Pasca-perpindahan kekuasaan dari Belanda ke Jepang, Jepang mengharuskan rakyat Singaparna untuk melakukan Seikerei. Seikerei adalah tradisi penghormatan kepada Dewa Matahari dengan cara membungkukkan badan ke arah matahari terbit setiap pagi.
KH Zainal Mustafa, pemimpin sebuah pesantren di Singaparna, Tasikmalaya, pun menentang kebijakan tersebut karena tradisi Seikerei bertentangan dengan hukum Islam. Untuk itu, KH Zainal Mustafa mengupayakan agar para santrinya menghindari tindakan menyekutukan Tuhan. Ia meminta para santrinya untuk memperkuat keyakinannya dan juga mengajarkan mereka bela diri silat. Namun, persiapan KH Zainal Mustafa terendus oleh Jepang. Pada 24 Februari 1944, utusan Jepang datang untuk menangkap Zainal Mustafa. Namun, berkat perlawanan dari rakyat dan para santri, Jepang gagal menangkap Zainal dan mundur ke Tasikmalaya.