Uraian:
Ada 3 buah Cagar Budaya peringkat provinsi
Ada 19 buah Cagar Budaya peringkat Kabupaten
Uraian:
Ada 3 buah Cagar Budaya peringkat provinsi
Ada 19 buah Cagar Budaya peringkat Kabupaten
Deskripsi :
Secara astronomis bangunan masjid keramat berada pada koordinat x 0317190; Y 9714791 dengan evaluasi 8 meter secara administrasit terletak di jalan Masjid Keramat Desa Pelajau, Kecamatan Pandawan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah batas bangunan yakni sebelah timur berbatasan dengan pemukiman penduduk , sebelah utara berbatasan Jalan Keramat, sebelah selatan berbatasan hutan, sebelah barat berbatasan dengan komplek makam. Untuk mencapai tempat ini, dapat dilaluidengan jalur darat yakni menggunakan mobilmaupun motor, Bangunan Masjid berada diatas tanah seluas 450 m2. Denah bangunan masjid berbentuk persegi berukuran 5,5 x 15,5 m, tinggi 3,23 m dengan struktur pendukung utama dari cor beton. Masjid memiliki serambi disisi timur, utara dan selatan. Khusus serambisisi selatan difungsikan sebagai ruang belajar mengaji/TPA, sekeliling Masjid dibuatkan pagar. Secara vertikal bangunan terbagi atas tiga bagian yakni lantai, dinding dan atap bangunan.
• Lantai terbuat dari Keramik/marmer polos berukuran 30 x 3 cm. Sedangkan untuk tiang menggunakan kayu ulin berbentuk bulat/lingkaran yang berwarna putih dan hijau. Bangunan memiliki 5 (lima) tiang yang berada dibagian tengah. Pada bagian bawah tiang dilapis keramik setinggi 90 cm. Tinggi kelima tiang berbeda yakni yang paling tinggi berukuran 5,24 m dan paling rendahberukuran 3,37 m dengan ukuran keliling sama yakni 1 m. Kondisi tiang semuanya baik, ada beberapa buah yang mengalami retak dan patah sehingga untuk mengamankan agar tidak bertambah rusak, pengurus masjid menutup tiang yang rusak dengan kaca.
• Dinding terbuat dari cor beton yang dilapisi keramik ukuran 30 x 30 cm berwarna abu-abu gradasi. Pada bagian dinding , terdapat 6 (enam) pintu 2 daun yang terletak disebalah utara, timur, dan selatan serta 16 jendela 2 daun dari kaca yang terletak di sekeliling bangunan.
• Atap masjid berbentuk limasan tumpang 3 dengan bentuk semakin keatas semakin kecil. Khusus bangunan mihrab memiliki atap tersendiri yang berbentuk tumpang dengan psisi pada sisi atap sebelah barat menempil dengan atap utama. Keseluruhan penutup atap menggunakan seng berwarna cokelat. Bagian dalam terdapat plafond berwarna putih yang menutupi seluruh atap.
• Fasilitas yang dimiliki adalah papan nama, papan larangan, kamar mandi, tempat wudhu, tempat parkir, TPA dan pagar. Selain itu diberikan pula fasilitas pemeliharaan dari BPCB Kalimantan Timur antara lain ; tangga alat kebersihan (sapu, sikat, tempat sampah, kemoceng dll) merupakan peninggalan sejarah dilangsungkannya deklarasi oleh masyarakat Hulu Sungai Tengah yang menyatakan dengan dimensi 0,4 m x 0,4 m dan tinggi 1,6 m. Masjid ini berada pada kawasan lahan berukuran 20,3 m x 14 m.
Latar Sejarah :
Berdirinya sebuah Mesjid dengan keberadaanya di Desa Pelajau pada jaman dulu, ketika pada abad ke 14 M dan pada abad tersebut datanglah utusan dari Raden Patah Kerajaan Demak bersama-sama pangeran Samudera (Raja Banjar), utusan dari pulau jawa berjumlah 7 orang seperti : 1. Malik Iberahim, 2. Imam Santoso, 3. Habib Marwan, 4. Mujahid Malik, 5. Rangga Aliansyah, 6. Santri Umar,dan 7. Imam Bukhari
Deskripsi :
Makam Temenggung Jayapati terletak di Desa Abung, Kecamatan Limpasu Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Secara astronomis terletak pada koordinat X 0328974; Y 9721179 dengan evelasi -1 m. Makam berada diatas tanah seluas 500 m yang dikelilingi kebun milik masyarakat. Akses jalan menuju makam dapat ditempuh menggunakan roda empat maupun roda dua. Kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 600 m. Makam Temenggung Jayapati memiliki jirat yang terbuat dari keramik berwarna putih dan tidak memiliki nisan, tetapi dibagian tengah jirat terdapat bongkahan tanah yang meninggi menyerupai sarang semut. Di sisi selatan terdapat 1 makam yang masih keluarga dengan temenggung Jayapati. Di atas makam dibuatkan cungkup yang berbentuk segilima terbuat dari campuran cor semin/beton dan atapnya dari seng, sedangkan untuk lantai terbuat dari keramik warna putih, cungkup memiliki ukuran panjang yang bervariasi untuk kelima sisinya yakni antara 3,10 – 3,15 dan tinggi 1,76 M.
Latar Sejarah :
adalah pimpinan dalam perang Tanah pasukan Berandal atau pembangkang. Temenggung Jayapati dibantu oleh GT M. Said, Galuh Ratnawati dll, Beliau adalah penerus perang Banjar yang dikobarkan oleh Pangeran Antasari untuk daerah Hulu sungai. Beliau menyembunyikan diri bersama isteri dan keponakan beliau di hutan Kemuyang Abung sampai beliau maninggal bermakam di sana.
Alamat Pengelola :
Desa Mahang Sei Hanyar Kecamatan Pandawan
Deskripsi :
Makam Pangeran Kacil secara astronomis berada pada koordinat X 0313481; Y 9715586 dengan evelasi -3 m. Secara administratif terletak di Desa Mahang Sei Hanyar Kecamatan Pandawan Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Makam ini berada ditengah persawahan penduduk dan dapat ditempuh dengan menggunakan kenderaan roda empat maupun roda dua. Di dalam cungkup, terdapat pagar besi setinggi 1 meter yang mengelilingi makam. Makam pangeran Kacil berupa gundukan tanah yang meninggi (menyerupai sarang semut) Di dalam pagar di sisi selatan terdapat batu andesit menyerupai nisan berbentuk lingkaran dengan ukuran keliling 53 cm dan tinggi 21 cm. Jirat makam terbuat dari keramik berwarna putih dengan ukuran panjang 182 cm, lebar 60 cm, dan tinggi 50 cm. Pada papan nama makam terdapat nama Datu matangsari Syech Abdul Mubarak, kondisi makam terawat dengan baik. Kemudian disekitar makam terdapat beberapa fasilitas seperti papan larangan, kamar mandi, tempat istirahat, dan pompa air.
Latar Sejarah :
Pangeran Kecil adalah seorang bangsawan kesultanan yang terpanggil batinnya untuk melawan Belanda. Karena Belanda sangat kuat, maka Pangeran Kecil bertapa untuk memperoleh kesaktian, maka tempat bertapa sekaligus sebagai tempat tinggalnya tidak bisa diketahui belanda sampai dia wafat di tempat tersebut sampai sekarang ini, beliau bergelar Gusti Jamal yang membantu penduduk jika diserang Belanda.
Deskripsi :
Monumen ini adalah simbol perjuangan masyarakat Kabupaten Hulu Sungai Tengah mengusir penjajah di Bumi Murakata. Pada tanggal 21 Desember 1948 di sekitar Tugu ini terjadi pertempuran antara pejuang Belanda. Sebanyak 12 pejuang gugur sebagai Kusuma Bangsa dan sebanyak 99 Serdadu Belanda tewas. Ke 12 pejuang dimakamkan dalam 1 lubang ( sampai sekarang dikenal dengan nama kubur 12), setelah Merdeka ke 12 pejuang dipindahkan ke makam Pahlawan Kusuma Bangsa Batu Benawa Tugu ini terletak di Desa
Hawang Kecamatan Limpasu.
Latar Sejarah :
Monumen ini adalah perjuangan masyarakat Kabupaten Hulu Sungai Tengah mengusir penjajah di Bumi Murakata. Tugu tersebut dibangun di Desa Hawang Kecamatan Limpasu karena disekitar tugu itulah terjadinya pertempuran perlawanan dengan tentara Belanda, dan menyebabkan beberapa pejuang telah gugur. Kemudian untuk mayatnya sebagian telah di makamkan di makam pahlawan Batu Benawa dan sebagian dimakamkan tergabung di Makam pahlawan 25 pejuang di Kecamatan Batang Alai Selatan.
Deskripsi :
Kintungan atau katuk pada zaman dulu adalah sebagai alat pemberitahu untuk masyarakat. Kintungan ini di dapatkan di sungai Desa Wawai. Benda ini di anggap sebagai Cagar Budaya karena usianya melebihi 50 tahun dengan historika yang panjang. Kintungan pusaka ini di simpan di Mesjid Al Abidin Desa Wawai Kecamatan Batang Alai Selatan.
Latar Sejarah :
Kentungan atau katuk pada waktu zaman dulu adalah sebagai alat pemberitahu untuk masyarakat diwilayah Desa tersebut, kemudian didapatkan benda tersebut di areal sungai Wawai Birayang dekat masjid Al Abidin benda tersebut dianggap Cagar Budaya, karena usianya melebih dari 50 tahun dengan historika yang panjang
Deskripsi :
Wali Katum atau KH. Muhammad Ramli adalah tokoh yang tidak asing bagi masyarakat sekitarnya karena memiliki Karomah yang luar biasa. Sebagian dari Karomah beliau di antaranya mampu mengetahui barang yang tercecer bahkan bisa kemana saja dengan sekejap. Dari berbagai Karomah beliau masyarakat memberi gelar Wali Katum atau Wali yang tersembunyi. Lokasi Makam Wali Katum berada di Desa Tabudarat Kecamatan Labuan Amas Selatan.
Latar Sejarah :
Bagi masyarakat di sekitarnya bahwasanya tokoh ini tidak asing lagi, karena disebabkan memiliki karomah yang luar biasa
Deskripsi:
Masjid ini secara administrtif terletak di jalan Perintis Kemerdekaan Barabai Darat dan tepatnya di perampatan dan perantaraan jembatan sholaha Barabai Darat. luas areal tanah 35 M x 35 M, Denah bangunan berbentuk persegi berukuran 15,5 m x 15,5 M, dan tinggi 6,23 m dengan struktur pendukung utama dari cor beton. Lantai terbuat dari Keramik/marmer polos berukuran 30 x 3 cm. Sedangkan untuk tiang menggunakan kayu ulin berbentuk bulat/lingkaran yang berwarna putih. Bangunan memiliki 4 (empat) tiang yang dinamakan tiang guru, Dinding terbuat dari cor beton yang dilapisi keramik ukuran 30 x 30 cm berwarna abu-abu gradasi. Pada bagian dinding , terdapat 6 (enam) pintu 2 daun yang terletak disebalah utara, timur, dan selatan serta 16 jendela 2 daun dari kaca yang terletak di sekeliling bangunan. Atap masjid berbentuk limasan tumpang 3 dengan bentuk semakin keatas semakin kecil. Khusus bangunan mihrab memiliki atap tersendiri yang berbentuk tumpang dengan posisi pada sisi atap sebelah barat menempil dengan atap utama. Keseluruhan penutup atap menggunakan seng berwarna cokelat. Bagian dalam terdapat plafond berwarna putih yang menutupi seluruh atap.Masjid memiliki serambi di sisi timur, utara dan selatan. Khusus serambi sisi selatan di fungsikan sebagai ruang belajar mengaji/TPA.
Latar Sejarah:
Mesjid ini mempunyai peran penting pda era perjuangan melawan penjajahan Belanda. Sebelum dinamakan Mesjid Ash-Sulaha dulu namanya mesjid Jami. Tahun 1900-an ketika direlokasi diubah menjadi Ash-Sulaha yang memiliki arti tempat berkumpulnya orang orang sholeh. Mesjid ini beberapa kali direnovasi. Dari pergantian material hingga bentuk bangunan yang masih tidak berubah sampai sekarang Tiang Ulin yang terdapat di dalam mesjid. Mesjid ini terletak di Kelurahan Barabai Darat Kecamatan Barabai.
Deskripsi :
Rumah panggung dengan denah, memiliki ukuran luas 8,7 M x 26,40 M, Fasat depan rumah berupa teras terbuka dengan 4 tiang tinggi dengan 5 anak tangga menuju teras yang berpagar kayu dengan hiasan ukiran tatah kandang rasi. Pada depan rumah panggung dengan tonggak setinggi 175 cm Secara umum bentuk fisik rumah ini masih asli baik bentuk maupun ukurannya.
Latar Sejarah:
Rumah ini adalah tempat orang–orang kaya pada masanya dimana rumah tersebut Setelah Kemerdekaan RI tahun 1945 Rumah H. Muhammad Rais seorang Saudagar (pedagang kain batik dan sarung) yang sekarang diteruskan oleh H. Mustafa. Rumah ini merupakan rumah tanpa anjung lurus dari depan hingga dapur. Menurut jenisnya merupakan rumah Banjar tipe Palimasan Lebar rumah sekitar 8,7 meter panjang 26,40 meter Fasat depan rumah berupa teras terbuka dengan 4 buah tiang tinggi dengan 5 anak tangga menuju teras yang berpagar kayu dengan hiasan ukiran tatah kandang rasi. Pada tiang teras terdapat hiasan berupa pahatan nanas. sukses pada masa itu sekitar akhir tahun 1800 dan awal tahun 1900 dijadikan Markas besar meneruskan perjuangan mengusir penjajah Belanda yang masih ingin mempertahan kan penjajahannya di daerah ini. Kemudian lebih berfungsi lagi rumah beliau pada tahun 1950 kaum gerilya pada masa itu untuk membantu perjuangan agar memperoleh kemerdekaan yang seutuhnya
Deskripsi:
Secara administratif Makam tersebut terletak di Desa Barikin, untuk mencapai tempat ini, dapat dilalui dengan jalur darat yakni menggunakan mobil maupun motor. Bangunan makam di atas tanah seluas 300 m. Secara vertikal bangunan terbagi atas tiga bagian yakni lantai, dinding dan atap bangunan, untuk lantai terbuat dari keramik/marmer polos berukuran 20 x30 cm Untuk melindungi makam, dibuatkan cungkup dari campuran or beton/semin di bagian tengah jirad makam berupa gundukan tanah yang meninggi (menyerupai sarang semut) sedangkan dinding bangunan terbuat dari cor beton/semin, kemudian untuk fasilitas memiliki papa nama.
Latar Sejarah:
Rumah ini adalah tempat orang–orang kaya pada masanya dimana rumah Tuan Guru ini oleh masyarakat Desa Barikin dan sekitarnya dianggap punya kelebihan luar biasa, dengan karomahnya dan dalam dakwahnya menggunakan dengan alat kesenian (Kecapi).
Deskripsi:
Masjid ini terletak di Desa Jatuh, Kecamatan Pandawan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Bangunan Masjid berada diatas tanah seluas 450 m2. Denah bangunan masjid berbentuk persegi berukuran 8,5 x 15,5 m, tinggi 4,23 m dengan struktur pendukung utama dari cor beton. sisi selatan difungsikan sebagai ruang belajar mengaji/TPA, sekeliling Masjid Secara vertikal bangunan terbagi atas tiga bagian yakni lantai, dinding dan atap bangunan. Lantai terbuat dari Keramik/marmer polos berukuran 30 x 3 cm. Sedangkan untuk tiang menggunakan kayu ulin berbentuk bulat/lingkaran yang berwarna putih dan hijau. Bangunan memiliki 5 (lima) tiang yang berada dibagian tengah. Pada bagian bawah tiang dilapis keramik setinggi 9i0 cm. Tinggi kelima tiang berbeda yakni yang paling tinggi berukuran 5,24 m dan paling rendahberukuran 3,37 m dengan ukuran keliling sama yakni 1 m. Kondisi tiang semuanya baik, ada beberapa buah yang mengalami retak dan patah sehingga untuk mengamankan agar tidak bertambah rusak, pengurus masjid menutup tiang yang rusak dengan kaca. Dinding terbuat dari cor beton yang dilapisi keramik ukuran 30 x 30 cm berwarna abu-abu gradasi. Pada bagian dinding , terdapat 6 (enam) pintu 2 daun yang terletak disebalah utara, timur, dan selatan serta 16 jendela 2 daun dari kaca yang terletak di sekeliling bangunan. Atap masjid berbentuk limasan tumpang 3 dengan bentuk semakin keatas semakin kecil. Khusus bangunan mihrab memiliki atap tersendiri yang berbentuk tumpang dengan psisi pada sisi atap sebelah barat menempil dengan atap utama. Keseluruhan penutup atap menggunakan seng berwarna cokelat. Bagian dalam terdapat plafond berwarna putih yang menutupi seluruh atap. Fasilitas yang dimiliki adalah papan nama, tempat wudhu, dan tempat parkir TPA.
Latar Belakang:
Masjid Al A’la berlokasi di Desa Jatuh Kecamatan Pandawan Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) merupakan satu di antara masjid tua yang ada di Provinsi Kalimantan Selatan. Berdasarkan namanya, Masjid Al A’la artinya dalam bahasa arab “Tinggi” karena bangunan masjid memiliki lantai dasar yang tingginya sekitar 1,5 meter. Karenanya pula, ada yang mengatakan, bahwa setiap tahun Masjid Al A’la ini bertambah tinggi. Masjid Al A’la diperkirakan telah berdiri sejak abad ke-17 Masehi. Pada masa perang Banjar Mesjid ini dijadikan markas para pejuang yaitu pasukan Beratib Beramal di bawah pimpinan Penghulu Muda Yuda Lalana. Mesjid ini berada di Desa Jatuh Kecamatan Pandawan
Deskripsi:
Makam ini terletak di Desa Kasarangan, Kecamatan Labuan Amas Utara Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Makam berada diatas tanah seluas 4 x 6 m persegi yang dikelilingi pagar teralis dan besi. Akses jalan menuju makam dapat ditempuh menggunakan roda empat maupun roda dua.
Latar Sejarah:
Tokoh Ulama, Pejuang, Pendidik serta pemberi Inspirasi pada masyarakat di Desa Kasarangan dan sekitarnya. Semasa hidupnya beliau habiskan untuk berdakwah dari kampung ke kampung. Beliau juga membangun Mesjid di Desa Kasarangan untuk kegiatan masyarakat melakukan aktivitas ibadah. Selain itu, beliau juga perintis dan pendiri sekolah madrasah yang saat ini berdampingan dengan letak makan beliau. Makam Haji Amin Bin Haji Matasin terletak di Desa Kasarangan Kecamatan Labuan Amas Utara.
Deskripsi:
Wayang tersebut keseluruhan berjumlah 80 buah bentuk krakter beraneka ragam yang terbikin dari kulit sapi dengan dibubuhi kayu ulin fungsinya ulin adalah ketika wayang dimainkan dan diletakan di atas gadang pisang, wayang tersebut diamankan dalam sebuah peti dengan ukuran 75 cm x 1,4 m.
Latar Belakang:
Wayang kulit berupa peninggalan Almarhum Dalang Tulur dimana beliau pergunakan wayang tersebut mulai berkarya sampai beliau meninggal. Wayang kulit berjumlah 80 buauh bentuk karakter yang terbikin dari kulit sapi dengan dibubuhi kayu ulin. Peninggalan Dalang Tulur bukan saja berupa Karawitan yang lengkap sebagai penggiring penampilan kesenian Wayang pada masanya. (Untuk Gamelan Banjar saat ini masih berada di Museum Banjarbaru) .
Deskripsi:
Benda tersebut terletak di Desa Kayu Bawang Kecamatan Barabai. Untuk mencapai lokasi bisa mempergunakan mobil ataupun motor dengan jarak tempuh kurang lebih 5 km dari Kota Barabai.
