EPISTEMOLOGI PESUT SEBAGAI INDIKATOR GEOGRAFIS TERHADAP KOHERENSI MUTUALISME DENGAN MANUSIA DAN KONSEKUENSI EKOLOGI DI SUNGAI MAHAKAM


Muhammad Imam Syauqi Akbar, Yusuf Ilyas Ar Rasyid, Bima Ardhani, Muhammad Daffa Yulistiawan, Rama Athailah Subagio


Abstrak


Pesut mahakam (orcaella brevirostris) merupakan satwa endemik dari provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Menurut legenda setempat pesut mahakam adalah penjelmaan dari dua anak kecil adik berkakak yang dicampakan oleh ayah nya hingga mereka berubah menjadi makhluk yang aneh, masyarakat dari pedalaman Mahakam menyebut mereka sebagai bawoi, sementara masyarakat Kutai menyebut mereka pesut atau pasut. Kini populasi pesut mahakam di habitat nya yaitu sungai Mahakam tidak lebih dari 62 ekor pada tahun 2022 (Green Network Asia), dan makin hari pesut mahakam semakin sulit untuk ditemui, padahal dulu nya pesut mahakam mudah ditemukan di muara-muara sungai sekitaran sungai Mahakam dan anak sungai Pela yang air nya mengalir ke danau Semayang.


Kata kunci: pesut mahakam, satwa endemik, sungai mahakam


Abstract 


The Mahakam porpoise (Orcaella brevirostris) is an endemic species from East Kalimantan, Indonesia. According to local legend, the Mahakam porpoise is the transformation of two siblings abandoned by their father, turning them into strange creatures. The indigenous people of the Mahakam river call them ‘bawoi’, while the Kutai people refer to them as ‘pesut’ or ‘pasut’. As of 2022, the Mahakam porpoise population in its natural habitat, the Mahakam River, has dwindled to no more than 62 individuals (Green Network Asia). The species is becoming increasingly difficult to find, whereas in the past, it was commonly spotted in the river estuaries along the Mahakam and its tributary, Pela river, which flows into lake Semayang.


Key word: Porpoise mahakam, endemic species, mahakam river


Pesut mahakam hidup pada lingkungan tropis air tawar di asia tenggara, terdapat 5 habitat pesut mahakam yang diketahui saat ini, yaitu di Myanmar mereka hidup di sungai Irrawaddy, di Kalimantan mereka hidup di daerah sungai Mahakam, di Kamboja dan Laos mereka hidup di perairan sungai mekong, di India mereka hidup di danau Chilka, yang terakhir habitat mereka terdapat di Thailand dan mereka hidup di danau Songkhla.

Diseluruh habitat tersebut pesut mahakam berstatus terancam punah atau kritis (critically endangered) dan di Indonesia pesut mahakam menduduki posisi teratas dalam urutan satwa yang paling terancam punah, di Kalimantan sendiri populasi pesut mahakam terus-terusan menyusut akibat habitatnya terganggu, terutama diakibatkan oleh tingginya lalu-lintas di perairan sungai Mahakam, serta juga dengan tingkat polusi, erosi dan pendangkalan sungai yang tinggi akibat adanya aktivitas pengelolaan hutan yang ada di sekitar perairan sungai Mahakam, yang merupakan habitat pesut mahakam disana. 

Kelestarian pesut mahakam juga sangat terancam akibat terbatasnya makanan karena mereka harus bersaing dengan para nelayan di sepanjang sungai mahakam yang juga mencari ikan-ikan kecil yang merupakan makanan bagi pesut mahakam, selain persaingan hidup dengan manusia, pesut mahakam termasuk hewan yang lamban dalam hal reproduksi, organ reproduksi pesut mahakam matang pada usia sekitar 3 tahun, namun pesut mahakam betina hanya bisa hamil dan melahirkan satu bayi pesut setiap 3 tahun, dengan masa kehamilan 9-14 bulan dan karena polusi dan semakin berkurang nya area sungai, proses melahirkan pun menjadi berisiko bagi pesut mahakam, karena mereka membutuhkan tempat yang luas dan juga bersih untuk melahirkan anak mereka. 

