Budidaya semi-intensif adalah metode budidaya yang berada di antara sistem tradisional (ekstensif) dan intensif. Sistem ini mengombinasikan pemanfaatan pakan alami dengan pemberian pakan tambahan buatan, serta manajemen lingkungan yang cukup terkontrol, namun tidak terlalu kompleks atau mahal.
Ciri-Ciri Umum:
Padat Tebar Sedang: Biasanya antara 10–30 ekor/m², tergantung jenis ikan atau udang. Tujuannya untuk menjaga keseimbangan antara ketersediaan oksigen dan kebutuhan pakan.
Sumber Pakan: Mengandalkan pakan alami seperti plankton dan mikroorganisme yang tumbuh di kolam, ditambah pakan tambahan buatan (pelet, dedak fermentasi, dll.).
Manajemen Air: Kualitas air dijaga secara rutin melalui pergantian air sebagian, penggunaan pupuk organik/inorganik untuk merangsang pertumbuhan pakan alami, dan kadang dibantu aerator sederhana.
Teknologi: Menggunakan peralatan sederhana, seperti kincir air manual atau aerator kecil. Tidak menggunakan sistem filtrasi atau teknologi canggih lainnya.
Biaya Produksi: Sedang; membutuhkan modal lebih besar dibanding sistem tradisional, namun masih terjangkau bagi petani kecil-menengah.
Hasil Panen: Lebih tinggi daripada sistem ekstensif. Produktivitas biasanya 3–5 ton per hektar per siklus tergantung spesies dan lokasi.
Risiko: Sedang; jika pengelolaan air atau pemberian pakan kurang tepat, bisa terjadi overfeeding atau menurunnya kualitas air yang berdampak pada kematian.
Contoh Penerapan:
Budidaya ikan nila di kolam tanah dengan pupuk kandang untuk menghasilkan plankton, serta pemberian pelet 2–3 kali sehari.
Budidaya lele di kolam terpal dengan pemberian pakan buatan dan penggantian air mingguan.