D I S C O V E R Y
PEMBELAJARAN SEJARAH FASE E DAN F
D I S C O V E R Y
PEMBELAJARAN SEJARAH FASE E DAN F
Penjelajahan, Narasi di Balik Arus Peradaban
MENCOBA menyusun keping-keping literasi dari tumpukan pemikiran yang telah lalu merupakan penjelajahan tersendiri yang kadang menggugah, kadang seperti ilusi. Tak bisa dipungkiri memang, munculnya pengetahuan juga bermula dari penjelajahan seperti itu. Misal angan-angan manusia untuk bisa terbang seperti burung menantang Leonardo Da Vinci berilusi dengan sketsa yang sekarang diwujudkan menjadi Helikopter. Upaya manusia untuk menciptakan emas memunculkan Alkemia, lalu berkembang menjadi ilmu Kimia. Sketsa-sketsa Albercht Durer (1471-1528) tentang anatomi melahirkan ilmu Hayati. Debat Ptolemeus dan Copernicus perihal pusat Tata-Surya, atau Galileo Galilie bersama teleskop temuannya, telah membuka cakrawala baru pengetahuan manusia tentang alam semesta beserta kompleksitasnya. Dimensi ruang, waktu, "Black Hole", "Big Bang", "Lubang Cacing" hingga perjalanan antar planet-antar galaksi [interstellar] menjadi bukti tingkat capaian pengetahuan manusia saat ini hingga melampaui batas ekosistem manusia itu sendiri. Seperti Carl Sagan (1934-1996) katakan, "Alam Semesta hanya sebuah noktah kecil yang menyimpan pengetahuan tak terhingga menunggu untuk dipecahkan manusia." Dan memang dari pengetahuan tak terhingga itu, manusia memasuki masa Aufklarung-nya! "Sapare Aude!" Beranilah berpikir sendiri kata Imannuel Kant (1724-1804) bapak Rasionalis Kritis, menjadi pesan dimulainya Era Pencerahan ilmu pengetahuan. Mulailah manusia terdorong untuk melakukan penjelajahan dan penguasaan. Seluruh carapikir manusia yang sebelumnya beku karena dogma, doktrin atau mitos dibongkar bagi upaya pencapaian Dunia Baru.
Dunia baru merupakan mimpi manusia yang mengikuti perkembangan peradabannya. Alhasil manusia tiba pada masa Penjelajahan Samudra atau The Age of Discovery yang berlangsung dari abad 15 hingga pertengahan abad 18. Mengutip Ronald S. Love (2006:7) dalam Maritime Exploration in the Age of Discovery 1415-1800, penemuan kembali teks-teks Romawi dan Yunani tentang geografi, matematika, dan astronomi menyediakan sumber penting bagi ilmu Navigasi. Di lain waktu teknologi serta desain kapal juga mengalami kemajuan hingga bisa digunakan untuk pelayaran jarak jauh. Selain itu adanya blokade Kekhalifahan Islam terhadap sumber rempah-rempah di Timur Tengah --komoditi penting bagi bangsa Eropa-- membuat bangsa Eropa berkelana mencari sumber rempah-rempah baru, hingga upaya eksplorasi dunia baru secara massif dan aggresif menjadi tak terelakkan.
