Bunga Langka

Pada dasarnya alam mempunyai sifat yang beraneka ragam, tetapi serasi dan seimbang. Ada banyak keragaman bunga yang bisa kita nikmati, tetapi ada beberapa bunga yang tergolong langka (terbatas jumlahnya). Oleh karena itu, perlindungan dan pengawetan alam harus terus dilakukan untuk mempertahankan keserasian dan keseimbangan itu. Eksploitasi tumbuhan yang berlebihan dapat mengakibatkan kerusakan dan kepunahan, dan hal ini akan berkaitan dengan rusaknya rantai makanan. Kerusakan yang terjadi karena punahnya salah satu faktor dari rantai makanan akan berakibat punahnya konsumen tingkat di atasnya. Jika suatu spesies organisme punah, maka spesies itu tidak pernah akan muncul lagi. Dipandang dari segi ilmu pengetahuan, hal itu merupakan suatu kerugian besar.

Selain telah adanya sumber daya tumbuhan yang punah, beberapa jenis tumbuhan langka terancam pula oleh kepunahan, misalnya Rafflesia arnoldi (di Indonesia) dan pohon raksasa kayu merah (Giant Redwood di Amerika). Maka dari itu, manusia sebagai makhluk hidup yang berbudaya, perlu menggunakan sumber daya alam dengan penuh kebijaksanaan. Berikut ini ada beberapa macam bunga langka yang perlu dilestarikan agar tidak punah:

1.      Bunga Edelweis

2.      Bunga Rafflesia

3.      Bunga Wijayakusuma

4.      Bunga Udumbara

Melestarikan bunga langka tiada ruginya. Banyak hal yang menarik dalam kehidupan liar di alam bebas, suatu bunga bisa menarik karena kelangkaannya, walaupun belum tentu menarik dari
'kegunaannya'. Kelangkaan bisa menarik karena hal unik dari kenampakan
maupun sifat hidupnya. Bahkan, keberadaan bunga langka juga dapat menjadi sumber investasi baru bagi para penggemar bunga karena beberapa jenis bunga langka dapat diperjualbelikan dengan harga tinggi, seperti:
  1. Anthurium. Bunga anthurium, seperti: Jenmanii, Star Buck, Sirih, Rufles, dan Hookeri Marble yang memang memiliki nilai jual tinggi ini mulai jarang terlihat di Tomohon.
  2. Adenium.


(Dari Berbagai Sumber)


BuNgA LaNgKA

Oooh…..Bunga Langka Beruntungnya Dikau

Walaupun Bentukmu Tak Cantik, Bau Pun Tak Harum

Dikau Tetap Dicari dan Diincar Banyak Orang

Melihatmu, Menyentuhmu…. Menimbulkan Kebanggaan Diri

Namun,……

Sungguh Sayang….. Sungguh Malang…..

Tangan-Tangan Jahil Merampas Hidupmu…. Membuamu Terancam Punah

Bunga-Bunga Nan Langkah, Akankah Dikau Tetap Mekar Hinga Penghujung Zaman??

Bunga Adenium

diposkan pada tanggal 6 Agt 2011 08.29 oleh Rully Puspita   [ diperbarui6 Agt 2011 08.35 ]

Adenium atau Kamboja Jepang (nama kamboja jepang sendiri sebenarnya menyesatkan, karena dapat diidentikkan dengan kamboja, yang banyak ditemui di areal pemakaman). Sedangkan embel-embel kata Jepang seakan-akan bunga ini berasal dari Jepang, padahal Adenium berasal dari Asia Barat dan Afrika) berasal dari daerah gurun pasir yang kering, dari daratan asia barat sampai afrika. Sebutannya disana adalah Mawar Padang Pasir (desert rose). Karena berasal dari daerah kering, tanaman ini lebih menyukai kondisi media yang kering dibanding terlalu basah. Disebut sebagai adenium, karena salah satu tempat asal adenium adalah daerah Aden (Ibukota Yaman). 

