Cerita Pendek atau Cerpen adalah salah satu jenis prosa yang isi ceritanya buka kejadian nyata dan hanya di buat-buat.
Orangtua bagi kita anaknya adalah segalanya. Berada disampingnya merupakan kebahagiaan yang tak terhingga karena kasih sayangnya yang tak pernah putus putusnya.
Aku memiliki 4 saudara 3 perempuan dan 1 laki laki yaitu aku. Bagiku ibu adalah wanita hebat, tangguh dan tak pernah mengeluh. Rasa sakit apapun yang dia rasakan tidak pernah menyampaikan kepada kami anaknya. Sosok ayah bagiku adalah ayah yang penuh kasih sayang kepada kami anak – anaknya, belum pernah aku melihat ayah kasar dan menyerah dalam mendidik ku dan saudaraku, walaupun aku sering bertengkar dengan saudara saudaraku
Ayah adalah orang yang terhormat di kampung ku dan orang tersabar di kampung ku. Walaupun begitu ayah masih sering di fitnah oleh orang lain, tetapi kegigihan mereka untuk menghidupi 4 anak tidak pernah putus, dan aku terinspirasi dengan ibu dan ayah ku. Ayah dan ibuku pun meninggal. meninggalkan aku dan saudaraku. Ayah dan ibu berpesan kepada ku, agar aku rukun hidup berdampingan dengan 3 kakak perempuanku dan saling bantulah yang ekonominya kurang.Pesan itu selalu aku pegang, sehingga saat ini aku menguliahkan 2 orang ponakan , masing - masing anak dari kakak perempuanku. Pesan ayah ibu telah kutunaikan semoga Allah selalu memberikan kelapangan kubur dan tempat yang layak bagi ayah ibu ku yang luar biasa.
Oleh Lufti Rafif Shodiqin
Bagi Dahlia, rumahnya adalah tempat paling nyaman untuk ditinggali. Bagaimana tidak, ia bisa bebas untuk mengekspresikan perasaan yang ia tak tunjukkan saat di luar rumah, ia bisa bersantai sepanjang hari dan yang paling penting ia bisa bertemu keluarganya di rumah. Dahlia sayang sekali dengan keluarganya. Hanya saja ia tak bisa mengekspresikannya karena terhalang gengsi yang sangat tinggi.
Dahlia dibesarkan dengan kasih sayang yang begitu besar. Sebesar isi dunia beserta isinya. Bahkan mungkin luasnya dunia tak cukup untuk menampung kasih sayang yang diberikan orang tuanya selama ia hidup. Walaupun orang tuanya sibuk bekerja, mereka tak akan pernah lupa dengan putri satu-satunya yang telah menghiasi hari hari mereka. Bagi mereka, Dahlia adalah harta paling berharga dalam hidup mereka.
Ayah Dahlia bekerja sebagai seorang polisi.Tak hanya hebat dalam menangkap penjahat, ia juga hebat dalam menjaga keluarganya. Sementara itu, bunda Dahlia bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan besar yang ada di Indonesia. Walaupun bundanya sibuk bekerja, ia tak pernah lelah mengurus keluarganya. Bahkan ia masih sempat membuat bekal untuk Dahlia sebelum Dahlia pergi ke sekolah. Bundanya selalu teringat tentang Dahlia. Sampai-sampai ia lupa untuk memikirkan dirinya sendiri.
Dahlia sangat menyukai perhatian dan kasih sayang yang diberikan orang tuanya. Namun, ia terlalu gengsi untuk sekedar mengatakan kata cinta untuk kedua orang tuanya. Setiap mereka memberikan kata-kata manis seperti “Ayah dan bunda sayang sekali dengan Dahlia,” ia tak pernah membalasnya dengan kata-kata cinta juga. Dahlia lebih memilih untuk menunjukkan rasa sayangnya dengan cara membanggakan orang tuanya dengan prestasi-prestasi yang ia miliki. Orang tuanya tentu tak mempermasalahkan hal itu karena mereka mencintai Dahlia apa adanya.
Seiring berjalannya waktu, Dahlia remaja tumbuh menjadi Dahlia dewasa yang kini hidup mandiri. Ia tak tinggal lagi di rumah kesayangannya yang sudah ia tinggali semenjak ia bayi sampai lulus SMA. Dahlia yang kini sibuk bekerja sampai sampai 2 bulan sudah ia tak menengok kedua orang tuanya. Ia terlalu larut dalam pekerjaan kantornya yang tak ada habisnya itu. Kadang, Dahlia berpikir inikah rasanya menjadi ayah bunda saat mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia jadi merasa bersalah karena sering menggunakan uang hasil jerih payah kedua orang tuanya untuk hal-hal yang tidak berguna.
Suatu hari, Dahlia sedang bersantai di apartemennya. Hari ini adalah tanggal merah. Jadi, ia memutuskan untuk bersantai sejenak sebelum kembali bekerja keesokan harinya. Ia menghabiskan waktunya dengan menonton serial drama Korea favoritnya yang berjudul “Hi,Bye Mama!”. Ceritanya yang menyentuh mampu membuat Dahlia menghabiskan sekotak tisu yang memang sengaja ia beli sebelum menonton serial drama Korea tersebut. Dahlia jadi teringat keluarganya setelah menonton ini. lalu, ia membuka sekotak boks yang bertuliskan “Memories’ di atasnya. Boks itu menyimpan memori tentang masa kecil Dahlia sampai ia remaja. lalu, ia melihat-lihat isi boks yang ia pegang. Banyak foto-foto Dahlia bersama keluarganya saat ia kelulusan, liburan ke luar negeri, sampai foto-foto candid Dahlia yang diambil oleh kedua orang tuanya.
Saat melihat-lihat isi boks itu, tanpa sadar Dahlia meneteskan air matanya. Ia baru sadar betapa ia begitu sibuk hingga menghubungi orang tuanya untuk sekedar bertukar kabar saja tidak sempat. Dahlia lalu memutuskan untuk mengambil cuti di keesokan harinya agar ia bisa menjenguk orang tuanya yang sudah 2 bulan tak ia tengok. Ia memutuskan untuk pulang ke rumahnya secara diam-diam sebagai kejutan untuk orang tuanya.
Keesokan harinya Dahlia berangkat dari apartemennya ke rumahnya dulu. Perjalanannya yang sedikit terhambat karena kondisi jalanan yang padat membuat Dahlia sedikit kesal. Ia ingin segera tiba di rumahnya
untuk menemui Ayah dan Bunda. Begitu sampai, lalu, ia membuka pintu rumahnya. Kreek….. Pintu pun terbuka. Ayahnya yang penasaran siapa yang masuk ke rumahnya siang bolong seperti ini pun lalu pergi ke ruang tamu untuk melihat siapa yang datang. Betapa terkejutnya ayah saat melihat putri semata wayangnya sudah pulang. Ayah yang masih terkejut langsung memanggil bunda yang sedang berada di kamarnya. “Bunnn!! Anak kita ada di rumah nih!” kata ayah Dahlia sedikit berteriak. Bunda Dahlia yang mendengar ayah Dahlia berteriak pun segera turun dari kamar. Ia juga sama terkejutnya seperti ayah ketika melihat Dahlia di ambang pintu rumahnya.
“Nak…kenapa tidak bilang bunda kalau mau pulang?”
“Bunda senang sekali bisa melihat kamu lagi,” kata bunda dengan mata rindu kepada anaknya.
“Hehehehe, kan ceritanya surprise bun jadi Dahlia ga bilang dulu sama bunda. Bunda sama ayah apa kabar? Sehat kan semua?”, kata dahlia sedikit terkekeh.
“Alhamdulillah, bunda sama ayah sehat. Kamu apa kabarnya?”
“Ayo masuk ke dalam daripada di luar terus panas”
“Alhamdulillah aku sehat bun. Aku masuk yaa… Assalamualaikum!”, ucap Dahlia.
Dahlia kangen sekali dengan suasana di rumah ini. Rumah yang begitu hangat dan penuh cinta di dalamnya. “Maaf ya ayah bunda, Dahlia jarang ngabarin bunda sama ayah karena Dahlia lagi sibuk di kantor”, Kata Dahlia. “Tidak usah meminta maaf nak..bunda dan ayah mengerti kok kamu lagi sibuk”. Kata bunda dengan senyumannya yang begitu sejuk.
“Oh iya, kebetulan bunda masak ikan tuna cabe ijo sama sayur bayam. Kesukaan kamu kan itu. Kamu sudah lapar belum? Kalau belum, yuk makan sama-sama.”, Ucap bunda Dahlia.
Keluarga itu pun makan bersama dengan menu favorit kesukaan Dahlia. Waktu makan mereka pun terisi dengan suara tawa dan obrolan hangat. Inilah salah satu kenangan yang Dahlia rindukan yaitu mengobrol bersama di meja makan. Setelah selesai makan bunda dan ayah Dahlia tiba-tiba memberikan Dahlia sekotak hadiah lengkap dengan pitanya.
“Dahlia dibuka nak, ini hadiah dari ayah dan ibu untuk kamu,” kata ayah sambil memberi hadiahnya.
“Ayah sama bunda kok tiba-tiba kasih aku hadiah? Ulang tahun aku kan masih lama,” ucap Dahlia kebingungan.
“Gapapa, terima saja nak, anggap hadiah dari kami karena sudah bekerja keras untuk membanggakan kami selama ini,” jawab bunda Dahlia.
Setelah dibuka, kotak itu berisi sepucuk surat dan sebuah tas yang sudah Dahlia idam idamkan dari dulu. Namun, ia tak membelinya karena uang tabungannya belum cukup. Setelah melihat tas itu, Dahlia merasa terharu sekaligus senang karena orang tuanya mau membelikan tas yang harganya tidak murah. Padahal mereka bisa saja membelanjakan uangnya untuk keperluan mereka sendiri.
Setelah itu, Dahlia membuka sepucuk surat yang berada di kotak itu juga.
“Assalamualaikum nak. Apa kabar? Kamu sehat kan? Ayah sama bunda alhamdulillah sehat. Kami sangat bangga kepadamu Dahlia. Kamu sudah berjuang sendiri untuk mencukupi kebutuhan kamu, padahal kamu sendiri tahu kamu bisa meminta uangnya kepada kami. Kamu tumbuh menjadi perempuan yang mandiri dan pekerja keras. Kami tidak menyangka kamu akan tumbuh secepat ini, Nak. Di mata kami, kamu masih anak kecil yang penuh keceriaan. Jangan hilangkan keceriaan itu ya. Maafkan ayah dan bunda apabila dulu pernah menyakiti hati kamu dengan bentakan dan omelan yang keluar dari mulut kami. Sesungguhnya itu semua kami lakukan karena kami sayang kepadamu. Jika kamu menjadi ibu, kamu pasti mengerti apa yang kami lakukan semata-mata hanya untuk menjagamu. Nak, ketahuilah cinta kami tidak akan pudar sampai kapanpun.”
Air mata Dahlia keluar seiring dengan membaca surat dari ayah bundanya. Dahllalu, ia memeluk orang tuanya karena ia merasa dia sudah banyak melakukan kesalahan kepada orang tuanya. Namun, kasih sayang mereka kepada Dahlia masih sama seperti saat mereka menggendong Dahlia untuk pertama kalinya.
“Bunda ayah terimakasih sudah membesarkan Dahlia dari Dahlia kecil sampai sekarang. Maafkan Dahlia atas kesalahan Dahlia yang pernah menyakiti hati ayah dan bunda,” ucap Dahlia sambil memeluk ayah dan bundanya.
“Tidak apa-apa nak. Manusia tempat berbuat nya kesalahan. Kami juga pernah berbuat kesalahan kepadamu. Apapun yang terjadi, kami akan tetap menyayangimu sama besarnya ketika pertama kali kamu lahir ke dunia ini. Ayah dan bunda sayang Dahlia.”
“Dahlia juga sayang ayah dan bunda.”
Oleh Chayla Zhafiira
Di sekolah SMP yang damai dan tentram, terdapat seorang murid perempuan bernama Anna. Anna memiliki kehidupan yang cukup baik disana. Memiliki pergaulan baik dan akademik yang standar. Anna tidak pernah merasa dirinya dibawah dari kata sempurna. Ia selalu merasa pede dan tidak pernah mengeluh tentang dirinya. Namun semuanya seketika berubah ketika ia berteman dengan seseorang yang baru.
Anna dan teman teman se-gengnya selalu terbuka untuk menjadi teman dekat. Hingga suatu hari Anna berteman dengan anak pindahan yang baru masuk ketika naik kelas 8. Anak tersebut bernama Mona. Mona merupakan anak yang berprestasi, selalu ikut lomba dimana-mana, hingga memiliki akademik yang sangat bagus. Sehingga ia menjadi disayang oleh guru serta teman-temannya disekolah. Tak lupa juga Mona memiliki fisik yang sangat cantik, banyak pula yang menyukai dirinya.
Saat itu juga, Anna mulai merasa tidak pede dengan dirinya. Ia mulai merasa kurang dan tidak sempurna. Setiap Anna berkumpul dengan geng-nya, yang tentu saja ada Mona, Anna selalu diam dan mendengarkan. Anna yang tadinya selalu memiliki topik untuk dibicarakan, kini hanya terdiam di tempat duduknya. Anna tidak membenci Mona, hanya saja ia merasa dirinya rendah. Ia tidak berani untuk bersikap apapun didepan Mona. Ia merasa malu dengan dirinya.
Suatu ketika jam istirahat pertama, Anna seperti biasa sedang berbicara bersama teman-temannya di depan kelas. Ketika Anna ingin membicarakan suatu topik yang seru, tiba-tiba Mona datang. Ia membawa beberapa makanan ringan untuk dimakan selagi berbicara. Saat itu juga, Anna terdiam. Ia hanya tersenyum kepada Mona.
“Terima kasih ya, Mona.” Ucap Anna sembari memberinya senyuman.
“Iya, sama-sama Anna!” Jawab Mona dengan antusias.
Mereka pun lanjut berbicara dengan Mona dengan Anna yang hanya terdiam dan mendengarkan. Terkadang Anna melihat ke teman-temannya yang sedang berbicara dengan Mona sembari memikirkan beberapa hal di kepalanya.
“Wah, pada seneng banget ya ngibrol sama Mona.. apa aku ga se-asik Mona ya? Aku ga semenarik itu ya?” pikirnya
Saat itu juga, Anna memutuskan untuk ke toilet. Teman-temannya termasuk Mona mempersilahkannya dan Anna bergegas pergi ke toilet. Tanpa Anna ketahui, Mona dan teman yang lainnya merasa curiga. Mengapa selama ini Anna hanya terdiam dan tidak berkata apa apa? Mereka sudah berpikir ada yang aneh dengan Anna. Namun, mereka hanya menunggu penjelasan Anna saja. Di sisi yang lain, Anna sedang di dalam toilet. Ia sedang melihat dirinya yang ada di cermin sembari meraba beberapa bagian di wajahnya.
“Aku sejelek itu ya? Kok aku ga secantik Mona, ya?” gumamnya.
“Aku juga ga punya prestasi yang banyak, akademik ku pas-pasan. Ga ada juga aku jadi murid kesayangan guru.. Apa aku ga se-sempurna itu ya?” pikirnya.
Anna terus menggumam dan memikir hal-hal yang buruk tentang dirinya. Ia selalu merasa dirinya tidak sempurna. Anna mulai membenci dirinya hanya karena ia tidak seperti Mona yang sempurna. Dan tak lama setelah itu, bel pun berbunyi. Anna segera berlari balik ke kelas agar tidak telat.
Waktu pun berlalu, Anna sekarang sedang di dalam kamarnya. Lagi-lagi ia melihat dirinya yang ada di cermin sembari memberi komentar buruk tentang dirinya. Ia sangat membenci dirinya yang sekarang. Ia merasa insecure tentang dirinya.
“Aku jelek, aku bodoh, aku ga berprestasi, aku ga sempurna!! Aku pasti bakal dijauhin sih..” Anna pun mengehela nafasnya dalam-dalam.
Ketika Anna sedang sibuk mengomentari dirinya, tiba-tiba pintu rumahnya diketuk. Anna segera melihat ke arah jendela dan terkejut melihat teman-teman geng-nya termasuk Mona. Anna merasa bingung dan penasaran dengan alasan mereka datang ke rumahnya saat sore hari. Ia bergegas ke pintu rumahnya dan membukakannya untuk teman-temannya. Baru saja ia buka tiba-tiba Anna dikerubungi oleh teman-temannya yang membawa beberapa makanan di tangannya. Anna menjadi semakin bingung dengan situasi sekarang.
“Kalian ada apa datang kesini? Pake bawa makanan segala.. haha..” Ucap Anna dengan canggung.
“Kita cuma mau temani kamu Anna. Kalau boleh tanya… kamu selama ini ngerasa insecure ya sama aku?” Jawab Mona.
“Hah?! Kok bisa tau?!” Ucap Anna dengan terkejut.
“Kamu selama ada aku selalu bersikap aneh, aku tau banyak orang yang insecure sama aku, tapi kalau boleh jujur, kamu lebih sempurna dari aku. Kamu murah senyum, baik hati, dan selalu sedia untuk teman-teman kamu. Kamu juga cantik banget, Anna…” Jawab Mona dengan serius.
“Kamu ga bohong kan, Mona?”
Mona menggelengkan kepalanya diikuti dengan teman-teman lainnya. Anna pun seketika merasa terharu dengan ucapan Mona. Mereka semua mulai memeluk Anna dengan erat sembari menenangkan Anna. Tak lama setelah itu, mereka mulai nongkrong di rumah Anna. Dari saat itulah Anna mulai merasa dirinya lebih baik dari sebelumnya. Dirinya sempurna seperti Mona dan ia tidak lagi membenci dirinya sendiri. Anna sudah sadar bahwa semua orang itu sama, semua orang itu sempurna tergantung dengan bagaimana mereka melihat dirinya.
