Hai, namaku Linda. Ini adalah hari pertamaku menjalani profesi baru sebagai seorang paramugari. Aku sangat bersemangat tentunya walau cuaca akhir-akhir ini sedang tidak bersahabat.
Ku layani penumpang dengan ramah dan semangat .. Dan suka mereka juga suka keramahanku. Aku sudah bercerita kan tadi kalau akhir-akhir ini cuaca sedang tidak begitu baik? Ya, walaupun pesawat yg kami tumpangi sempat beberapa kali oleng dan dapat diandalkan penumpang, aku harus meyakini mereka bahwa keadaan akan baik-baik saja.
Begitulah, aku harus terbiasa dengan keadaan seperti ini. Aku harus terbiasa mengakrabkan diri dengan mereka, para penumpang pesawat. Karena tujuan kami sama. Ya, sepertinya tujuan kami sama. Oh cuaca buruk, semoga kami yang terakhir.
Malam itu aku dan pacarku sedang bertengkar hebat. Aku sangat kesal dan memutuskan pergi kerumah teman-temanku dan mabuk-mabukan disana. Kami semua semalaman mabuk dan bermain kartu layaknya orang yang tidak memiliki masalah dalam hidupnya. Ketika hari telah larut, aku memutuskan untuk pulang ke rumah.
Saat mengakhiri rumahku, aku melihat kakakku sedang menggendong seseorang. Setelah aku menyatakan seseorang itu adalah pacarku sendiri. Kemudian kakakku mencampakkan pacarku ke danau, aku yang melihatnya langsung berlari dari belakangnya dan menyelamatkan pacarku. Ia telah meninggal dunia dengan luka tusuk dan lebam di sekujur tubuhnya. Aku marah, tak terima pacarku meninggal di depan mataku.
Akhirnya aku melaporkan hal tersebut ke kepolisian, keesokan harinya polisi datang dan menangkap kakakku. Ketika ditanya pun ia mengakui bahwa ia yang telah membunuh pacarku. Sesaat sebelum persidangan aku menyempatkan berbicara dengan kakakku dan menanyakan perihal apa yang mendasari dia membunuh pacarku. Setelah aku mendengar jawaban, aku jadi menangis dan sangat bersyukur sekali
"Kau melihat ayah handphone, nak?"
Tanya ayahku seraya, ia melihat sekeliling kamarku. Ia selalu lupa dimana ia menaruh handphonenya, bahkan disaat ia sangat membutuhkan handphone.
"Bisakah kamu salah memanggil ayah?"
Aku menghembuskan nafasku dan mengambil handphone milikku. Aku buka seluruh kontak didalam handphone-ku dan menemui kontak bernama 'Ayah'.
"Aku sedang menelponnya"
Kemudian ayahku pergi meninggalkan kamarku dan terus mencari suara handphonenya. Aku dekatkan handphone itu ke kupingku. Dan ada seseorang yang mengangkatnya.
"Aku sudah menemukannya, handphone ayah ada di basement"
Aku pun mematikan panggilan itu dan kembali tidur. Tak lama kemudian, ayahku kembali kekamarku dan bertanya,
"Kau sudahmenemukan?"
"Bukankah ayah telahmenemukan di basement?"
"Basement apa? Ruangan itu telah ayah kunci sejak 3 bulan yang lalu"
"Ayah,"
"Baiklah nak, akan ayah cek."
Aku menunduk dan melihat kebawah untuk memastikan bawah tempat tidur anak angkatku.
"Tidak ada apa-apa, nak."
"Terima kasih ayah karena telah mengadopsiku. Ini adalah hal terindah dalam hidupku."
Aku mengecup keningnya dan menutup pintu kamar. Aku merasa sangat lega, untuk mereka dan juga aku. Sudah tiga tahun sejak aku melakukan perjanjian dengan mereka. Mereka mundur akan meninggalkan aku sendiri, jika aku memberikan satu anak setiap tahunnya. Dan syukurlah, aku tidak pernah telat memberikannya.
Koki, anjing baruku memiliki keanehan yang sangat jarang dimiliki oleh anjing lainnya. Mata kanannya buta akibat kecelakaan dan menurut pemiliknya mata kanannya selalu memandang kearah sesuatu yang menurut dia baru.
Malam ini aku ajakan Koki tidur dikamarku. Dan tengah malam tadi aku terbangun, melihat sekeliling kamarku yang diterangi sedikit cahaya. Aku melihat pintu kamar mandiku terbuka, dan mata kanan Koki membuka lebar menatap kearah kamar mandi.
Andi dan keluarganya baru saja pindah ke sebuah rumah tua yang cukup bagus dan sangat nyaman. Yang penasaran adalah berita terkini ketika jam istirahat di sekolah barunya tadi bahwa ada yang ada di rumah angker di jalan yang sama tempat dirinya tinggal. Dan ternyata, rumah itu terletak sebelah kiri dari rumah adat. Ia peering rumah tersebut, halamannya dipenuhi ilalang, salah satu jendelanya telah pecah. Rumah itu memang terlihat angker.
Karena penasaran, pada suatu malam Andi melakukan "Uji nyali" di rumah tersebut untuk membuktikan bahwa tidak ada apa-apa disana.Dan memang terbukti bahwa tidak ada apa-apa selain beberapa ekor kucing pembohong yang berkeliaran.
Esok harinya, dengan bangga ia menceritakan pengalamannya itu pada teman-teman sekolahnya, bahwa rumah itu tak seangker kelihatannya. termasuk Dina. Dina bingung tampak. "Semua orang juga tahu kok kalau rumah kosong itu tidak angker, malah kami sering bermain bersama kucing-kucing yang ada di rumah itu." "Rumah yang sebelah kiri itu lho yang serem". Ujarnya.
"Bukan sebelah kiri kali rumah yang serem itu, tapi yang kanan!". salah satu teman Dina menimpali.
"Oh iya, maksudku rumah sebelah kanan hehehe ... maaf kadang aku emang suka salah ngebedain antara kiri dan kanan". Sedikit malu.
"Rumah itu luarnya saja terlihat bagus, namun didalamnya penuh dengan roh-roh yang bergentayangan, bahkan dulu sempat terlihat penampakan di rumah itu sampai ditayangkan televisi segala lho". Tuturnya panjang.
"Eh, kamu kan anak baru, ngomong-ngomong kamu tinggal dimana nih?" tanya Dina.
Andi terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa