Sunan Ampel
Nama asli dari Sunan Ampel adalah Raden Rahmat. la lahir pada tahun 1401 M kemudian datang ke pulau Jawa sekitar tahun 1443 M., dan meninggal pada tahun 1481 M. di Demak dan dimakamkan di Ampel, Surabaya. Ia merupakan putra Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) dari seorang istri yang berasal dari Negeri Champa. Para sejarawan kesulitan untuk menentukan Negeri Champa tersebut, namun sebagian mereka berkeyakinan bahwa Champa yang dimaksud adalah sebutan sebuah daerah bernama Jeumpa di Aceh.
Ayah Sunan Ampel adalah Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik). Ibunya bernama Dewi Candrawulan. Sunan Gresik memiliki dua orang istri yaitu Dewi Candrawulan dan Dewi Karimah. Dengan Dewi Karimah ia memiliki dua orang putra yaitu Dewi Murtasih (istri Raden Fatah, sultan pertama kerajaan Demak Bintoro) dan Dewi Murtasimah (istri Raden Paku/Sunan Giri). Dengan istri kedua Dewi Candrawulan, ia memiliki lima orang putera yaitu Siti Syareat, Siti Mutmainah, Siti Sofiah, Raden Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang) serta Syarifudin atau Raden Kosim (Sunan Drajat).
Ayah Sunan Ampel
Sunan Ampel adalah seorang tokoh yang hidup pada zaman Majapahit, saat kerajaan tersebut mengalami kemunduran setelah kematian Maha Patih Gajah Mada dan Prabu Hayam Wuruk. Majapahit mengalami perpecahan dan perang saudara, adipati-adipati tidak lagi setia kepada pemerintah kerajaan, dan pembayaran pajak serta upeti lebih sering dinikmati oleh adipati-adipati tersebut. Selain itu, kaum bangsawan dan pangeran juga terbiasa dengan perilaku buruk seperti pesta pora, perjudian, dan mabuk-mabukan. Prabu Brawijaya, penerus pemerintahan Prabu Hayam Wuruk, menyadari bahwa kebiasaan-kebiasaan tersebut akan melemahkan negara, dan jika negara lemah, musuh dapat dengan mudah menghancurkan kerajaan Majapahit.
Menghadapi situasi yang prihatin tersebut, kerajaan memanggil Raden Rahmat, putra Dewi Candrawulan dari Negeri Champa, yang terkenal karena keahliannya dalam mendidik dan mengatasi kemunduran moral di kalangan masyarakat. Menurut Babad Diponegoro, Raden Rahmat (Sunan Ampel) akhirnya memiliki pengaruh yang kuat di kerajaan Majapahit. Meskipun Raja Brawijaya menolak untuk masuk Islam, ia memberikan keleluasaan kepada Sunan Ampel untuk mengajarkan Islam kepada rakyatnya, asalkan dilakukan tanpa paksaan. Selama tinggal di Majapahit, Raden Rahmat menikahi Nyi Ageng Manila, puteri Bupati Tuban. Dengan pernikahan ini, gelar kerajaan melekat pada namanya, ia diperlakukan sebagai keluarga keraton Majapahit, dan semakin disegani oleh masyarakat.
Kedatangan Sunan Ampel di Jawa Timur menjadi titik balik dalam sejarah Islam di daerah tersebut. Dia mendirikan pesantren di Surabaya yang kemudian menjadi pusat pendidikan agama Islam dan tempat berkumpulnya para ulama. Pesantren ini dikenal sebagai Pesantren Ampel Denta atau Pesantren Ampel.
Sunan Ampel sangat dihormati oleh masyarakat sekitar karena keilmuannya dan kehidupan spiritualnya yang kuat. Dia juga terkenal karena keterlibatannya dalam kegiatan sosial dan kemasyarakatan. Sunan Ampel secara aktif membantu masyarakat melalui kegiatan amal, seperti membangun masjid, madrasah, dan rumah sakit.
Selain itu, Sunan Ampel juga terlibat dalam perjuangan melawan penjajahan dan pengaruh Hindu-Budha di Jawa. Dia berperan penting dalam menyebarkan ajaran Islam di kalangan masyarakat Jawa dan mengubah keyakinan dan praktik keagamaan mereka.
Sunan Ampel memiliki banyak murid, di antaranya adalah Sunan Bonang, Sunan Drajat, dan Sunan Giri, yang kemudian juga menjadi tokoh sentral dalam penyebaran agama Islam di Jawa Timur. Melalui pengajaran dan bimbingannya, Sunan Ampel berhasil mencetak generasi ulama yang mampu melanjutkan perjuangannya.
Sunan Ampel wafat pada tahun 1481 di Surabaya. Meskipun fisiknya telah tiada, pengaruhnya tetap kuat dalam masyarakat Islam Jawa Timur. Sunan Ampel juga dikenang sebagai salah satu tokoh yang berjasa dalam menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa, dan kontribusinya terhadap pengembangan Islam di Indonesia masih dihormati dan dihargai hingga saat ini.