Oleh Sekar Kinanti
Akio, ia suka sekali balapan karena sering menonton pertandingan balap mobil di televisi. Pada saat umur 9 tahun, Akio masuk akademi balap mobil dan memang kemampuan balapan dia cukup bagus dibandingkan teman satu akademi lainnya. Akio sangat semangat dalam latihan karena ia ingin suatu saat nanti, ia bisa ikut kejuaraan balap mobil sedunia.
Sekarang, ia sudah beranjak dewasa, ia sudah beberapa kali memenangkan kejuaraan nasional, dan ia sudah menjadi pembalap inti disuatu klub balap. Pelatih Akio yaitu Coach Yudo, menyarankan Akio untuk mengikuti ajang kejuaraan balap mobil sedunia di Jerman musim depan. Akio cukup percaya diri untuk mengikuti ajang tersebut, akhirnya ia mendaftar pada ajang tersebut dan Akio adalah salah satu pembalap dari Indonesia yang ikut pada ajang kejuaraan balap mobil sedunia ini.
Akio sudah mulai berlatih jauh sebelum ajang tersebut dimulai, ia berlatih cara untuk menyalip lawan, dan juga ia berlatih “drifting” yaitu teknik mengendaikan mobil yang tidak terkontrol atau mengepot pada saat ada tikungan.
2 Hari sebelum ajang dimulai, Akio melihat kondisi treknya, dan ia melihat 1 pembalap berasal dari Jerman yaitu Miky. Miky terlihat sangat jago untuk menyalip lawannya dan juga mobil yang ia pakai jauh lebih cepat daripada mobil Akio. Pada saat Akio melihat itu, ia sudah mulai merasa tidak percaya diri dengan kemampuannya, Akio merasa bahwa ia akan kalah jika melawan Miky.
“Kamu kenapa? Kok kayaknya keliatan cemas?”, tanya Coach Yudo
“Emm…Saya kayaknya gak bisa menang Coach, liat mereka, mereka jago sama mobilnya lebih cepat dibandingan kita.”, Jawab Akio Tetapi Coach Yudo tetap menasihati Akio, agar Akio tetap percaya diri bahwa ia mampu mengalahkan Miky dengan kemampuan dirinya.
“Ayo, jangan cemas dong, percaya sama diri kamu….keluarkan semua kemampuan mu Akio, kamu mungkin mobilnya kalah cepat, tetapi mereka belum tentu bisa melakukan drifting kayak kamu Akio.”
“Jangan mikir kamu bakal kalah sama mereka, kamu pasti bisa. Lihat mereka, mereka gak terlalu jago drifting-nya dibandingkan kamu.”
“Jangan sia-sia kan kesempatan, kalo ada celah buat salip pembalap lain, langsung salip jangan ragu-ragu.”
Ucap Coach Yudo, karena motivasi itu Akio mulai percaya diri dan yakin atas kemampuan yang ia miliki bahwa ia bisa memenangkan ajang ini.
Berkat kepercayaan dirinya dan keyakinan pada kemampuannya, pada lap akhir ia berhasil menyalip lawannya yaitu Miky dengan melakukan drifting ada tikungan terakhir, alhasil Akio memenangkan ajang kejuaraan balap mobil sedunia ini, dan Akio berhasil menjadi pembalap pertama Indonesia yang memenangkan ajang tersebut.
Jadi, jangan menyerah dan jangan menganggap remeh diri sendiri, setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Jika kita kalah dari orang lain maka jangan putus asa, karena kamu memiliki kemampuan yang mungkin orang lain tidak memilikinya. Percaya pada diri sendiri dan yakin pada kemampuan yang dimiliki juga merupakan contoh dari Self Love.
Oleh Arva Khalfani
Pagi itu, di atas Puncak Gunung. Empat sahabat dekat, Azzam, Raden, Yuda, dan Malik, telah lama merencanakan liburan ini. Mereka membuat rencana liburan ini untuk mengikuti pertandingan yang diselenggarakan di puncak gunung ini.
Perjalanan mereka penuh petualangan. Mereka melewati hutan yang rindang, sungai yang tenang, dan beristirahat di desa-desa kecil yang ramah. Saat sudah sampai, mereka bertemu dengan Kak Ricky sedang mengobrol dengan pelatih lainnya dan teman-teman yang sedang latihan
Setibanya di gelanggang, mereka melihat arena pertandingan yang megah yang dikelilingi oleh perguruan pencak silat lainnya. Mereka tahu bahwa tantangan besar menanti, tetapi persahabatan mereka yang erat memberikan kekuatan.
Kompetisi dimulai. Azzam, Raden, Yuda, dan Malik beraksi di atas panggung. Mereka tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, tetapi juga sportif dan kecerdasan. Pertarungan demi pertarungan, mereka menghadapi lawan-lawan tangguh, dengan kerja keras dan semangat.
Mereka berempat sudah sampai di babak terakhir mereka melawan 4 perguruan terbesar di indonesia. Mereka sudah di gelanggang sesuai kategori masing-masing. Dengan penuh semangat mereka menghajar para atlet silat dengan sepenuh tenaga.
Namun mereka berempat kalah karena lawan-lawannya sangat lincah dan gesit. Mereka kecewa namun tidak dengan kak Ricky yang justru bangga karena sudah sampai ke babak terakhir.
Malam pertandingan terakhir menjadi puncak petualangan, tetapi liburan mereka di puncak gunung masih jauh dari berakhir. Setelah merayakan kemenangan dengan penuh kegembiraan, mereka memutuskan untuk menjelajahi keindahan alam Gunung Puncak.
Mereka memulai dengan menjelajahi hutan-hutan yang lebat, menyusuri jalan yang tersembunyi. Di sana, mereka menemukan air terjun yang memukau, tempat mereka berenang dan bermain air dengan sukacita.
Selanjutnya, mereka mendaki ke puncak tertinggi ditempat itu untuk menyaksikan matahari terbenam yang mengagumkan. Ketika matahari merosot di balik gunung-gemunung, mereka sangat bangga karena sudah mencapai rencana yang mereka impikan sejak dulu
Selama beberapa hari berikutnya, Azzam, Raden, Yuda, dan Malik menjelajahi puncak-puncak tersembunyi, danau-danau alami yang indah, serta bertemu dengan penduduk desa yang ramah. Mereka berbagi cerita-cerita petualangan mereka dan mendapatkan wawasan tentang budaya dan kehidupan di pegunungan.
Selama sisa liburan mereka di puncak gunung Azzam, Raden, Yuda, dan Malik menjelajahi lebih banyak lagi keajaiban alam.
Pada suatu pagi, mereka memutuskan untuk mengunjungi desa terpencil yang terletak di lereng gunung. Di sana, mereka disambut dengan hangat oleh penduduk desa yang ramah. Mereka belajar tentang kehidupan sehari-hari di desa itu bahkan mencoba makanan khas dan tradisional yang lezat.
Kemudian mereka menghabiskan waktu bersama dengan penduduk desa, membantu kerja bakti, dan berbagi cerita tentang perjalanan mereka. Ini adalah pengalaman yang mendalam dan memperkaya, mengingatkan mereka tentang nilai-nilai persahabatan.
Sebelum akhirnya pulang, Azzam, Raden, Yuda, dan Malik kembali ke puncak gunung untuk satu pengalaman terakhir yang tak terlupakan yaitu berkemah di tengah hutan. Mereka duduk di sekitar api unggun dan bercerita.
Ketika tiba waktunya untuk pulang, Azzam, Raden, Yuda, dan Malik membawa pulang kenangan-kenangan yang akan mereka simpan sepanjang hidup. Mereka naik kendaraan mereka dengan hati yang penuh haru, menatap kembali ke puncak gunung yang telah menjadi saksi perjalanan mereka yang luar biasa.
Oleh Sultan Harfiano
Di suatu tempat terdapat tiga teman sejoli bernama Ome, Ra, dan Lili. Suatu hari Ra mengajak kedua teman nya untuk berlibur di sebuah kabin di hutan. Awal nya Ome menolak mentah-mentah tawaran Ra tapi setelah dibujuk oleh temannya akhirnya ia ikut. Mereka memulai perjalannya ke hutan yang gelap, saat di perjalanan mereka melewati kabut yang sangat tebal tapi mereka pikir itu hanya cuaca yang kurang baik karena bisa terlihat bahwa langit sudah mulai gelap dan seperti akan turun hujan. Mereka sampai di kabin cukup malam terlihat kabin yang bisa dibilang cukup besar
"Kabinnya cukup besar tapi luar nya bisa dibilang cukup menjijikan.." ucap Ome
Kedua teman Ome hanya geleng kepala. Akhirnya mereka bertiga memasuki kabin tersebut yang terlihat cukup mewah. Mereka menyimpan barang mereka di kamar masing-masing kemudian mereka duduk-duduk di ruang tamu. Hari sudah semakin gelap tiba-tiba ada yang mengetuk pintu tersebut. Ketiga teman tersebut bingung siapa yang datang karena sudah gelap, akhirnya Ome memberanikan diri untuk membuka pintunya. Saat pintu tersebut dibuka tidak telihat apa-apa, hanya hutan. Ome menutup pintu tersebut walau masih dalam kebingungan
"Mungkin hanya angin?" Ucap Lili.
Setelah ucapan Lili mereka tidak berpikir panjang lagi. Karena sudah gelap mereka memutuskan untuk tidur karena mereka merencanakan untuk berjalan-jalan di hutan pada keesokan harinya. Pagi pun tiba matahari menyinari kamar Ome yang kemudian terbangun. Ome membangunkan kedua kawannya yang lain.
"Pagi sekali.. aku masih ingin tidur.." ucap Ra.
Ome melihati Ra karena ia yang mengajaknya ke sini ia juga yang malas. Akhirnya mereka bertiga bersiap-siap. Saat mereka ingin keluar rumah, ada sebuah kabut besar yang menghalangi mereka. Lili dan Ome menolak untuk pergi akhirnya hanya Ra yang pergi jalan-jalan. Sudah lama Ra jalan ia melihat sebuah kabin di depannya aneh nya itu kabin yang sama yang ia tempati, ia bisa melihat kedua temannya masih di dalam melalui jendela. Tapi, setahu Ra ia hanya berjalan lurus ke depan bukan ke belakang bagaimana ia bisa balik ke kabin mereka. Ra diam kemudian ia mengetuk pintu kabin tersebut, Ome membukakan pintu dan Ra pun masuk tapi Ome hanya diam seperti dia tidak melihat apa-apa kemudian menutup pintunya kembali. Beberapa saat kemudian Lili berkata
"Ome bukankah tadi Ra hanya pergi sebentar kenapa ia tidak balik-balik ya?" Tanya Lili
Ome diam tidak tahu mau menjawab apa. Ra yang melihat mereka berdua berbincang malah tambah bingung karena dirinya ada di dekat mereka. Di sisi Lili ia semakin panik tidak melihat temannya balik. Hari sudah mulai gelap dan masih tidak terlihat keberadaan Ra. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar dan mencari Ra sementara Ome menjaga Kabin tersebut. Lili pergi berjalan lurus ke arah kabut yang tebal. Ia berjalan sampai ia malah menemukan jalan keluar hutan tentu Lili bingung karena ia pikir ia hanya jalan sebentar. Lili lanjut jalan keluar hutan tiba-tiba ia mendengar teriakan Ome di hutan. Lili langsung lari kembali ke hutan tersebut sampai ia menemukan kabinnya. Saat ia membuka pintu kabin terlihat Ome dan Ra tergeletak tak bernyawa, Lili panik dan ia ingin lari tapi ia mendengar suara
"Kenapa kau ingin meninggalkan kami..?" Ucap Ra atau sesuatu yang memiliki bentuk mirip dengan Ra.
Selesai.
Oleh Nararya Paramesti
“Kita beranjak dewasa,
Jauh terburu seharusnya,
Bagai bintang yang jatuh,
Jauh terburu waktu”
Sudah tidak asing lagi lagu “Beranjak Dewasa” yang dinyanyikan oleh Nadin Amizah.
Lagu yang disukai banyak orang, termasuk Aruna. Remaja perempuan yang berumur empat belas tahun ini sedang mendengarkan lagu kesukaannya dengan senang hati. Ia sudah memasuki Sekolah Menengah Pertama di waktu akhir.
Pada sore menjelang malam kali ini, Aruna sedang mengerjakan pekerjaan rumah nya. “Gimana ya nanti pas SMA? Duhh jangan mikir kesitu dulu deh, ini matematika SMP aja susah banget. Tapi aku bisa ga ya masuk SMA yang aku mau?” Itulah pertanyaan yang terus diputar-putar dibenak Aruna.
“Ah udahlah, mendingan aku tidur aja.” Ucap Aruna.
Pagi nya, Aruna terbangun karena bunyi alarm yang sangat kencang, ia langsung bergegas mandi, lalu sarapan.
“Bu, Aru berangkat ya!” Kata Aruna kepada ibu nya
“Ayah juga berangkat ya bu!” Ucap Aron, ayah Aruna.
“Iya siap, hati hati ya kalian!” Saut Arini, ibu Aruna.
Setelah itu, Aru pun langsung bergegas menuju sekolah dengan menaiki sepeda-nya. Aruna memang memakai sepeda karena rumahnya cukup dekat dengan sekolahnya.
Ketika Aruna sampai, ia langsung disapa oleh temannya, ia bernama Nesya.
“Ini tumben banget kamu baru dateng jam segini?” Tanya Nesya dengan keheranan
“Habis overthinking semalam, biasalah.” Jawab Aruna
“Pasti karena Beranjak Dewasa ya?” Tanya Nesya dengan kekehan kecilnya
“Lebih tepatnya sih masuk SMA, banyak banget pertanyaan dikepalaku, pusing banget tau.” Keluh Aruna
“Ah sudahlah itu jangan dipikirin dulu, mending kita masuk dulu deh.” Ajak Nesya untuk menghibur Aruna.
Ketika Aruna dan Nesya sudah sampai kelas, tiba-tiba ada seseorang yang berkata tidak baik kepada Aruna.
“Oh ini ya yang overthinking tentang masuk SMA? sipaling deh hahaha, awas loh kejadian nya malah beneran gabisa masuk ke SMA.” Ucap seseorang tersebut dengan tiba-tiba, ternyata ia mendengar semua percakapan Aruna dan Nesya tadi.
“Kamu gaboleh kaya gitu, kalo terjadi kedirimu sendiri gimana?” Ucap Nesya seraya membela temannya.
“Ya gak mungkin lah, orang aku aja pinter kaya gini, buktinya nilai aku 90 ke atas terus.” Bela seseorang tersebut
“Pinter nya itu nyontek ya sas?” Ucap Aruna yang akhirnya buka suara
“Gausah nuduh kaya gitu deh, gila aja kamu!” Sentak Saski dengan panik.
Iya, nama seseorang tersebut adalah Saski. Ia selalu iri dengan Aruna, ia tak akan pernah habisnya untuk mencela Aruna. Sebetulnya Saski ini Insecure dengan pencapaian Aruna, karena dia tidak bisa seperti Aruna.
“Yaudah kalo gitu kamu mau nya apa deh? Kayanya aku selalu salah di mata kamu?” Ucap Aruna frustasi karena selalu diusik
“Lebay banget sih, gitu aja langsung ngomong kaya gitu.” Cela Saski, sehabis itu ia langsung pergi menuju tempat duduknya
“Sumpah aku cape banget sama Saski, dia kenapa sih kaya gitu sama aku? Aku salah apa sampai dia sebegitunya?” Tanya Aruna dengan sedikit terisak ingin menangis
“Kamu harus lawan dia run, jangan mau digituin.” Ucap Nesya
“Aku takut kalo aku lawan, dia makin jengkel, terus ganggu aku juga, aku nya jadi ngga nyanan.” Ucap Aruna
“Udah gapapa, kamu bisa aduin ke guru, soalnya dia bener bener udah kelewat batas, bukan sekali dua kali dia kaya gini tau.” Ucap Nesya dengan saran.
Beberapa jam kemudian, bel sekolah pun berbunyi tanda untuk pulang ke rumah. Hari ini memang tidak ada istirahat dikarenakan pulang cepat dan guru-guru juga sedang mengadakan rapat. Aruna langsung bergegas menuju rumahnya, ia sangat lelah hari ini. Omong-omong, walaupun pulang cepat, tetap saja ada tugas dari guru yang harus diselesaikan pada hari itu juga, belum lagi kata kata yang diucapkan oleh Saski tadi pagi.
“Assalamualaikum bu, Aru pulang.” Ucap Aru dengan Lelah
Tidak ada sautan apapun, Aru pun sudah menduganya. Ibu nya yang bekerja di rumah sakit dan ayahnya yang bekerja di kantor membuat orang tua Aruna sangat sibuk.
“Sepi banget ya, aku kangen saat aku masih kecil. Ayah dan ibu tidak sesibuk sekarang ini. Aku pernah ngeluh ke ibu dan ayah karena mereka selalu pulang larut malam. Tapi, ibu dan ayah bilang ‘Aruna, kamu ini sudah remaja, hampir dewasa, bahkan beranjak dewasa. Kamu sudah bisa mandiri, tidak perlu ditemani setiap saat, jadi izinkan ayah dan ibu untuk bekerja sampai larut ya. Ibu tau, anak ibu pasti paham.’ Itu yang ibu bilang kepadaku, tapi bagaimanapun, aku kesepian bu, yah.” Ucap Aruna dengan sedih, tidak tau berbicara dengan siapa.
Beberapa menit kemudian setelah Aruna renungi semuanya, ia pun mulai bosan. Maka dari itu, ia langsung memutar lagu Beranjak Dewasa kesukaan dirinya.
