, suatu hari nanti semua ini akan menjadi cerita indah.
🎢 Hidup itu berputar, kadang kita berada di atas, kadang di bawah. Dan salah satu mantra kehidupan agar kita tetap tabah dan tangguh adalah: “semua akan berlalu.”
---
💡 Apa makna dalam mantra ini?
1. Kalimat ini mengandung harapan.
Ia membawa keyakinan bahwa Allah tidak mungkin memberikan takdir di luar kemampuan kita.
2. Kalimat baik itu seperti doa, akan memimpin hidup dan menghadirkan optimisme.
3. Bahkan Rasulullah ﷺ takjub terhadap kalimat-kalimat positif (al-fa’al), yang menunjukkan semangat dan harapan.
4. Ini bukan sekadar penghiburan, tapi pengarahan kesadaran kita untuk tidak terlarut dalam kesedihan ataupun terlena dalam kesenangan.
5. Saat sedang lapang, kalimat ini juga penting: agar kita tidak lupa diri. Misalnya: masih punya orang tua? Jangan anggap mereka akan ada selamanya. Ini juga akan berlalu.
---
📍 Kenapa kalimat ini sangat berpengaruh?
Karena pengulangan akan masuk ke bawah sadar (subconscious mind). Otak kita akan mencernanya sebagai kebenaran. Dan apa yang tertanam di bawah sadar akan memengaruhi sikap, cara pandang, dan ketenangan kita.
Jika yang kita ulang adalah keluhan, maka hidup akan terasa berat. Tapi kalau yang kita ulang adalah kalimat optimis, maka hadirlah rasa lapang dan syukur.
📌 Hati-hati terhadap pengulangan kalimat negatif, karena ia akan membentuk cara kita memandang hidup. Sebaliknya, pengulangan kalimat baik akan menjadi energi jiwa yang luar biasa.
---
🌪 Ketika kesulitan datang…
Kadang satu masalah membuat kita lupa bahwa kita punya 20 nikmat lain. Kita larut dalam duka dan tidak melihat sisi terang. Padahal, kesempitan hati akan menyempitkan pikiran.
👉 Lapangnya batin membuat kita lebih mampu berpikir jernih, mencari solusi, dan tetap bersyukur.
Kalimat “This too shall pass” bukan ajakan untuk diam. Kita tetap ikhtiar, tetap bergerak, namun dalam ketenangan. Karena kita percaya, Allah menyertai proses kita.
---
📝 Catatan kehidupan…
Suatu hari nanti, kita akan mengenang semua ini. Semua kesulitan, penolakan, air mata, perjuangan… akan menjadi kisah indah. Kita akan berkata:
"Dulu saya pernah terpuruk, tapi saya bangkit."
"Dulu saya pernah ditolak, tapi saya bertahan."
Dan semua itu terasa indah, karena kita melewatinya dengan sabar dan yakin.
---
🌱 Kalimat ini pun perlu dipegang saat kita diberi nikmat…
Saat kita sukses, saat kita bahagia, saat kita punya banyak hal—ingatlah juga:
“This too shall pass.”
Agar kita tidak melekat terlalu kuat pada dunia. Agar kita tidak menuhankan kenikmatan sesaat. Karena semua itu hanya titipan, dan kita akan diminta pertanggungjawabannya.
---
🧩 Mantra ini adalah penyelamat…
Di masa susah, ia menguatkan.
Di masa senang, ia menjaga hati.
Di masa biasa-biasa saja, ia mengingatkan arah.
Maka mari, latih diri mengulang kalimat ini…
💬 “Ini juga akan berlalu.”
💬 “This too shall pass.”
💬 “Semua akan terlewati, dan semua akan menjadi cerita indah pada waktunya.”
---
Semoga kalimat ini hidup dalam lisan, melekat di hati, dan menjadi sumber kekuatan di setiap langkah kita.
Source : Youtube Inner Game | Coach Sonny Abi kim
INSPIRASI PAGI
🎯 Setiap Kata Pemimpin Adalah Arah
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, teman-teman.
Dalam sebuah sesi pelatihan lintas divisi, saya pernah menyaksikan sesuatu yang cukup menggelitik. Seorang pimpinan unit, yang ditunjuk membuka sesi, memulai sambutannya dengan bertanya,
> “Maaf ya, ini sebenarnya acara apa, ya?”
Ucapan itu tampak ringan, mungkin dimaksudkan sebagai candaan pembuka. Tapi di antara peserta yang datang dari berbagai area, kalimat itu menimbulkan tanda tanya: apakah kegiatan ini benar-benar penting, kalau pemimpinnya sendiri saja tidak yakin dengan acaranya?
Di lain waktu, saya menyaksikan pemimpin lain — dengan performa fisik dan gestur yang meyakinkan — menyampaikan kalimat pembuka seperti ini:
> “Saya tahu tubuh kita di sini, tapi ingat, bisnis must go on.”
Kesan yang muncul? Bahwa kegiatan pelatihan ini sekadar selingan dari pekerjaan utama. Bahwa belajar hanya sekadar “tugas tambahan”, bukan prioritas. Padahal, pelatihan dan pengembangan SDM adalah bentuk investasi jangka panjang organisasi — bukan sekadar pengisi waktu kosong atau bentuk seremonial belaka.
---
🔍 Pelatihan: Investasi untuk Masa Depan
Kita semua tahu bahwa organisasi yang sehat tidak hanya sibuk mengurusi hari ini, tapi juga menyiapkan hari esok. Pelatihan, pengembangan diri, coaching, mentoring — semua ini bukan untuk menyelesaikan masalah hari ini. Tapi untuk membangun kapasitas yang akan dibutuhkan dua tahun ke depan, lima tahun ke depan, bahkan satu dekade ke depan.
