Pierre Tendean lahir pada hari Selasa 21 Februari 1939 dengan nama asli yaitu Perre Adries Tendean di Rumah Sakit Centrale Burgerlijke Ziekenhuis (CBZ), Batavia. Beliau lahir dari keluarga kecil yaitu dari pasangan Aurelius Tammert (A.L.) Tendean yang berdarah asli Minahasa dan Maria Elizabeth (M.E.) Cornet yang tidak lain merupakan keturunan Perancis. Kelahiran Pierre Tendean membawa kedamaian dan keceriaan khususnya pada keluarga kecil Tendean. Nama Pierre Andries merupakan nama sematan dari keluarga ayah dan ibunya yang mana Pierre merupakan nama panggilan sang kakek dari ibu yaitu Pierre Albert dan Andreas merupakan nama panggilan kakek dari ayah. Kelahiran Pierre Tendean pada 1939 merupakan waktu dimana Indonesia masih terjajah secara fisik maupun non fisik oleh bangsa kolonial. Ayah Pierre Tendean yang merupakan seorang dokter dari rumah sakit tempat ia lahir yaitu Rumah Sakit Centrale Burgerlijke Ziekenhuis (CBZ), Batavia yang dulunya merupakan gudang obat Kementrian Kesehatan pemerintah Kolonial Belanda yang sekarang dikenal sebagai Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Profesi dokter yang digeluti A.L. Tendean merupakan faktor pendorong yang menyebabkan keluarga kecil Tendean itu hidup secara nomaden atau berpindah-pindah. Meskipun keluarga kecil itu hidup secara nomaden tidak menjadikan keluarga kecil itu kehilangan harmonisasi dan kerukunan dalam keluarga, karena nyatanya keluarga tersebut selalu mudah beradaptasi dan selalu bergembira meskipun harus selalu melakukan penyesuaian dengan lingkungan baru. Pierre Tendean mempunyai seorang kakak yaitu Mitzi Tendean yang mana waktu kecil mereka dihabiskan dengan selalu bermain bersama. Menginjak tiga tahun umur Pierre Tendean, keluarga kecilnya mulai terusik dengan adanya tentara Nippon yang menduduki jawa pada tahun 1942. Datangnya Jepang pada saat itu membuat Indonesia mengalami krisis ekonomi besar-besaran yang tentunya hal tersebut juga mempengaruhi kehidupan dari keluarga kecil Tendean. Waktu terus berlanjut hingga akhirnya pada usia Pierre Tendean lima tahun lahirlah seorang anak perempuan yang merupakan adik Pierre Tendean yang kemudian membuat keluarga kecil tersebut menjadi ceria lagi.Waktu terus berlalu dan Pierre Tendean pun mulai tumbuh menjadi laki-laki dewasa. Ketika menginjak usia dewasa Pierre Tendean sudah mulai menentukan cita-citanya yaitu ia ingin menjadi seorang perwira. Meskipun hal tersebut dibantah oleh keluarga Tenden tetapi tetap tidak membuat keputusan Pierre Tendean berubah, hingg akhirnya Pierre Tendean berhasil menjadi seorang perwira yang disiplin, cerdas, dan menawan.
Pierre Tendean yang akhirnya menjadi seorang perwira akhirnya selalu diikut sertakan dalam penumpasan-penumpasan pemberontakan yang terjadi di Indonesia pasca kemerdekaan. Salah satu pengalaman Pierre Tendean yaitu ia menjadi tokoh yang ikut andil dalam penumpasan gerakan PRRI dan dikenal sebagai perwira yang diganjar Anugerah Satya Lencana POM. Setelah gejolak PRRI berlalu akhirnya Pierre Tendean lulus dari ATEKAD dengan nilai yang memuaskan dan ia dilantik sebagai perwira muda pangkat letnan dua pada tahun 1962. Dengan pengalaman yang dimiliki dari masa ia masih belajar di ATEKAD membuat Pierre Tendean kembali diikut sertakan kembali dalam menyelesaikan konflik-konflik yang terjadi di Indonesia, dan ia ditugaskan menjadi Komandan Peleton Batalyon Zeni Tempur 2 Komando Daerah Militer II di Bukit Barisan, Medan, Sumatera Utara. Pierre Tendean juga dikenal sebagai tokoh yang menyusup dan dikenal dengan nama “Sang Pengecoh Pasukan Jepang”. Selain itu Pierre Tendean juga dipromosikan menjadi Letnan Satu dan menjadi pengawal pribadi Jenderal Abdul Haris Nasution. Dipromosikannya Pierre Tendean pada saat itu merupakan kebahagiaan baginya, tetapi tidak ada yang tahu bahwasannya dengan dipromosikannya menjadi pengawal pribadi Jenderal Abdul Haris Nasution merupakan pengabdian terakhir yang dilakukan oleh Pierre Tendean dalam menjaga kedaulatan negara, karena akhirnya Pierre Tendean gugur pada tanggal 1 Oktober 1965 pada kejadian G30S/PKI. Pierre Tendean gugur pada kejadian G30S dengan dedikasi dan tanggung jawab yang tinggi untuk melindungi A.H. Nasution, yang kemudian ia dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi berdasarkan SK Presiden RI No. 111/KOTI/Tahun 1965, tanggal 5 Oktober 1965.
Sumber:
Putra, A. N., & Lisna, A. (2018). Jejak Sang Ajudan: Sebuah Biografi Pierre Tendean. Penerbit LeutikaPrio.
Prinada, Y. (2023) Biografi Pierre Tendean pahlawan revolusi termuda Korban G30S 1965, tirto.id. Available at: https://tirto.id/biografi-singkat-pierre-tendean-pahlawan-revolusi-g30s-1965-gwaN.