Masyarakat Indonesia menamakan adenium sebagai kamboja jepang, mungkin dikaitkan dengan stereotype yang beredar. Contohnya buah-buahan yang besar biasa disebut sebagai Bangkok, sedangkan tanaman yang kecil-kecil biasa disebut Jepang, sehingga jika dahulu kala sudah ada Kamboja yang sosok tanamannya tinggi besar, maka begitu ada tanaman yang sosoknya kecil tapi mirip kamboja, disebutlah sebagai kamboja jepang.

bunga adeniumSebenarnya kamboja adalah jenis Plumeria, kerabat jauh dari Adenium. Beberapa perbedaan antara Adenium dengan Plumeria adalah sebagai berikut: Adenium berbatang besar dengan bagian bawah menyerupai umbi, namun sosok tanamannya sendiri kecil dengan daun kecil panjang dan hanya berfungsi sebagai tanaman hias. Akar adenium juga dapat membesar menyerupai umbi. Plumeria berbatang kecil memanjang tanpa bentuk umbi, dengan sosok tanaman yang besar dan dapat tumbuh tinggi, dengan bentuk daun panjang dan besar serta berfungsi sebagai tanaman hias dan tanaman pelindung.

                Akar adenium yang membesar seperti umbi adalah tempat menyimpan air sebagai cadangan disaat kekeringan. Akar yang membesar ini bila dimunculkan diatas tanah akan membentuk kesan unik seperti bonsai. Sedangkan batangnya lunak tidak berkayu (disebut juga sebagai sukulen), namun dapat membesar. Pada adenium yang tua, batangnya akan makin membesar dan keras. Tunas-tunas samping dapat tumbuh dari mata tunas pada batang atau bekas daun yang gugur. Mata tunas samping tersebut akan bunga kambojaberfungsi (tumbuh) apabila pucuk atas tanaman dipotong. Hal inilah yang dilakukan orang pada saat memprunning atau memangkas, untuk mendapatkan daun baru dan agar bunga yang akan muncul nantinya lebih serempak.

Daun adenium ada berbagai ragam, bentuk lonjong, runcing, kecil dan besar, serta ada yang berbulu halus, ada pula yang tanpa bulu. Ukuran dan ketebalan daunnya juga bervariasi. Sedangkan bunga adenium berbentuk seperti terompet, berkelopak 5, dengan aneka ragam warna sesuai dengan jenis (varietasnya) masing-masing. Diameter bunga rata-rata 7-8,5 cm tetapi ada yang berdiameter 2-4 cm. Ukuran bunga ini dipengaruhi oleh kesehatan dan umur tanaman.


(Dari berbagai sumber)

Bunga Udumbara

diposkan pada tanggal 6 Agt 2011 08.18 oleh Rully Puspita   [ diperbarui6 Agt 2011 08.22 ]

MENAKJUBKAN! Bunga legendaris Udumbara yang dipercayai umat Budha tumbuh setiap 3.000 tahun sekali, ditemukan tumbuh di dataran Engku Putri, Batam. Penemuannya pun secara tidak sengaja oleh bocah Evi Yanti yang berusia 10 tahun saat mengikuti senam Falun Dava, Minggu (27/4) pagi.

Menurut umat Budha bunga ini merupakan penanda datangnya Raja Sakral Falun (Roda Hukum). Penemuan bunga yang tumbuh 3.000 tahun sekali tersebut menjadikan Kota Batam sebagai tempat ke tujuh di dunia sebagai tempat tumbuhnya bunga langka ini.

Selain Batam, bunga tersebut sebelumnya telah ditemukan di Kota California Amerika Serikat, Australia, Korea, daratan China, Hong Kong, Singapura, Taiwan dan di Korea pada 1997.

            Penemuan bunga itu tentu saja mengundang decak kagum. Puluhan peserta senam Falun Dava langsung berkerumun dan melihat bunga itu. “Saya melihat bunga Udumbara pertama kali di media cetak dan internet-internet,” tutur Evi. Awalnya, Evi ingin memetik buah ceri yang tumbuh di tepi dataran Engku Putri. Tiba-tiba mata Evi terkesima melihat sekuntum bunga yang rasa-rasanya pernah ia lihat dan baca di media cetak dan internet. Setelah menghampiri rasa penasaran Evi berbuah menjadi ketakjuban. Ia bisa melihat secara langsung bunga Udumbara yang sebelumnya hanya bisa ia dengar legendanya. Evi kemudian memanggil Rudi, seorang peserta senam. Rudi kaget dengan munculnya bunga tersebut di Batam.”Ini luar biasa buat masyarakat Batam,” ujar Rudi.

            Bunga itu tumbuh di daun tumbuhan yang lain. Warnanya putih dan berukuran sangat kecil. Sekilas mirip dengan sarang laba-laba yang menempel di daun. Peserta senam kemudian berinisiatif berkeliling dataran Engku Putri. Secara mengejutkan, mereka juga menemukan bunga sama di empat tempat yang berbeda. Bunga itu juga tumbuh di daun bunga yang lain.

bunga udumbara
Bunga Udumbara dipercaya datang ke dunia dengan cara-cara yang luar biasa. Bunga langka ini, sejauh ini telah ditemukan pada beberapa obyek, yaitu patung Buddha, pipa baja, jendela, daun-daunan, dan batu bata. Menurut kitab Buddha, “Udumbara” adalah bahasa Sanskrit yang berarti “bunga keberuntungan dari surga.” Rol ke 8 dari kitab “Huilin Yin yi” (sebuah kitab Buddha), mengatakan: “Udumbara adalah lambang spiritual yang sangat baik, Bunga Surga, di dunia tidak terdapat bunga ini, di Kala sang Tathagatha atau Raja Roda Emas datang ke dunia, karena rahmat dan kebajikan yang sangat besar barulah akan membuat bunga ini muncul.” Menurut kitab suci Budha kuno, warna putih “bunga Surga” selain menggambarkan kesan kelembutan juga menandakan datangnya Raja Sakral Falun atau Raja Roda Hukum umat Budha.

Berbeda dengan tempat tumbuhnya sebelumnya yang kebanyakan di patung Budha, pipa baja, jendela, daun-daunan, dan batu bata, di dataran alun-alun Engku Putri Batam Centre, bunga yang luar biasa langka itu hanya tumbuh di atas delapan daun beberapa bunga.

            Bunga yang mungil, lembut dan memiliki tangkai lebih kecil dari rambut manusia itu berwarna putih, tumbuh dan menggantung pada tangkai-tangkai serabut halus. Beberapa daun mempunyai 30 tunas kecil di atasnya tapi ada juga sebagian memiliki 40, 50 atau 60 tunas.

Menurut “Etimologi dalam YinYi Huilin,” sebuah kitab suci Buddha dari Dinasti Tang pada awal abad ke-9, “Udumbara muncul di Langit. Ini bukan milik manusia di dunia. Hanya maha belas kasih dari Tathagata yang sedang bereinkarnasi atau munculnya Raja Sakral Falun yang akan menyebabkan Udumbara muncul di dunia manusia.”(aprizal/yahya).

(Dari berbagai sumber)

Bunga Kastuba

diposkan pada tanggal 6 Agt 2011 08.14 oleh Rully Puspita   [ diperbarui6 Agt 2011 08.17 ]

Bunga Kastuba (Euphorbia pulcherrima) biasa disebut juga Poinsettia pulcherrima, yang menarik dari bunga ini adalah daunnya yang mengalami perubahan bentuk dan warnanya menyerupai bunga. Tatkala masih muda, daun kastuba berwarna merah menyala, kemudian menjadi hijau setelah memasuki masa tua. Daun kastuba mengandung saponin, sulfur, lemak, amylodextrin, pati dan asam formlat. Oleh karena itu, daunnya dapat digunakan sebagai tonikum dan untuk mengobati luka. Batangnya yang mengeluarkan getah juga dipakai untuk menyembuhkan luka baru. Selain itu, kastuba juga dapat digunakan sebagai obat disentri, penyakit paru-paru (TBC), melancarkan haid, dan memperbanyak air susu ibu (ASI).

bunga kastuba
Kastuba dapat dikembangbiakkan dengan stek. Pertama-tama, dipilih cabang yang tua dengan diameter sekurang-kurangnya 1 cm. Cabang dipotong sepanjang 15 cm. Setiap potongan memiliki 3 - 4 mata tunas. Cara memotong, sebaiknya bidang potongan miring pada jarak 1 cm dari titik tumbuh teratas ataupun terbawah. Potongan stek kemudian direndam dalam larutan yang mengandung ZPT, kemudian ditanam di polybag dalam media tanah campur pasir dengan perbandingan 1 : 1. Akar akan tumbuh sekitar 10-12 minggu, setelah itu baru ditanam dalam pot-pot kecil.

Kastuba sangat membutuhkan suasana gelap agar bisa berkembang secara optimal, bisa berkisar antara 12 - 14 jam sehari (nah ini bagian tersulitnya, kalo bisa gelap gulita tanpa cahaya).

Sumber  Acuan:

  1. wre94.wordpress.com

Bunga Anthurium

diposkan pada tanggal 6 Agt 2011 07.45 oleh Rully Puspita   [ diperbarui6 Agt 2011 07.55 ]

Anthurium termasuk tanaman dari keluarga Araceae. Tanaman berdaun indah ini masih berkerabat dengan sejumlah tanaman hias populer semacam aglaonema, philodendron,keladi hias, dan alokasia. Dalam keluarga araceae, anthurium adalah genus dengan jumlah jenis terbanyak. Diperkirakan ada sekitar 1000 jenis anggota marga anthurium. Tanaman ini termasuk jenis tanaman evergreen atau tidak mengenal masa dormansi. Di alam biasanya tanaman ini hidup secara epifit dengan menempel di batang pohon. Dapat juga hidup secara terestrial di dasar hutan.

Daya tarik utama dari anthurium adalah bentuk daunnya yang indah, unik, dan bervariasi. Daun umumnya berwarna hijau tua dengan urat dan tulang daun besar dan menonjol. Oleh karena itu, sosok tanaman ini tampak kekar tetapi tetap memancarkan keanggunan tatkala dewasa. Tidak heran bila tanaman ini memiliki kesan mewah dan eksklusif. Dimasa lalu anthurium banyak menjadi hiasan taman dan istana kerajaan-kerajaan di Jawa. Konon, dipuja sebagai tanaman para raja.

Secara umum anthurium dibedakan menjadi dua yaitu jenis anthurium daun dan jenis anthurium bunga. Anthurium daun memiliki daya pikat terutama dari bentuk-bentuk daunya yang istimewa. Beberapa jenis anthurium daun, antara lain: Jenmanii Cobra, Kol, Oval, Keris, Pedang, Wave of Love (Gelombang Cinta), Daun Jati, Hookeri, dll.

            Anthurium bunga lebih menonjolkan keragaman bunga, baik hasil hibrid maupun spesies. Biasanya jenis anthurium bunga dijadikan untuk bunga potong. Bunga anthurium muncul sepanjang tahun dan bentuknya mirip jantung dari ukuran kecil sampai besar. Bentuk bunganya mirip flamingo sehingga juga disebut bunga flamingo (flamingo lily).

