SEKOLAH INTEGRAL HIDAYATULLAH PROBOLINGGO
· Muqaddimah
(1) Bacalah! dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan,
(2) Menciptakan manusia dari segumpal darah,
(3) Bacalah! Dan Tuhanmu yang maha mulia,
(4) Yang mengajarkan dengan perantaraan kalam,
(5) Yang mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
· Apa itu Sekolah Integral?
Integral berarti menyeluruh, sekolah integral berarti sekolah yang pengelolaannya melibatkan komponen pendidikan secara menyeluruh. Komponen pendidikan tersebut meliputi institusi pendidikan, materi pembelajaran berupa transfer ilmu dan uswah, pendekatan dan metodologi pengajaran, murid serta lingkungan sekolah.
Institusi pendidikan terdiri dari sekolah, keluarga dan masyarakat. Materi pembelajaran berupa ilmu yang dipandang secara komprehensif, merupakan kesatuan yang utuh sehingga tidak ada pemisahan ilmu agama (ulumuddin) dengan ilmu umum (science), dunia dan akhirat. Pendekatan dan metodologi pengajaran merupakan proses transfer ilmu serta metodologi pengembangan ilmu tersebut yang dilandasi oleh uswah (tauladan yang baik), sehingga bukan hanya sekedar transfer ilmu dan kerangka berfikir tetapi juga transfer nilai. Murid sebagai pembelajar dipandang secara utuh dan menyeluruh dari seluruh instrumentasi yang dimiliki manusia, sehingga aspek intelektual, spiritual dan keterampilan dikembangangkan secara terpadu. Pola pendidikan inilah yang diharapkan mampu mengembangkan kemampuan dari seluruh potensi manusia secara maksimal.
· Integrated Learning
Integrated learning adalah proses pembelajaran terpadu yang mengacu pada aspek perkembangan psikologis, aspek kemampuan belajar dan materi pembelajaran.
· Bagaimana Proses Belajar Berlangsung?
Kita telah diajari tentang bagaimana melakukan proses belajar. Sebuah proses yang Allah SWT persaksikan pada setiap diri manusia. Sebuah proses yang terjadi pada setiap diri manusia. Kita tumbuh dan berkembang dalam lingkungan kasih sayang dengan kualitas komunikasi dan interaksi yang begitu efektif. Proses pembelajaran pada saat itu begitu alamiah, tanpa ada rekayasa, semua terjadi dengan naluri kemanusiaan yang fitri.
Manusia terlahir dengan rasa ingin tahu yang tidak terpuaskan. Dorongan rasa ingin tahu itulah yang membuat ia menjadi seorang pembelajar. Karakter seorang pembelajar mengalami pertumbuhan dan perkembang yang sangat menakjubkan selama awal pertumbuhan dan perkembangan kita dari 0 tahun sampai sekitar 7 tahun. Ketika kita terlahir tanpa pengetahuan apapun, ada dorongan untuk melakukan eksplorasi pada seluruh fonomena yang dialami. Belakangan proses tersebut disebut global learning. Belajar global dan alamiah adalah cara belajar yang begitu efektif yang pernah kita lakukan, pada saat itu kita laksana busa (spon) yang menyerap banyak fakta, sifat fisik, kerumitan bahasa dengan cara yang menyenangkan dan bebas tekanan (stres).
Ketika pada usia 1 tahun kita sudah mampu mengkoordinasikan keseimbangan tubuh dan melakukan jalan. Sebuah proses yang secara neurologis dan fisik sangat kompleks, dan hampir tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata dan diajarkan dengan demontrasi. Tetapi kita pada saat itu punya keberanian untuk melakukannya, walaupun jatuh dan jatuh berulang kali.
Ketika pada usia dua tahun, kita sudah mampu berbicara dengan teman sebaya atau orang tua kita, dan orang dewasa lainnya. Pada saat itu tidak berarti tidak ada kesulitan menyusun kalimat, karena sebelumnya tidak pernah ada pembelajaran struktur kalimat, atau cara membuat kalimat. Bahkan ketika bekata dengan lafal yang tidak tepat pun pada saat itu dimaklumi. Sekitar 90 % kata-kata kita gunakan secara teratur sebelum usia ke 4, dan menggunakannya selama hidup. Maha suci Allah yang telah mengajarkan manusia dengan perantaraan kalam.
