Museum Kereta Api Mak Itam Sawahlunto tidak bisa dipisahkan dari sejarah pertambangan batu bara Ombilin dan perkembangan perkeretaapian di Sumatera Barat. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, Sawahlunto dikenal sebagai salah satu pusat tambang batu bara terbesar di Indonesia. Untuk mendukung pengangkutan batu bara dari tambang menuju pelabuhan di Padang, dibangun jalur kereta api yang menghubungkan Sawahlunto dengan daerah sekitarnya.
Salah satu lokomotif yang berperan penting dalam kegiatan tersebut adalah lokomotif uap yang kemudian dikenal dengan nama Mak Itam. Nama “Mak Itam” berasal dari bahasa Minangkabau yang berarti “Si Hitam”, merujuk pada warna lokomotif yang hitam legam akibat penggunaan batu bara sebagai bahan bakar. Lokomotif ini digunakan untuk menarik rangkaian gerbong batu bara maupun kereta penumpang di jalur Sawahlunto dan sekitarnya.
Seiring berjalannya waktu, aktivitas pertambangan mulai menurun dan operasional kereta api di Sawahlunto juga berkurang. Banyak fasilitas perkeretaapian yang tidak lagi digunakan, termasuk Stasiun Sawahlunto. Namun, bangunan stasiun dan lokomotif Mak Itam memiliki nilai sejarah yang tinggi sehingga perlu dilestarikan agar tidak hilang begitu saja.
Sebagai upaya pelestarian sejarah perkeretaapian dan pertambangan, Stasiun Sawahlunto kemudian dialihfungsikan menjadi Museum Kereta Api Sawahlunto. Museum ini resmi dibuka pada 17 Desember 2005. Museum Kereta Api Sawahlunto menjadi salah satu museum kereta api tertua di Indonesia yang masih memanfaatkan bangunan stasiun asli peninggalan kolonial Belanda.
Lokomotif Mak Itam kemudian dijadikan sebagai koleksi utama dan ikon museum. Keberadaan Mak Itam tidak hanya berfungsi sebagai benda pamer, tetapi juga sebagai simbol kejayaan transportasi kereta api di masa lalu. Dalam beberapa kesempatan, Mak Itam sempat dioperasikan kembali sebagai kereta wisata untuk menarik minat wisatawan dan menghidupkan kembali suasana perkeretaapian tempo dulu di Sawahlunto.
Dengan berdirinya Museum Kereta Api Mak Itam, sejarah perkeretaapian dan pertambangan batu bara di Sawahlunto tetap terjaga dan dapat dipelajari oleh generasi sekarang maupun generasi yang akan datang. Museum ini menjadi saksi penting perjalanan Sawahlunto sebagai kota tambang dan kota bersejarah di Indonesia.