Search this site
Embedded Files
EvoLearn
  • Home
  • Anggota Kelompok
  • Materi
    • Evolusi Alam Semesta
    • Perkembangan Teori Evolusi
    • Lempeng Tektonik Dan Kepunahan Masal
    • Waktu Geologi
    • Bukti Evolusi
    • Biodiversitas
    • Filogenetik
    • Dinamika Populasi Gen
    • Evolusi Mikroba
    • Evolusi Protista
    • Evolusi Tumbuhan
    • Evolusi Hewan
  • Video
  • Games
EvoLearn
  • Home
  • Anggota Kelompok
  • Materi
    • Evolusi Alam Semesta
    • Perkembangan Teori Evolusi
    • Lempeng Tektonik Dan Kepunahan Masal
    • Waktu Geologi
    • Bukti Evolusi
    • Biodiversitas
    • Filogenetik
    • Dinamika Populasi Gen
    • Evolusi Mikroba
    • Evolusi Protista
    • Evolusi Tumbuhan
    • Evolusi Hewan
  • Video
  • Games
  • More
    • Home
    • Anggota Kelompok
    • Materi
      • Evolusi Alam Semesta
      • Perkembangan Teori Evolusi
      • Lempeng Tektonik Dan Kepunahan Masal
      • Waktu Geologi
      • Bukti Evolusi
      • Biodiversitas
      • Filogenetik
      • Dinamika Populasi Gen
      • Evolusi Mikroba
      • Evolusi Protista
      • Evolusi Tumbuhan
      • Evolusi Hewan
    • Video
    • Games

Lempeng Tektonik Dan Kepunahan Masal

Lempeng Tektonik

Indonesia berada di pertemuan 3 lempeng tektonik yaitu lempeng eurasia, indo-australia dan pasifik sehingga di sebut sebagai Ring of Fire. Lempeng tektonik adalah bagian dari kerak bumi (Litosfer) yang terus bergerak di bawah permukaan. Gerakan ini dapat menyebabkan gempa megathrust yang sangat kuat di zona subduksi tetapi juga memainkan peran penting dalam membentuk kehidupan di bumi. Misalnya, interaksi antara lempeng benua dan lempeng samudra di zona subduksi Sunda di Indonesia dapat menghasilkan gempa besar ketika energi yang terkumpul di antara lempeng tersebut dilepaskan.

Menurut Teori Alfred Wegener, pada awalnya seluruh benua yang ada saat ini merupakan satu kesatuan besar yang disebut Pangaea. Seiring waktu, lempeng-lempeng tektonik ini bergerak dan memisahkan benua menjadi bentuk yang kita kenal sekarang. Proses pergerakan benua yang dikenal sebagai continental drift ini mempengaruhi banyak aspek kehidupan di bumi, seperti perubahan suhu dan iklim yang sangat memengaruhi habitat spesies. Pergeseran lempeng ini juga dapat menciptakan atau menghancurkan habitat baru yang akan menyebabkan bertambah atau berkurangnya keanekaragaman hayati. Tak hanya itu, gerakan lempeng juga berperan dalam pembentukan sumber daya alam yang penting bagi kehidupan manusia, seperti minyak, gas, dan mineral. 

Pergerakan lempeng tektonik terjadi karena panas dari inti bumi memanaskan batuan di dalam bumi sehingga batuan tersebut naik ke permukaan. Ketika mencapai dekat permukaan, batuan itu menyebar dan mulai kehilangan panas. Seiring waktu, batuan yang sudah dingin akan tenggelam kembali ke dalam bumi. Proses ini menyebabkan kerak bumi perlahan terseret, lalu membuat benua bergerak. Pergerakan lempeng ini juga menyebabkan fenomena alam seperti gempa bumi dan gunung berapi. Proses pergerakan lempeng tektonik atau pergeseran benua telah berlangsung selama miliaran tahun, beberapa rangkaian sejarahnya antara lain : 

1. Rodinia :  Seluruh daratan di bumi menyatu menjadi satu massa besar. Rodinia perlahan mulai terpecah  lalu membentuk lautan dan benua baru

2. Pangea : Benua-benua akhirnya berkumpul kembali menjadi Pangea. Pangea adalah superkontinen yang sangat besar dan dikelilingi oleh lautan tunggal yang disebut Panthalassa.

3. Laurasia dan Gondwana : Pangea mulai terpecah menjadi dua benua utama, Laurasia di utara dan Gondwana di selatan. Laurasia meliputi daratan yang sekarang menjadi Amerika Utara, Eropa, dan Asia bagian utara, sedangkan Gondwana terdiri dari Amerika Selatan, Afrika, India, Antartika, dan Australia.

4. Benua-benua modern : Seiring berjalannya waktu, Laurasia dan Gondwana terus terpecah menjadi bentuk benua modern yang kita kenal saat ini, seperti Amerika Utara, Amerika Selatan, Afrika, Asia, dan Australia. 

Kehidupan di Bumi dimulai sekitar 2,5 miliar tahun yang lalu pada masa Arkean, di mana organisme pertama yang muncul adalah bakteri dan alga sederhana. Seiring waktu, pada masa Proterozoikum, mulai muncul bentuk kehidupan yang lebih kompleks, seperti alga yang mirip dengan hewan dan organisme multiseluler. Kemudian, pada era Paleozoikum, terutama di periode Kambrium, terjadi lonjakan besar dalam perkembangan kehidupan. Di masa ini, berbagai spesies baru muncul, termasuk serangga, tumbuhan besar, ikan, amfibi, dan reptil. Pada era berikutnya, yaitu Mesozoikum, terutama di periode Jurassic mamalia mulai berkembang dan berperan lebih signifikan dalam ekosistem. Ini juga merupakan zaman dinosaurus, di mana hewan-hewan besar mendominasi daratan. Saat ini, kita hidup di era Kenozoikum, yang dimulai setelah kepunahan dinosaurus. Pada era ini, mamalia dan burung berkembang pesat, dan akhirnya, manusia muncul sebagai salah satu spesies yang paling dominan di Bumi.

Kepunahan Massal

CO2 berperan penting dalam menjaga suhu bumi agar tetap hangat. Jika kadar CO2 meningkat terlalu tinggi, bumi bisa menjadi terlalu panas sehingga mengancam kehidupan banyak spesies. Sebaliknya, jika kadar CO2 terlalu rendah, Bumi bisa menjadi terlalu dingin sehingga memicu kepunahan spesies yang lebih besar. Kepunahan massal telah terjadi beberapa kali dalam sejarah Bumi. Contohnya, selama periode Ordovisium, Devonian, Permian, Triasik, dan Kapur. Perubahan lingkungan yang drastis menyebabkan banyak spesies musnah. Jika kepunahan massal tidak terjadi, bumi mungkin akan menjadi terlalu padat dengan berbagai spesies yang bersaing memperebutkan sumber daya yang terbatas hingga menyebabkan tekanan besar pada ekosistem.



Media Pembelajaran EvolusiBy Kelompok 2
Google Sites
Report abuse
Page details
Page updated
Google Sites
Report abuse