Bale Daja terletak di bagian utara rumah adat Bali, yang disebut arah kaja atau daja (arah gunung). Posisi ini dianggap suci dan utama karena menghadap ke arah gunung, yang merupakan simbol keberkahan dan sumber kehidupan. Letaknya biasanya di bagian depan rumah dan dibangun lebih tinggi dari bangunan lain untuk menghindari resapan air serta sebagai estetika.
Bale Daja berbentuk bangunan persegi panjang dengan ukuran sekitar 5 x 2,5 meter. Bangunan ini biasanya didukung oleh 8 tiang kayu (sakutus) atau 12 tiang (sakaroras). Memiliki bale-bale (teras) di sisi kanan dan kiri, serta pondasi yang lebih tinggi dibandingkan bangunan lain di pekarangan rumah. Desainnya mencerminkan arsitektur tradisional Bali yang harmonis dan fungsional.
Fungsi utama Bale Daja adalah sebagai tempat tidur kepala keluarga dan anak perempuan yang belum menikah. Selain itu, juga berfungsi sebagai ruang penyimpanan benda berharga atau pusaka keluarga. Dalam konteks upacara adat, Bale Daja digunakan sebagai tempat meletakkan sesaji, gamelan, dan perlengkapan ritual. Beberapa keluarga juga menggunakan Bale Daja sebagai ruang menerima tamu atau tempat berkumpul keluarga.
Bale Daja melambangkan simbol Bathara Sri Sedana, dewa kemakmuran dan kewibawaan, sehingga bangunan ini dianggap sangat sakral dan penting dalam rumah adat Bali. Posisi utara sebagai arah kaja mengandung makna spiritual sebagai tempat yang lebih tinggi dan suci, menghubungkan manusia dengan alam dan leluhur. Bale Daja juga mencerminkan perhatian keluarga terhadap anak perempuan dan keberlangsungan garis keturunan.