Seputar Pengelolaan DAS
Kemas Ulang Informasi Koleksi Perpustakaan BPPTPADS
Kemas Ulang Informasi Koleksi Perpustakaan BPPTPADS
Pohon Pelindung Mata Air
Perpustakaan BPPTPDAS (Solo, 30/07/2021). Air merupakan sumber kehidupan. Air sangat dibutuhkan untuk keberlangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lain yang ada di bumi. Setiap hari seseorang memerlukan air baik untuk minum, memasak, mencuci atau kegiatan lainnya. Namun, kebutuhan air bersih tidak berjalan lurus dengan ketersedian air bersih.
Salah satu sumber air bisa diperoleh dari mata air. Kondisi mata air di Indonesia mengalami penurunan yang signikan dan cenderung sangat mengkhawatirkan. Data Bidang Pengairan dinas Pekerjaan Umum dan ESDM Kabupaten Klaten tehun 2016 mencatat sebanyak 31 dari total 174 mata air yang ada mengalami kematian. Berdasarkan data tersebut terindikasi 17,8% mata air yang tersedia lenyap.
Pelestarian dan perlindungan mata air dapat kita upayakan. Salah satunya dengan teknik penanaman pohon atau yang kerap disebut dengan istilah teknik vegetatif. Model perlindungan ini dikenalkan Dody Yulianto, Bambang Dwi Atmoko dan Siswo tahun 2017 dalam bukunya yang berjudul “Pohon Sahabat Air.” Ketiganya merupakan teknisi Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPPTPDAS).
“Perlindungan pertama berupa penanaman di titik mata air pada radius 10-15 meter atau yang dikenal dengan sebagai spring protection,” tulis dody dan kedua teman sejawatnya.
Kegiatan perlindungan mata air ini dilakukan untuk melindungi titik mata air dai segela jenis zat pencemar dan perusak yang diakibatkan ulah manusia atau makhluk hidup lainnya.
“Perlindungan kedua berupa penanaman di daerah imbuhan air tanah atau yang dikenal sebagai springhed protection,” tambah mereka.
Penanaman di zona kedua bertujuan membantu tanah dalam proses peresapan air hujan.
Beberapa faktor disinyalir perlu diperhatikan dalam pemilihan jenis pohon untuk kegiatan penanaman dalam rangka perlindungan mata air,” tegas ketiganya.
Faktor yang dimaksud yaitu faktor lingkungan dan faktor edafik kawasan. Faktor lingkungan berupa curah hujan, ketinggian tempat, temperatur atau suhu dan kelembaban. Faktor edafik kawasan mata air diantaranya berupa jenis, tekstur, struktur tanah dan unsur hara.
Dody, Bambang dan siswo mempopulerkan 15 jenis tanaman yang bisa dipertimbangkan untuk ditanam di sekitar mata air. Tanaman tersebut merupakan jenis tanaman yang biasa ditemukan di sekitar area mata air dan bisa ditanam untuk kegiatan perlindungan mata air. Tanaman tersebut yaitu Aren, Gayam, Keduang, Trembesi, Beringin, Elo dan Preh. Tanaman selanjutnya yaitu Bulu, Benda, Kepuh, Randu, Jambu air, Jambu Alas, Bambu dan Picung.
Tidak setiap jenis pohon cocok ditanam di area sekitar mata air. Jenis bahan batuan dan ketinggian tempat juga menjadi bahan pertimbangan saat memilih dan menentukan jenis pohon yang akan ditanam di suatu area mata air.
Misalnya untuk daerah yang berada pada zona ketinggian antara 10-400 mdpl atau kita kenal sebagai daerah dataran rendah dengan jenis batuan induk vulkan cocok ditanam 8 jenis tanaman. Tanaman yang cocok yaitu Aren, Bambu, Bulu, Beringin, Picung, Preh, Elo dan Kedawung.
Sedangkan untuk daerah dengan zona ketinggian sama tetapi memiliki jenis batuan induk kapur jenis tanaman yang bisa ditanam lebih bervariasi yaitu sebanyak 13 jenis. Jenis yang dimaksud yaitu Aren, Bambu, Beringin, Preh, Picung, Jambu Alas, Bendo, Jambu air, Trembesi, Elo, kepuh, Gayam dan Randu.
Semakin tinggi daerah mata air maka jenis tanaman yang cocok dan bisa ditanam di daerah itu juga semakin sedikit jenisnya. Misalnya untuk daerah dataran tinggi dengan ketinggian tempat sekitar 1200-1600 mdpl dengan jenis batuan induk kapur, daerah ini hanya cocok ditanam 6 jenis tanaman (Aren, Bambu, Beringin, Preh, Picung dan Jambu Air). Sedangkan untuk daerah ketinggian sama tetapi jenis batuan induk vulkan tanaman yang cocok ditanam juga ada 6 jenis tetapi berbeda variannya yaitu Aren, Bambu, Bulu, Beringin, Picung dan Preh.
