Kopi Arabika umumnya tumbuh baik di daerah dataran tinggi sekitar 1.000–2.000 meter di atas permukaan laut, dengan suhu relatif sejuk. Kondisi dataran tinggi menyebabkan buah kopi matang lebih lambat sehingga pembentukan aroma dan cita rasanya menjadi lebih kompleks. Arabika biasanya mempunyai rasa yang lebih halus, tingkat keasaman lebih terasa, aroma lebih kuat, serta dapat memiliki karakter rasa buah, bunga, rempah, cokelat atau karamel. Kadar kafeinnya relatif lebih rendah dari pada Robusta, yaitu sekitar 1–1,5 persen. Bentuk bijinya cenderung lonjong dan garis tengah bijinya terlihat melengkung.Tanaman Arabika lebih sensitif terhadap perubahan cuaca, suhu tinggi, kekeringan serta serangan hama dan penyakit. Oleh karena itu, budi dayanya membutuhkan pemeliharaan yang lebih intensif. Karena mutu rasa dan aromanya, Arabika umumnya memiliki harga jual lebih tinggi dan banyak digunakan dalam pasar kopi spesialti. Kopi Arabika di Provinsi NTT mempunyai posisi penting karena sesuai saat dikembangkan pada wilayah dataran tinggi, terutama di Pulau Flores. Kopi Arabika Flores Bajawa dan Kopi Arabika Flores Manggarai telah dikenal sebagai kopi yang memiliki kekhasan wilayah. Berdasarkan Portal Satu Data NTT, produksi Arabika meningkat dari 8.672 ton pada tahun 2022 menjadi 8.719 ton pada tahun 2023 dan 8.796 ton pada 2024. Pada tahun 2025, produksinya meningkat cukup besar menjadi 11.717,48 ton. Produktivitasnya juga naik dari 555 kilogram per hektare pada 2024 menjadi 740 kilogram per hektare pada 2025. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa Kopi Arabika mempunyai potensi besar untuk dikembangkan sebagai produk unggulan NTT bernilai tinggi. Pengembangannya sebaiknya diarahkan pada kopi spesialti, penguatan identitas daerah, peningkatan mutu pasca panen, sertifikasi, penyangraian yang sesuai dengan karakter biji, serta pemasaran kepada hotel, kedai kopi, pasar nasional dan ekspor.
Produk Kopi Arabika NTT