PENGARUH AKTIVITAS MANUSIA SEBAGAI PEMBURU TERHADAP POPULASI BADAK BERCULA SATU
(The influence of human activities as hunters on the Javan Rhino population)
Zahra Salsabilla, Ghania Althafunnisa, Alifah Dwiharya, Annisa Luthfiyanah
Abstrak
Indonesia merupakan negara kepulauan yang beriklim tropis. Posisi geografis Indonesia membuat adanya beragam jenis flora (tumbuhan) dan satwa liar. Serangga, unggas, ikan, dan mamalia yang memiliki bentuk dan kehidupan yang berbeda-beda. Manusia memiliki kedekatan yang erat dengan lingkungan, dan alam. Namun, dapat dipastikan bahwa kejadian di Indonesia menjadi semakin menyedihkan. Pencemaran lingkungan, penebangan hutan, dan perburuan liar, semuanya berkontribusi terhadap kepunahan beberapa fauna (hewan). Badak adalah salah satu jenis hewan yang menjadi sasaran para pemburu liar. Perburuan liar merupakan salah satu bentuk kejahatan terbesar bagi satwa liar, merupakan salah satu ancaman terbesar bagi banyak hewan di seluruh dunia. Perburuan liar adalah perburuan atau penangkapan hewan secara illegal yang bukan milik sendiri. Dalam banyak kasus, perburuan liar melibatkan pembunuhan hewan dengan maksud memperoleh daging, tanduk, sisik, atau bagian tubuh lainnya. Kata-kata kunci: Perburuan liar, satwa liar
Abstract
Indonesia is an archipelagic country with a tropical climate. Indonesia's geographical position means there are various types of flora (plants) and wild animals. Insects, birds, fish and mammals have different forms and lives. Humans have a close relationship with the environment and nature. However, it is certain that events in Indonesia are becoming increasingly sad. Environmental pollution, deforestation, and illegal hunting have all contributed to the extinction of some fauna (animals). Rhinos are one type of animal that is targeted by poachers. Poaching is one of the biggest forms of crime for wildlife, posing one of the biggest threats to many animals throughout the world. Illegal hunting is the illegal hunting or catching of animals that are not one's own. In many cases, poaching involves killing animals with the intent of obtaining meat, horns, scales, or other body parts. Key words: Poaching, wildlife
I. PENDAHULUAN
Badak Bercula Satu (Rhinoceros sondaicus) adalah anggota terancam kritis dari genus Rhinoceros, dari keluarga badak, Rhinocerotidae, dan salah satu dari lima spesies badak yang masih ada di kawasan Asia Selatan dan Afrika.. Badak bercula satu adalah salah satu spesies badak terkecil, bersama dengan badak Sumatra, atau badak “berbulu”. Mereka secara superficial mirip dengan badak India, karena memiliki lipatan kulit pelindung yang menyerupai pelindung “berlapis baja”, tetapi sedikit lebih kecil, dengan panjang rata-rata 31-32 m (102-105 ft) dan tinggi 14-17 m (46-56 ft). Spesimen terberat memiliki bobot sekitar 2.300 kg/2,3 ton (2,54 ton pendek), mirip dengan badak hitam. Namun, berbeda dengan cula panjang dan berpotensi mematikan dari badak hitam atau badak putih di Afrika, cula tunggal spesies jawa (hanya ada pada jantan) biasanya lebih pendek dari 25 cm (9,8 in).
Badak bercula satu menyebar hingga melampaui pulau Jawa dan Sumatra ke daratan Asia Tenggara dan Indochina, barat laut hingga India Timur, Bhutan, dan selatan Tiongkok. Saat ini, Badak Jawa adalah yang paling langka dari semua spesies badak, dan salah satu spesies hewan hidup yang paling langka, dengan hanya satu populasi liar yang diketahui saat ini. Badak Jawa termasuk diantara mamalia besar paling langka di planet bumi, dengan populasi sekitar 74 badak di Taman Nasional Ujung Kulon, di ujung paling barat Jawa, Indonesia.
Penurunan populasi Badak bercula satu terutama disebabkan oleh perburuan liar, karena cula jantan yang meskipun hanya terbuat dari keratin sangat dihargai dalam pengobatan tradisional Tiongkok, dengan harga mencapai US$30.000 per kg di pasar gelap. Pada tahun 2023, otoritas Indonesia menangkap dua kelompok pemburu yang mengaku telah membunuh 26 badak dari periode 2019-2023. Sedikit deskripsi mengenai Badak bercula satu, Badak bercula satu jarang menggunakan culanya untuk bertarung, melainkan menggunakannya untuk memindahkan lumpur di kubangan, untuk menarik tanaman agar dapat dimakan, dan membuka jalan melalui vegetasi tebal. Seperti badak lainnya, badak bercula satu mempunyai indra penciuman dan pendengaran yang baik, tetapi memiliki penglihatan yang buruk. Badak jawa diperkirakan hidup selama 30-45 tahun.