Latar Belakang:
Kepala Naga pada waktu dulu sampai sekarang di pergunakan untuk Baarak Penganten di Wilayah Hulu Sungai Tengah, atau di kenal dengan Tradisi Baarak naga. Karena berusia lebih dari 50 tahun dan memiliki nilai-nilai budaya dan pengetahuan, Kepala Naga ini ditetapkan sebagai benda Cagar Budaya. Kepala Naga ini sekarang disimpan di Desa Kayu Bawang Kecamatan Barabai.
Deskripsi:
Secara administratif Makam tersebut terletak di Desa Banua Rantau, untuk mencapai tempat ini, dapat dilalui dengan jalur darat yakni menggunakan mobil maupun motor kurang lebih 6 km dari Kota Barabai. Makam tersebut berada di sebelah kiri jalan Raya menuju arah ke Desa Birayang Kecamatan Batang Alai Selatan dan tepatnya posisi makam berada di Desa Banua Rantau kurang 2 km dari pertigaan Desa Kapar. Bangunan makam di atas tanah seluas 100 m. Persegi Secara vertikal bangunan terbagi atas tiga bagian yakni lantai, dinding dan atap bangunan, untuk lantai terbuat dari keramik/marmer polos berukuran 6 m x 6 m Untuk melindungi makam, dibuatkan cungkup dari campuran cor beton/semin di bagian tengah jirad makam berupa gundukan tanah yang meninggi (menyerupai sarang semut) sedangkan dinding bangunan terbuat dari cor beton/semin, kemudian untuk fasilitas memiliki papa nama.
Latar Sejarah :
Tokoh ini kelahiran dari Nagara Kecamatan Daha Kab. HSS yang kemudian domisili di Banua Rantau. Sebagai tokoh utama semasa hidupnya dianggap pemberi inspirasi bagi masyarakat sekitar karena keilmuan dan perjuangannya dalam menyebarkan ajaran Agama Islam pada masanya. Makam H. Akmad Kusasi terletak di Desa Banua Rantau Kecamatan Batang Alai Selatan.
Deskripsi:
Secara administratif Pusaka tersebut terletak di Jalan SMP Barabai Darat, untuk mencapai tempat ini, dapat dilalui dengan jalur darat yakni menggunakan mobil maupun motor jarak tempuh kurang lebih 2 km dari Kota Barabai. Pusaka tersebut dengan ukuran panjang 60 cm x 4 cm diletakan dalam Lemari kaca.
Latar Sejarah:
Keris pusaka ini berjumlah dua buah dan dipergunakan oleh pejuang ketika perang melawan penjajah Belanda. Ada beberapa Keris Pusaka lainnya namun saat ini sudah berada di Museum Wasaka Banjarmasin. Keris Pusaka peninggalan sejarah saat ini berada berada dan disimpan di Jl. SMP Kelurahan Barabai darat Kecamat Barabai.
Deskripsi:
Secara administratif Makam tersebut terletak di Desa Limbar Kecamatan Batang Alai Selatan, untuk mencapai tempat ini, dapat dilalui dengan jalur darat yakni menggunakan mobil maupun motor dengan jarak tempuh kurang lebih 10 km dari jantung Kota Barabai, Bangunan makam di atas tanah seluas 100 m. Persegi Secara vertikal bangunan terbagi atas tiga bagian yakni lantai, dinding dan atap bangunan, untuk lantai terbuat dari keramik/ mar mer polos berukuran 6 m x 6 m Untuk melindungi makam, dibuatkan cungkup dari campuran cor beton/semin dengan ukuran 2,5 m x 80 cm persegi, sedangkan dinding bangunan terbuat dari Kayu, lantai terbuat dari keramik ukuran 60 cm x 60 cm, kemudian untuk fasilitas tidak memiliki papa nama.
