Akun : farqim2materi
Link : farqim-larutan-asambasa
Link; : farqim-ksp
Link Perhitungan pH : https://chemcollective.org/vlab/104/
Titrasi adalah teknik laboratorium untuk menentukan konsentrasi suatu zat yang tidak diketahui, dengan pereaksi lain yang konsentrasinya ditentukan.
Titrasi biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi.
1. Titrasi asam basa (asidi – alkalimetri): titrasi yang menyangkut reaksi dengan asam atau basa, diantaranya asam kuat dengan basa kuat, asam kuat dengan basa lemah, asam lemah dengan basa kuat, asam kuat dengan garam dari asam lemah dan basa kuat dengan garam dari basa lemah.
2. Titrasi redox untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi.
3. Titrasi kompleksometri untuk titrasi yang melibatan pembentukan reaksi kompleks.
4. Titrasi pengendapan : melibatkan pengendapan
5. Titrasi argentometri
6. Titrasi iodometri
Asidimetri : penetapan kadar secara kuantitatif terhadap senyawa-senyawa yang bersifat basa dengan menggunakan larutan baku asam.
Alkalimetri : penetapan kadar senyawa-senyawa yang bersifat asam dengan menggunakan larutan baku basa.
Untuk menetapkan titik akhir titrasi pada proses netralisasi digunakan indikator.
Indikator : senyawa organik kompleks dalam bentuk asam atau basa yang mampu berada dalam keadaan dua macam bentuk warna berbeda dan dapat saling berubah warna dari bentuk satu kebentuk yang lain pada konsentrasi H+ tertentu atau pH tertentu
Dalam titrasi dikenal:
a. Larutan analit : larutan yang belum diketahui konsentrasinya (larutan yang akan ditentukan konsentrasinya)
b. Larutan standar : larutan yang telah diketahui konsentrasinya.
c. Buret : tempat larutan standar (larutan peniter)
d. Erlemeyer : tempat larutan analit
e. Indikator : zat akan mengalami perubahan warna pada pH tertentu.
f. Titik akhir titrasi ditandai dengan terjadinya perubahan warna indikator dalam larutan.
g. Titik ekuivalen terjadi ketika secara stoikiometri antara larutan analit dan larutan standar tepat habis bereaksi.
Zat yang akan ditentukan kadarnya disebut sebagai “analit” dan biasanya diletakan di dalam Erlenmeyer, sedangkan zat yang telah diketahui konsentrasinya disebut sebagai “larutan standar” dan biasanya diletakkan di dalam “buret”.
Larutan dalam buret sebagai larutan standar (larutan yang telah diketahui konsentrasinya).
Larutan standar dibedakan:
a. Larutan standar primer : larutan standar yang dibuat dengan ketelitian tinggi.
b. Larutan standar sekunder: larutan yang kemolaran nya ditetapkan dengan larutan standar primer.
Larutan standar primer dalam titrasi asam basa adalah larutan KHP (kalium hidrogen ftalat) KHC6H4(CO2)2, atau HOOC-C6H4-COOK digunakan untuk menstandardisasi larutan basa misal NaOH.
Asam ftalat C6H4(COOH)2 + KOH --> COOK(C6H4)COOH kalium hidrogen ftalat
Larutan NaOH yang telah distandarkan kemudian dapat digunakan untuk menentukan kadar larutan asam (larutan analit)
Untuk memperoleh larutan standar dengan akurasi tinggi, dengan ketentuan:
Tersedia dalam kemurnian tinggi.
Tidak higroskopis dan tidak bereaksi dengan sesuatu dari udara.
Mempunyai massa molekul relatif besar, sehingga lebih teliti dalam penimbangan.
Larut dalam pelarut yang diinginkan, misalnya air.
Bersifat stabil (tidak mudah terurai menjadi zat lain).
Sebaiknya relatif murah, tidak beracun dan aman bagi lingkungan.
Pemilihan indikator yang tepat merupakan syarat utama saat titrasi.