“Pada akhirnya ini semua hanyalah permulaan,
Pada akhirnya kami semua berkawan dengan sebentar,
Berbaring tersentak tertawa,
Tertawa dengan air mata”
“Iya tau kok ini baru permulaan, maaf sudah mengeluh.” Ucap Aruna dengan sendu
“Gapapa kok sesekali mengeluh, asal kamu mau bangkit dan berusaha lagi.” Ucap dua orang yang bergantian
“Loh, ibuuuu dan ayaaah?!” Terkejutnya Aruna membuat keduanya tertawa
Bagaimana tidak terkejut? Aruna saja lupa kalau ini hari ulang tahunnya, ia lebih terkejut karena ibu dan ayah pulang dengan membawa sebuah kue ulang tahun bertuliskan
“Selamat bertambah umur, Arunaku.”
“Selamat ulang tahun ya, Arunaku. Maaf ibu salah dengan berkata seperti apa yang kamu bilang, ibu janji ibu tidak akan pulang terlalu larut malam agar bisa menemani Arunaku yang kesepian ini.” Ucap ibu dengan senyuman tulusnya
“Selamat ulang tahun anak ayah!! Ayah juga janji akan selalu menemani anak kesayangan ayah.” Ucap ayah dengan tulus
“Ibu dan ayah, terimakasih banyak ya, maaf Aru belum bisa banggain ibu dan ayah. Maaf juga ya bu, yah tadi Aru sempat mengeluh.”
“Iya, gapapa. Jangan maaf maafan mulu dong, belum lebaran nih, Sekarang ayo kita potong kue nya!” Ajak ibu.
Ayah, Ibu, dan Aru pun makan kue bersama. Ini adalah hari bahagia yang pernah Aru dapatkan, Aru sangat senang. Aru menyesal telah mengeluh tadi, tapi tak apa, mengeluh itu wajar, asalkan jangan menyerah, jika kamu lelah, jangan langsung putus asa ya! Kamu harus bangkit lagi seperti apa yang ayah dan ibu Aruna katakan. Kamu juga harus ingat satu hal yang penting, kamu memang harus bisa menerima kritik dan saran dari semua orang, tetapi jika kamu dicela tentang kemampuanmu, kamu harus membalasnya dengan bakatmu! Beranjak Dewasa itu memang sulit karena belum terbiasa. Ingat juga, ini hanyalah permulaan! Kita tidak tahu kedepannya seperti apa.
Terimakasih Nadin Amizah yang telah membawakan lagu “Beranjak Dewasa” yang disukai oleh Aruna,
Oleh Azzura Namira
Halo semua, nama aku Mala. Umurku 13 tahun. Aku ingin menceritakan tentang saudara perempuanku. Namanya Syila, dia adalah gadis yang ceria dan ramah, walau sedikit jail. Umurku dan Syila berjarak 5 tahun, karena hal itulah kami sering bertengkar akibat keusilan nya.
Pertengkaran antara aku dan Syila sudah bagaikan hal normal yang setiap hari terjadi di rumah. Suatu hari saat aku pulang sekolah aku melihat kamarku yang sudah berantakan layaknya kapal pecah, aku tau ini pasti ulah dari adikku karena jika bukan maka siapa lagi. Aku langsung menghampiri Syila dan menyuruhnya membersihkan kembali kamarku. Itu baru kejadian kecil dari keusilan nya, puncak kejadian paling parah yaitu saat sedang kumpul keluarga besar.
Saat itu ada acara ulang tahun sepupuku jadi kami semua berkumpul untuk merayakannya, sekalian untuk kumpul keluarga besar. Kami sampai di tempat acara itu berlangsung, beberapa menit awal masih biasa-biasa saja. Namun Syila mendadak bosan, dia pun menggangguku dengan mengambil kipas dari tanganku. Karena barangku dicuri aku tidak bisa tinggal diam, jadi aku mengejarnya sampai aku bisa mendapatkan kembali barangku.
Aku terus berlari sekencang mungkin agar aku bisa menangkapnya. Sampai pada akhirnya.
GUBRAK!
Aku menabrak meja yang terdapat kue tinggi di atasnya. Kue itu jatuh, menimpa wajahku dan wajah adikku. Aku sangat malu, semua sorot mata beralih kepada kami berdua. Singkat cerita orang tuaku meminta maaf pada sepupuku atas apa yang baru saja kami lakukan. Aku sangat kesal pada adikku, aku sampai mendiamkannya berhari- hari.
Dia memang tidak suka di cuek in. Sampai suatu hari dia datang ke kamarku lalu meminta maaf kepadaku.
“Kak maaf waktu itu aku mencuri kipas kaka, kalo aku gak kayak gitu pasti kita gak ngebuat masalah disana.” Ucap adikku
“Hm, tidak apa Syila, lain kali jangan jail begitu ya.” Sahutku
Walau dia sering membuatku kesal, tapi aku akan tetap memaafkan semua perlakuannya. Karena kita saudara. Saudara harus selalu memaafkan satu sama lain bukan. Itu adalah singkat cerita tentang aku dan saudaraku.
Oleh Yaqila Ramadhani
Tahun 3009..
Aku terbangun dan semua isi kota sudah hancur. Tadinya kurasa ini hanya mimpi, tapi ternyata aku salah. Sudah tiga hari dari kejadian itu berlangsung. Kejadian dimana virus itu menyebar. Yup, lebih tepatnya virus zombi.
Aku adalah seorang survivor. Misiku adalah mendapatkan gas penawar di pusat kota, lalu menyebarkannya. Aku selalu gagal menuju pusat kota, aku kewalahan menyerang semua zombi sendirian. Aku perlu mencari survivor lain.
Setiap rumah kosong aku telusuri, berharap mendapatkan teman baru. Tapi usahaku sia-sia. Aku tidak menyerah dan terus mencari. Suatu hari aku pergi ke rumah yang mewah menurutku, disana ada taman yang cukup luas untuk menampung lima mobil. Tanpa basa-basi aku langsung saja menuju rumah itu. Aku menjelajahi rumah itu, dan ada satu ruangan yang membuatku sangat penasaran. Jadi aku memutuskan untuk masuk dan betapa terkejutnya aku melihat survivor lain!!
Mereka juga terkejut saat melihat orang yang masuk ke ruangannya. Jumlah mereka berkisar empat orang. Kami saling berkenalan satu sama lain, dan saling berbicang-bincang juga. Mereka bernama Nevan, Davi, Asteria, dan Rora.
“So, apa yang membuat kamu kemari?” tanya Davi.
“Aku lagi mencari beberapa survivor buat ngebantu nyebarin gas penawar di pusat kota. Pas banget aku ketemu kalian hahaha. Wanna help me?.” Jawab ku
“Of course, why not. Tapi kita mulainya besok aja, hari udah mulai gelap soalnya. Sekarang lebih baik kita istirahat dulu.” Ucap Davi.
“Alraight.” Ucapku
Keesokan hari, di pagi hari
Sudah saatnya.
Kami berjalan dan jalan menuju pusat kota hari ini, tentunya dengan disertai menebas para zombi. Sudah sekitar empat jam perjalanan kami menuju pusat kota, akkhirnya kami pun sampai. Kami bergegas menuju menara untuk menghidupkan mesin yang berisi gas penawarnya. Dengan bantuan tenaga, kami pun berhasil menyalakan mesin itu. Gas itu menyebar keseluruh kota. Kota kami pun tampak segar kembali.
“Finally.”
Oleh Yaqila Ramadhani
Di tahun 2009, Kean sudah mulai masuk ke sekolah menengah pertama (SMP). Sejak sekolah dasar Kean selalu mendapatkan bully-an dari teman sekelasnya dan hal itu masih berlanjut sampai Ia masuk SMP.
“Masa gitu aja gak tau sih.”
“Laki-laki kok cengeng!”
“Kecilnya kayak gini gedenya mau jadi apa.”
Bagitu yang mereka ucapkan kepada Kean. Ia hanya bisa terdiam dan tidak melakukan apa-apa. Bel pulang sekolah pun bunyi. Semua murid berhamburan keluar kelas, termasuk Kean.
Sesampainya di rumah matanya sudah sembab dan pipinya basah oleh air mata. Sang ibu yang khawatir menanyakan hal tersebut kepada Kean.
“Kamu kenapa nak?”
“Gapapa bu, tadi mata aku cuma kelilipan debu kok.”
“Gak mungkin sampe sembab gini dong, sini cerita sama ibu.”
“Aku beneran gapapa bu, ibu gk perlu khawatir.”
Kean langsung pergi ke kamarnya tanpa menjawab pertanyaan sang ibu. Di kamar, Kean melanjutkan tangisannya itu lagi.
“Aku bodoh ya? atau emang aku gk berguna.” Ucap Kean.
Karena kelelahan menangis, Kean langsung tertidur sangat lelap. Ia pun sampai melewati makan malam saking lelapnya.
Seiring berjalannya waktu Kean sudah terbiasa dengan hal bully ini dan kini Ia sudah masuk ke sekolah menengah atas (SMA), tepatnya kelas 12 semester akhir. Di semester akhir ini Kean sudah mulai fokus belajar agar bisa masuk ke universitas favoritnya. Mingggu depan sudah memasuki ujian akhir kenaikan kelas dan ini membuatnya sungguh gugup dan takut. Tapi di sisi lain ada sang ibu yang selalu memberikan Ia semangat.