Latar Sejarah:
KH Sulaiman meupakan tokoh alim ulama yang di anggap pemberi inspirasi karena keilmuan dan perjuangannya bagi masyarakat Kabupaten Hulu Sungai Tengah khususnya di Desa Limbar. Pada masa perjuangan revolusi f isik para pejuang seperti H. Aberani Sulaiman dan pejuang lainnya. Dalam menyusun strategi perjuangan seringkali meminta saran dan restu dari beliau. Makam K.H Sulaiman terletak di Desa Limbar Kecamatan Batang Alai Selatan
Deskripsi:
Secara administratif Tpoeng tersebut terletak di Desa Barikin Kecamatan Haruyan, untuk mencapai tempat ini, dapat dilalui dengan jalur darat yakni menggunakan mobil maupun motor dengan jarak tempuh kurang lebih 14 km dari jantung Kota Barabai dan bertepatan di simpan 4 Barikin Benda tersebut berbentuk bundar dalam bentuk wajah mirip dengan wajah manusia dan wayang, nama topeng tersebut adalah :
a. Topeng Pamindu
b. Topeng Panji
c. Topeng Gunung Sari
d. Topeng Sakartaji
Topeng Temenggung
f. Topeng Ambam
g. Topeng Patih
h. Topeng Kalana
i. Topeng Antu
j. Topeng jin
k. Topeng Gajah Barung
l. Subrah (Pici atau tutup kepala)
Latar Sejarah:
Topeng yang digunakan oleh juriat Panopengan Barikin secara turun temurun. Benda ini berbentuk bundar dalam bentuk wajah mirip dengan wajah manusia dan wayang. Nama topeng tersbeut adalah topeng Pamindu, Topeng Panji, Topeng Gunung Sari, Topeng Sakartaji, Topeng Temenggung, Topeng Ambam, Topeng Patih, Topeng Kalana, Topeng Antul, Topeng Jin, Topeng Gajah Barung, Subrah ( Pici/tutup kepala). Topeng pusaka ini disimpan di desa Barikin Kecamatan Haruyan.
Deskripsi:
Panji-panji terletak di Desa Jatuh di rumah Muhammad Sadiq sebagai pemelihara yang mana benda tersebut dengan di buatkan dinding kaca berukuran 2 m x 1,5 m untuk pengamanan agar tidak dimakan rayap. Kitab Al Qur’an di disimpan dalam lemari kaca.
Latar Sejarah:
Seorang arkeolog asing yang datang bersama dengan DR. Alfani Daud memperkirakan bahwa panji-panji itu berumur 300 ratus tahun, dan mesjid Al A’la sudah berdiri disana jauh sebelum panji-panji itu ada. Menurut cerita seorang penasehat Kerajaan Banjar yang habis pulang berhaji membawa panji-panji dan juga sebuah Al-Qur’an dan meletakannya di mesjid Al-A’la Secara Fisik Al-Qur’an kunobemntuknya tak lagi sempurna namun seluruh hurufnya dari lembar yang masih utuh terlihat jelas tulisan tangannya yang rapi dan indah. Panji-panji Al-Qur’an kuno disimpan di Desa Jatuh Kecamatan Pandawan.
Deskripsi:
Rumah ini berlokasi di Jalan Trikesuma Kampung Qadhi dengan jarak tempuh kurang lebih 1 km dari kota Barabai dengan lewat darat bisa mempergunakan mobil atau motor. Rumah tersebut dengan denah persegi, Pada bagian depan/ halaman terdapat 2 makem pemilik Rumah kerapatan Qadhi. Kemudian rumah tersebut memiliki ukuran luas 10 M x 14,2 M, terdapat 1 ruang tamu dengan ukuran 4,77 M x 5,78 M, 1 kamar tamu dengan ukuran 6,45 M x 6,8 M, Pada belakang terdapat 2 kamar mandi, halaman belakang dengan ukuran 4,9 M x 5,9 M dan kamar tempat tidur ukuran 4 M x 6,2 M.
Latar Sejarah:
Rumah Banjar ini merupakan rumah Qadhi pertama di Barabai Kabupaten Hulu Sungai Tengah yaitu K.H.M.Mochtar Bin H.Muhammad Hasan ( tahun 1938). Rumah Bnajar ini dijadikan rumah kerapatan Qadhi (pengadilan agama) dan merupakan kerapatan Qadhi yang tertua di Kalimantan Selatan dan selanjutnya diteruskan oleh anak keturunannya . Kerapatan Qadhi ini lah yang merupakan cikal bakal Pengadilan Agama saat ini. Rumah datu Qadhi ini terletak di Jl. Trikesuma ( Kampung Kadi) Kelurahan Barabai Darat Kecamatan Barabai.
Deskripsi:
Makam ini terletak di Desa Kayu Rabah, Ke camatan Pandawan Ka bupaten Hulu Su ngai Tengah. Makam berada diatas tanah seluas 4 x 3 m persegi yang dikelilingi pagar Semin cor. Akses jalan menuju makam kurang lebih 15 km dari Kota Barabai dan dapat ditempuh meng gunakan roda em pat maupun roda dua.
Latar Belakang:
Sejarah meninggalnya kelima pejuang tersebut adalah dikenal dengan peristiwa Kambat Selatan. Di Kambat Selatan ada markas kecil tempat berkumpulnya para pejuang yang dipimpin oleh K.H.M. Rafi’e. Tepatnya jam 03.00 Wita ketika seluruh pejuang sudah tidur, tiba-tiba terdengar bunyi tembakan dan tantara Belanda sudah mengepung rumah para pejuang. Para pejuang kalang kabut sambil sesekali melakukan perlawanan. Pada peristiwa itu 5 pejuang gugur diterjang peluru Militer Belanda. Makam Pahlawan 5 Pejuang berada di Desa Kayu Rabah Kecamatan Pandawan.
Deskripsi:
Secara administratif Makam tersebut terletak di Desa Pagat Batu Benawa, untuk mencapai tempat ini, dapat dilalui dengan jalur darat yakni menggunakan mobil maupun motor. Kemudian Makam tersebut berada di sebelah kanan jalan Raya menuju arah Objek wisata Batu Benawa. Bangunan makam di atas tanah seluas 100 m. Persegi Secara vertikal bangunan terbagi atas tiga bagian yakni lantai, dinding dan atap bangunan, untuk lantai terbuat dari keramik/marmer polos berukuran 6 m x 6 m Untuk melindungi makam, dibuatkan cungkup dari campuran cor beton/semin. sedangkan dinding bangunan terbuat dari cor beton/semin dan Kayu kemudian untuk fasilitas tidak memiliki papan nama.
Latar Sejarah:
H. Baseri Bin Muhammad Arif ini merupakan tokoh ulama yang dianggap pemberi inspirasi terhadap masyarakat Pagat dan sekitarnya berkat keilmuan dan pengetahuan di bidang agama yang beliau miliki. Dalam menyebarkan ajaran agama Islam beliau juga berdakwah dari kampung ke kampung. Makam H. Baseri Bin Muhammad Arif terletak di Desa Pagat Kecamatan Batu Benawa
Deskripsi:
Secara administratif Makam tersebut terletak di Desa Pagat Batu Benawa, untuk mencapai tempat ini, dapat dilalui dengan jalur darat yakni menggunakan mobil maupun motor. Kemudian Makam tersebut berada di sebelah kanan jalan Raya menuju arah Objek wisata Batu Benawa. Bangunan makam di atas tanah seluas 100 m. Persegi Secara vertikal bangunan terbagi atas tiga bagian yakni lantai, dinding dan atap bangunan, untuk lantai terbuat dari keramik/marmer polos berukuran 6 m x 6 m Untuk melindungi makam, dibuatkan cungkup dari campuran cor beton/semin. sedangkan dinding bangunan terbuat dari cor beton/semin dan Kayu kemudian untuk fasilitas tidak memiliki papan nama.
Latar Sejarah:
Datu Arya Tadung Wani merupakan tokoh pejuang. Dia sangat berani menentang penjajahan Belanda, sampai-sampai karena bencinya dengan Belanda, maka dia mencurahkan segenap perhatiannya untuk menjaga Kampung Pelajau/Pandawan sehingga Kampung Pandawan termasuk daerah yang tidak pernah dikuasai oleh para penjajah pada waktu itu. Beliau sangat disegani oleh masyarakat sekitar sehingga diberi gelar Datu karena dianggap cukup berpengaruh, pemberani dan kharismatik khususnya dalam hal menyebarkan ajaran Agama Islam dan keberanian menentang penjajah Belanda. Makam Datu Arya Tadung Wani tereletak di Desa Pandawan Kecamatan Pandawan