Kopi Robusta umumnya dapat tumbuh dengan baik pada dataran yang lebih rendah, sekitar 200–900 meter di atas permukaan laut, dengan suhu yang lebih hangat dibandingkan wilayah pertumbuhan Arabika. Cita rasa Robusta biasanya lebih kuat, pahit, tebal dan memiliki tingkat keasaman yang lebih rendah. Aromanya tidak sekompleks Arabika, tetapi mempunyai karakter khas seperti cokelat hitam, kacang-kacangan, kayu atau tanah. Kandungan kafeinnya lebih tinggi, umumnya sekitar 2–2,7 persen. Kafein yang lebih tinggi ikut membantu tanaman bertahan terhadap beberapa jenis hama. Biji Robusta cenderung lebih bulat dan garis tengah bijinya lebih lurus. Tanamannya lebih tahan terhadap suhu panas, kondisi lingkungan yang kurang ideal serta beberapa serangan hama dan penyakit. Robusta juga cenderung lebih mudah dibudidayakan dan dapat menghasilkan buah lebih banyak. Karena itu, harga Robusta umumnya lebih rendah daripada Arabika, tetapi sangat penting sebagai bahan baku industri kopi dalam jumlah besar. Robusta banyak digunakan untuk membuat kopi bubuk komersial, kopi instan, kopi campuran, minuman kopi susu dan produk ekstrak kopi. Dalam campuran espresso, Robusta sering digunakan untuk memberikan rasa yang lebih kuat, kandungan kafein lebih tinggi dan lapisan crema yang lebih tebal. Kopi Robusta di Provinsi NTT justru memberikan sumbangan produksi yang lebih besar daripada Arabika. Berdasarkan Portal Satu Data NTT, produksi Robusta pada 2022 mencapai 16.682 ton. Produksi 2025 mencapai 18.856,24 ton dengan produktivitas sebesar 526 kilogram per hektare. Pada tahun yang sama, Robusta menyumbang sekitar 61,68 persen dari total produksi kopi Arabika dan Robusta di NTT.
Produk Kopi Robusta NTT
Mix Coffee Blend 30% Arabika & 70% Robusta