Perubahan pH yang terjadi pada reaksi asam lemah oleh basa kuat dicontohkan pada titrasi antara larutan CH3COOH (asam lemah) dengan NaOH (basa kuat) dapat dilihat pada Gambar 7. persamaan reaksinya sebagai berikut.Â
CH3COOH(aq) + NaOH(aq) → H2O(l) + CH3COONa(aq)
Ion asetat mengalami hidrolisis sebagai berikut:Â
CH3COO-(aq) + H2O(l) → CH3COOH(aq) + OH-(aq)
Pada kurva diperlihatkan ciri kurva titrasi asam lemah (CH3COOH) dengan basa kuat (NaOH), yaitu:
Zat sebagai titrat adalah Asam Asetat (CH3COOH), sedangkan zat sebagai titran adalah natrium hidroksida (NaOH).
Sebelum titrasi, pH larutan titrat asam lemah (pH asam lemah ±3).
Saat titrasi mulai dilakukan, pH naik seiring bertambahnya volume NaOH yang ditambahkan. Pada titrasi ini tidak terjadi peningkatan nilai pH sebelum titik ekuivalen, hal ini dikarenakan terbentuknya larutan penyangga (buffer) sebelum titik ekuivalen sehingga pH relatif tetap (tidak berubah secara drastis). Sebelum titik ekuivalen terjadi, terdapat komponen larutan penyangga asam pada larutan yaitu CH3COOH dan CH3COO-.Â
Pada titik ekuivalen, saat jumlah CH3COOH tepat bereaksi dengan NaOH, larutan memiliki pH>7 yaitu antara 8 – 9. Hal ini diakibatkan oleh adanya hidrolisis sebagian yang bersifat basa dari garam CH3COONa yang terbentuk, sehingga meningkatkan pH pada larutan (daerah perubahan pH drastis 7 – 10).
Setelah titik ekuivalen, penambahan NaOH berlebih menyebabkan larutan bersifat basa.
Indikator yang cocok untuk titrasi asam lemah dengan basa kuat memiliki trayek pH antara 7 sampai 10, yaitu fenolftalein.Â