Sejarah tertua terkait hypnosis berasal dari Ebrers Papyrus yang mengemukakan teori dan praktek pengobatan untuk bangsa mesir kuno pada tahun 1552 SM. Ebers Papyrus menjelaskan sebuah kuil yang dinamai “Kuil Tidur” digunakan sebagai pendeta untuk mengobati pasien dengan cara meletakkan tangan di kepala pasien sambil mengucapkan sugesti untuk menyembuhkan. Dalam hal ini pendeta penyembuh dapat dipercaya memiliki kekuatan magis oleh masyarakat.
Pada abad 18 munculnya Hypnosis Modern yang dipertimbangkan dari kaidah - kaidah oleh Franz Anto Mesmer (173 - 1815) dalam kegiatan magnetisme dalam abad ke-18 yang digunakan untuk penyembuhan manusia. Namun, pada saat itu terdapat kerancuan pada pemanfaat kondisi “tidur” yang berhubungan dengan praktek penyembuhan seperti apa saja yang dilakukan dalam kondisi tersebut. Charcot mempelajari lebih dalam terkait fenomena hipnosis yang berdasarkan pada neurologis dan fisiologis. Oleh karena itu, ahli medis beranggapan bahwa situasi yang timbul sebagai kegiatan histeria terjadi karena gangguan fisik atau somatis. Pemahaman tersebut kemudian diperbaharui oleh Pierre Janet (1859-1947) dan Sigmund Freud (1856-1939) sebagai kajian psikologis yang tidak berkaitan dengan fisiologis.
Pada abad 20 Milton H. Erickson (1901 - 1980) mengembangkan hipnosis dalam dunia terapi. Erikson menggunakan hipnosis untuk digunakan saat menerapi seseorang yang memiliki masalah terkait psikis. Banyak korban psikis selama perang kedua yang disembuhkan oleh Erickson. Dalam membantu korban Erickson menggunakan metode yang disebut sebagai Ericksonian Hypnotherapy.
Dalam hal ini hipnosis menjadi sebuah alternatif sebagai pengobatan untuk mengurangi rasa sakit, mengobati gangguan kecemasan (neurosis), dan pengalaman yang traumati. Sehingga kegiatan hipnosis sudah menjadi sebuah alternatif dalam
Franz Anton Mesmer
(1735-1815)
Franz Anton Mesmer lahir pada 23 Mei 1734 di Iznang, Austria. Ia meraih gelar doktor pada tahun 1766 dengan disertasi De Planetarum Influx yang membahas pengaruh planet terhadap tubuh manusia. Mesmer meyakini adanya cairan universal dalam tubuh yang menjaga keseimbangan fisik dan mental. Jika aliran cairan ini tersumbat, maka timbul penyakit. Untuk mengatasinya, ia menggunakan magnet dalam metode yang dikenal sebagai Animal Magnetism. Dalam terapinya, Mesmer menggunakan bak berisi air dan besi magnet yang disentuh oleh pasien, dan bila pasien lebih dari satu, mereka dihubungkan dengan kabel agar energi magnetis bisa mengalir.
Marquis de Puysegur
(1751 – 1825)
Puysegur, seorang mantan perwira militer Prancis, menjadi tokoh penting dalam pengembangan mesmerisme. Ia menekankan pentingnya eksperimen ilmiah untuk memperluas pemahaman tentang metode ini. Puysegur juga memperkenalkan berbagai konsep baru, seperti tidur buatan (somnambulisme artifisial), gerakan otomatis, katalepsi, hilangnya rasa sakit (anestesia), amnesia, variasi tingkat sugestibilitas individu, serta halusinasi positif dan negatif.
John Elliotson
(1791 -1868)
John Elliotson adalah seorang profesor di University Hospital, London, yang mengenal hipnosis melalui Richard Chenevix dan mempelajarinya lebih dalam dari Baron de Potet. Ia mulai bereksperimen dengan hipnosis pada tahun 1837 dan menemukan bahwa pasien dapat menjalani operasi tanpa rasa sakit. Elliotson sering menggunakan hipnosis dalam prosedur medis kapan pun memungkinkan.