“Gak kerasa bentar lagi kamu udah kuliah, dulu kamu masih suka nangis.”
“Klo diinget-inget dulu aku cengeng banget ya.”
“Gapapa kok, yang terpenting sekarang kamu semangat ujiannya ya nak.”
“Iyaaa bu, makasih banyak atas dukungan ibu selama ini.”
Minggu itu pun tiba.
Hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis dan Jumat mampu Kean lewati. Karena berkat belajar dan dukungan seorang ibu, Kean mampu menyelesaikan ujiannya.
“Gimana Kean ujiannya? lancar?”
“Lancar buu, ini berkat doa dan dukungan ibu pasti.”
“Hahaha syukurlah nak.”
Hari pembagian rapor pun tiba.
Tanpa Kean sangka tenyata dia mendapatkan ranking satu di kelasnya. Ini sangat mengejutkan bagi Kean. Dia sangat senang sekali.
“Ibuuuuu aku berhasil.”
“Alhamdulillah nak... Ibu tau kamu pasti bisa.”
Waktu terlalu cepat berlalu. Sekarang Kean sudah menjadi pedagang yang sangat sukses. Walau Ia sempat putus asa atas kepergian sang Ibu, Ia tetap bangkit lagi dan percaya bahwa ibunya selalu memberi semangat dari atas sana.
Saat ini dia percaya bahwa perjuangannya menghadapi bullying di masa lalu membawa Ia sampai sukses seperti sekarang.
Oleh Yaqila Ramadhani
Pada suatu hari di kampung jujur tampak seorang bocah laki-laki bernama Maman sedang berjalan santai. tiba-tiba maman melihat sebuah dompet di tengah jalan yang sedang sepi, Maman pun langsung mengambil dompet tersebut. Maman kebingungan siapakah pemilik dompet tersebut “Waduh dompet siapa nih?” ujar maman yang kebingungan, Maman mengintip isi dompet tersebut dan melihat uang dengan nominal yang besar “Masyaallah banyak banget uangnya” didalam hati Maman tiba-tiba muncul niatan untuk menggunakan uang tersebut “Hmmm ngga ada orang sih di sini, apa aku pakai saja ya uang nya kebetulan sekali di depan ada warung aku bisa membeli eskrim” maman pun langsung tersadar dari niat untuk memakainya setelah ia di tegur oleh pak Budi.” Assalammualaikum Maman” salam pak Budi dari kejahuan “walaikumsalam pak Budi” jawab Maman, “apa yang kamu lakukan man?” Tanya pak Budi, Maman pun menceritakan kejadian yang terjadi.
“ooo begitu” ujar pak Budi “jadi bagaimana ini pak?” tanya maman “nah dek Maman ini uangnya kan bukan milik kamu, bukan milik saya jadi kita tidak boleh menggunakan uangnya karna bukan hak kita dan kita harus cari siapa pemiliknya, yang pasti dia tadi lewat di sini dan dompetnya terjatuh, coba kita cek dompetnya” ujar pak Budi.
Setelah mereka berdua mengecek dompet tersebut ditemukan lah sebuah ktp yang berisikan alamat dari pemilik dompet tersebut, “wah pak Budi ini kan ktp pak Burhan” ucap Maman “o iya ini ktp pak Burhan penjual telor asin di kampung sebelah, mari kita kerumahnya dan kembalikan” ajak pak Budi. Beberapa saat kemudian mereka pun sampai ke rumah pak Burhan si penjual telor asin, “tengnong” bunyi bel rumah pak Burhan, pak Burhan keluar dari rumahnya dan pak Budi dan Maman pun menceritakan yang terjadi “Alhamdulillah dompet saya ketemu di kalian terima kasih ya” “sama-sama pak” ujar Maman dan pak Budi secara bersamaan. “ ini untuk kalian” pak Burhan pun memberikan uang kepada pak Budi dan Maman awalnya mereka menolak karna mereka ikhlas untuk mengembalikan dompet pak Burhan, tapi setelah pak Burhan memaksa akhirnya mereka pun mengambil uang dari pak Burhan, akhirnya mereka pun pulang dengan rasa senang.
Hikmah: jangan mengambil barang yang bukan hak kita
Oleh Raka Radithya
Suatu hari di kampung yang kecil terdapat 2 orang anak. Salah satu anak tersebut adalah anak yang berasal dari keluarga yang kaya raya dan yang satu nya hanya anak yang berasal dari keluarga yang bercukupan. Walau berbeda mereka berdua tetap menjadi sahabat.
Hari ini David sedang duduk di taman sekolah. Dia di dekati oleh seorang teman nya.
"Hallo David" ucap orang tersebut.
David yang merasa terpanggil pun menengok ke arah orang yang memanggil nya. Ternyata itu sahabat nya.
"Oh Eka kamu rupa nya" ucap David
Eka hanya tersenyum kemudian mengajak David untuk ke kelas. Saat mereka sudah sampai kelas mereka duduk di kursi masing-masing. Kursi Eka dan David sebelahan akhir nya mereka mengobrol.
"Eka aku akan pindah ke kota.." ucap David dengan nada yang sedih
Eka tidak terlalu percaya atas ucapan David dan memikir bahwa David hanya bercanda. Lalu kembali melanjutkan hari seperti normal
1 minggu kemudian Eka memasuki kelas tapi dia tidak melihat David dimana-mana. Saat jam istirahat pertama David pergi ke ruang guru untuk menanyakan keberadaan David. Saat ia menanyakan ke wali kelas nya.
"David? Bukankah dia sudah memberitahu mu? Dia pindah ke kota jadi dia pindah juga sekolahan nya." Ucap sang wali kelas.
Eka tentu terkejut ia pikir David hanya bercanda saat ia bilang ia akan pindah ke kota. Ternyata David benar-benar pindah.
Tahun berlalum musim pun berganti. Saat ini Eka akan lulus SMA dan beranjak ke Kuliah. Dia mendapatkan beasiswa ke sekolah yang cukup terkenal di kota. Dia pun cukup senang atas keberhasilan nya untuk mendapatkan beasiswa ke sekolah yang terkenal. Satu hari sebelum pergi Eka bersiap-siap sampai ia lelah dan akhir nya ia tertidur. Keesokan hari nya ia terbangun saat subuh kemudian bersiap berangkat.
Saat ia sudah sampai di stasiun kota ia di sambut oleh banner kampus yang akan ia datangi dengan beberapa guru. Mereka pergi ke asrama sekolah dan memberitahu Eka kamar nya. Ia akan satu kamar dengan pria bernama David. Eka seperti mengenal nya tapi ia tidak terlalu focus Ia hanya focus untuk bersekolah. Ia membereskan barang-barang nya tapi ia di ganggu seseorang.
"Haha baru masuk santai aja, oh ya nama mu siapa?" ucap teman se kamar ku David
"Eka. Kalau aku terlalu santai seperti mu aku bisa kehilangan beasiswa ku" ucap nya.
"Hmm kau mengingatkan teman lama ku tapii dia orang nya pemalas jadi tidak mungkin kau kan?" Ucap David
Eka bingung harus menjawab apa jadi dia hanya mendiamkan omongan David dan lanjut membereskan barang nya.
"Hei! Kau kenapa mendiamkan ku?" Tanya David.
"Hmm aku tak tau. Kau juga mengingatkan teman ku. Tapi dia lebih rajin dari diri mu." Ucap Eka.
David cukup kesal atas jawaban Eka akhir nya ia tidak berbicara lagi dengan Eka.
Keesokan hari nya David dan teman-teman nya sedang berjalan-jalan di area sekolah dan tidak sengaja berpapasan dengab Eka. David yang kesal dengan Eka akhir nya ia mengejek nya karena tidak memiliki uang dan masuk dengan jalur beasiswa. Hari berlalu karena Eka kesal ia menanyakan kepada David kenapa ia mengejek nya.
"Karena kau mengejek ku duluan lagian aku rajin kau saja yang terlalu cepat menilai diriku" ucap David dengan nada kesal.
"Hmm yaudah aku minta maaf sudah mengejek mu walau memang benar ucapan ku" ucap Eka.
David yang dengar Eka meminta maaf pun senang dan ia juga minta maaf atas perbuatannya.
Lama kelamaan mereka menjadi cukup dekat sampai suatu hari. David dan Eka sedang bosan akhir nya mereka mengobrol dan tiba-tiba mereka beralih ke topik masa kecil. Eka menceritakan tentang masa kecil nya dan teman lama nya. Begitu pun David. setelah mereka mengobrol cukup lama Eka menanyakan dimana ia tinggal dulu karena David bilang bahwa dia tidak lahir disini.
"Ohh aku lahir di desa kecil bersama orang tua ku. Bisa di bilang aku orang terkaya disana" ucap David.
"..David.." ucap Eka dia terdengar sedikit sedih.
David yang bingung hanya meminta maaf. Eka memeluk nya dan menceritakan ke David bahwa dia juga dulu tinggal di sana dan ternyata teman masa kecil tersebut tergabung kembali.