Sama seperti orang tua yang menyekolahkan anaknya sejak TK hingga perguruan tinggi — bukan untuk hari ini, tapi untuk masa depan anaknya — organisasi pun mengirim karyawan ke pelatihan agar mereka siap menjawab tantangan masa depan. Karena tantangan yang akan kita hadapi nanti pasti berbeda dengan tantangan hari ini.
Dan semua itu membutuhkan proses.
---
Pemimpin Sebagai Pusat SimbolikKetika seorang pemimpin berbicara, dampaknya tidak hanya terdengar. Tapi dirasakan. Kata-kata seorang pemimpin tidak hanya diserap secara harfiah, tetapi dimaknai secara simbolik. Nada suara, gestur, bahkan jeda dan ekspresi wajah — semua menjadi bagian dari pesan.
Kalimat sederhana seperti "Bisnis tetap jalan" memang terdengar netral. Tapi bila diucapkan di awal pelatihan tanpa konteks yang membangun, ia bisa menciptakan tekanan psikologis. Peserta jadi enggan fokus karena takut dianggap tidak responsif. Padahal, justru fokus belajar itu yang seharusnya menjadi nilai utama sesi tersebut.
Apa yang terjadi kemudian?
Peserta tidak fokus. Pelatihan menjadi formalitas. Proses belajar tidak optimal. Dan yang paling berbahaya — organisasi rugi dua kali:
1. Rugi biaya, karena pelatihan tidak berjalan maksimal,
2. Rugi masa depan, karena kompetensi tidak berkembang sesuai yang dibutuhkan.
---
🗣️ Kata-Kata Pemimpin Itu “Menanam” Mindset
Waktu bicara seorang pemimpin saat membuka pelatihan mungkin hanya lima menit. Tapi lima menit itu bisa membentuk mindset peserta selama berhari-hari, bahkan berminggu-minggu.
Itulah kenapa salah satu aspek penting dalam pengembangan kepemimpinan adalah: keterampilan berbicara dengan dampak.
Bukan sekadar retorika. Tapi kemampuan untuk memilih diksi yang membangun, merangkai kalimat yang menginspirasi, dan menempatkan pesan pada konteks yang tepat.
Maka penting bagi setiap pemimpin untuk bertanya sebelum berbicara:
> “Kalimat ini akan meninggalkan kesan seperti apa?”
“Apakah kata-kata saya mempermudah proses belajar atau justru menghalanginya?”
“Apakah saya sedang menanam mindset bertumbuh atau menciptakan keraguan?”
Karena satu kalimat yang tepat bisa membuka jalan bertumbuh. Tapi satu kalimat yang salah bisa menutup peluang selama-lamanya.
---
💡 Menjadi Pemimpin yang Membuka Jalan
Mari kita renungkan:
Pemimpin bukan hanya orang yang memerintah. Tapi orang yang menunjukkan arah, menciptakan ruang aman untuk belajar, dan menanamkan harapan di tengah ketidakpastian.
Pemimpin adalah penjaga semangat.
Penjaga kepercayaan.
Penjaga momentum organisasi untuk terus bertumbuh.
Maka ketika organisasi memutuskan untuk menyelenggarakan pelatihan, pemimpin seharusnya hadir sebagai penguat, bukan sebagai pengurang makna. Hadir sebagai pembuka jalan.
Sebagai pemimpin, kita mungkin tidak bisa mengendalikan masa depan. Tapi kita bisa menyiapkan orang-orang terbaik untuk menghadapinya — dimulai dari kata-kata yang kita pilih hari ini.
---
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Source : Teddi Prasetya Yuliawan | 7 habbits trainer
INSPIRASI PAGI
Mengapa Kita Cenderung Bisa Menuntaskan Tugas Menjelang Deadline?
Legenda mengajarkan kita kekuatan di balik tenggat waktu yang mendesak. Seperti Bandung Bondowoso yang diharuskan membangun seribu candi dalam semalam atas permintaan Roro Jonggrang.
Pikiran bawah sadar kita sepertinya tersugesti oleh kisah-kisah semacam ini, sehingga kita menganggap diri kita memiliki kekuatan super saat mengerjakan pekerjaan di waktu yang mendesak. Tak heran, saat kita bisa menyelesaikan tugas yang tertunda menjelang tenggat waktu itu dianggap sesuatu yang biasa. The power of kepepet katanya.
Namun, tidak banyak orang yang tertarik merenungi, mengapa saat menjelang deadline kita tiba-tiba bisa menyelesaikan pekerjaan yang selama ini tertunda?
Saya sendiri bertanya-tanya, sebuah tugas yang saya tunda-tunda selama satu pekan, bisa terselesaikan dalam waktu kurang dari sehari. Mengapa bisa demikian? Padahal selama satu pekan saya sudah berusaha mengerjakannya, namun kok tak kunjung tertuntaskan juga? Sampai akhirnya di ujung waktu, ketika deadline menjelang, keajaiban seakan datang. Kreativitas tiba-tiba muncul sehingga saya bisa menuntaskan tugas itu dalam sekejap. Apa yang terjadi?
Rahasianya ada di sebuah konsep yang dikenal dengan ruang atensi (nama resminya working memory). Saat deadline menjelang, kita memenuhi ruang atensi kita hanya dengan satu tujuan: bagaimana agar tugas ini selesai sebelum waktunya. Dengan kata lain, kita memasuki kondisi hyperfocus (istilah ini saya dapatkan dari Chris Bailey).
Saat ini terjadi, seluruh energi dan atensi kita terpusat pada satu tujuan saja: penuntasan tugas yang tertunda. Pikiran, perasaan, dan tubuh kita semua bergerak ke arah yang sama. Daya kreativitas dan logika kita bahu membahu bekerjasama menuntaskan tugas yang tertunda.
Kondisi semacam ini tidak terjadi di hari-hari saat kita menunda. Di hari saat kita menunda-nunda, kita mengisi ruang atensi kita dengan berbagai hal: di satu sisi ingin menuntaskan naskah buku yang tertunda, di sisi lain memikirkan laporan yang belum terselesaikan. Kita memenuhi ruang atensi kita dengan tujuan yang berbeda-beda. Dengan kata lain, kita tidak mampu untuk fokus, energi dan atensi kita terpecah ke berbagai arah.