Selanjutnya hanya ada dua jenis tanaman yang cocok untuk ditanam di daerah mata air yang berada di daerah dataran tinggi dengan ketinggian 1600-2000 mdpl baik daerah dengan batuan kapur maupun vulkan. Tanaman tersebut yaitu Aren dan Bambu. ***Amma Perpustakaan BPPTPDAS.
Bagaimana saat Pohon dan Mata air lenyap dari Muka Bumi?
Perpustakaan BPPTPDAS (Solo, 29/07/2021). Pohon memberi banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Manfaat tersebut yaitu bisa mencegah erosi, sedimen dan banjir. Pohon juga berguna sebagai penyumbang kadar oksigen (O2) dan mengurangi junlah gas karbon dioksida (CO2) di bumi. Karenanya, bumi menjadi tempat yang sejuk dan nyaman untuk ditinggali. Selain itu, pohon juga bermanfat sebagai sumber makanan, tempat hidup makhluk hidup atau spesies lain, sumber obat dan bahan industri.
Salah satu manfaat pohon yang lain, yaitu memberi pengaruh baik terhadap mata air. Setidaknya ada 3 pengaruh baik pohon terhadap mata air.
“Pohon memiliki tiga pengaruh baik terhadap mata air,” tulis Dody Yulianto, Bambang Dwi Atmoko dan Siswo, Teknisi di Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPPTPDAS).
“Pengaruh tersebut yaitu dalam hal pengisian air tanah, menjaga keseimbangan air dan membantu peresapan air tanah,” tambahnya.
Air hujan yang jatuh ke permukaan tanah diresapkan pohon. Hal itu bisa terjadi karena pohon mempunyai lapisan tajuk yang bertingkat, memiliki serasah. Selain itu, tanaman bawah dan lapisan humus yang ada di bawah pohon sangat membantu air hujan meresap ke dalam lapisan tanah.
“Tajuk pohon berfungsi sebagai penahan air hujan yang jatuh ke permukaan tanah dan seresahnya mengurangi aliran permukaan dan menyimpan air sementara dan secara bertahap melapaskannya ke dalam tanah bersama bahan organik yang larut untuk perbaikan struktur tanah,” jelas Dody dan kedua rekan lainnya.
Begitu besar pengaruh dan manfaat pohon bagi kehidupan manusia. Tetapi masih banyak dari kita yang memperlakukan pohon dengan tidak bijaksana. Bahkan, tak jarang menebangnya secara ilegal dan tak beraturan demi keuntungan ekonomi, pemenuhan kebutuhan industri dan pembangunan manusia.
Alhasil, pasokan air di bumi menurun drastis. Padahal kita tahu dan sadar, setiap harinya kita sebagai makhluk hidup membutuhkan oksigen dan air untuk kelangsungan dan pemenuhan kebutuhan hidup.
Kebutuhan air khususnya air minum terus meningkat setiap harinya.
“Peningkatan penggunaan air meningkat karena pertumbuhan jumlah penduduk, penggunaan untuk kebutuhan pertanian dan pemenuhan kebutuhan industri,” tegas mereka.
Hal itu tidak seiring dengan kondisi mata air di Indonesia, dimana kenyataannya saat ini mata air mengalami penurunan dalam jumlah kualitas, kuantitas dan kontinuitas. Penurunan kuantitas mata air juga terjadi di wilayah Solo Raya.
Penurunan jumlah mata air yang terjadi di Solo Raya terjadi secara drastis dalam kurun waktu satu dekade terakhir. Data Balai Pengelolaan Sumber daya Air Bengawan Solo tahun 2016 mencatat Solo Raya memiliki 421 buah mata air di tahun 2006. Awal tahun 2016 jumlah tersebut berkurang dan hanya tersisa 223 buah. Lebih dari 50% jumlah mata air lenyap.
Bahkan 174 sumber mata air yang ada di kabupaten Klaten, Jawa Tengah, 31 diantaranya mengalami kematian (Solopos, 2016).
Sebagai permulaan, coba bayangkan apabila pohon dan mata air lenyap dalam 10 tahun ke depan di negeri ini. Bagaimana keberlangsungan keanekaragaman hayati dan pemenuhan kebutuhan hidup manusia yang ada di dalamnya.
Hilangnya pohon dan mata air bisa menyebabkan kekeringan ekstrem berkepanjangan, menurunnya pasokan makanan dan gagal panen. Ketika hujan datang, banjirpun tak bisa terelakan dan bencanapun menanti. Erosi dan sedimentasi terjadi secara besar-besaran. Hal itu mengakibatkan bencana bagi semua makhluk hidup yang tinggal.
Begitu besar manfaat pohon dan mata air. Sudah selayaknya kita memperlakukan keduanya dengan hormat. Salah satunya dengan menjaga kelestarian pohon dan mata air yang ada di sekitar kita agar keduanya tetap lestari. Alhasil bumi bisa menjadi tempat yang sejuk, sehat dan nyaman untuk ditinggali. ***Amma Perpustakaan BPPTPDAS.