Pada proses pembelajaran saat balita, kita sering memperoleh umpan balik yang positif dan stimulus yang menantang. Sehingga pada saat itu kita melakukan pembelajaran dengan kemampuan yang tak terbatas, tanpa perasaan putus asa. Perasaan tanpa putus asa yang terlahir dari self esteem, suatu pondasi mental berupa kepercayaan diri, yang secara simultan terbangun dari respon positif dan kemampuan menjawab tantangan yang dihadapi. Pada gilirannya anak yang memiliki self esteem yang tinggi mampu menghadapi berbagai kesulitan, sehingga lebih berhasil melakukan pembelajaran dibandingkan dengan anak yang dibesarkan dengan orang tua atau guru yang otoritarian dan pesimistif.
Tetapi biasanya ketika anak-anak menginjak bangku sekolah (SD dan termasuk TK yang meniru pola SD), mereka berhadapan dengan situasi yang begitu kaku, formal dan penuh aturan serta padat target-target pembelajaran. Pada saat itulah secara perlahan terbangun mind set kualitas hidup yang linier, teratur dan mengikat. Sehingga jika tidak sesuai dengan standar yang telah ditentukan dan berlaku untuk siapa saja maka, kita akan di cap, dilabelisasi dengan kesalahan, ketidak mampuan, kebodohan, yang semuanya akan menggoyahkan self esteem. Pada saat itu benih keraguan telah tertanam dalam psikis anak kita. Umpan balik negatif yang bertubi-tubi diterima kita menjadikan anak kita mengalami kebuntuan belajar (shut down learning).
Pada saat terjadi kebuntuan belajar, proses komunikasi dan interaksi antara orang tua atau guru, yang memiliki harapan terhadap perubahan anak didiknya, tidak efektif bahkan bisa negatif. Indikasinya adalah, ungkapan belajar adalah sebagai ungkapan yang menakutkan, menegangkan, membosankan, melakukan dengan keterpaksaan dan seterusnya.
· Bagaimana melakukan proses pembelajaran untuk anak-anak?
Petunjuk praktis melakukan pembelajaran dengan anak adalah sebagai berikut :
1. Kembangkan komunikasi dengan anak bersifat suportif. Komunikasi ini ditandai dengan lima kualitas, yaitu openness, empathy, supportiveness, postiveness dan equality.
2. Tunjukan penghargaan secara terbuka. Hindari kritik. Jika terpaksa, kritik itu harus disampaikan tanpa mempermalukan anak dan harus ditunjang dengan argumentasi yang rasional.
3. Latihlah anak untuk mengekspresikan dirinya. Orang tua atau guru harus membiasakan ‘bernegosiasi’ dengan anak-anak tentang ‘ekspektasi’ (harapan) perilaku dari kedua belah pihak.
4. Proses pembelajaran bisa efektif dalam lingkungan yang mengembangkan self esteem.
· Bagaimana Terjadinya Proses Pembelajaran pada Anak?
Proses pembelajaran adalah proses yang alamiah. Proses belajar yang didorong oleh rasa ingin tahu. Dari rasa ingin tahu itulah anak akan mengorientasikan seluruh komponen indranya dan perhatiannya untuk mengetahui lebih banyak, maka terjadilah eksplorasi. Kegiatan eksplorasi merupakan kegiatan fitrah, dorongan naluri untuk mengetahui fenomena alam atau fenomena sosial bahkan fenomena tentang dirinya sendiri. Bersamaan dengan kegiatan eksplorasi tersebut tumbuh dan berkembang keterampilan akademis, keterampilan fisik dan keterampilan emosi (istilah menurut Bobbi De Porter dalam Quantum Learning). Informasi yang diperoleh dari seluruh fenomena alam dan sosialnya itu kemudian diinternalisasi dan disimpulkan menjadi kaidah-kaidah atau konsep-konsep.
Peran anak atau siswa adalah sebagai pembelajar, yang mengembangkan potensi dirinya sebagai pembelajar yang mampu mengembangkan keterampilan akademis, keterampilan fisik dan keterampilan emosi secara aktif. Karenanya guru, sekolah hanya memberikan lingkungan, berperan sebagai fasilitator dan moderator proses pembelajaran supaya potensi kompetensi berkembang sesuai dengan yang karakteristiknya.
· Apa Orientasi Pembelajaran?
Seluruh stimulasi baik melalui fenomena alam, fenomena sosial dan fenomena dirinya sendiri adalah dalam rangka mengembangkan tiga karakter dasar yang ada dalam diri manusia, yaitu karakter fitrah atau keagamaan, karakter pembelajar atau pengembangan potensi aqliah, dan karakter jismiyah atau keterampilan hidup.
· Karakter keagamaan
Pengembangan potensi ruhiyah, berupa fitrah keagamaan, maka sejak dini diperkenalkan dengan kaidah-kaidah keagamaan yang jelas termaktub dalam kitab Allah (al-Qur’an) dan sunnah Nabi Muhammad Saw.
Pembelajaran dalam menumbuhkan karakter keagamaan melalui pengetahuan, dan ilmu keagamaan, pengalaman langsung atau pendekatan praktek, contoh pengalaman dari orang lain, dan keterampilan. Secara keilmuan diajarkan tentang arkanul iman (rukun iman) dan arkanul Islam (rukun Islam), serta sirah (sejarah perjuangan) Nabi Saw. sebagai suri tauladan utama dalam kehidupan. Pembelajaran ibadah ritual dan fiqih ibadah, melalui praktek langsung. Pembelajaran praktek ibadah mengacu pada tanggung jawab, atau keharusan yang mengikat sebagai muslim menjelang aqil balig (dewasa secara syar’i), sehingga sampai kelas 4 sudah mendapatkan pengetahuan fiqih ibadah keseharian dan mampu serta terbiasa melaksanakannya.
Pembelajaran al-Qur’an pada tahap awal ini adalah bertujuan untuk mampu membaca al-Qur’an dengan baik dan benar, dan hafal minimal juz 30. Sedangkan proses pembelajaran al-Qur’an dilakukan dengan pengontrolan di sekolah maupun di rumah, upaya ini untuk membangun pembiasaan membaca al-Qur’an setiap hari
Pembelajaran keagamaan pada umumnya lebih banyak bersifat kuantitatif, atau lebih bersifat formal. Karenanya pembelajaran agama juga meliputi aspek praktek langsung baik berupa ibadah mahdhoh (ritual) maupun dalam bentuk akhlaq. Seperti sholat, sudah dibiasakan sebelum ia faham arti sholat, begitu juga dengan puasa, do’a dan dzikir. Hal ini untuk memberikan pengalaman ruhani yang justru akan memberikan pengalaman yang cukup kuat.
Cara pandang keagamaan, spirit keimanan adalah yang melandasi untuk bisa memaknai ilmu umum yang dipelajari sehingga semakin mengukuhkan keyakinan akan kebesaran Allah SWT. Pengintegrasian secara kualitatif (nilai) antara lain keagamaan dengan ilmu umum merupakan proses belajar yang terintegrasi, yang dikembangkan di sekolah integral
· Karakter Pembelajar
Dorongan rasa ingin tahu adalah spirit belajar yang Allah anugerahkan kepada setiap manusia. Dorongan inilah yang melandasi pembentukan karakter belajar. Sehingga dalam pembentukan karakter belajar ada dua hal yang dijadikan acuan, yaitu :
Pertama. Menumbuhkembangkan spirit belajar. Indikatornya meliputi :
Dorongan rasa ingin tahu
Dorongan observasi
Dorongan eksplorasi
Dorongan untuk melakukan demontrasi, dan eksperimentasi (uji coba)
Spirit inilah yang menumbuhkan kebutuhan belajar. Dan apabila belajar sudah merupakan kebutuhan, maka si pembelajar akan berupaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut, baik berupa ilmu, sikap maupun keterampilan. Sehingga ketika kebutuhan belajar itu tumbuh, maka langkah berikutnya adalah membekali keterampilan bagaimana belajar.
Kedua. Membekali keterampilan belajar sehingga senang memiliki keterampilan belajar, karena keterampilan itu fungsional sesuai dengan kebutuhan yang ada.
Adapun keterampilan yang ditumbuhkan adalah :
Senang bercerita
Senang membaca
Senang menulis
Senang berpikir logis, analistis, matematis
Kreatif
Estetis
· Karakter Terampil dan Mandiri (Life Skill)
Seluruh proses pembelajaran akhirnya bermuara pada keterampilan hidup. Ada beberapa komponen dasar yang dijadikan landasan pengembangan kompetensi salam keterampilan hidup, yaitu aspek Kepemimpinan, Manajerial, Interpreneur dan Pengembangan Minat/Bakat (keahlian)
Proses pembelajaran adalah bagaimana memberi landasan keyakinan dan akhlaq (karakter keagamaan) dalam meningkatkan kemampuan dalam proses pembelajaran (karakter pembelajar) untuk diterapkan dalam kehidupan nyata berupa keterampilan hidup.