Sederhananya, kita berhasil menuntaskan pekerjaan ketika kita mampu fokus dan kita tidak berhasil menuntaskan pekerjaan ketika kita tidak mampu fokus. Jadi, sebenarnya untuk menuntaskan banyak hal kuncinya sederhana: tuntaskan pekerjaan satu per satu secara terfokus. Jangan berambisi mengerjakan banyak hal sekaligus. Jangan pula mengisi pikiran kita dengan berbagai obsesi yang akan memenuhi ruang atensi kita.
Di sini tantangan berikutnya. Bagaimana membuat pikiran kita tenang dan mantap sehingga kita tidak mudah silau oleh hal-hal bersinar yang melewati kita.
Source : Darmawan Aji | Productivity Coach, www.darmawanaji.com
INSPIRASI PAGI
Kembangkan Kemampuan Anda, Jangan Pernah Diam
Selamat pagi, sahabat semua. Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana tumbuhan tumbuh?
Sejak dari benih kecil yang rapuh, tumbuhan terus bertumbuh dan berkembang, meski harus menghadapi terpaan hujan, panas terik, bahkan badai besar. Namun luar biasanya, tumbuhan tidak pernah menyerah. Ia terus bergerak, menghasilkan daun-daun baru, bunga-bunga baru, dan kehidupan baru. Satu hal yang bisa kita pelajari dari mereka: tumbuhan tidak pernah diam.
Begitu pula seharusnya kita, manusia. Untuk hidup bahagia, penuh makna, dan percaya diri, kita harus mengadopsi filosofi yang sama— hidup adalah tentang pertumbuhan yang berkelanjutan. Tidak ada keberhasilan tanpa kemauan untuk bertumbuh. Tidak ada perubahan tanpa semangat untuk memperbaiki diri. Dan tidak ada kebahagiaan yang abadi jika kita diam dan puas pada zona nyaman.
Di Jepang, filosofi ini dikenal sebagai Kaizen, sebuah prinsip hidup yang bermakna peningkatan kualitas secara terus-menerus. Kaizen tidak menuntut perubahan besar dalam waktu singkat. Justru, ia menekankan pentingnya langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Hari ini lebih baik sedikit dari kemarin, dan besok lebih baik sedikit dari hari ini. Itu saja sudah cukup, selama kita tidak berhenti.
Coba bayangkan jika kita menerapkan semangat bertumbuh ini dalam kehidupan sehari-hari
Dalam keluarga, kita menjadi lebih sabar, lebih peduli, lebih mendengarkan.
Dalam pekerjaan, kita belajar hal baru, mengambil inisiatif, dan meningkatkan produktivitas.
Dalam ibadah dan spiritualitas, kita lebih khusyuk, lebih teratur, lebih dekat dengan Sang Pencipta.
Dalam relasi sosial, kita menjadi pribadi yang lebih bermanfaat, rendah hati, dan penuh empati.
Orientasi hidup kita akan berubah menjadi tiga hal: lebih cepat, lebih dekat, dan lebih hemat. Lebih cepat dalam merespons peluang dan tantangan. Lebih dekat dengan orang-orang terkasih dan tujuan hidup yang sejati. Lebih hemat dalam waktu, energi, dan sumber daya—karena semuanya terarah
Semangat inilah yang disebut dengan CANI: Constant And Never Ending Improvement—perbaikan terus-menerus tanpa akhir. Hidup ini bukan tentang menjadi sempurna, tapi tentang menjadi lebih baik secara terus-menerus. Jika kita menjadikan prinsip ini sebagai gaya hidup, niscaya kita akan takjub dengan hasilnya. Hidup akan terasa lebih ringan, lebih bermakna, dan lebih penuh keberkahan.
Mari kita jujur pada diri sendiri: apakah selama ini kita sedang bertumbuh atau diam di tempat? Apakah hidup kita bergerak naik, atau justru berjalan mundur perlahan tanpa kita sadari
Saat ini adalah waktu yang tepat untuk mulai bertumbuh kembali. Tidak perlu menunggu momentum besar. Mulailah dari yang kecil—membaca buku lima halaman per hari, bangun 30 menit lebih awal, bersyukur lebih sering, meminta maaf lebih cepat, atau menyapa keluarga lebih hangat. Kecil, tapi berdampak besar jika dilakukan dengan konsisten.
Ingatlah:
> “Bahagia bukan milik mereka yang serba punya, tapi milik mereka yang terus bertumbuh.”
Mari kembangkan diri kita, jangan pernah berhenti. Jadilah seperti tumbuhan yang tak gentar diterpa badai. Karena selama kita terus bertumbuh, hidup akan selalu memberi harapan baru.
SOURCE :
Ary Ginanjar Agustian
INSPIRASI PAGI
TUHAN TIDAK PERNAH SALAH HITUNG
Malam ini saya berada di lantai 24 Menara 165. Gedung sudah sunyi, lift tak lagi beroperasi, dan hampir semua lampu sudah dimatikan. Saya adalah orang terakhir yang meninggalkan kantor hari ini. Sebuah hari yang sangat padat, dimulai dari penutupan training Transformational Leadership, berlanjut dengan seminar bersama para pimpinan, lalu serangkaian pertemuan penting yang mengisi waktu tanpa jeda. Padat, melelahkan, tapi juga penuh makna.
Namun bukan itu yang ingin saya sampaikan malam ini. Ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kesibukan — yakni refleksi batin tentang keadilan dan ketepatan perhitungan Tuhan. Dalam perjalanan hidup ini, sering kali kita bertanya-tanya: "Mengapa belum sampai juga hasil dari semua usaha saya?" atau "Mengapa orang lain yang tampaknya tidak terlalu berjuang justru lebih cepat berhasil?"