Jika indikator yang digunakan berubah warna pada saat titik ekuivalen, maka titik akhir titrasi akan sama dengan titik ekuivalen. Akan tetapi, jika perubahan warna indikator terletak pada pH di mana zat penitrasi sedikit berlebih, maka titik akhir titrasi berbeda dengan titik ekuivalen.
Untuk menyatakan perubahan pH pada saat titrasi digunakan kurva titrasi. Kurva titrasi memudahkan kita dalam menentukan titik ekuivalen.
1. Prinsip Titrasi Asam basa
Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai larutan analit dan larutan standar.
Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan.
Titrat dalam erlenmeyer ditetesi oleh larutan titrant dari buret sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan ekuivalen.
Pada saat titik ekuivalent ini maka proses titrasi dihentikan, kemudian kita mencatat volume titran yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut.
Dengan menggunakan data volume titrant dan konsentrasi titran maka kita bisa menghitung kadar titrat.
2. Rumus Umum Titrasi
Pada saat titik ekuivalen maka mol-ekuivalent asam akan sama dengan mol-ekuivalent basa, maka hal ini dapat kita tulis sebagai berikut:
Mol ekuivalen asam = mol ekuivalen basa
Mol-ekuivalen diperoleh dari hasil perkalian antara Normalitas dengan volume maka rumus diatas dapat kita tulis sebagai:
N x Vasam = NxVbasa
N = Normalitas
N = M x valensi
Valensi asam ditunjukkan oleh jumlah ion H+
Valensi basa ditunjukkan oleh jumlah ion OH-
Sehingga rumus titrasi asam basa menjadi:
M x V x valensi = M x V x valensi
keterangan :
V = Volume
M = Molaritas
valensi = jumlah ion H+ (pada asam) atau OH – (pada basa)
3. Cara Mengetahui Titik Ekuivalen
Ada dua cara umum untuk menentukan titik ekuivalen untuk menghentikan proses titrasi asam basa.
a). Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi dilakukan, kemudian membuat plot antara pH dengan volume titer untuk memperoleh kurva titrasi. Titik tengah dari kurva titrasi tersebut adalah “titik ekuivalent”.
b). Memakai larutan indicator asam basa. Indikator ditambahkan pada larutan analit sebelum proses titrasi dilakukan. Indikator ini akan berubah warna ketika titik ekuivalen terjadi, pada saat inilah titrasi kita hentikan.
Pada umumnya cara kedua dipilih disebabkan kemudahan pengamatan, tidak diperlukan alat tambahan, dan sangat praktis.
Indikator yang dipakai dalam titrasi asam basa adalah indicator yang perubahan warnanya dipengaruhi oleh pH.
Penambahan indicator diusahakan sesedikit mungkin dan umumnya adalah dua hingga tiga tetes.
Untuk memperoleh ketepatan hasil titrasi maka titik akhir titrasi dipilih sedekat mungkin dengan titik equivalent, hal ini dapat dilakukan dengan memilih indicator yang tepat dan sesuai dengan titrasi yang akan dilakukan.
Keadaan dimana titrasi dihentikan dengan cara melihat perubahan warna indicator disebut sebagai “titik akhir titrasi”.
4. Rumus Umum Titrasi Asam basa
Pada saat titik ekuivalen maka mol-ekuivalent asam akan sama dengan mol-ekuivalent basa, maka hal ini dapat kita tulis sebagai berikut:
nH+ = nOH-
Mol ekuivalen asam = mol ekuivalen basa
Mol ekuivalen diperoleh dari hasil perkalian antara Normalitas dengan volume maka rumus diatas dapat kita tulis sebagai:
NxV asam = NxV basa
Normalitas diperoleh dari hasil perkalian antara molaritas (M) dengan jumlah ion H+ pada asam atau jumlah ion OH- pada basa, sehingga rumus diatas menjadi:
N = M x valensi
M x valensi x V = M x valensi x V
keterangan :
N = Normalitas
V = Volume
M = Molaritas
valensi asam ditentukan dari jumlah ion H+ yang dilepas
valensi basa ditentukan dari jumlah ion OH – yang dilepas
Contoh Grafik Titrasi Asam + Basa dan sebaliknya