Namun, pandangannya ditentang oleh banyak dokter senior yang saat itu masih percaya bahwa rasa sakit adalah bagian penting dari proses penyembuhan. Akibatnya, reputasinya didiskreditkan. Meski begitu, ia tetap berjuang menyebarkan pengetahuan tentang magnetisme medis, khususnya kepada dokter-dokter muda yang lebih terbuka pikirannya.
Serangan dari kalangan medis terus meningkat hingga akhirnya Elliotson memilih keluar dari rumah sakit dan universitas, dan tidak pernah kembali. Ia mendedikasikan 30 tahun hidupnya untuk memperjuangkan penerimaan resmi magnetisme dalam dunia kedokteran, serta menerbitkan jurnal berjudul Zoist, yang kemudian menginspirasi tokoh lain seperti James Esdaile.
James Esdaile
(1808 - 1859)
James Esdaile adalah seorang dokter asal Skotlandia yang bekerja di rumah sakit di Calcutta, India. Ia dikenal karena keberhasilannya menggunakan mesmerisme sebagai penghilang rasa sakit dalam pembedahan. Esdaile tercatat telah melakukan ribuan operasi kecil dan sekitar 300 operasi besar tanpa pasien merasakan nyeri, sebuah pencapaian penting pada masa sebelum ditemukannya obat bius.
Pada masa itu, operasi biasanya dilakukan dengan cepat dan disertai teriakan pasien karena tidak ada anestesi. Meski begitu, metode Esdaile—seperti halnya praktik mesmerisme sejak era Mesmer hingga pertengahan abad ke-19—sering ditolak oleh kalangan medis karena dianggap tidak ilmiah dan bernuansa mistis.
Namun, pada tahun 1846, penemuan nitrous oxide dan ether sebagai anestesi kimia membuat dunia medis beralih dan meninggalkan mesmerisme. Praktik Esdaile dan Elliotson kemudian dinilai menyimpang dari standar medis resmi pada waktu itu.
James Braid
(1795 - 1860)
James Braid adalah seorang dokter bedah dan penulis terkenal di Inggris yang sangat dihormati oleh British Medical Association. Ia dikenal sebagai orang pertama yang menjelaskan fenomena mesmerisme dari sudut pandang ilmiah dan psikologis. Pada tahun 1841, Braid melakukan pemeriksaan medis terhadap subjek dalam kondisi trance, lalu melanjutkannya dengan berbagai eksperimen bersama rekan-rekannya.
Dari penelitiannya, Braid menemukan bahwa fiksasi mata (eye fixation) dapat menyebabkan kelelahan yang memicu kondisi trance. Ia bereksperimen dengan meminta subjek menatap berbagai objek, termasuk api lilin, dan berhasil menginduksi hipnosis. Temuannya menjadikan hipnosis diterima oleh dunia kedokteran Inggris sebagai metode pengobatan. Braid juga dikenal sebagai Bapak Hipnosis, karena ia yang mengganti istilah mesmerisme menjadi hypnosis atau hypnotism, serta meletakkan dasar ilmiah dalam praktik ini.
Ambroise Auguste Liebeault
(1823 – 1904)
Liébeault adalah seorang dokter Prancis yang dikenal karena dedikasinya mengobati rakyat miskin tanpa meminta bayaran. Ia meyakini bahwa hipnosis dapat dicapai melalui sugesti verbal atau ucapan yang diarahkan kepada klien. Menurutnya, keberhasilan hipnoterapi sangat bergantung pada tingkat sugestibilitas dan kemampuan imajinasi individu.
