Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) merupakan upaya untuk mendorong tercapainya Profil Pelajar Pancasila dengan menggunakan paradigma baru melalui pembelajaran berbasis projek.
Dengan menjalankan P5, pendidik diharapkan dapat menemani proses pembelajaran peserta didik untuk dapat menumbuhkan kapasitas dan membangun karakter luhur sebagaimana yang dijabarkan dalam Profil Pelajar Pancasila.
Projek penguatan profil pelajar Pancasila, sebagai salah satu sarana pencapaian profil pelajar Pancasila, diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk “mengalami pengetahuan” sebagai proses penguatan karakter, sekaligus kesempatan untuk belajar dari lingkungan sekitarnya.
Dimensi profil pelajar Pancasila menunjukkan bahwa profil pelajar Pancasila tidak hanya fokus pada kemampuan kognitif, tetapi juga sikap dan perilaku sesuai jati diri sebagai bangsa Indonesia sekaligus warga dunia.
VISI PENDIDIKAN INDONESIA
"Mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya pelajar Pancasila."
PROFIL PELAJAR PANCASILA
“Pelajar Indonesia merupakan pelajar sepanjang hayat yang kompeten, berkarakter, dan berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila.”
Pendidikan Pancasila merupakan landasan bagi pembentukan karakter dan kepribadian bangsa Indonesia. Untuk mewujudkan tujuan ini, diperlukan upaya konkret dalam mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila dengan kearifan lokal di setiap daerah. Salah satu daerah yang kaya akan kearifan lokalnya adalah Sumatra Barat, khususnya Kota Padang. Oleh karena itu, proyek penguatan profil pelajar Pancasila dengan tema kearifan lokal di Sumatra Barat, Padang, menjadi suatu langkah yang strategis dan relevan.
Sumatra Barat, dengan segala keragaman etnis, budaya, dan adat istiadatnya, memiliki peran penting dalam membentuk identitas kebangsaan. Kearifan lokal yang melekat dalam kehidupan masyarakat Sumatra Barat, terutama di Kota Padang, memiliki potensi besar untuk menjadi instrumen pembentukan karakter generasi muda. Pancasila, sebagai dasar negara, dapat lebih kuat terinternalisasi jika diselaraskan dengan nilai-nilai lokal yang telah terakar dalam kehidupan sehari-hari.
Pelajar sebagai agen perubahan memiliki peran yang sangat signifikan dalam proses ini. Dengan memperkuat profil pelajar Pancasila dengan fokus pada kearifan lokal, diharapkan mampu menciptakan generasi yang tidak hanya menguasai nilai-nilai Pancasila secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan konteks dan realitas kearifan lokal Sumatra Barat, khususnya Padang.
Selain itu, proyek ini juga bertujuan untuk memperkaya pengalaman pendidikan para pelajar dengan menggali potensi lokal sebagai sumber belajar yang bernilai tinggi. Dengan demikian, proyek ini bukan hanya bersifat normatif, melainkan juga bersifat praktis dengan memberikan ruang bagi pelajar untuk mengapresiasi dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila secara nyata dalam berbagai aspek kehidupan mereka.
Sekolah kami mengadakan Musical Theater, berupa drama kolosal "Malin Kundang" dengan diiringi nyanyian, tarian dan tapak suci / pencak silat dan tausyiah. Drama ini dikemas dengan menggunakan apik sehingga siswa dapat memahami cerita tersebut. Disamping itu pula kita menyelengarakan market day, hal ini mengajari siswa-siswi untuk menjadi seorang young enterpreneur (pengusaha muda yang kreatif) salah satu bekal pembelajaran, sehingga mereka bisa mandiri dikemudian hari.
SI PITUNG JAGOAN BETAWI
ADEGAN 1
Legenda yang berceritakan perjuangan seorang anak betawi. Dia bernama Pitung. Dia tinggal di sebuah kampung bernama kampung Bojong Kenyot. Di kampungnya dia terkenal sebagai jagoan silat. Tak segan dia membantu banyak orang yang membutuhkan bantuan. Tak lain seperti saat kampungnya di datangi oleh Belanda. Sejak kampung Bojong Kenyot didatangi Belanda, sering terjadi bentrok antara penduduk kampung dengan Belanda.