Untuk menjawab itu, mari kita ingat kembali kisah spiritual yang sudah sangat dikenal — kisah Bukit Shofa dan Marwah. Dalam ajaran Islam, siapa pun yang berlari bolak-balik antara kedua bukit itu meneladani perjuangan Hajar, istri Nabi Ibrahim, yang berlari mencari air bagi putranya yang kehausan di tengah padang pasir. Ia tidak tahu di mana air itu berada, tetapi ia terus berlari dengan keyakinan dan usaha yang tak putus.
Dan air zamzam pun akhirnya keluar. Bukan di tempat ia berlari. Bukan di atas Bukit Shofa, bukan pula di Bukit Marwah. Tapi justru di tempat yang tak disangkanya — di bawah kaki anaknya sendiri.
Apa makna dari kisah ini?
Bahwa usaha yang sungguh-sungguh tidak akan pernah sia-sia. Bahwa Tuhan tidak pernah salah hitung. Walaupun hasilnya tidak datang di tempat kita harapkan, atau pada waktu yang kita inginkan, janji-Nya tetap pasti: "Siapa yang berikhtiar dengan sepenuh hati, akan diberi jalan dan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka."
Mungkin kita sedang berada dalam fase berlari antara Shofa dan Marwah kehidupan. Berusaha siang malam, menguras tenaga, menyusun strategi, menahan kecewa, dan tetap menegakkan kepala. Mungkin kita belum menemukan "zamzam" itu. Tapi percayalah, Tuhan Maha Melihat dan Maha Adil.
Kadang kita berpikir, "Kenapa saya harus berjuang sendiri?" Tapi justru di titik itulah, nilai perjuangan kita diuji. Kita tidak pernah tahu, bisa jadi zamzam kita sedang dipersiapkan. Bisa jadi bukan di tempat kita berlari, tapi justru di tempat yang tak kita sangka.
Jangan berhenti. Teruslah melangkah. Bukan karena kita tahu persis hasilnya akan datang dari mana, tetapi karena kita percaya: Tuhan tidak pernah tertukar dalam menghitung amal dan ikhtiar hamba-Nya. Tak satu pun peluh jatuh sia-sia. Tak satu pun air mata luput dari perhatian-Nya.
Malam ini, saat saya sendiri di ruangan ini, saya tersadar — bahwa semua perjuangan ini sedang dicatat, dan akan dibalas. Mungkin bukan sekarang, mungkin bukan dengan cara yang saya rancang. Tapi pasti dengan cara yang paling tepat menurut Tuhan.
Karena Dia… tidak pernah salah hitung.
Source : Ary Ginanjar Agustian
INSPIRASI PAGI
Ketika Eskalator Kehidupan Sedang Turun
Sebagian besar dari kita pasti pernah naik eskalator. Kita cukup berdiri santai, bahkan kadang sambil melamun, tahu-tahu sudah sampai di atas. Tanpa usaha yang besar, kita terbawa naik oleh sistem yang bekerja secara otomatis.
Namun, tahukah Anda bahwa kehidupan kita pun sering kali seperti itu? Kita menikmati berbagai fasilitas, kemudahan, dan kenyamanan karena kita sedang “naik eskalator”. Dalam kehidupan nyata, eskalator ini bisa berupa negara, perusahaan, komunitas, atau bahkan rumah tangga. Semua sistem yang mendukung kita untuk naik dan berkembang.
Sayangnya, tidak selamanya eskalator kehidupan itu berjalan naik. Kadang, justru ia turun atau bahkan berjalan mundur. Ketika itu terjadi, jika kita hanya berdiri diam, kita tidak akan tetap di tempat—kita justru akan terbawa turun.
Begitu pula dalam situasi ekonomi saat ini. Ekonomi global melambat, dan banyak perusahaan yang mengalami pertumbuhan negatif. Di saat seperti ini, tidak pantas jika kita sebagai bagian dari perusahaan hanya berdiri santai, apalagi melamun atau berpangku tangan. Karena jika kita hanya diam, maka kita ikut terseret ke bawah bersama penurunan itu. Bahkan jika kita hanya berjalan biasa, bisa jadi kita hanya jalan di tempat.
Saat eskalator kehidupan sedang berjalan mundur, saat perusahaan sedang mengalami tantangan berat, inilah waktunya kita mengerahkan energi lebih besar. Bekerjalah lebih keras, lebih cerdas, dan lebih ikhlas. Jangan bekerja seperti biasanya, karena situasinya tidak biasa.
Perusahaan tempat kita bekerja bukan sekadar tempat mencari nafkah. Ia adalah ladang kehidupan yang menopang banyak keluarga. Para ahli mengatakan bahwa lebih dari 90% keberhasilan hidup ditentukan oleh kerja keras dan keringat. Maka jangan pernah merasa cukup hanya dengan “hadir” sebagai karyawan. Malulah jika nama Anda tercantum sebagai bagian dari perusahaan, namun Anda tidak memberikan kontribusi apa pun.
Ingatlah, ketika eskalator sedang turun, kita harus berlari naik. Saat itulah dibutuhkan semangat ekstra, ketekunan, dan dedikasi. Mari bekerja dengan lebih keras, lebih cerdas, dan lebih ikhlas—demi masa depan kita bersama.
Source : Youtube Kubik Leadership
INSPIRASI PAGI
Pisang Den...
"Pisang den...,” tawaran lirih seorang nenek memecah keheningan malam minggu kami di Batu, Malang. Saat itu saya sedang berbincang santai bersama teman-teman fasilitator pelatihan. Suara nenek itu membuat kami menoleh.
Guratan usia jelas tergambar di wajahnya. Saya memperkirakan umurnya sekitar 70-an. Ia mengenakan kebaya rapi, kerudung sederhana, menenteng tas di tangan kiri dan sesisir pisang hijau di tangan kanan. Tatapannya penuh harap saat menawarkan pisang kepada kami. Namun, entah kenapa, saya spontan mengangkat tangan—menolak.
