Slide 10 - Halaman 31
Begitu santai sekali yang meninabobokan. Bersenandung merdu sambil asik menggendong adiknya yang nyaman dalam gendongannya. Di luar begitu sepi sekali. Karena sudah hampir tengah malam.
Tidak tau Nia lihat kemana dan lihat apa. Yang jelas tatap matanya seperti terlihat kosong. Tapi yang pasti kalau liat pikirannya seperti mengingat ayahnya. Teringat selalu ayahnya, kalau lagi memangku Iyan. Atau dengan seru sendirian memainkan bola di ruang tengah sambi merangkak. Atau di godain dengan mainan, ketawa-ketawa ngakak. Terus di gendong-gendong lagi, di peluk cium.
Betul, sekarang bapak sudah tidak ada iyan.
Sekilas melirik ke adiknya sudah mulai tidur lagi. Nia terus aja bersenandung agak merdu sampai suaranya agak serak.
"Harus baik ya Iyan, harus pinter, harus sayang sama ibu juga ya". Nia bicara sendiri. Perlahan-lahan dikecup kening adiknya yang sudah nyenyak tidur dalam pangkuannya.
Melirik lagi kepintu kamar ibunya, kasihan sama ibu. Segalanya dikerjakan sendiri apalagi sekarang sedang sakit. Lemes seperti tidak berdaya. Mmh, makanya jadi anak baik ya Iyan. Harus pinter, harus sayang sama ibu.
Kalau Diayun
Diayun ayun memakai kain samping
Kalau diayun
Diayun di senandungkan
Malah terasa ada yang hangat di pipi Nia, diusap ternyata air mata. Duh bapak... air matanya segera dihapus dengan menggunakan kain samping.
Segera membawa Iyan ke atas dipan. Di tidurkan disitu. Nia ikut merebahkan diri juga sambil memeluk Iyan.