Legenda ini bermula dengan lahirnya seorang anak laki-laki betawi bernama Pitung.
Di suatu pagi di teras rumah babe Pitung
Babe pitung: enak banget minum kopi pagi-pagi sambil nikmatin udara seger
Tetangga 1 : assalamualaikum be.
Babe pitung: waaalaikum salam. Mau kemana pagi-pagi udah jalan?
Tetangga 1 : mau ke pasar. Jualan nih be.
Babe pitung : Yaudah hati-hati, mudah-mudahan dagangannya laris
Tetangga 1 : Iya makasih be
Tetangga 2 : permisi be, aye numpang lewat ya
Babe pitung: oh iya silakan
Enyak pitung keluar dari rumah sambil menggendong bayi pitung yang sedang menangis
Pitung Bayi: oweekk.. owekk.. owek..
Enyak Pitung: cup.. cup.. cup.. kenape nangis pitung?
Babe Pitung: Pitung rewel lagi?
Enyak Pitung: Iye nih beh nangis terus die, kaga bisa diem.
Babe Pitung: Wahahaha pengen latihan silat die. mudah-mudahan anak kita jadi anak yang sholeh
Enyak Pitung: Aamiin
ADEGAN 2
Didikan Bang Piung dan Nyak Pinah membuat pitung tumbuh jadi anak yang berbakti. Saat usianya 7 tahun, pitung mulai berguru kepada Hhaji Napiin.
Babe pitung: Pitung kamu kan sudah besar, sekarang kamu belajar sama Haji Napiin. Belajar yang bener. Cari ilmu yang banyak
Enyak pitung: Bener tuh. Dengerin nasehat babe. Disana kamu harus nurut sama Haji Napiin, karena beliau itu guru dan orang tua kamu di pesantren.
Pitung: iya babe, nyak, Pitung pamit dulu ya. Assalamualaikum (pitung salim dengan kedua orang tuanya)
Babe dan enyak : Waalaikum salam, Hati-hati ya tung.
ADEGAN 3
Ditengah perjalanan, Pitung melihat komplotan Belanda sedang mengancam penduduk.
Belanda 1: Segera kamu bayar, kalau tidak rumah ini saya ambil!
Penduduk 1: Ampun tuan, saya udah kaga ada uang.
Belanda 2: Kalau kamu tidak mau bayar. Saya rusak dagangan kamu
Penduduk 2: Jangan rusak dagangan saya tuan. Nanti saya gimana jualannya tuan?
Orang-orang Belanda merusak rumah serta dagangan para penduduk. Barang dagangan yang mereka punya diambil paksa oleh komplotan Belanda.
Pitung yang melihat kejaddian tersebut merasa kesal, dan berkata
Pitung: Uhh dasar kompeni!, beraninye sama rakyat kecil. Tunggu aje kalo aye sudah besar nanti! (Pitung mengerutkan dahi sambal mengepalkan tangannya)
ADEGAN 4
Ketika usianya sudah cukup besar, pitung menimba ilmu di pesantren Haji Napiin. Pitung dan teman-temannya belajar menghaji dengan Haji Napiin
Haji Napiin: Ayok kita mulai ngaji dengan membaca surat Al-Fatihah bareng-bareng (semua murid duduk bersila dihadapan Haji Napiin dan membaca Al fatihah bersama)
Haji Napiin: Khalil coba baca surat Al-Zalzalah
(Khalil membaca surat al zalzalah)
Haji Napiin: Alhamdulillah, sekarang Amar baca artinya
(Amar membaca arti surat al zalzalah)
Haji Napiin: oke. Sekarang Hafuza baca surat Asy Syams
(Hafuza membaca surat Asy Syams)
Hhaji Napiin: Alhamdulillah. Bagas sekarang kamu baca artinya baca artinya
(Bagas membaca arti surat Asy Syams)
Haji Napiin: Sodaqoullohul adzim. Maha benar Alloh dengan segala firmannya. Sampai disini pengajian hari ini. Kita tutup dengan membaca hamdalah bersama-sama. (semuannya membaca hamdalah bersama. Semua murid salim ke Haji Napiin)
Kyai: Pitung, ntar ikut anak-anak silat ye.
