Berdasarkan data yang tersedia pada Portal Satu Data NTT atau SASANDO, pada tahun 2025 Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah Provinsi ke lima di Indonesia dengan luas areal tanam terbesar untuk komoditas kopi yaitu 67.875 Ha. Hal ini menunjukan Potensi areal komoditas kopi yang sangat besar, selain itu berdasarkan sumber data yang sama Produksi Kopi di Provinsi Nusa Tenggara Timur Sebesar 30.573 ton dan menjadi Provinsi terbesar ke Sembilan dalam produktivitas kopi. Komoditas kopi  yang di kembangkan di Provinsi Nusa Tenggara Timur ada dua jenis yaitu kopi Arabika dan kopi Robusta. Produksi kopi Arabika NTT tercatat sebesar 11.717 ton, sedangkan produksi kopi Robusta sebesar 18.856 ton. Data ini menunjukkan bahwa, produksi kopi NTT lebih banyak ditopang oleh kopi Robusta dibandingkan kopi Arabika. Pada tahun 2024, produksi kopi Arabika adalah 8.796 ton. Sementara itu, data kopi Robusta dalam portal satu data NTT  adalah 15.365 ton. Berdasarkan luas tanaman menghasilkan kopi Robusta sebesar 35.846 hektare dan produktivitas 429 kilogram per hektare, angka produksi tersebut semestinya berada pada kisaran 15.370 ton. Dengan demikian, total produksi kopi NTT pada tahun 2024 diperkirakan sekitar 24.161 ton. Pada tahun 2025, kondisi produksi kopi NTT memperlihatkan perkembangan yang jauh lebih positif. Peningkatan produksi pada tahun 2025 terjadi pada kedua jenis kopi. Produksi Arabika bertambah sekitar 2.921,48 ton atau 33,21 persen dibandingkan tahun 2024. Produksi Robusta meningkat sekitar 3.486,24 ton atau 22,68 persen. Walaupun secara persentase pertumbuhan Arabika lebih tinggi, secara jumlah produksi Robusta tetap menjadi penopang utama kopi NTT. Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa potensi kopi NTT tidak hanya bertumpu pada kopi Arabika seperti Kopi Bajawa dan Kopi Manggarai yang dikenal sebagai kopi khas daerah. Dari sisi volume, kopi Robusta justru memiliki peranan yang lebih besar dalam menyediakan bahan baku bagi industri. Karena itu, pembangunan industri kopi NTT perlu memperhatikan dua jalur pengembangan. Arabika dapat diarahkan pada pasar kopi spesialti dengan penekanan pada mutu, cita rasa, identitas wilayah dan harga premium. Sementara itu, Robusta dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan industri kopi bubuk, kopi campuran, kopi instan, ekstrak kopi dan produk olahan dalam volume yang lebih besar.