Judul artikel di atas adalah reaksi spontan ketika ada pertanyaan sebagai berikut.
"Bagaimana jika ada mahasiswa teknik mesin tidak bisa membaca gambar teknik ?"
Ya, "memprihatinkan" adalah kata spontan yang sangat logis sekali. Bagaimana tidak, gambar teknik ibaratnya adalah bahasa--yang notabene adalah alat komunikasi--di dunia teknik mesin. Kalau sampai ada mahasiswa teknik mesin buta dengan gambar teknik tentunya ironis sekali. Dan yang lebih ironis lagi adalah, kata "Bagaimana jika" pada pertanyaan di atas seharusnya dicoret dan tanda tanya diganti titik atau tanda seru. Atau dengan kata lain, hal ini adalah kejadian nyata.
"Bagaimana jika ada mahasiswa teknik mesin tidak bisa membaca gambar teknik ?"
"Ada mahasiswa teknik mesin tidak bisa membaca gambar teknik !"
Lalu akan muncul dialog seperti di bawah ini. (Q: Question, A: Answer)
Q: "O, ya! Dimana itu?"
A: "Di Teknik Mesin, FTI !"
Q: "Masa sih?"
A: "Betul 100%. SO SAD BUT TRUE."
Q: "Tetapi tidak semua, kan?"
A: "Tentunya tidak. Tetapi sebagai alat komunikasi di dunia teknik, maka semua mahasiswa teknik sudah seharusnya memahami gambar teknik. Jika ada--satu saja--yang tidak bisa membaca gambar teknik, berarti ada sesuatu yang tidak beres."
Nah, kalau sudah begini bisa jadi akan muncul "litani" pertanyaan. Mungkin seperti di bawah ini.
Ini salah siapa?
Apa penyebabnya?
Pengajarnya tidak bisa mengajar?
Pengajarnya malas?
Mahasiswa yang bersangkutan sering bolos?
Mahasiswa yang bersangkutan malas?
Saat diberi tugas cuma mengopi milik teman?
Materi yang diberikan tidak pas?
Mahasiswa salah ambil jurusan?
Sistem yang berantakan?
Karena ini?
Karena itu?
Karena .................???
Setop saling menyalahkan !
Mari kita berinstrospeksi dulu, baru mengoreksi dan memberi masukan pihak lain.
Mari kita kerjakan tugas dengan bertanggung jawab sesuai kapasitas masing-masing.
Jadikan sebagai pembelajaran bersama.
Semoga ke depan akan lebih baik (dan bukan sebaliknya).
Ada yang peduli?
Catatan
Artikel ini berdasarkan kisah nyata dari asisten mahasiswa yang sedang bertugas membimbing teman junior dalam kegiatan praktikum di kampus. Jenis praktikum--sebut saja praktikum A, yang pasti bukan praktikum di Studio Menggambar Mesin & CAD, karena ada di semester pertengahan--yang dia tangani mengharuskan semua praktikan bisa membaca gambar latihan yang disajikan dalam bentuk gambar teknik. Seharusnya hal ini tidak menjadi masalah karena mereka sudah pernah mendapatkan mata kuliah Menggambar Teknik & Menggambar Mesin di semester awal. Artinya sudah lulus 2 mata kuliah tersebut. Tetapi kenyataan di lapangan berkata lain. Membuat latihan yang relatif mudah ternyata tidak selesai-selesai. Setelah diselidiki, penyebabnya bukan karena materi praktikum A yang sulit. Penyebab utama ternyata masih banyak yang kebingungan memahami gambar teknik, bahkan untuk yang paling dasar sekalipun seperti arti simbol-simbol pada ukuran.
Jujur, --sebagai bagian yang berhubungan dengan gambar teknik--Studio Menggambar Mesin & CAD merasa seperti mendapat jeweran. Sayang sekali hal semacam ini jauh dari kapasitas dan tentunya kewenangan yang bisa ditangani oleh Studio Menggambar Mesin & CAD. Yang bisa dilakukan salah satunya adalah menyajikan sedikit ilmu berupa artikel yang berhubungan dengan gambar teknik di website ini, termasuk juga kasus aktual di lapangan seperti di atas. Semoga langkah kecil ini bermanfaat.
"It's better to light a candle than curse the darkness"