Pitung: Iye pak haji.
ADEGAN 5
Penampilan tari Jali-jali oleh kelas 3
ADEGAN 6
Penampilan silat tapak suci oleh pitung dan teman-teman
ADEGAN 7
Setelah bertahun-tahun berguru dengan Hhaji Napiin, tiba waktunya bagi Pitung kembali ke rumah. Pitung berpamitan dengan Hhaji Napiin
Pitung: Pak Haji aye pamit pulang ke kampung ye. Terima kasih buat semua ilmu yang udah diberikan.
Kyai: Iye tung, kamu salah satu murid terbaik disini. Gunain ilmu yang kamu dapat buat kebaikan ye.
Pitung: Iya, inshaallah siap pak haji.
ADEGAN 8
Menir dengan kedua putrinya pergi untuk mencari makan di sekitar kampung Bojong Kenyot.
Menir : “Ayo kita mengisi perut di kedai itu!” (menunjuk sebuah kedai di pinggir jalan)
Nona 1: “Yuk Daddy.” ( Menggandeng tangan Menir)
Nona 2 : “Asiik Dad, yuk cepat!”
(Menir mendatangi kedai makan mak Pitung)
Menir : “Hei kamu, disini orang-orang pada makan apa?”
Enyak : “Disini cuma ada makanan biasa tuan.”
Menir : “I pesan yang itu, itu dan itu!” (menunjuk makanan yang diinginkan)
Enyak : “Sebentar tuan saya ambilkan.” (mengambil makanan dan memberikan ke Menir dan 2 anaknya)
(Menir dan kedua anaknya makan bersama. Ketika sudah selesai Menir lansung pergi tanpa membayar makanan)
Enyak : “Tuan nona jangan pergi, makanannya belum dibayar!” (enyak menghampiri Menir)
Nona 1: “You memerintah daddy? Apa you orang tidak tahu daddy I ini siapa?” (sambal mengacungkan jari telunjuk ke arah enyak)
Enyak : ”Maaf nona, bukannya saya memerintah tuan tapi memang begitu peraturannya.”
Nona 2: Daddy ini ketua kompeni Belanda. Jangan main-main sama kita!
Pengawal 1: Tuan menir adalah penguasa, jangan pernah memerintah tuan Menir seenaknya!
Enyak : tapi tuan makanan yang sudah dimakan tetap harus dibayar
Pengawal 2: Diam kamu! kamu tidak menghormati tuan Menir! (Menodongkan senjata ke arah enyak)
Menir: “You tidak menghormati I ! “ (menggebrak meja)
(Pitung yang melihat ibunya dibentak merasa geram. Pitung datang kepada Menir dan langsung menggebrak meja)
Menir : “Siapa kamu? Kurang ajar!”
Pitung : “Emang kamu siapa? Beraninya ganggu enyak aye sama penduduk sini!”
Menir : “I yang berkuasa disini!” (Berkacak pinggang)
Pitung : “Kamu yang berkuasa di daerah sini? Walaupun kamu yang berkuasa, tapi ini tanah kelahiran aye!”
Menir : “ You orang terlalu banayak omong, pengawal habisi dia!” (mengacungkan jari telunjuk ke arah Pitung)
Pengawal 1 dan 2 : “Baik tuan” (Menir langsung pergi bersama kedua putrinya. Sementara pengawalnya berkelahi dengan Pitung)
Terjadi perkelahian antara pitung dan pengawal. Akhirnya pengawal berhasil di kalahkan oleh Pitung.
