KALIMATI alah salah satu pos pendakian di Gunung Semeru yang terkenal sebagai tempat berkemah bagi para pendaki sebelum melanjutkan perjalanan menuju puncak Mahameru. Terletak di ketinggian sekitar 2.700 meter di atas permukaan laut, Kalimati merupakan padang rumput luas dengan sumber air di sekitar area Sumber Mani.
Mitos dan legenda KALIMATI
1. Tempat Bersemayam Makhluk Gaib
Konon, "KALIMATI" Merupakan tempat bersemayamnya makhluk-makhluk Ghaib. Penduduk setempat percaya bahwa di sekitar area ini ada penunggu yang menjaga ketenangan gunung. Oleh karena itu, pendaki disarankan untuk menjaga sikap dan tidak berbicara sembarangan.
2. Suara-suara Misterius
Beberapa pendaki mengaku mendengar suara-suara aneh di malam hari, seperti bisikan atau langkah kaki di sekitar tenda, padahal tidak ada orang lain di sekitar mereka. Ada juga yang merasa seperti diawasi saat berada di "KALIMATI"
3. Larangan Mengucapkan Kata "Lapar"
Mitos ini juga berlaku di beberapa gunung di Indonesia. Konon, menyebut kata "lapar" di "KALIMATI" bisa mengundang kejadian mistis, seperti tersesat atau mengalami kejadian aneh. Sebagai gantinya, pendaki dianjurkan untuk menggunakan kata lain seperti "kenyang" atau "butuh makan".
4. Penampakan Makhluk Halus
Beberapa pendaki mengaku pernah melihat sosok misterius di "KALIMATI", seperti bayangan hitam, sosok perempuan berpakaian putih, atau bahkan sosok tinggi besar yang tidak terlihat jelas wujudnya. Mitos ini sering dikaitkan dengan arwah para pendaki yang pernah hilang atau meninggal di kawasan Semeru.
5.Jalur Menuju Arcopodo yang Angker
Dari "KALIMATI" ke Arcopodo (pos terakhir sebelum puncak), jalurnya terkenal menanjak dan melelahkan. Beberapa cerita menyebutkan bahwa di jalur ini sering terdengar suara-suara aneh atau bahkan ada yang mengalami halusinasi karena faktor kelelahan dan ketinggian.
Meski banyak cerita mistis, "KALIMATI" tetap menjadi tempat favorit para pendaki untuk beristirahat sebelum summit Attack ke puncak Semeru. Keindahan alam dan suasana yang tenang membuat ini tetap menarik, selama para pendaki menjaga etika dan menghormati kearifan lokal