Motif ekonomi, politik, dan budaya telah mengantarkan sebagian kisah di atas sebagai episode bersambung dari Sejarah Dunia yakni dimulai dari kisah penjelajahan hingga cerita penjajahan. Dari cerita penjajahan berlanjut, memuncak menjadi kisah kebangkitan serta kemerdekaan. Semuanya tercatat sebagai memori kolektif bangsa-bangsa, tidak terkecuali Indonesia, bahwa 350 tahun adalah garis waktu yang tidak singkat, dan selama itu bangsa ini telah merasakan kalau kolonialisme dan Imperialisme tidak saja bercerita tentang getirnya penderitaan suatu bangsa yang dikuasai bangsa lain, tapi juga merefleksikan tingkat proggresivitas suatu bangsa dalam menumbuhkembangkan kualitas peradabannya. Jadi sangat logis bila suatu bangsa dengan peradaban lebih unggul, berkuasa atas bangsa lain dengan peradaban jauh di bawahnya. Dalam hal ini secara normatif bicara tentang bagaimana penyusun peradaban yaitu pendidikan suatu bangsa disusun, dibangun dan terbentuk. Bila pola pendidikan yang dilaksanakan hanya sekedar copy-paste atas pengalaman bangsa lain, jangan lantas kemudian menjudge secara biner yaitu cara pikir dikotomis: benar-salah, hitam-putih, tentang siapa yang perlu disalahkan -- siapa yang perlu dibenarkan -- bila hasil peradaban yang muncul melalui pendidikan, tidak lebih baik, tidak lebih maju atau stagnan dan akhirnya kembali menjadi objek kuasa bangsa lain yang lebih superior. Ujung-ujungnya hanya bisa membenarkan diri kalau bangsa ini pernah hebat di masa lalu bersama hasil-hasil kebudayaannya.
Sungguh ironis kalau tidak bisa dikatakan tragedik bila kejayaan peradaban bangsa di masa lalu tak lantas berlanjut jadi makin berkualitas, namun malah berhalusinasi tentang kehebatan bangsa ini di masa lalu dan jadi pembenar serta delusi di masa kini. Dalam ilmu Sejarah pembenaran seperti itu adalah penyakit, yakni anakronitis karena telah mencampur-adukan atau memutarbalikan fakta/peristiwa dari kejadian-kejadian tertentu di kelampauan dari urutan-urutan yang benar. Jadi tidak perlu ber-apologia lagi, sudahi halusinasi dan delusi kelampauan itu agar tidak semakin akut, dan segeralah kembali membangun eksistensi bangsa melalui peradaban yang lebih berkualitas dengan memposisikan kembali sejarah selain sebagai pengetahuan dan science juga sebagai carapandang, carapikir pikir baru yakni Multidimensional Approachment meminjam istilah Prof. Sartono Kartodirdjo (1921-2007), Begawan Ilmu Sejarah Indonesia, juga Guru Besar Ilmu Sejarah UGM.
Dengan Multidimensional Approachment, paradigma berpikir kita dituntun untuk memandang sesuatu dalam space relasi-relasi bukan dikotomis seperti yang dipahami saat ini. Dunia tidak terbentuk dalam susunan dualistis sebagaimana Agustinus dari Hippo (354-450) pahami yakni pertarungan antara Civitas Dei dengan Civitas Terena tapi hubungan paradoksal yang berinteraksi satu sama lain dalam wilayah komunikasi yang argumentatif. Karena itu Literasi menjadi penting dan sangat penting, sebagaimana kesadaran baru yang ditanamkan peserta didik saat ini untuk memaksimalkan pemahaman dan kekaryaannya pada Literasi, menghasilkan budaya literasi, selain numerasi.
Multidimensional Approachment adalah semangat dari literasi itu sendiri. Hingga pembelajaran sejarah hari ini adalah pembelajaran yang sarat dengan literasi, bukan lagi hapalan tahun-tahun, atau collase fakta-fakta, tokoh-tokoh atau nama-nama peristiwa. Lebih dari itu adalah pemahaman bagi penalaran yang mencerdaskan, dan membebaskan. "La historia me Absolverá" kata Fidel Castro di depan Sidang Pengadilan dirinya 16 Oktober 1953, artinya Sejarah akan membebaskanku. Dan memang sejarah yang benar adalah sejarah yang membebaskan peserta didik dari kebekuan cara pikirnya sendiri, terutama carapikir yang sarat mitos-mitos tentang pengetahuan dan pembelajaran yang selama ini dianggapnya "benar" (AK).