· Belajar di Sekolah
Sekolah adalah tempat terjadinya proses pendidikan, proses pembelajaran dan proses pelatihan. Proses pendidikan, karena di sekolah juga terjadi transfer nilai, transfer keyakinan, transfer cara pandang kehidupan dan sekaligus transfer akhlaq (moral). Di sekolah juga terjadi proses pembelajaran, proses meningkatkan kompetensi diri untuk selalu berubah menuju yang lebih baik. Dan di sekolah juga terjadi proses pelatihan, yang menumbuhkembangkan keterampilan-keterampilan teknis yang bisa langsung digunakan sesuai dengan kebutuhan.
Proses pendidikan yang kita bangun adalah pengintegrasian komponen yang terlibat dalam proses pendidikan tersebut, meliputi keluarga atau orang tua, guru, lingkungan sekolah dan siswa itu sendiri. Orang tua dan guru serta seluruh komponen sekolah adalah sebagai uswah (tauladan) yang berkepribadian, lingkungan sekolah adalah sosiokultur-keagamaan, yaitu merupakan manifestasi dari pribadi, hubungan dan interaksi antar sesama dan tanggung jawab terhadap lingkungan yang mencerminkan suasana dan refleksi keyakinan.
Proses pembelajaran yang diterapkan adalah stimulasi untuk meningkatkan kompetensi sebagai pembelajar. Landasan proses pembelajaran adalah belajar berdasarkan rasa ingin tahu, karenanya belajar adalah kebutuhan. Ketika belajar karena rasa ingin tahu dan butuh maka, proses belajar akan terorientasi (memiliki tujuan) untuk mencapai suatu yang diharapkan. Belajar adalah menumbuhkan citra positif, karena belajar adalah untuk mencapai keinginan dan pencapaian itulah yang menimbulkan citra positif. Belajar adalah berinteraksi dengan sesama dan masyarakat luas, sehingga belajar adalah kemampuan beradaptasi dan bersosialisasi dengan masyarakat luas. Belajar adalah melakukan sehingga mendapat pengalaman. Belajar memang menyenangkan
Belajar bukan untuk sekolah, belajar bukan hanya untuk mendapatkan nilai, tetapi belajar untuk menyongsong kehidupan.
· Kurikulum Apa yang Dipakai oleh Sekolah?
Kurikulum yang dipakai sekolah adalah kurikulum yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Diknas) yang dipadukan dengan kurikulum Pendidikan Hidayatullah. Kelas I sampai dengan kelas VI semuanya sudah menggunkan Kurikulum 2013 (K-13). Adapun Kurikulum Pendidikan Hidayatullah mengembangkan materi diniyah meliputi PAI (akhlaq, aqidah, sirah), Pembiasaan Ibadah (PIB), Baca Al-Qur’an dengan metode Tilawati dan Bahasa Arab.
· Bagaimana dengan Pencapaian Target Kurikulum Diknas?
Kurikulum Diknas adalah rumusan standar minimal kemampuan yang bisa dimiliki oleh siswa. Kemudian pengembangannya diserahkan kepada sekolah yang bersangkutan. Dengan demikian, proses pembelajaran tetap mengacu pada rumusan target yang ada di kurikulum Diknas dan pesantren yang kemudian dikembangkan oleh sekolah.
· Apa Materi atau Objek Bahan Pembelajaran Anak?
Dorongan rasa ingin tahu terstimulasi dari lingkungan alam dan lingkungan sosial di mana anak berinteraksi. Kegiatan eksplorasi dalam pembelajaran tersebut semakin menarik dan menantang sesuai dengan situasi atau fenomena yang ditemukan, dialami, diterima dan dibayangkan. Akan tetapi fenomena alam dan lingkungan yang dialami menjadi tidak menarik jika tidak distimulasi dan diarahkan sampai ia menemukan jawaban dengan kemampuannya sendiri. Semakin peka terhadap rangsangan fenomena alam dan sosialnya, maka semakin besar rasa ingin tahunya, dan semakin terorientasi untuk mencari dan memperoleh jawabannya, semakin tinggi kemampuan yang ia miliki, dan semakin percaya diri.
Karenanya dalam materi proses pembelajaran pada anak, disajikan dikemas dalam tema-tema. Tema tersebut diangkat dari fenomena lingkungan alam dan sosial yang anak-anak temukan, alami sendiri dalam aktifitas kesehariannya.
· Apa Target dari Pembelajaran dengan Menggunakan Tema?