Pitung : “Rasain kamu! kamu gak tau siapa aye? Jagoan betawi nih!” (berkacak pinggang)
Enyak : “ Makasih ya tung, udah nolongin enyak!” (menghampiri Pitung)
Pitung : “Iye sama-sama nyak.”
ADEGAN 9
Pitung membantu babenya untuk mengembala kambing. Pitung biasa mengembalakan dan menjual kambingnya di pasar tanah abang. Suatu hari babe pitung meminta Pitung untuk menjual kambing ke pasar.
Babe pitung: Pitung ini kambing punya babe, tolong kamu jual di pasar ya.
Pitung: okedeh be, Pitung jalan dulu ye. (salim kepada babe)
Pitung: Semoga kambingnya kali ini terjual tinggi.
(Pitung kemudian menyanyikan lagu ondel-ondel)
ADEGAN 10
Penampilan tari kelas 1 ondel-ondel
ADEGAN 11
Sesampainya di pasar. Pitung mencoba menawarkan kambing miliknya kepada beberapa pembeli.
Pembeli 1: Tong ini kambing dijual berape?
Pitung: 500 aje bang.
Pembeli 1: Ah kemahalan itu. 300 dah aye ambil
Pitung: Jangan bang. Kalau mau kurang, 400 dah aye lepas
Pembeli 1: Okedah, nih ye duitnye. Makasih tong
Pitung: Sama-sama bang.
Pitung: Alhamdulillah untung besar nih aye hari ini. Babeh ama enyak pasti seneng nih. (Menghitung uang dengan senang)
(Dalam perjalanan pulang dari pasar, tiba-tiba saja pitung menabrak seseorang.)
Rais : Heh.. kalo jalan liat-liat dong! Siapa kamu?
Pitung: Maaf bang. Nama aye pitung, dari rawa belong.
Ji’ing : Lain kali hati-hati kalo jalan. Yaudah sana pergi!
Pitung: Iye bang
Pitung: Ih galak banget tuh orang (jalan beberapa langkah) Lah duit aye mana? (mencari uang di dalam kantong) Jangan-jangan pas senggolan tadi? wah aye harus mastiin nih.
Rais: hahaha kita kaya nih ing (menghitung uang yang dicuri dari Pitung)
Ji’ing: Mantap bang Rais hehehe
(Pitung mengikuti orang yang menabraknya tadi diam-diam. Pitung melihat uang hasil menjual kambing tadi diambil oleh mereka)
Pitung: Hei kalian! ternyata bener ye kalian yang ngambil duit aye.
Rais: Duit ape? Pergi sono! orang aye nemu di jalan
Ji’ing: Sana pergi! Sebelum kamu jadi perkedel
Pitung: Dasar perampok, aye belom mau pergi sebelum duit aye kembali!
(Pitung dan perampok berkelahi)
(Akhirnya Ji’ing dan Rais kalah dan menyerahkan uangnya, mereka meminta agar pitung menjadi ketua mereka)
Pitung: Kalian ini ya, masih pengen dihajar lagi?
Rais: Ampun bang (Memohon ampun pada Pitung)
Ji’ing : Kami ngaku kalah bang
Pitung : Kalian merampok orang yang salah. Rampok kompeni noh, yang udeh ngerampok bangsa kite!
Rais: Ampun bang, kalau kompeni kita belum mampu bang. Lawan abang aje, kita udah kalah.
Ji’ing: Mereka punya senjata bang, kita Cuma tangan kosong.
Rais : Bang Pitung kan kuat, mau nggak jadi ketua kita? kita rampok kompeni bareng-bareng?
Pitung: Ngerampok kompeni? (Pitung diam dan berpikir) Baiklah aye mau. Tapi aye punya syarat. Hasil rampokan bukan buat kite, Tapi kita kembaliin kerakyat
Rais, Ji’ing: Oke bang
Kemudian, Ji’ing dan Rais meminta Pitung untuk membantu mereka merampok harta kaum kompeni. Pitungpun setuju, dengan syarat hasil rampokan harus dikembalikan lagi ke rakyat.