Oleh Nararya Paramesti
Pada malam yang suram terdapat pemuda yang baru saja pulang ke apartment nya. Ia menaruh barang nya dan pergi ke kamar mandi. Di kamar mandi ia berpikir apa daya hidup saat itu. Ia sering berjudi, mengutang, menyuri seperti nya tuhan sedang memberi tantangan yang berat. Setelah ia mandi ia memakai pakaian nya dan pergi ke dapur. Ia mencari-cari makanan di dapur tapi hanya mendapatkan pop mie yang tersisa. Ia pun tidak memiliki pilihan lain selain memakan se adanya "kenapa sih dunia harus se susah ini.. ibu hilang.. ayah pergi.. abang pun terlalu sibuk kerja sampai-sampai melupakan ku.. sudahlah mungkin besok bisa lebih baik.." sang pemuda tersebut kemudian membereskan makanan nya kemudian tidur
Keesokan hari nya pemuda tersebut bangun jam 5 pagi kemudian bersiap-siap untuk kerja. Ia menyiapkan seragam kerja nya kemudian berangkat. Disana ia melihat banyak orang yang sedang melirik nya sang pemuda pun bingung apakah dia ada kesalahan. Dia duduk di kursi kerja nya tapi di saat bersamaan ada seseorang yang memanggil nama nya "Adit santoso putra anda di panggil atasan." Ia bingung kenapa ia di panggil tapi ia tetap pergi ke ruang atasan nya tersebut. Disana ia melihat atasan nya dan ada salah satu teman nya di belakang nya. Ia bingung apa yang sedang terjadi akhir nya ia menanyakan nya kepada sang atasan yang di jawab dengan teriakan "Sudah pengutang pembuli juga!?". Ia bingung dan dia menajawab "maksud t-tuan?". Sang atasan pun kesal lalu memukul meja nya "kau kan yang membuli karyawan ini sampai harus ke rumah sakit nggak usah bohong kamu!". Suasana menjadi hening kemudian adit menjawab "maksud tuan a-apa ? Aku tidak mungkin membuli orang apalagi sampai masuk rumah sakit tuan" sang atasan pun kesal "dasar pembohong kau di pecat keluar dari sini!" Adit pun kaget tapi dia tidak mau memperburuk suasana akhir nya ia pergi. Ia membereskan barang nya kemudian pergi dari kantor tersebut.
"Udah capek-capek kerja eh.. di tuduh.. sekarang gimana aku bakal menuhin utang-utang ku?" Adit berpikir sebentar tapi tidak menemukan jawaban ia ingat ia kehabisan makanan akhir nya ia pergi ke toko kecil disana ia melihat makanan dan barang yang ada tapi ia tau ia hanya bisa membeli pop mie lagi.
Saat adit ke tempat mie adit melihat sebuah tali dan adit pun mendekat ke tali tersebut di katakan bawha tali nya mampu menampuh berat hingga 100 kg dan harga nya murah adit pun mengambil tapi tersebut dan mie nya dan pergi ke kasir.
Ia membayar barang yang ia beli kemudian ia pergi balik ke apartment nya. Saat di jalan dia melihat seseorang kakek yang terlihat kesusahan adit pun kasihan akhir nya ia memberi duit sisa nya ke kakek tersebut. Sang kakek berterimakasih kepada adit kemudian ia melanjutkan perjalanan nya balik ke apartment nya.
Saat memasuki apartment seorang kucing mengikuti nya masuk adit cukup kesal tapi ia tidak terlalu peduli karena dia tau tidak akan ada di lagi. Ia mengantungkan tali nya ke atap nya kemudian menyiapkan tangga kecil kemudian ia menaiki tangga tersebut saat di langkah terakhir dia mendengar sebuah kaca yang pecah saat ia lihat ternyata vase bunga nya di pecahkan kucing tersebut. Adit yang kesel pun ingin sekali mengomeli kucing tersebut tapi apa guna tiba-tiba ada suara pecah lagi. Saat adit melihat ke belakang ia melihat kucing itu yang sedang menjatohkan piring nya. Ia pun kesal kemudian turun dari tanggan nya saat ia mau mengomeli sang kucing. Kucing tersebut malah loncat ke arah adit denga sigap ia menangkap nya kucing tersebut mengeong kemudian keajaiban terjadi tiba-tiba ia mendapatkan telephone dari seseorang saat mengangkat telephone tersebut ia mendengar "adit!? Adit!? Itukah kau!?" Tanya orang yang menelepon adit. Ia pun menjawab "iya ini dengan adit. Anda siapa ya dan anda ada keperluan apa ?" Orang tersebut menajawab "adit tidak ingat abang mu???". Adit kesal kemudian adit mengucapkan "sudah lebih dari 1 tahun berlalu dan abang baru ingat punya adek?" Sang abang tersentak "maksud mu?? Aku sudah mencari mu bertahun-tahun tapi engkau tidak pernah terlihat" sekarang adit benar-benar tidak tahu ingin ngomong apa "...oo..." sang abang pun menanyakan keberadaan adit dan menanyakan adit apa yang sedang terjadi. Adit pun menceritakan semua nya kemudian abang nya pun menawarkan untuk membayar kan semua hutang nya dan untuk tinggal bersama nya. Adit senang mendengar itu kemudian menerima penawaran nya. Ia mematikan telephone nya kemudian melihat kucing yang masih menunggu nya. Ia memeluk kucing tersebut kemudian sedikit menangis ia tidak percaya bahwa ini beneran terjadi sebagai rasa terimakasih adit. Ia pun memelihara kucing tersebut.
Oleh Nararya Paramesti
Merah merupakan warna yang kuat, arti dari kata merah mnurut orang indonesia adalah darah, Halo nama ku rivat dan nama panggilanku adalah ivat dan aku termasuk orang yang sangat menyukai warna merah.
Usia ku sekarang menuju 16 tahun dan aku tepatnya kelas 1 SMA, aku termasuk anak yang bandel di sekolah ku aku sangat sering membully orang dan menyiksa mereka, aku paling sering membully teman sekelas ku yang bernama caca aku sangat benci kepada perempuan itu karena dia adalah orang yang pendiam, pintar dan akupun iri kepadanya, perempuan itu selalu memakai kebaya merah akupun kesal melihatnya memakai warna favorit ku. Sehingga aku pernah membunuhnya di belakang halaman sekolahku, disitu rasanya benar benar menyenangkan dan aku merasa hebat tetapi itu rasa itu cepat berakhir.
Saat di malam hari, dimana aku membunuh perempuan itu aku merasa sangat gelisah karena aku terus mendapat nomor telefon yang tidak dikenal, akupun mengangkatnya dan ketika aku mengangkatnya dia bertanya seperti ini "mengapa? Apa salahku? Kenapa kamu melakukan ini?" Akupun kebingungan mengapa orang yang tidak dikenal ini menanyakan hal seperti itu? Tiba tiba badan ku terasa berat dan ada yang menindihku, saat aku melihat ke atap kamar ku aku terkejut mengapa ada perempuan itu? Dan dia puk memakai kebaya merah yang dia pakai.
Bukankah dia sudah ku bunuh? Aku di cekik olehnya sampai tida bisa bernafas lagi, Ternyata kejadian itu semua hanyalah mimpi.
Tetapi mimpi itu terus berulang-ulang dan rasa sakit yang ada di mimpi itu benar-benar seperti nyata, awalnya aku sempat menyerah dan merasa menyesal melakukan semua itu, tetapi aku belum sempat meminta maaf kepada teman ku caca, akupun memberanikan diri meminta maaf di dalam mimpi itu, aku pun mulai berbicara kepadanya, "maaf kan aku caca, maaf kan semua kesalahan ku maupun perbuatan ku, apa yang kau mau lagi dariku? Aku lega kita sudah berbicara seperti ini, jika kamu ingin mengambil nyawaku tidak apa apa aku bertanggung jawab atas semuanya." Ternyata dia melakukan semua ini hanya ingin mendengarku meminta maaf kepadanya.
Saat aku terbangun dari mimpi itu lagi, akupun melihat di meja kamarku terletak kain berwarna merah dan surat, entah apa itu akupun membacanya. Ternyata surat itu berasal dari temanku caca, dia sudah memafkan semua perilaku ku tetapi ada syaratnya, jika kamu masih ingin membully orang aku tidak akan memafkan mu dan aku akan menganggu mu sampai kamu menyesal atas semuanya. Akupun perjanji kepadanya tida melakukan semua itu lagi
Sejak kejadian saat itu aku terus memperbaiki diriku, nilai ku semakin bagus, perilaku ku semakin baik, orang-orang juga tida segan segan menyapa ku lagi.
Oleh Hanna Altheta
Malam ini, remaja cantik yang berada di kamar itu sedang memainkan ponselnya, ia bertukar pesan dengan teman sebaya nya. Remaja cantik itu bernama Shankara, tetapi ia sering dipanggil Kara. Shankara berumur 12 tahun, ia adalah anak yang pendiam saat masih di sekolah dasar. Tetapi, karena ia akan masuk ke Sekolah Menengah Pertama, ia harus mulai banyak bergaul sekarang.
Maudy: “Kar, besok dimana?”
Shankara: “Dimana apanya?”
Maudy: “Ketemuannya dong”
Shankira: “Aduh iya aku takut banget kalau langsung masuk ke SMP nya, gimana kalau kita ketemuan dulu di kantin?”
Maudy: “Iyaa, boleh kok. Jam berapa kar?”
Shankara: “Jam 6 donggg, emang kamu mau telat?”
Maudy: “Ya ngga kaya gitu kar maksudnyaa, nanti tiba tiba aku datang jam 6 terus kamu jam 7 kan ngga lucu”
Shankara: “Kacau sihh hahaha”
Shankara: “Yasudah, aku tidur duluan ya dy, sampai ketemu besok!”
Maudy: “Okee kara”
Iya, nama teman Kara itu adalah Maudy. Maudy dan Kara sudah berteman sejak berada di Sekolah Dasar, mereka cukup akrab dan sekarang semakin akrab karena mengetahui mereka berdua akan berada disatu sekolah yang sama. Besoknya, hari pertama masuk sekolah, Kara sudah berada di kantin, ia sedang menunggu maudy. Namun, sudah 30 menit Kara duduk, belum ada tanda tanda temannya itu akan datang. Sementara itu, sudah ada pengumuman bahwa peserta MPLS sudah harus berada di aula sekolah.
Kara memutuskan untuk memberanikan diri memasuki sekolah tersebut, ia langsung memasuki aula seperti apa yang diperintahkan. Beberapa menit kemudian, seseorang yang ia tunggu akhirnya datang. Maudy datang ketika dua orang yang di depan yakni kakak osis yang akan memandu acara hari ini sudah siap. Acara pun dimulai dengan lancar.
“Kamu kenapa hampir telat sih tadi dy?” Tanya Shankara ketika sedang ber istirahat
“Aku isi pulsaku dulu kar, pulsaku habis tiba tiba” Jawab Maudy dengan cepat
“Apasih, itu mah kamu yang lupa kali, emang gaada notifnya?” Tanya Shankara dengan heran
“Udah ada Shankara, tapi aku lupa bangettt” Jawab Maudy dengan nada yang melas
“Haduh.. lain kali jangan lupa ya buk hahaha” Ucap Shankara yang sedang meledek Maudy
Setelah lama berbincang, mereka pun kembali ke aula untuk mengetahui kelompoknya. Kakak Osis bernama Ayla itu memberitahukan bahwa ada 3 kelompok lalu di bagi menjadi dua, A dan B. Betapa terkejut dan senangnya, ternyata Kara dan Maudy 1 kelompok, yaitu kelompok 1B yang akan dibimbing oleh Kak Ayla. Kak Ayla itu asik sekali, ia ini ramah nya bukan main, itu sebabnya Kara menyukainya.
Hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah itu telah berakhir. Besoknya, Maudy dan Shankara tidak berjanjian seperti waktu itu lagi. Jadi, Kara langsung menuju aula untuk mengetahui pembagian kelas. Saat Kara tiba di aula, Kara melihat ada remaja perempuan yang duduk sendirian. Kara yang merasa iba pun langsung menghampiri remaja perempuan tersebut.
“Halo, nama kamu siapa?” Tanya Kara dengan penuh semangat
“Eh iya hai, nama ku Aylin. Kamu sendiri nama nya siapa?” Ucap Aylin
“ Nama aku Shankara, kamu bisa panggil aku Kara sihh. Eh iya kamu adik nya Kak Ayla ya?” Tanya Kara dengan penasaran
“Eh bukan ya ampun, bahkan aku saja tidak terlalu mengenali Kak Ayla.” Jawab Aylin
“Maaf yaa, ku kira kalian bersaudara, habisnya nama kalian mirip hehe” Ucap Kara dengan senyum jengkelnya
“Dor!!!!!”
“Astaghfirullah, Maudy bisa gak gausah ngagetinnn gitu? kaget tauu” Ucap Kara dengan kesal
“Hahaha maaf ya, habisnya kalian seru banget. Oh iya, nama kamu siapa?” Tanya Maudy kepada Aylin
“Nama aku Aylin, kamu Maudy kan?” Ucap Aylin dengan memastikan
“Iya nama aku Maudy, senang berkenalan denganmu” Ucap Maudy
“Eh udah guys! Yuk kita dengerin kakak nya, takut salah info” Ucap Shankara
Mereka menyetujuinya dan langsung mendengarkan apa yang kakak osis sampaikan tentang pembagian kelas di depan sana. Pertemuan mereka memang singkat, tetapi mereka langsung akrab dan bermain dengan asik saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah berlangsung selama 1 pekan.
Bukan hanya 1 pekan, mereka akrab sudah 1 tahun lamanya sejak pertemuan yang singkat itu, sekarang mereka sudah kelas 8, kelas 2 Sekolah Menengah Pertama. Walau sibuk, mereka pasti akan berkumpul kembali.
“Kalau di ingat ingat, cerita kita lucu ya saat mengenal satu sama lain” Ucap Aylin
“Iya, sekarang sudah 1 tahun berlalu, kita harus terus temenan ya!” Seru Shankara dengan semangat
“Itu sih harus hahaha, kita juga jadi panitia MPLS sekarang, perasaan kita masih jadi peserta MPLS deh” Ucap Maudy
“Waktu cepat berlalu ya” Ucap Shankara dengan sendu
Kisah mereka pasti akan terus menerus berjalan, pasti ada pertengkaran kecil. Namun, ada juga solusi untuk memecahkan pertengkaran tersebut. Kunci pertemanan yang baik adalah komunikasi, komunikasi itu penting dalam hal apapun, salah satunya hubungan pertemanan.
Selamat atas 1 tahun pertemanannya, Shankara, Maudy, dan Aylin!.
Oleh Azzura Namira
Hadif, seorang murid kelas 7 SMP yang terkenal karena ia sering tidak masuk sekolah. Hadif adalah seorang anak yang pemalu, ia sangat malu untuk berbaur dengan orang yang ia belum kenal. Hadif hanya memiliki 2 orang teman yaitu Sakha dan Fariz.
Hadif memang tidak terlalu pintar dibanding teman sekelasnya, ia selalu mendapatkan nilai yang jelek.
“Hadif!”
“Lagi-lagi kamu dapet nilai yang jelek!”
“Apa kamu gak belajar semalam?!”
Ucap Bu Wati Guru Sejarah yang terlihat mukanya sangat marah kepada Hadif. Semua murid pun menertawai Hadif karena mendengar bahwa ia mendapatkan nilai yang jelek lagi.
“Hahaha….”
“Hadif nilainya jelek lagi”
“Gak belajar apa?”
Ucap teman-teman sekelasnya. Hadif merasa malu dan sedih mendengar ucapan teman sekelasnya, tetapi ada Sakha dan fariz yang selalu menyemangati Hadif untuk belajar agar mendapatkan nilai yang bagus.
“Udah gak usah didengerin”
“Belajar lagi aja biar bagus nilainya”
Ucap Sakha dan Fariz.
Keesokan harinya, meja belajar Hadif terlihat kosong. Semua teman sekelas Hadif sudah menduga bahwa ia tidak masuk sekolah lagi. Lagi-lagi ketika guru sedang absen murid-murid yang hadir, Hadif ditulis keterangannya “A”. Para guru disekolah sudah seringkali menegur Hadif karena ia sering tidak masuk sekolah tanpa ada keterangan. Para guru juga sudah menanyakan alasan yang jelas mengapa ia tidak masuk sekolah, tetapi Hadif selalu bilang bahwa ia sakit dan kadang ia tidak menjawabnya.
Hadif kembali lagi masuk sekolah sejak ia kemarin tidak masuk. Hadif terlihat menundukan kepalanya , Hadif malu karena ia tahu pasti teman sekelasnya akan menanyakan tentang dirinya yang kemarin tidak masuk.
“Kamu kemarin kenapa gak masuk?”
“Kamu pasti gak masuk karena nilainya jelek yaa?”
“Dapet nilai jelek kok langsung bolos?”
“Cemen, dapet nilai jelek langsung gak masuk sekolah”
Ucap teman sekelasnya. Hadif mendengar itu langsung terlihat sedih dan menangis, kemudian Hadif yang sedang menangis ia tiba-tiba menjawab
“Sebenarnya….”
“Aku sering gak masuk sekolah karena malu dapet nilai jelek dan dihina sama kalian”
Ucap Hadif sambil menangis, Sakha dan Fariz pun menenangkannya. Kemudian, Sakha langsung berbicara didepan kelas.
“Kenapa kalian menghina teman kalian sendiri yang mendapatkan nilai jelek?”
“Harusnya kalian semangati biar Hadif semangat untuk belajar agar dia dapet nilai yang bagus”
Semua murid teman sekelas Hadif pun langsung terdiam. Satu-persatu teman sekelasnya pun meminta maaf kepada Hadif dan berjanji bahwa mereka tidak akan lagi menghina Hadif jika ia nilainya jelek. Dan Hadif pun berjanji jika ia akan rajin masuk sekolah.
Oleh Arva Khalfani