Jean Martin Charcot
(1825 – 1893)
Jean-Martin Charcot, seorang ahli neurologi ternama di Prancis, melakukan eksperimen hipnosis meski tanpa pemahaman yang mendalam. Ia menyimpulkan bahwa hipnosis adalah kondisi abnormal yang dapat melemahkan pikiran seseorang. Pandangan ini berdampak negatif terhadap perkembangan ilmu hipnosis, menyebabkan minat terhadap bidang ini menurun drastis. Namun, pendapat Charcot kemudian ditentang oleh Nancy School of Hypnosis, yang memiliki pandangan berbeda dan lebih positif terhadap hipnosis.
Milton Hyland Erickson
(1901-1980)
Milton H. Erickson dianggap sebagai hipnoterapis dan psikoterapis paling inovatif dalam sejarah hipnosis, setara dengan Freud dalam memahami perilaku manusia. Meskipun menghadapi berbagai keterbatasan fisik—seperti buta warna, gangguan pendengaran, disleksia, dan dua kali terserang polio—Erickson tetap aktif dan berpengaruh besar di dunia terapi.
Berbeda dari pendahulunya, Erickson menekankan bahwa proses hipnosis sangat bergantung pada pikiran klien, bukan kekuatan dari terapis. Ia menyatakan bahwa hipnosis adalah kondisi alami dan tidak bisa digunakan untuk memaksa seseorang bertindak melawan keyakinannya.
Erickson merevolusi cara pemberian sugesti dengan pendekatan tidak langsung (indirect), seperti menggunakan cerita dan metafora, serta mengembangkan teknik interaktif atau ideodinamik dalam terapi. Selama 60 tahun praktiknya, ia menghipnosis rata-rata 14 orang setiap hari, dan berkat pendekatannya, tingkat keberhasilan hipnosis dalam masyarakat meningkat pesat.
Dikenal juga karena humornya, Erickson bahkan bisa menghipnotis hanya lewat isyarat nonverbal, seperti berjabat tangan—hingga banyak orang terdekatnya enggan bersalaman. Atas kontribusinya, hipnosis diakui secara resmi sebagai metode terapi oleh Asosiasi Medis dan Psikiatris Amerika sejak tahun 1958.
Dave Elman
(1900-1967)
Dave Elman dikenal sebagai tokoh penting dalam pengembangan teknik hipnosis cepat, yang sangat bermanfaat bagi kalangan medis, terutama dokter dan dokter gigi. Kariernya dalam dunia hipnosis melejit setelah pertunjukannya menarik perhatian banyak dokter. Sejak itu, Elman menjadi pengajar hipnosis bagi para profesional medis dan berperan besar dalam menyebarluaskan penggunaannya di dunia kedokteran.
Ormond McGill (1913-2005)
Ormond McGill adalah seorang spesialis hipnosis panggung (stage hypnotist) yang dikenal luas dengan julukan The Dean of American Hypnotists. Ia menulis buku The New Encyclopedia of Stage Hypnotism, yang dianggap sebagai panduan utama bagi siapa pun yang ingin mempelajari dan mendalami hipnosis, khususnya di bidang pertunjukan.
Sigmund Freud
(1856-1939)
Sigmund Freud, seorang neurolog dari Wina, dikenal karena jasanya dalam menyusun teori sistematis tentang pikiran sadar, bawah sadar, dan menciptakan metode psikoanalisis. Namun, dalam bidang hipnosis, Freud justru dianggap menghambat perkembangannya. Meskipun pernah belajar hipnosis selama 19 minggu dari Charcot, Freud sering gagal karena kurang mampu membangun hubungan (rapport) dengan klien.
Akibat kegagalannya, Freud menyatakan bahwa hipnosis hanya efektif untuk pasien gangguan mental dan memiliki efek samping berbahaya pandangan yang mirip dengan Charcot. Pernyataan negatifnya ini membuat banyak pakar enggan mempelajari hipnosis. Meski begitu, Freud sebenarnya tetap mengikuti perkembangan hipnosis secara diam-diam.