Penggunaan tema adalah dalam rangka pencapaian rumusan target kurikulum Diknas, karena dalam setiap tema yang dikembangkan dalam proses pembelajaran secara langsung maupun tidak langsung adalah untuk menumbuhkan kemampuan yang ditargetkan kurikulum. Dalam pelaksanaan pembelajaran Integrated Learning siswa tidak diorientasikan hanya sekedar pencapaian target dari rumusan kurikulum, tetapi lebih berorientasi menumbuhkan karakter dasar pembelajar yang sudah dijelaskan sebelumnya.
· Apa Kelebihan Penggunaan Tema-tema ?
Proses pembelajaran lebih mudah dikembangkan. Anak lebih bebas mengeksplorasi informasi baik dari buku bacaan yang mendukung atau dari fakta yang ditemukan, atau dari informasi nara sumber yang didatangkan atau dari gurunya sendiri. Bahkan dengan pendekatan tematik, pembelajaran menjadi komprehensip, menyangkut bidang sosial, ilmu alam, kebahasaan, dan penanaman nilai keimanan.
· Dukungan apa yang Bisa Membantu Proses Pembelajaran Di Sekolah?
Orang tua bisa sebagai nara sumber, jika suatu saat diundang oleh sekolah sesuai dengan tema yang sedang dipelajari. Misalnya karena profesinya, atau latar belakang budaya, suku bangsanya. Atau membantu kelancaran kegiatan pembelajaran terutama jika kegiatan dilakukan di luar sekolah, atau memberikan bahan baik itu berupa buku atau VCD, atau alat peraga. Kegiatan ini dikemas dalam bentuk parent day.
· Mengapa Bukunya Harus Disimpan Di Sekolah?
Ketika belajar dengan tema-tema, kemudian target kurikulum dikembangkan dari tema-tema,. Maka buku pelajaran tidak perlu dibawa ke rumah. Karena keberadaan buku hanya merupakan salah satu penunjang. Buku tersebut bisa dijadikan sebagai latihan belajar. Tetapi bukan merupakan satu-satunya buku yang harus dipelajari di rumah. Hal ini juga untuk menghindari kesan belajar itu harus dengan buku paket pelajaran.
· Buku apa saja yang bisa dibawa ke rumah?
Buku pelajaran yang memang bersifat hafalan dan perlu pembiasaan di rumah, seperti membaca al-Qur’an, sholat dan berdo’a, maka bukunya bisa dibawa ke rumah. Jadi al-Qur’an, buku praktek ibadah dan bahasa Arab dan bahasa Inggris. Dibawa pulang ke rumah. Di samping buku pelajaran, juga buku bacaan yang dipinjam dari perpustakaan sekolahnya.
· Bagaimana orang tua bisa mengontrol materi belajar anak di sekolah?
Untuk mengetahui perkembangan materi pembelajaran, sekolah menerbitkan News Letter minimal satu bulan sekali/sesuai dengan tema. Materi-materi yang ditulis berupa pokok-pokok materi yang bisa dikembangkan sendiri oleh orang tua di rumah sesuai dengan kondisi masing-masing. Hal ini disarankan untuk menambah wawasan dan informasi yang lebih luas pada siswa.
· Belajar di Rumah
Belajar di rumah diorientasikan untuk menumbuhkan karakter keagamaan, karakter pembelajar dan karakter mandiri dan terampil. Dikondisikan untuk terbiasa sholat, mengaji, menghafal do’a atau dzikir dan al-Qur’an. Dibiasakan untuk bercerita, mengungkapkan pengalaman senang atau tidak senang baik itu kegiatan di sekolah maupun di luar sekolah. Tujuannya untuk membantu memahamkan realitas sosialnya dalam rangka mengambil sikap positif. Membaca buku, jika tidak bisa, diajarkan membaca. Jika belum bisa membaca diceritakan dari bahan bacaan. Hal ini semua untuk menumbuhkan kebiasaan membaca, yang sangat bermanfaat dalam fase pengembangan. Untuk mengetahui kemampuan sesuai dengan kurikulum, mendialogkannya dengan putra-putri ibu bapak berdasarkan news letter yang diterbitkan sekolah.
Kegiatan di rumah disarankan untuk membangun pemahaman belajar dalam pengertian yang luas, menyangkut seluruh kegiatan yang dilakukan anak, kemudian diorientasikan untuk pembentukan karakter yang diharapkan.