ADEGAN 12
Keesokan harinya, merekapun beraksi. Merekapun berhasil merampok rumah dan mengambil harta salah satu kompeni. Hal itu dilakukan berturut-turut setiap malam. Kemudian mereka membagikan hasil rampokannya kepada rakyat.
Pitung : Bang rais dan Ji’ing kesana, aye kesini’
Rais Ji’ing: siap!
(Pitung, rais dan Ji’ing mengambil barang berharga milik belanda. Mulai dari perhiasan, uang dan barang berharga lainnya)
Pitung : Udah pada dapet semua?
Rais Ji’ing: Iya bang ayo kita cabut
ADEGAN 13
Keesokan harinya, pitung dan kawan-kawan menghampiri penduduk yang sedang berkumpul. Pitung dan kawan-kawannya membagikan hasil rampokan kepada penduduk yang kurang mampu.
Pitung, Rais, dan Ji’ing : Assalamualaikum
penduduk 3 : Waalaikum salam ada apa nih?
Pitung : Ini kita mau bagiin sesuatu
Penduduk 4 : Alhamdulillah dapet rezeki. Ni kamu dapet dari mana?
Rais: Adalah, kite nemu di jalan
Pitung : Ini kite dapet rejeki dari Allah. Mau kita kasih ke orang yang membutuhkan
Penduduk 3 dan 4 : Makasih banyak ya Pitung, Rais dan Ji’ing
Ji’ing: sama-sama. Biar bermanfaaf buat semuanye
ADEGAN 14
Para kompeni Belanda berkumpul di rumah Menir. Mereka membahas pencuri yang sudah merampok rumah mereka
Belanda 3: Rumah saya semalam kerampokan. Banyak barang-barang saya yang diambil
Belanda 4 : Yes, my home juga di rampok. Emas saya diambil oleh mereka
Belanda 5: Rumah saya juga dirampok. Pengawal saya melihat pitung dan temannya merampok, tapi pengawal saya gagal menangkap mereka. Mereka berhasil kabur.
Menir: Verdome ………. Ini tidak bisa dibiarkan, berani-beraninya Pitung merampok rumah kita. Pengawal cepat tangkap pitung dan bawa dia kehadapan saya.
Pengawal 1 dan 2: Yes sir
ADEGAN 15
Penampilan tari kicir-kicir oleh kelas 2
ADEGAN 16
Rais dan Ji’ing melawan orang-orang Belanda, tetapi mereka kalah. Satu persatu kawanan si Pitung tertangkap, dari Ji’ing, Rais dan lainya. Sehingga hanya tersisa si Pitung saja.
(Ji’ing dan rais diikat tangannya)
Rais: Lepasin aye! dasar kompeni!
Ji’ing: beraninye ngiket kite, awas pitung pasti bisa ngalahin kalian semua!
Menir :Shut up, diam kalian! Lihatlah pitung teman-temanmu sudah tertangkap. Sekarang giliranmu yang akan aku tangkap
(Pitung dating menghampiri mereka)
Pitung : Memangnya kalian bisa menangkap aye? (berkacak pinggang)
Ji’ing : Bang Pitung tolongin kite
Menir: Kalian cepat habisi Pitung!
(Pitung melawan kompeni belanda dan akhirnya Pitung menang)
Pitung : Pergi kalian dari sini! sebelum aye si Anak Rawa Belo
ng melumat kalian semua!.
Semua orang bersorak gembira karena Pitung berhasil mengalahkan Menir dan komplotannya. Menir dan pengawalnya mengaku menyerah. Pada akhirnya berkat perjuangan Pitung mereka semua hidup dengan tentram. Kisah kepahlawanan Si Pitung menjadi legenda dari Jakarta.
Sekian penampilan dari kami. Terima kasih banyak atas perhatiannya
Wassalamualaikum wr.wb
TAMAT