"Mboten, Bu..." jawab saya pelan.
Nenek itu berlalu, lalu menuju ke belakang, ke arah pemilik warung. Langkahnya tertatih-tatih. Tak lama kemudian, saya melihat sang pemilik warung menggeleng. Tawaran ditolak lagi. Ia pun beranjak hendak pergi.
Saat itulah dada saya bergemuruh. Saya baru saja menerima honor mengajar, dan di depan saya berdiri seorang nenek tua yang masih berusaha mencari nafkah. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Menurut tafsir saya, jika seseorang masih menjajakan sesisir pisang di jam segini, besar kemungkinan ia sedang benar-benar membutuhkan uang.
Saya segera memanggilnya kembali.
"Bu... berapa pisangnya?" tanya saya.
Ia menoleh. Wajahnya menyiratkan kelegaan—akhirnya ada yang memanggil. "Pitu setengah," jawabnya lirih.
Saya tak menangkap jelas.
"Berapa, Bu?" ulang saya.
"Tujuh ribu limaratus," katanya.
Sesaat saya terpaku. Di benak saya melintas: untung nenek itu mungkin hanya beberapa ribu rupiah. Apa cukup untuk makan? Di tengah harga BBM dan bahan pokok yang terus naik?
Tanpa pikir panjang, saya ambil pisangnya dan serahkan uang dua puluh ribuan.
"Tidak usah dikembalikan, Bu," ujar saya.
Namun, ia tetap membuka dompet recehnya. Entah karena pendengarannya berkurang, atau memang enggan menerima kelebihan, ia berkata, "Kulo wangsuli nggih?" (saya kembalikan ya?)
"Oooh, mboten sah, Bu... sedoyo mawon," ulang saya dengan pelan.
Ia menatap saya tak percaya. Kemudian senyumnya mengembang, menyiratkan rasa syukur. Ia mulai melafalkan doa dalam bahasa Jawa yang panjang, intinya mendoakan saya agar banyak rezeki.
Saya tertegun. Malam itu, sang nenek mengajari saya arti kerja keras, kesungguhan, dan keberkahan. Ia bukan peminta-minta. Ia tidak memohon belas kasihan. Ia berusaha. Bahkan saat saya memberinya lebih, ia tetap ingin mengembalikan kelebihan uang itu, karena harga pisangnya hanya Rp7.500.
Saya yakin nenek itu tidak tinggal di sekitar warung tersebut. Daerah itu termasuk kawasan perumahan menengah. Artinya, ia berjalan cukup jauh malam-malam hanya untuk menjajakan sesisir pisang. Barang dagangannya tidak banyak, bahkan tidak terlalu menarik dijual malam hari. Tapi ia tetap melangkah. Dengan bekal harapan, ia menjemput rezekinya dari Tuhan.
Setelah nenek itu berlalu dan menghilang dari pandangan, saya mengirimkan pesan singkat kepada sahabat-sahabat saya. Salah satunya membalas, “Nenek itu kaya banget ya, Prass… Lebih kaya dari presiden, pemilik Microsoft, dll.”
Saya cukup lama merenungi kalimat pendek itu. Lalu saya paham—yang dimaksud "kaya" oleh Maya bukan soal materi, melainkan rasa cukup dan harga diri. Ia cukup dengan Rp7.500 dan tetap ingin berlaku jujur dan adil, walau diberi lebih.
Jika saya menilik kisah ini dari kacamata bisnis atau teori pemasaran, jelas tak masuk akal. Tapi dalam kacamata hati, usaha sang nenek telah mempertemukannya dengan takdir rezekinya malam itu. Tuhan tidak memberi karena pisangnya, tetapi karena usahanya.
Ada yang menyanggah, “Ah, kamu terlalu melankolis. Siapa tahu nenek itu iseng saja, atau anak-anaknya sudah cukup membiayai hidupnya.”
Mungkin saja. Tapi saya memilih tafsir yang lebih bermakna: saya mendapat ladang amal, nenek itu mendapat rezeki tambahan, dan kita semua belajar tentang makna usaha, keikhlasan, dan keberkahan rezeki.
Source : Prasetya M Brata | Professional Coach, www.prasetyambrata.com
INSPIRASI PAGI
😌 Jangan Jadi People Pleaser, Jadilah People yang Sukses dan Mulia
Baru-baru ini, banyak beredar kisah di media sosial tentang seseorang yang dulunya dikenal dermawan dan sukses, namun kini hidup dalam kesulitan di rumah kontrakan. Alasannya? Karena selama ini ia terlalu sering membantu saudara-saudaranya — lebih dari 50 orang di kampungnya. Bahkan ketika dirinya kesulitan, ia masih merasa bertanggung jawab untuk terus membantu mereka. Ironisnya, saat ia membutuhkan pertolongan, orang-orang yang pernah dibantu justru tak hadir membantunya.
Fenomena seperti ini dalam dunia psikologi sering disebut dengan istilah people pleaser. Apa itu people pleaser? Sederhananya, ia adalah orang yang terlalu ingin menyenangkan orang lain, bahkan jika harus mengorbankan kebahagiaan, kenyamanan, dan kesejahteraan dirinya sendiri. Orang dengan karakter ini biasanya terlihat positif, ramah, helpful, dan selalu menyetujui pendapat orang lain — namun secara berlebihan. Alih-alih membawa kebahagiaan jangka panjang, sikap ini sering justru menimbulkan stres, kebingungan identitas, kelelahan emosional, bahkan depresi.
---
🧠 Kenali Ciri-Ciri People Pleaser
Agar tidak terjebak dalam pola hidup yang merugikan diri sendiri, penting bagi kita untuk mengenali tanda-tanda people pleaser:
1. Sulit mengatakan “tidak” — Sering menerima permintaan orang lain meskipun sudah kewalahan, dan berakhir dengan over-komitmen.