(Dari berbagai sumber)

Bunga Wijayakusuma

diposkan pada tanggal 3 Agt 2011 06.08 oleh Rully Puspita   [ diperbarui6 Agt 2011 08.07 ]

Bunga ini hanya mengembang di malam hari mulai sekitar jam 8 malam, dan puncaknya di jam 12 malam, saat mengembang mengeluarkan aroma harum, hampir seperti melati tapi bercampur dengan lili, setelah jam 12 malam, dia layu dan tidak mengembang lagi, ini baru namanya BUNGA MALAM...

Wijayakusuma (Epiphyllum anguliger) termasuk jenis kaktus, divisi anthophita, bangsa opuntiales dan kelas dicotiledoneae. Jenis kaktus terdapat sekitar 1.500 jenis (famili). Tanaman kaktus dapat hidup subur di daerah sedang sampai tropis. Demikian juga tanaman wijayakusuma. Bunga wijayakusuma hanya merekah beberapa saat saja dan tidak semua tanaman wijayakusuma dapat berbunga dengan mudah, tergantung dari iklim, kesuburan tanah dan cara pemeliharaan.

Pada umumnya tanaman jenis kaktus sukar untuk ditentukan morfologinya, tetapi wijayakusuma dapat dilihat dengan jelas mana bagian daun dan mana bagian batangnya, setelah tanaman ini berumur tua. Batang pohon wijayakusuma sebenarnya terbentuk dari helaian daun yang mengeras dan mengecil. Helaian daunnya pipih, berwarna hijau dengan permukaan daun halus tidak berduri, lain halnya dengan kaktus-kaktus pada umumnya. Pada setiap tepian daun wijayakusuma terdapat lekukan-lekukan yang ditumbuhi tunas daun atau bunga Wijayakusuma dapat tumbuh baik ditempat yang tidak terlalu panas.

Kandungan di dalam bunga wijayakusuma ini belum pernah diteliti tetapi telah terbukti dapat mengurangi rasa sakit dan mempercepat pembekuan darah sehingga tanaman ini berkhasiat untuk menyembuhkan luka. Adapun ramuannya, tumbuk satu helai daun wijayakusuma hingga halus. Oleskan pada luka, kemudian balut dengan perban.

Arti Wijayakusuma:

bunga wijayakusuma
Nama Wijayakusuma banyak dipakai di wilayah Banyumasan dan sekitarnya, selain sudah sangat terkenal sejak dahulu kala, Wijayakusuma merupakan lambang kemenangan atau kejayaan. Panglima Besar Jenderal Soedirman (sebelum masuk militer) memberi nama koperasi yang didirikannya Persatuan Koperasi Indonesia “Wijayakusuma”, Korem 71 Purwokerto memiliki nama Wijayakusuma, di Purwokerto ada Universitas Wijayakusuma, sebuah hotel berbintang di Cilacap juga menggunakan nama Wijayakusuma, kemudian lambang Kabupaten Cilacap juga Wijayakusuma. Selain Bawor dan Kudhi, Wijayakusuma memang menjadi salah satu lambang dari wilayah Banyumasan dan sekitarnya.

(Dari berbagai sumber)

Bunga Rafflesia

diposkan pada tanggal 16 Jun 2011 08.10 oleh Rully Puspita   [ diperbarui2 Agt 2011 07.53 ]

Bunga Rafflesia juga dikenal sebagai bunga bangkai karena baunya yang tidak sedap. Bunga Rafflesia Arnoldy yang juga disebut sebagai “Puspa Langka” merupakan bunga raksasa yang pertama kali ditemukan oleh Sir Thomas Stamford Raffles saat dia sedang bertugas di Bengkulu. Sir Thomas menemukan bunga tersebut bersama salah seorang ahli botani yang bernama Dr.Josep Arnold Browen di Lubuk Kabupaten Bengkulu Selatan pada tahun 1818. Pada tahun 1920 kedua tokoh Inggris ini mengukuhkan Bengkulu sebagai Bumi Rafflesia sekaligus menamakan bunga langka itu sebagai Rafflesia Arnoldi. Bunga ini disebut puspa langka karena di tempat lain jarang ditemukan bunga semacam ini.

