Hargo Dumilah adalah puncak tertinggi di Gunung Lawu, yang memiliki ketinggian sekitar 3.265 meter di atas permukaan laut (mdpl). Puncak ini memiliki nilai sejarah dan spiritual yang kuat, terutama dalam konteks budaya Jawa.
SEJARAH HARGO DUMILAH
1. TERKAIT PRABU BRAWIJAYA V
Hargo Dumilah sering dikaitkan dengan Prabu Brawijaya V, raja terakhir Majapahit. Menurut legenda, setelah Kerajaan Majapahit runtuh akibat ekspansi Kesultanan Demak, Prabu Brawijaya V menolak masuk Islam dan memilih bertapa di Gunung Lawu. Konon, ia menghilang (moksa) di kawasan ini, menjadikan Gunung Lawu sebagai tempat yang dianggap sakral.
2. TEMPAT BERTAPA DAN SPRITUAL
Sejak zaman dahulu, Hargo Dumilah menjadi tempat pertapaan bagi para spiritualis, terutama mereka yang mendalami ajaran kejawen. Banyak orang datang ke puncak ini untuk berziarah, mencari ketenangan, atau mendapatkan petunjuk spiritual.
3. NAMA "HARGO DUMILAH"
Dalam bahasa Jawa, "Hargo" berarti gunung atau tempat tinggi, sedangkan "Dumilah" bisa diartikan sebagai cahaya atau penerangan. Nama ini mencerminkan puncak tertinggi yang melambangkan pencerahan atau kesadaran spiritual.
4. PERJALANAN MENDAKI KE HARGO DUMILAH
Untuk mencapai Hargo Dumilah, pendaki harus melewati jalur Cemoro Sewu atau Cemoro Kandang. Perjalanan ini menantang, tetapi pemandangan yang indah dan suasana mistisnya menarik banyak pendaki setiap tahun.
Hargo Dumilah bukan hanya sekadar puncak tertinggi Gunung Lawu, tetapi juga memiliki makna mendalam bagi masyarakat Jawa yang masih menjaga tradisi dan spiritualitasnya.