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui epistemologi pesut dan kesinambungan pesut mahakam yang saat ini menjadi satwa yang sudah hampir punah di indonesia dengan mengkaji kaitan ekonomi dan juga ekologi pesut mahakam terhadap perairan sungai mahakam yang merupakan habitat satwa tersebut. 


Kami menggunakan metode penelitian dengan mencari sumber-sumber informasi yang terpercaya, akurat, kredibel dan berdasarkan data serta fakta yang ada di lapangan, dikarenakan penelitian yang kami lakukan terbatas oleh ruang, oleh karena itu kami hanya menggunakan sumber-sumber yang berasal dari internet, kami mengumpulkan semua informasi yang berkaitan dengan pesut Mahakam dan kami sajikan dengan bahasa yang sederhana dan mudah untuk dipahami agar penelitian kami dapat memudahkan para pembaca sehingga penelitian mengenai epistemologi pesut sebagai indikator wilayah terhadap mutualisme manusia dan konsekuensi ekologi sehingga dapat menjadi sumber yang ilmiah. 



3.1 Epistemologi Pesut 

Sekilas pesut mirip sekali dengan lumba-lumba, tetapi secara anatomi mereka adalah dua hewan yang berbeda, pesut memiliki kepala yang lebih bulat dan tanpa moncong panjang seperti lumba-lumba, pesut juga memiliki wajah yang terlihat ekspresif karena bibir mereka yang dapat digerakan dan memiliki lipatan di sekitar lehernya karena leher mereka yang cukup fleksibel yang dapat menggerakan kepalanya ke segala arah. 

Pesut memiliki tubuh berwarna abu-abu dengan warna terang keputihan di bagian perutnya, sirip punggungnya juga cenderung kecil namun sirip dada panjang dan besar dengan bentuk melengkung dan ujungnya membulat, dan ukuran ekor mereka juga cukup besar, di Indonesia mereka dikenal sebagai pesut mahakam karena mereka banyak ditemukan di di sungai Mahakam, Kalimantan. 

Namun di seluruh dunia mereka dikenal dengan sebutan irrawaddy dolphin, nama tersebut diberikan dari sistem sungai irrawaddy yang ada di Myanmar/Burma karena dahulu mereka banyak ditemukan di sungai ini, dalam bahasa inggris pesut diartikan sebagai porpoise, dan terdapat 6 spesies pesut yang diketahui di seluruh dunia, pesut mahakam memiliki 12-19 gigi tumpul pada setiap sisi rahang mereka, serta moncong pesut pun lebih tumpul dan bahkan tidak terlihat sama sekali. 

Kebanyakan pesut memiliki sirip punggung yang berbentuk segitiga kecil, lubang sembur pesut mahakam berbentuk ‘U’ dan terletak sedikit ke arah kiri dari bagian tengah kepala mereka, dan terbuka ke arah depan, mereka dapat tumbuh hingga sepanjang 2-3 meter dan memiliki berat sekitar 90-200 kilogram, ukuran tubuh pesut yang kecil mengharuskan mereka makan lebih sering daripada bergantung kepada cadangan lemak yang mereka miliki, kebutuhan untuk terus menerus mencari makanan membuat pesut tidak bermigrasi dalam skala yang besar, pesut hanya berpindah dari daerah yang dangkal ke perairan yang dalam jika terdapat perubahan suhu air (surface temperature) dan pergerakan mangsa, pesut mahakam tidak memilih-milih ketika mencari mangsa nya mereka akan memangsa semua jenis ikan yang ada di habitatnya, termasuk mangsa yang ditemukan di dasar muara seperti kepiting, udang, cumi-cumi, dan gurita. 


3.2 Koherensi Simbiosis Mutualisme dan Konsekuensi Ekologi 

Habitat pesut terdapat di sungai Mahakam, lalu ke cabang anak sungai Mahakam yaitu sungai Pela yang aliran nya menyambung sampai ke danau Semayang yang merupakan tempat bagi pesut mahakam untuk mencari mangsa, bagi masyarakat setempat yang ada di sekitaran sungai Pela pesut mahakam menjadi salah satu indikator wilayah/ geografis dari kelimpahan populasi ikan yang ada di sepanjang aliran sungai Pela sehingga masyarakat dapat mengetahui musim-musim kelimpahan jumlah ikan yang ada di aliran sungai Pela. 

Tidak hanya di Indonesia, di Myanmar pesut juga membantu para nelayan dalam mencari ikan, pesut akan bekerjasama dengan para nelayan yang menggunakan jaring, nelayan akan memberitahu pesut dengan cara mengetuk sisi perahu mereka, satu hingga dua pesut akan berenang di sekitar perahu membentuk pola setengah lingkaran yang semakin kecil lalu menggiring ikan ke arah para nelayan, setelah jaring dilemparkan pesut akan menyelam dan akan menggiring ikan masuk ke dalam jaring, dan lalu pesut akan memakan ikan yang berada di dasar lumpur tepat setelah jaring tersebut dinaikkan kembali.

Namun keberadaan pesut mahakam ini bukan berarti tidak memiliki konsekuensi ekologi, dari tahun-ketahun populasi pesut di sekitar sungai mahakam terus menurun saat ini populasi pesut di sepanjang sungai Mahakam, Kalimantan Timur, di tahun 2021 sejumlah 81 ekor, ada berbagai faktor yang menyebabkan kematian pesut tetapi salah satu faktor utama sekitar 67% dari kematian yang diketahui disebabkan oleh jaring/rengge, umum nya pesut tersebut ikut tersangkut ke dalam jaring/rengge karena tertarik dengan ikan-ikan kecil yang terperangkap di dalam jaring/rengge. 

Seperti mamalia lain pesut bernafas melalui paru-paru jadi ketika pesut terperangkap di dalam jaring, menyebabkan pesut tidak bisa untuk mengambil nafas ke atas permukaan air, dan pada akhirnya pesut mati tenggelam akibat terjebak di dalam jaring/rengge dari para nelayan, selain itu terdapat faktor lain kematian pesut seperti tertabrak oleh kapal-kapal tongkang pengangkut batu bara di sungai Mahakam, dan akibat menelan sampah popok bayi yang dibuang ke aliran air sungai, selain itu juga perkembangan pesut di alam bebas dikenal sangat sulit, dan hal tersebut akan mengakibatkan kepunahan bagi pesut mahakam dalam waktu yang dekat jika hal tersebut tidak ditangani dengan segera. 


Pesut adalah hewan endemik dari Indonesia yang status nya kini sudah sangat terancam, pesut sangat berguna bagi manusia karena dapat menjadi indikator wilayah/geografis dalam mencari suatu wilayah yang memiliki kelimpahan ikan yang ada di dalam nya, dan berkat hal tersebutlah manusia dan pesut dapat saling menjalin simbiosis mutualisme satu sama lain, tetapi akibat dari penangkapan ikan yang tidak dilakukan dengan cara yang benar, mengakibatkan konsekuensi ekologi terhadap pesut mahakam yang sudah hampir terancam punah. 

hal tersebut menjadi keharusan bagi kita untuk bisa melestarikan dan menjaga agar pesut mahakam tidak punah, karena pesut mahakam tidak dapat hidup jika habitat mereka telah dirusak oleh aktivitas manusia yang tidak dilakukan dengan langkah yang tidak tepat, dikarenakan pesut lamban dalam hal bereproduksi jadi sangat mustahil bagi kita jika menambah jumlah populasi pesut dengan cepat, tetapi hal tersebut dapat diupayakan jika kita menangani nya dengan segera. 



https://www.worldwildlife.org/species/irrawaddy-dolphin 

https://iwc.int/irrawaddy-dolphin

https://animalia.bio/irrawaddy-dolphin

https://www.marinebio.org/species/irrawaddy-dolphins/orcaella-brevirostris/

https://animaldiversity.org/accounts/Orcaella_brevirostris/ 

https://www.nationalgeographic.com/animals/article/irawaddy-river-dolphin-population-biggest-20-years 

https://www.mongabay.co.id/tag/pesut/