Di dunia ada sekitar 17 jenis bunga tersebut, tetapi 12 jenis di antaranya tumbuh pada kawasan hutan tropis termasuk Indonesia (Bengkulu). Diameter bunga ini bisa mencapai 100 cm sehingga bunga ini merupakan bunga terbesar dan sangat terkenal di dunia. Masa kuncupnya berkisar antara 6 – 8 bulan sedangkan masa mekarnya 15 hari. Bunga ini tumbuh tersebar di seluruh Bengkulu di lereng Bukit Barisan.          

bunga bangkai

         Camera Trap adalah kerabat bunga padma (Rafflesia Arnoldi R. Brown) yang merupakan flora maskot Indonesia dan bunga terbesar di dunia. Bunga yang diternukan di lereng Gunung Sorik Merapi seperti pada gambar ini diduga merupakan jenis baru yang belum pernah dideskripsikan. Bunga padma sangat unik karena dia tidak memiliki akar, batang maupun daun.  Bunga padma tumbuh sebagai parasit di jenis liana tertentu (biasanya di Tetrastigma sp.) dan merupakan jenis flora yang secara global terancam punah. Hingga kini, bunga ini masih diteliti oleh para ahli tanaman  di  Herbarium Bogoriense, Bogor, Jawa Barat.Untuk menjaga kebesaran nama bunga Raffelsia itu perlu diadakan promosi secara rutin terhadap dunia internasional, disamping dilakukan pengamanan ekstra ketat terhadap lokasi habitat bunga langka tersebut.

Selanjutnya:

  1. Penemuan Bunga Bangkai di Riau

(Dari Berbagai Sumber)

Bunga Edelweis

diposkan pada tanggal 16 Jun 2011 08.06 oleh Rully Puspita   [ diperbarui6 Agt 2011 07.35 ]

          Bunga edelweis (Leontopodium alpinum) yang sering disebut-sebut sebagai bunga abadi tumbuh di tempat terbuka dan lembab yang terdapat di puncak atau lereng gunung tertentu, seperti Gunung Gede, Malabar, Papandayan, Cikurai, Guntur, dll. Dalam ilmu botani, bunga tersebut terbentuk secara alami dari timbunan humus dan memerlukan waktu sedikitnya lima tahun untuk tumbuh dan berbunga.

Bunga ini rata-rata berwarna putih–abu-kehijauan dan putih kekuning-kuningan. Namun, kabar angin mengatakan bahwa ada edelweis yang berwarna ungu, biru, dan merah. Kebenarannya masih sebuah misteri karena saya belum pernah melihatnya secara langsung maupun di dunia maya. Bunga ini tumbuh membentuk rimbunan kecil di permukanan tanah. Ketika dipetik dan disimpan di tempat kering dan temperatur ruangan, bunga ini tidak akan berubah warna seolah-olah ia tetap hidup dan abadi. Inilah keistimewaannya sehingga ia sering menjadi lambang kecintaan seorang remaja pria terdadap kekasihnya. Hal ini jugalah yang memancing para pendaki untuk memetik dan membawanya pulang. Bunga ini tidak akan layu jika sudah dipetik tetapi bunga ini hanya akan mengering.

Bunga ini memang tidak begitu indah bentuknya tetapi perjuangan untuk memperolehnya telah membuatnya sangat berkesan dan indah untuk diceritakan. Untuk mendapatkannya, kita akan mengalami kepanasan, kedinginan, kehujanan (bila sedang musim hujan), memasuki hutan yang lebat, dan menempuh perjalanan yg jauh. Namun, apapun akan dilakukan untuk melihat dan menikmati bunga EDELWEIS bagi seorang pecinta alam.

(Dari berbagai sumber)

1-7 of 7

Comments