Badhotel Songgoriti merupakan salah satu hotel peninggalan dari pemerintah kolonial Hindia-Belanda yang terletak di Jl. Raya Songgoriti No. 31, Songgokerto, Kec. Batu, Kota Batu. Badhotel Songgoriti dibangun pada awal abad ke-20 dan berdiri pada tahun 1911. Hal tersebut termuat dalam Schaik (1996) “Reeds in 1911 gevestigde Badhotel Songgoriti, westelijk van Batoe aan de weg naar Poedjon”. Badhotel Songgoriti sedikit berbeda dengan hotel kolonial lainnya yang ada di Batu karena hotel ini menggunakan air panas di dalamnya sebagai terapi mandi maupun spa. Namun, konsep tersebut sebenarnya sudah ada sejak zaman Mpu Sindok yaitu sekitar abad ke-10. Menurut Cahyono (2011) bahwa salah satu dasar dibangunnya Candi Songgoriti adalah adanya sumber air panas yang mengalir di dekatnya.
Mulai tahun 1911 orang-orang Belanda sering mengunjungi Badhotel Songgoriti untuk bermalam maupun mandi air panas atau spa air panas yang mengandung mineral dan belerang. Sehingga, hotel ini sangat terkenal di kalangan warga Belanda dan Eropa. Dalam buku Malang Tempo Doloe (2015) terdapat brosur-brosur mengenai hotel zaman kolonial di Malang dan salah satunya adalah brosur Badhotel Songgoriti. Dalam brosur tersebut tertulis “Warrm en koudwater in alle kamers” yang berarti setiap kamar sudah memiliki air hangat.
Selain digunakan sebagai tempat penginapan hingga spa, Badhotel Songgoriti juga pernah difungsikan sebagai rumah sakit. Hal tersebut terbukti dalam dokumentasi dengan keterangan “Het hoofdkantoor van de pestbestrijding te Songgoriti ten noordwesten van Malang 1920” yang berarti “Markas pengendalian wabah Pes di Songgoriti, Barat Laut Malang, 1920”.
Ruang Isolasi Wabah Pes di Songgoriti
Sumber: KITLV
Gambar diatas merupakan salah satu bukti bahwa Badhotel Songgoriti pernah digunakan sebagai tempat isolasi dalam pengendalian wabah Pes. Dalam dokumentasi di atas memiliki keterangan, sebagai berikut "Isolatieruimte van de pestbestrijding te Songgoriti ten noordwesten van Malang", yang berati "Ruang isolasi pengendalian wabah Pes di Songgoriti Barat Laut".
Namun, pada sekitar tahun 1931 hotel maupun rumah sakit sudah tidak difungsikan lagi. Hal tersebut termuat dalam ensiklopedia milik Belanda “Sinds August 1931 worden de belangen vet het hotel pension bedrijf alsmede van den land bouw en van de veeteelt van Batoe en omgeving behartigd door de actieve vereeneging” yang berarti “Sejak Agustus 1931, kepentingan perusahaan, perhotelan dan pensiun serta pertanian dan peternakan di Batu dan sekitarnya diwakili oleh asosiasi yang aktif” (Paulus, dkk, 1917:1442).
Gaya arsitektur yang digunakan pada Badhotel Songgoriti adalah gaya arsitektur peralihan, karena pada sekitar tahun 1902 hingga 1920 kaum liberalis Belanda mendesak agar Politik Etis segera diterapkan di negara jajahan. Oleh karena itu, pemukiman milik orang Belanda mengalami perkembangan yang pesat. Menurut Handinoto (2008) masa tersebut tergolong singkat, sehingga dinamakan gaya arsitektur peralihan. Ciri-ciri dari arsitektur peralihan adalah denah masih sama seperti sebelumnya, namun menghilangkan gaya Yunani yang ada sebelumnya, bentuk atap pelana dan perisai yang memiliki penutup genting masih digunakan dan masih ada gaya tambahan yang berfungsi sebagai ventilasi (Purnomo, 2017).
Badhotel Songgoriti Tampak Depan
Sumber: KITLV
Kondisi bangunan Badhotel Songgoriti saat ini sudah berubah bahkan tak tersisa. Bahkan saat ini Badhotel Songgoriti sudah berganti menjadi Songgoriti Hot Spring, walaupun masih mengusung konsep yang sama namun bangunan hingga arsitektur sudah berbeda. Selain itu, bangunan-bangunan zaman kolonial yang ada di sekitar Songgoriti juga sudah tidak ada dan berganti dengan bangunan baru.
Kondisi Hotel Songgoriti atau saat ini bernama Songgoriti Hot Spring
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Kondisi Hotel Songgoriti pada Renovasi yang Pertama
Sumber: www. momentum.com