2. Selalu mencari validasi eksternal — Bahagia hanya jika dipuji atau diakui orang lain.
3. Takut menyampaikan pendapat atau kritik — Demi menghindari konflik, lebih memilih diam dan mengorbankan aspirasi pribadi.
4. Menempatkan kebutuhan orang lain di atas diri sendiri — Melakukan hal yang tidak disukai hanya demi menyenangkan orang lain, bahkan jika merugikan diri sendiri.
5. Merasa bersalah atas perasaan orang lain — Cenderung menyalahkan diri sendiri atas hal-hal yang sebenarnya di luar tanggung jawabnya.
Jika Anda memiliki beberapa atau bahkan seluruh ciri di atas, berhati-hatilah. Karena people pleaser sangat rentan dimanfaatkan oleh lingkungan sekitarnya dan bisa mengalami kelelahan mental yang serius.
---
👥 Dampak People Pleaser di Dunia Kerja
Sikap people pleaser juga bisa muncul di lingkungan kerja. Ketika seorang anggota tim terlalu takut untuk berbeda pendapat atau menolak tugas, maka akan tercipta budaya kerja yang tidak sehat. Tim akan kehilangan kreativitas, inovasi terhambat, dan ruang diskusi menjadi kaku.
Bagi Anda yang menjadi pemimpin, penting untuk peka dan membantu anggota tim agar tidak terjebak dalam pola ini. Pemimpin perlu menciptakan lingkungan yang mendukung batasan sehat — tanpa rasa bersalah ketika seseorang berkata “tidak”.
---
✅ Strategi Menghindari People Pleasing
Berikut beberapa strategi yang bisa diterapkan, baik untuk diri sendiri maupun untuk membantu anggota tim:
1. Temukan makna pribadi dalam pekerjaan
Bantu tim menyadari bahwa nilai diri tidak ditentukan dari seberapa banyak mereka menyenangkan orang lain. Refleksikan tujuan pribadi dan tekankan bahwa keberhargaan diri bisa lahir dari berbagai hal positif.
2. Terapkan batasan sehat (healthy boundaries)
Ajarkan bahwa mengatakan “tidak” itu bukan berarti egois. Kenalkan konsep buffering — beri waktu untuk berpikir sebelum merespons permintaan — dan latih penggunaan time limit, seperti mengatakan: “Saya butuh waktu dulu untuk mempertimbangkan ya.”
3. Bangun kepercayaan diri dan kurangi ketergantungan pada pujian
Apresiasi prestasi individu berdasarkan kontribusi nyata, bukan sekadar karena mereka selalu membantu orang lain. Sediakan pula kesempatan pengembangan diri agar rasa percaya diri makin kuat.
💡 Penutup: Bijaksana dan Bijaksini
Membantu orang lain itu mulia. Tapi kemuliaan tanpa kesadaran diri bisa jadi bumerang. Seperti kata guru saya: Hidup itu harus bijaksana, tapi sebelumnya harus bijaksini. Artinya, kita harus tahu batas kita. Jangan sampai keinginan untuk menolong jauh melebihi tingkat kemampuan dan keberhasilan kita saat ini.
Saya percaya pada konsep Sukses Mulia — yaitu ketika kesuksesan kita digunakan untuk memberi manfaat bagi sesama. Namun, semua itu harus dalam takaran yang sehat dan proporsional. Jangan korbankan diri sendiri hingga kehilangan arah.
Jadi, berhentilah menjadi people pleaser. Mulailah menjadi people yang sukses dan mulia. Dengan begitu, Anda bukan hanya membantu orang lain, tetapi juga menyejahterakan dan membahagiakan diri Anda sendiri.
SOURCE : Youtube Jamil Azzaini
INSPIRASI PAGI
Nasib, Kata-Kata, dan Peran Tuhan: Refleksi dari Sebuah Kisah Pematung
Masih ingat cerita tentang pematung dalam buku PROVOKASI: Menyiasati Pikiran Meraih Keberuntungan yang juga pernah ditayangkan sebagai kapsul inspirasi di Smart FM? Kisah ini menggambarkan seorang pematung yang diminta oleh raja untuk membuat patung seluruh anggota kerajaan—termasuk dirinya sendiri. Semua patung dikerjakannya dengan penuh dedikasi dan kesempurnaan. Namun, ketika ia harus membuat patung dirinya sendiri, ia memilih membuatnya dengan kualitas lebih rendah. Alasannya sederhana: ia mengira patungnya akan ditempatkan di luar istana, terkena hujan, panas, debu, dan akhirnya rusak.
Ironisnya, keputusan si pematung justru menjadi kenyataan. Karena kualitas patung dirinya tidak sepadan dengan patung lain yang dibuatnya dengan sempurna, raja memutuskan menempatkan patung itu di luar istana. Padahal, raja sempat berniat menempatkannya di dalam. Maka, nasib patung itu sebenarnya telah ditentukan sejak awal oleh si pematung sendiri—melalui pikirannya, melalui kata-katanya kepada diri sendiri (self talk).
Kisah ini mengandung pelajaran penting: nasib seseorang bisa ditentukan oleh kata-katanya sendiri. Jika ditelusuri lebih lanjut, kata-kata yang kita gunakan untuk menafsirkan dan memberi arti terhadap apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan akan membentuk pikiran. Pikiran mempengaruhi perasaan (state), lalu melahirkan keputusan. Keputusan mendorong tindakan, dan tindakan akan menentukan hasil, nasib, serta kondisi kehidupan kita.
Hal ini selaras dengan pesan Al-Qur’an dalam Surat Al-Baqarah ayat terakhir, bahwa manusia akan mendapatkan apa yang diusahakannya. Dengan kata lain, kehidupan hari ini adalah hasil dari tindakan kita di masa lalu, dan tindakan itu bersumber dari keputusan, yang berawal dari pikiran dan perasaan—yang semua itu bermula dari kata-kata.