II. MATERI
Kajian dalam penelitian ini adalah mengkaji berbagai macam informasi mengenai dampak yang diberikan akibat aktivitas manusia sebagai pemburu terhadap populasi badak bercula satu. Adapun dampak-dampak yang diberikan sebagai berikut:
1.1 Penurunan populasi yang drastis
Perburuan liar menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan penurunan drastis populasi Badak bercula satu, terutama Badak jawa (Rhinoceros sondaicus) yang kini hanya ditemukan di Taman Nasional Ujung Kulon, Indonesia. Perburuan liar terjadi akibat banyaknya permintaan untuk cula badak yang dianggap memiliki khasiat tinggi dalam pengobatan tradisional. Walaupun belum ada bukti ilmiah yang dapat menguatkan informasi tersebut.
Berdasarkan informasi yang di dapat (12/04/2023), Auriga Nusantara (merupakan organisasi non-pemerintah yang bergerak dalam upaya melestarikan sumber daya alam dan lingkungan) mengatakan populasi Badak bercula satu menurun dalam 4 tahun terakhir. Dalam kajian berjudul “Badak jawa diujung tanduk” Rizki (peneliti dari yayasan Auriga Nusantara) mengatakan setiap tahun selalu ada Badak cula satu baru yang lahir di Taman Nasional Ujung Kulon. Berdasarkan data yang dimilikinya, populasi Badak jawa berkurang sejak tahun 2018. Menurunnya populasi tersebut juga diduga akibat adanya perburuan liar di habitatnya. Ditemukan luka diduga bekas peluru yang menancap di kepala Badak bernama Samson.
1.2 peran perdagangan gelap dalam memicu perburuan
Perdagangan ilegal cula badak di pasar gelap menjadi faktor pendorong utama perburuan liar. Nilai ekonomis cula badak sangat tinggi di beberapa negara Asia. di mana cula tersebut digunakan dalam pengobatan tardisional dan sebagai status simbol sosial. Hal ini menciptakan insentif pemburu untuk terus mengeksploitasi Badak. Berdasarkan informasi yang di dapat melalui liputan6.com, Pandeglang. Telah terjadinya perburuan terhadap Badak cula satu pada bulan Juni 2023.
Perburuan yang terjadi dilakukan oleh pemimpin jaringan pemburu liar. Sunaedi merupakan salah satu pelaku yang tertangkap, yang telah divonis 12 tahun penjara dan denda Rp. 100 juta subsider dua bulan atas pembunuhan 6 hewan Badak cula satu. Sunaedi merupakan salah satu yang tertangkap dari 13 pelaku yang ditangkap atas dugaan membunuh 26 ekor Badak cula satu. Dari keterangan yang di dapat, para pelaku menyebutkan merek sudah membunuh 26 ekor badak cula satu dan menjual culanya ke pasar gelap internasional. Masih dibulan yang sama, Sunaedi pergi ke Jakarta untuk menjual cula badak kepada pengepul yang diantarkan saksi berinisial yi dan berhasil menjual dengan harga 280 juta. Usai menjual terdakwa kembali ke Pandeglang dan membagikan kepada anggota lainnya sebanyak masing-masing 68 juta.
1.3 Konsekuensi Genetika Akibat Populasi yang kecil
Populasi kecil badak cula satu mengakibatkan rendahnya keragaman genetik. Populasi yang terdiri atas sejumlah kecil individu akan membawa resiko biologis yang amat sangat besar dalam hal pengurangan variabilitas genetik dan peningkatan inbreeding. Peningkatan inbreeding khususnya berhubungan dengan masalah keberlangsungan hidup populasi, karena sering menimbulkan tekanan yaitu pengurangan ketahanan hidup, berat kelahiran, dan kesuburan. Yang secara langsung akan membahayakan kemampuan hidup dari seluruh populasi (Templeton and Read 1983 dalam Thohari dkk 1995).
1.4 Dampak ekonomi dan sosial pemburuan badak
Perburuan liar juga berkaitan dengan masalah ekonomi dan sosial di masyarakat. penurunan pariwisata akan berakibat pada berkurangnya lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal yang bergerak di sektor akomodasi, restoran, dan pemanduan kesenjangan sosial yang lebih besar, serta meningkatnya biaya untuk pengalaman menikmati satwa liar dengan potensi kurangnya nilai uang yang dikeluarkan
III. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang pengaruh aktivitas manusia sebagai pemburu terhadap populasi badak cula satu, dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Perburuan liar terhadap badak berdampak buruk bagi populasi badak. Penurunan jumlah badak sangat signifikan, dan jika perburuan liar terus berlanjut seperti saat ini, akan semakin besar potensi punahnya badak bercula satu. Selain hilangnya hewan, perburuan liar juga berdampak besar pada pola perkembangbiakan dan ekosistem.
IV. UCAPAN TERIMA KASIH
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut membantu dalam penyelesain artikel ini.
V. DAFTARPUSTAKA
https://www.ifaw.org/journal/what-is-poaching pada tanggal 26 Oktober 2024
https://id.wikipedia.org/wiki/Badak_jawa pada tanggal 26 Oktober 2024
https://news.detik.com/berita/d-6669465/auriga-nusantara-populasi-badak-cula-satu-di-tn-ujung-kulon-menurun/2 pada tanggal 26 oktober 2024
https://www.bbc.com/indonesia/articles/c722l47vgvno pada tanggal 26 Oktober 2024
https://www.liputan6.com/regional/read/5580777/tewas-di-tangan-pemburu-cula-badak-dijual-hingga-ratusan-juta-di-pasar-gelap-jakarta?page=2 pada tanggal 26 Oktober 2024