eL Hotel Kartika Wijaya merupakan salah satu bangunan hotel peninggalan masa pemerintahan kolonial Hindia-Belanda yang ada di Kota Batu, tepatnya di Jl. Panglima Sudirman No. 127, Pesanggrahan, Kec. Batu, Kota Batu. Pada awalnya, bangunan ini tidak difungsikan sebagai hotel, melainkan sebagai villa resort milik keluarga Belanda yakni, Keluarga Sarkies. Bangunan ini pertama kali didirikan pada tahun 1887 dan berfungsi sebagai villa resort. Villa ini memiliki gaya bangunan Indische Empire yang dibangun oleh Martyrose Ter Martin Sarkies.
Kemudian, Lucas Martin Sarkies menjadi penghuni tetapnya hingga tahun 1930-an. Namun setelah itu Jambe Dawe berubah kepemilikan kepada Tuan Tjoa Tjwan Gie sebagai pemilik barunya. Tuan Liem menjadikan Jambe Dawe sebagai pabrik tekstil miliknya, sehingga ruangan-ruangan di Jambe Dawe digunakan sebagai ruangan pabrik.
Kemudian pada saat Jepang memasuki seluruh wilayah Indonesia pada tahun 1942, Tuan Liem meninggalkan Jambe Dawe. Sebagai dampak dari adanya Pendudukan Jepang, Jambe Dawe kemudian dialihfungsikan sebagai camp internering. Lalu pada masa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Jambe Dawe diambil alih oleh para pejuang, kemudian para tahanan yang terdiri dari orang-orang Belanda dibebaskan. Kemudian, Jambe Dawe digunakan sebagai dapur umum dan tempat penyimpanan senjata. Lalu Jambe Dawe ditempati oleh Mayor Abdul Manan beserta keluarganya, selain digunakan sebagai tempat tinggal Jambe Dawe juga menjadi markas para pejuang (Prana, 1995) dalam (Cahyono, 2011). Dengan demikian, Jambe Dawe mengalami alih fungsi bangunan kurang lebih sebanyak 7 kali, dimulai pada masa kolonial hingga saat ini menjadi Hotel Kartika Wijaya yang dikelola oleh PT. Kharisma Kartika Indah Malang.
Hotel Jambe Dawe menggunakan arsitektur atau gaya bangunan Indische Empire. Hotel Jambe Dawe saat itu dibangun dengan fungsi sebagai landhuis atau rumah peristirahatan dengan taman yang luas. Hotel Jambe Dawe dibangun pada tahun 1887 dengan gaya Indische Empire Style. Dimana menurut Hadinoto (1996) dalam Cahyono (2011) pada tahun tersebut gaya arsitektur tersebut sering digunakan kala itu pada tanah jajahan Belanda dalam kurun tahun 1850 hingga 1900. Gaya arsitektur Indische Empire Style diperkenalkan oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels seorang warga Belanda. Ciri-ciri dari gaya bangunan Indische Empire adalah memiliki denah simetri penuh yang biasanya digunakan pada bangunan kantor pemerintahan maupun rumah tempat tinggal (Handinoto, 2008). Bangunan yang memiliki gaya arsitektur Indische Empire bergantung pada kondisi lingkungan, iklim dan material yang tersedia di wilayahnya. Namun, dari segi dan gaya bangunan tetap bernuansa kolonial.
Bentuk Jendela Hotel Kartika Wijaya
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Bentuk Pintu Hotel Kartika Wijaya
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Kondisi Hotel Kartika Wijaya saat ini memiliki beberapa perubahan yang dapat dilihat pada beberapa bagian. Pada bagian depan terdapat penambahan pilar di depan bangunan dan pepohonan di sepanjang jalan menuju lobi. Perbedaan antara Jambe Dawe pada saat masa kolonial Hindia-Belanda dengan Hotel Kartika Wijaya saat ini dapat dilihat pada gambar dibawah ini,
Bagian Depan Hotel Kartika Wijaya yang Terdiri dari Pepohonan
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Kondisi Hotel Kartika Wijaya saat ini
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Potret Jambe Dawe pada Masa Kolonial Hindia-Belanda
Sumber: Koleksi Hotel Kartika Wijaya, oleh Diva Dimas Fitrotul Putri
Kotak Surat yang ada di depan Hotel Kartika Wijaya
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Bagian Lobi Hotel Kartika yang Dihiasi dengan Peta Jawa
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Pada bagian tengah Hotel Kartika Wijaya saat ini berubah menjadi lobi hotel yang dihiasi dengan Peta Jawa. Peta tersebut sudah ada sejak bangunan pertama kali didirikan.
Di belakang lobi terdapat restoran dengan hiasan lampu jaman dulu dan di sebelah timur terdapat kamar-kamar wisatawan yang hendak menginap. Kamar tersebut dulunya digunakan sebagai pabrik tenun pada masa kepemilikan Liem. Namun sejak Hotel Jambe Dawe beralih kepemilikan pada PT. Kharisma Kartika Indah Malang, bekas bangunan pabrik milik Liem tadi sudah tidak ada.
Pada bagian belakang, Hotel Kartika Wijaya saat ini digunakan sebagai tempat hiburan yang ditujukan kepada para pengunjung hotel,seperti kolam renang, tempat billiard, hall dan tempat bermain anak-anak atau playground. Sedangkan, pada masa kolonial Hindia-Belanda, lahan tersebut digunakan sebagai taman dan lahan pertanian yang dibatasi oleh pagar hitam.