Jika demikian, kata-kata kita hari ini sangat mungkin menentukan nasib kita di masa depan. Bukan masa lalu yang menentukan, kecuali jika kita terus membawa narasi masa lalu itu ke masa kini dan menjadikannya dasar membentuk masa depan.
Namun, dalam perenungan ini sering muncul pertanyaan klasik: Kalau nasib ditentukan oleh tindakan dan kata-kata manusia sendiri, lalu di mana peran Tuhan?
Pertanyaan ini mengarahkan kita pada pembeda penting antara nasib dan takdir. Banyak orang sepakat bahwa takdir adalah sesuatu yang tidak bisa diubah oleh manusia, sedangkan nasib masih bisa diubah. Misalnya, suku bangsa atau kondisi saat lahir adalah takdir—tidak bisa dipilih. Saya dan Mas Prie GS terlahir sebagai orang Jawa, Pak Fachry CEO Smart FM berdarah Arab, dan Pak FX Haditjokrosusilo keturunan Cina—itu semua adalah takdir. Namun, pilihan makanan harian, profesi, gaya hidup, dan keadaan ekonomi adalah bagian dari nasib. Lahir miskin adalah takdir, tetapi mati miskin adalah nasib.
Lebih jauh, bahkan umur pun bisa dipengaruhi. Bahwa setiap manusia pasti mati—itu takdir. Namun, usia meninggal bisa berperilaku seperti nasib. Jika suatu daerah memiliki tingkat kematian tinggi, lalu dilakukan program kesehatan, keselamatan, dan kebersihan lingkungan, tingkat kematian bisa menurun. Ini menunjukkan bahwa manusia bisa ikut campur dalam hal yang selama ini dianggap bagian dari takdir.
Dalam perspektif tasawuf, seorang guru dari UIN Syarif Hidayatullah menyampaikan bahwa kontrak usia dapat diperpanjang dengan tiga hal: hidup sehat, banyak amal baik, dan menjalin silaturahmi. Contoh sederhana, jika Anda tak punya uang untuk makan lalu bertemu tetangga yang baik, silaturahmi bisa menyelamatkan hidup Anda. Sebaliknya, silaturahmi yang buruk bisa membuat kematian tak diketahui hingga tubuh membusuk.
Sebaliknya, mempersingkat umur pun bisa dilakukan. Misalnya, seseorang yang sengaja berbaring di rel kereta api aktif—itu jelas mempercepat ajalnya. Maka, intervensi manusia pada hidup dan mati bukanlah sesuatu yang mustahil.
Kembali ke peran Tuhan dalam pembentukan nasib. Apakah karena nasib ditentukan oleh manusia, lalu Tuhan tidak berperan? Tentu tidak. Bahkan dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan: “Aku tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaannya sendiri.” Ini adalah bentuk delegasi dari Tuhan kepada manusia untuk mengupayakan perubahan.
Tuhan akan mengubah keadaan kita jika kita lebih dulu mengupayakannya. Artinya, Tuhan menetapkan sistem dan aturan, tapi manusia yang menjadi agen perubahannya. Maka dalam konteks tertentu, ungkapan “Manusia berusaha, Tuhan menentukan” mungkin perlu dilengkapi menjadi: “Tuhan merencanakan, manusia menentukan.”
Apakah ini berarti manusia lebih tinggi dari Tuhan? Tidak. Justru inilah bentuk sistem yang telah Allah tetapkan dalam semesta. Dalam Surat Ar-Rahman ayat 7, Allah berfirman: “Dan langit telah Dia tinggikan dan Dia ciptakan neraca (keadilan).” Tuhan telah menetapkan sistem sebab-akibat yang adil. Salah satu sistem itu adalah sedekah: jika ingin hartanya bersih, sedekahkan 2,5%. Jika ingin tumbuh, berikan lebih. Jika ingin lebih cepat tumbuh, tambah lagi persentasenya.
Jadi, jika harta kita tiba-tiba lenyap padahal kita tidak pernah bersedekah atau abai terhadap sistem Tuhan, jangan buru-buru menyalahkan-Nya. Jangan pula berlindung di balik narasi “Tuhan sedang menguji saya.” Bisa jadi, itu bukan ujian Tuhan, melainkan buah dari keputusan dan tindakan kita sendiri.
---
Jika ingin nasib berubah, ubahlah kata-katamu. Kata-kata membentuk pikiran, pikiran membentuk keputusan, keputusan membentuk tindakan, dan tindakan membentuk hidupmu.
Sumber :
Prasetya M. Brata | Professional Coach
www.prasetyambrata.com
INSPIRASI PAGI
RISE ABOVE THE CROWD: CHAPTER 9 - [Langkah Ketiga: Ciptakan Mahakaryamu]
Hai, di langkah kedua kita telah belajar bagaimana menulis ulang aturan main dan merumuskan strategi perang yang tidak konvensional—sebuah pendekatan ala Daud yang mampu mengalahkan Goliat. Keren, ya? Tapi tunggu dulu. Perjuangan belum usai. Kenyataannya, tidak ada jaminan bahwa Anda akan otomatis memenangkan persaingan hanya karena strategi Anda berbeda.
Untuk memperbesar peluang keberhasilan, kini saatnya melangkah ke tahap ketiga: Ciptakan Mahakarya Anda.
Apa maksudnya menciptakan mahakarya?
Mari kita lihat kisah Steve Jobs saat memperkenalkan iPad pada 27 Januari 2010. Di panggung, ia berdiri di antara dua gambar besar: iPhone dan MacBook. Ia bertanya, “Adakah ruang untuk kategori ketiga?”—sebuah perangkat yang lebih canggih dari smartphone dan lebih intim dari laptop. Maka lahirlah iPad.
Namun, berbeda dari peluncuran iPhone yang disambut meriah, iPad justru diragukan. Pasar skeptis. Bahkan, sejarah mencatat banyak kegagalan dari upaya sebelumnya memasarkan tablet—termasuk oleh Microsoft. Namun Jobs percaya, dan Apple berhasil. iPad bukan hanya mengisi celah kebutuhan pasar, tetapi mengubah pasar itu sendiri.
