D.I Panjaitan merupakan tokoh pahlawan Revolusi yang menjadi salah satu korban dari gerakan G30S/PKI. Beliau lahir pada tanggal 10 Juni 1925 di desa Sitorang. Nama lengkapnya adalah Donald Izacus Panjaitan. D. I Panjaitan merupakan anak dari seorang pengusaha kecil yang bernama Herman Panjaitan dan memiliki ibu yang bernama Dina Pohan. Keluarganya hidup dalam lingkungan keluarga yang sederhana, dalam aspek religius D.I Panjaitan dan keluarga memiliki aliran Kristen Protestan yang senantiasa taat dalam beribadah. D. I Panjaitan kecil merupakan seorang yang pintar. Ia mengenyam pendidikan sekolah dasar di H.I.S. Pribadi yang pintar dan cerdas membuat ia disukai kawan dan gurunya di sekolah. Setelah itu ia melanjutkan studi lanjutannya di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) tanpa melalui ujian. Setelah menyelesaikan pendidikannya di MULO, D. I. Panjaitan masuk dan menjalani pendidikan militer giyugun. Serta menjabat sebagai perwira staf berpangkat syo dan co/ letnan 2. Kemudian, setelah giyugun ia mendirikan PRI (pemuda republik Indonesia) bersama rekan-rekannya. Karirnya di militer sangat berkembang pesat, banyak penghargaan serta jabatan strategis yang pernah ia miliki. D. I. Panjaitan menjadi kepala staf divisi Sumatera dan setelah pengakuan kedaulatan pada tanggal 2 Januari tahun 1950, kapten Panjaitan diangkat menjadi kepala operasi di Medan. Berkat kegigihannya selama berkarir di dunia militer Mayor Panjaitan ditunjuk untuk mengikuti pendidikan kursus Milat (Militer Atase) pada gelombang pertama tanggal 3 April 1956. Pada tanggal 1 Juni tahun 1956 ia mendapatkan kenaikan pangkat menjadi letnan kolonel. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia kembali ke Indonesia pada tanggal 1 Juni tahun 1957. Ia mendapatkan kenaikan pangkat kembali menjadi kolonel pada tanggal 1 Juli 1960. Peningkatan demi peningkatan dalam karirnya di militer sangat pesat, terbukti dari pangkatnya yang dinaikkan menjadi brigadir jenderal yang padahal ia baru saja menjabat sebagai kolonel selama satu tahun masa jabatannya. Kenaikan pangkat tersebut dilaksanakan pada tanggal 1 Juli 1963.
Selain karirnya di kemiliteran, D. I. Panjaitan pun tidak lepas dari romansa percintaan. Ia menikah dengan gadis pilihannya bernama Marike Anie Holomoan pada tanggal 3 September 1946 dengan melaksanakan pemberkatan pernikahan di sebuah gereja di Balige. Ia dikaruniai tiga orang anak yaitu Katherine Panjaitan, Masye Panjaitan, dan Sopar Panjaitan. Namun, pada riwayat kematiannya Brigjen Panjaitan harus mengalami kejadian tragis pada tengah malam tanggal 1 Oktober 1965. Rumahnya yang bertempat di Jalan Hasanuddin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan didatangi oleh sejumlah orang yang merupakan bagian dari pihak yang terlibat pada gerakan 30 September. Kemudian, D. I. Panjaitan meninggal akibat luka tembak yang tepat di kepalanya dan jasadnya baru ditemukan pada tanggal 4 Oktober. Lalu ia dianugerahi gelar anumerta sebagai mayor jenderal dan mendapatkan gelar pahlawan revolusi.
Â
Sumber:
Safwan, M. (1981). Mayor Jenderal Anumerta DI Panjaitan. Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional.