Pos Registrasi Candi Cetho adalah gerbang awal bagi para pendaki yang ingin mendaki Gunung Lawu melalui jalur Candi Cetho, yang terletak di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Candi Kethek adalah candi punden berundak di lereng Gunung Lawu, dekat jalur Candi Cetho, Karanganyar. Berasal dari era Majapahit, namanya diambil dari kata kethek (monyet) karena banyak monyet di sekitarnya. Konon, candi ini pernah menjadi tempat bertapa Prabu Brawijaya V dan memiliki aura mistis.
Pos Mbah Branti adalah pos pendakian di jalur Gunung Lawu via Candi Cetho. Selain sebagai tempat istirahat, pos ini dikaitkan dengan kisah mistis, konon berasal dari sosok leluhur penjaga. Namun, pos ini tetap penting sebelum mencapai sabana Gupak Menjangan dan Puncak Lawu.
Pos 2 Brakseng di jalur pendakian Gunung Lawu via Candi Cetho berada di ketinggian 1.915 mdpl. Tempat ini sering digunakan pendaki untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.
Setelah Pos Brak Seng (Pos 2) di jalur pendakian Gunung Lawu via Candi Cetho, sumber mata air terdekat sebelum Pos 3 (Cemoro Dowo) pada 2.250 mdpl. Ini adalah satu-satunya sumber air yang pasti sebelum puncak
Pos Cemoro Dowo di Gunung Lawu adalah tempat istirahat pendaki yang dikenal mistis. Pendaki sering melaporkan suara aneh, bisikan, dan penampakan gaib seperti prajurit serta wanita misterius.
Pos 4 Gunung Lawu via Candi Cetho adalah salah satu pos pendakian di jalur ini yang cukup menantang. Pos ini berada pada ketinggian sekitar 2.500 mdpl dan sering digunakan pendaki untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak.
Gapura kembar sebelum Bulak Peperangan di jalur Candi Cetho merupakan bagian dari jalur spiritual yang dipercaya telah ada sejak era Majapahit. Gapura ini melambangkan gerbang menuju perjalanan sakral di Gunung Lawu, yang erat kaitannya dengan legenda Prabu Brawijaya V.
Pos 5 Bulak Peperangan di Gunung Lawu dikenal sebagai lokasi pertempuran antara pasukan Prabu Brawijaya V dan Kadipaten Cepu setelah runtuhnya Majapahit. Dalam pertempuran ini, hampir semua prajurit gugur, kecuali Raden Gugur, Wongso Menggolo, dan Dipo Menggolo. Kini, tempat ini menjadi titik penting bagi para pendaki, terletak di utara Puncak Hargo Dumilah dekat Pasar Dieng.
Nama ini berasal dari "gupak" (cekungan) dan "menjangan" (rusa), karena area ini merupakan habitat rusa Lawu. Terletak sekitar 40 menit dari Pos 5 Bulak Peperangan, Gupak Menjangan menawarkan padang savana luas dan sering digunakan untuk berkemah. Saat musim hujan, terdapat genangan air yang menjadi sumber minum bagi rusa. Tempat ini favorit bagi pendaki untuk menikmati keindahan alam Lawu.
Pasar Dieng, atau Pasar Setan, adalah area di Gunung Lawu yang dikenal dengan cerita mistis. Terletak di jalur pendakian via Candi Cetho, tempat ini sering dikaitkan dengan suara riuh layaknya pasar gaib. Menurut kepercayaan lokal, suara tersebut berasal dari makhluk halus yang bertransaksi.
Warung Mbok Yem adalah warung legendaris yang terletak di puncak Gunung Lawu, pada ketinggian sekitar 3.150 meter di atas permukaan laut, menjadikannya salah satu warung tertinggi di Indonesia. Warung ini didirikan oleh seorang perempuan bernama Wakiyem, yang akrab disapa Mbok Yem, pada tahun 1980-an. Awalnya, Mbok Yem sering naik ke Gunung Lawu untuk mencari akar dan bahan herbal alami sebagai peracik jamu tradisional. Melalui interaksinya dengan para pendaki yang sering kehabisan logistik, ia terinspirasi untuk membuka warung guna membantu memenuhi kebutuhan mereka.
Puncak Lawu adalah titik tertinggi di Gunung Lawu, yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dengan ketinggian sekitar 3.265 mdpl, gunung ini menjadi salah satu tujuan favorit pendaki.