Pelajaran pentingnya: menemukan celah di pasar saja tidak cukup. Anda harus mampu mengeksekusinya dengan sebuah mahakarya—produk, layanan, atau aksi yang luar biasa dan bernilai tinggi.
Sebagai karyawan, mungkin Anda sudah melihat peluang untuk naik jabatan. Sebagai profesional, mungkin Anda punya produk yang tampaknya bisa memenuhi kebutuhan pasar yang belum tersentuh. Tapi jika eksekusinya biasa-biasa saja, upaya Anda bisa saja diabaikan—seperti Microsoft dengan tablet PC-nya.
Celah yang Anda temukan tidak akan menghasilkan apa-apa tanpa eksekusi luar biasa. Anda harus menciptakan masterpiece—sebuah inovasi atau prestasi yang membuat orang berkata, “Wow!”
Contohnya? Pasukan Sultan Al-Fatih yang memindahkan 70 kapal perang ke atas bukit. Atau kemahiran Daud melontarkan batu. Atau iPad—sebuah lompatan yang mendefinisikan ulang kategori. Semua itu adalah mahakarya.
Masterpiece bukan hanya produk fisik. Ia bisa berupa pelayanan yang luar biasa, strategi bisnis yang revolusioner, atau sistem kerja yang membuat produktivitas melonjak. Dalam bisnis, Uber adalah contoh masterpiece model bisnis. Dalam layanan, Zappos adalah masterpiece dalam pelayanan pelanggan. Dalam strategi perang, kisah Al-Fatih adalah contoh nyata.
Jadi, kalau Anda seorang karyawan, masterpiece Anda bisa berupa pencapaian target luar biasa, menciptakan sistem efisien, atau memenangkan klien strategis. Masterpiece ini akan mendorong nilai diri Anda naik melampaui rata-rata dan membuat Anda pantas untuk naik kelas.
Namun ingat: masterpiece tidak sama dengan perbaikan kecil (inkremental innovation). Itu cocok untuk pemain besar. Tapi jika Anda adalah pemain baru atau sedang mengejar peluang, Anda butuh disruptive innovation—sesuatu yang bukan hanya memperbaiki, tapi benar-benar mengguncang dan mengubah aturan main.
iPad adalah contoh masterpiece yang disruptif. Ia mengubah industri komputer pribadi. iPod dan iTunes mengubah industri musik. Uber mengguncang industri transportasi. Facebook? Meski ide awalnya berasal dari orang lain, Mark Zuckerberg-lah yang menciptakan mahakarya yang memenangkan hati pasar.
Kesimpulannya? Langkah kedua (menemukan celah pasar dan menulis ulang aturan main) hanya akan efektif jika Anda melengkapinya dengan langkah ketiga: menciptakan masterpiece Anda sendiri. Mahakarya ini harus luar biasa, bernilai tinggi, dan membawa kejutan positif yang mengguncang pasar.
Sebelum lanjut ke langkah berikutnya, yuk mulai identifikasi dulu:
👉 Apa celah yang ingin Anda ambil?
👉 Apa bentuk masterpiece yang siap Anda ciptakan?
Jawaban atas dua pertanyaan ini akan menjadi titik awal pendakian Anda untuk benar-benar rise above the crowd.
Source : Youtube Indrawan Nugroho - Rise Above The Crowd
INSPIRASI PAGI
Penghasilan Yang Merusak
Menerima penghasilan rutin dan besar itu membahagiakan. Namun, tahukah Anda bahwa dibalik penghasilan yang kita terima ada bahaya yang mengancam? Lho, koq bisa? Bagaimana itu?
Sesungguhnya, penghasilan itu pada hakekatnya adalah upah yang kita terima karena kita mengerjakan sesuatu. Apabila tanpa mengerjakan sesuatu kita menerima uang maka boleh jadi itu adalah uang korupsi, suap, sedekah atau hadiah tergantung akad, situasi dan kondisi yang mengikutinya.
Apabila kuantitas dan kualitas pekerjaan kita senilai 10 juta dan kita dibayar 10 juta maka itu impas. Uang kita sah, bersih dan pas. Apabila kuantitas dan kualitas pekerjaan kita senilai 10 juta dan kita dibayar senilai 8 juta, maka yang 2 juta adalah tabungan kebaikan bagi kita. Sebaliknya, apabila kuantitas dan kualitas pekerjaan kita senilai 8 juta dan kita dibayar 10 juta, maka yang 2 juta adalah tabungan keburukan bagi kita.
Tabungan kebaikan akan berbuah banyak kebaikan. Sementara tabungan keburukan akan mengundang berbagai keburukan datang menghampiri kita. Nah, bagi Anda yang selama ini sering mendapatkan penghasilan yang selisihnya jauh lebih tinggi dari kuantitas dan kualitas pekerjaan Anda, waspadalah. Mengapa?
Karena itu tabungan keburukan, sehingga apabila penghasilan itu Anda bawa pulang ke rumah dan Anda berikan kepada keluarga Anda, itu berpotensi merusak mereka. Keburukan mengundang keburukan. Bentuk kerusakannya sangat bervariasi, dari tidak nyamannya tinggal di rumah, keluarga yang tidak harmonis hingga anggota keluarga terlibat tindak kejahatan yang merusak dirinya dan orang-orang di sekitarnya hingga rusaknya bahtera rumah tangga.
Atau boleh jadi, rumah tangga tetap harmonis namun kita akan mendapat banyak kerusakan, malapetaka, musibah di luar rumah. Ngeri bukan?
Mari kita berusaha sekuat tenaga agar kualitas dan kuantitas pekerjaan kita jauh melebihi dari penghasilan yang kita terima. Percayalah, berbagai kebaikan akan datang kepada kita tanpa kita duga sebelumnya.
SOURCE : www.jamilazzaini.com