Proses interaksi, jalinan komunikasi yang dibangun tanpa tekanan, penuh dengan empati, adalah modal awal untuk menghantarkan pertumbuhan dan perkembangan berikutnya. Karana terjadinya prestasi akademik yang rendah jika secara IQ tidak bermasalah biasanya disebabkan perkembangannya (psikis) tidak dihantarkan dengan baik sesuai dengan kebutuhannya.
· Alasan pembelajaran di rumah
Ada dua karakteristik anak belajar di rumah yang itu belum tentu bisa sepenuhnya dilakukan di sekolah, karakteristik tersebut adalah :
1. Sangat individual (higly individualized). Di sekolah pengelolaan belajar dengan cara klasikal, dengan jumlah peserta didik 25 anak. Sehingga kemungkinan guru belum mampu mengayomi sepenuhnya berdasarkan karakteristik indivual yang unik dan khas. Maka orang tualah yang paling tahu karakteristik setiap putra-putrinya.
2. Relevansi dengan kepribadian anak. Orang tua yang lebih mengetahui tentang kebutuhan, kelebihan, kekurangan anaknya. Secara emosional orang tua lebih dekat dengan anaknya. Dan yang paling penting adalah orang tua adalah model yang paling awal dan paling penting dalan proses belajar anak.
Sekolah sebagai mitra para orang tua, telah membuat model program pembelajaran yang mengembangkan proses belajar yang alamiah, mudah, menyenangkan, menantang, berprestasi dan percaya diri. Ada kompetensi dasar yang dijadikan acuan dalam melakukan proses pembelajaran, yaitu senang membaca, senang menulis, senang bercerita, mengungkap ide, gagasan dan perasaannya, senang terhadap seni dan kreativitas.
Harapannya adalah, bagaimana pembelajaran di rumah dengan karakteristiknya itu bersama-sama menstimulasi penumbuhan dan pengembangan kompetensi dasar pembelajar dari seluruh fenomena yang dialami di luar sekolah.
· Target pembelajaran
Aspek-aspek yang perlu diperhatikan dan dikembangkan dalam pendidikan dasar seperti tampilan Tabel 1. Aspek-aspek Pendidikan dan Fungsi Sekolah Dasar, sepenuhnya mengacu kepada tujuan pendidikan itu sendiri, yaitu (1) Terbentuknya insan kamil yang memadukan pengembangan potensi rukhiyah, aqliyah dan jismiyah (2) Menguasai Ulumuddin (3) Memiliki spirit saintis dan menguasai ilmu dan memiliki keterampilan memadai.
Aspek pertama adalah pembentukan kepribadian Islam. Kurikulum pendidikan SD harus dapat memberikan dasar-dasar terbentuknya kepribadian Islami pada diri anak. Anak dihantarkan agar dapat mengerti dan meyakini aqidah Islam. Anak juga dapat mengerti hukum-hukum Islam,
terutama yang berkaitan dengan ibadah fardiyah, halal-haramnya makanan dan minuman, pakaian, dan akhlaq. Dengan keterpaduan aspek rukhiyah, aqliyah dan jismiyah yang ada pada kegiatan belajar di SD, anak dibiasakan rajin melakukan ibadah fardiyah, selalu mengkonsumsi makanan halal, menutup aurat. Pergaulan yang dibina di SD juga memotivasi anak agar selalu berakhlakul karimah, rajin belajar, bertanggung jawab serta berjiwa mandiri, aktif dan kreatif dan juga terbiasa untuk selalu berpikir rasional.
Aspek kedua adalah penguasaan Ulumuddin. Sesuai dengan fase perkembangan anak dimana anak berada pada kondisi lebih aktif dan antusias dalam belajar karena ia berada dalam keadaan selalu ingin tahu, maka kegiatan belajar di sekolah dasar harus disusun sedemikian rupa agar secara bertahap anak dihantarkan untuk menguasai Ulumuddin. Antusiasme anak digiring untuk mengetahui hukum-hukum Islam, khususnya yang berkaitan dengan ibadah fardiyah (shalat, shaum Ramadlan, shadaqah, dan sebagainya) dan mengetahui sirah Rasul dan shahabat. Dengan pembiasaan yang ada dalam kegiatan belajar di sekolah dasar anak juga diharapkan dapat menghafal al-Qur’an sebanyak 2 juz (juz 29 dan 30), mampu bermuhadatsah bahasa Arab secara sederhana dengan tema-tema seperti anggota tubuh, keluarga, sekolah, teman dan lain-lain. Selain itu, anak juga diharapkan telah mampu menulis huruf Arab.
TARGET HAFALAN AL-QUR’AN
3 Juz